Ayah Anak ku

Ayah Anak ku
EXTRA PART


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian..


“Huahh sakittt!” Cherryl berteriak ketika rambut nya di tarik oleh Andreas, anak Lucas yang baru berusia 2 tahun.


Semakin Cherryl berteriak kesakitan justru semakin senang Andreas, tangan kecil Andreas justru semakin bersemangat menarik rambut Cherryl.


Dan penderitaan Cherryl tidak sampai di situ saja, Cherryl harus melihat kepala boneka Barbie miliknya di cabut oleh Arvin, adik laki laki Cherryl yang baru berusia 1 tahun.


Cherryl hanya bisa meringis sembari menoleh kearah tangan kanan nya, yang di gigit oleh Bian, putra Aaron yang baru berusia 5 bulan.


“Bian sayang, kakak Cherryl tahu kalau kakak ini cantik dan menggemaskan tapi jangan di gigit juga, sayaanggg..”


Adara tertawa mendengar perkataan putri nya itu. “Bian menggigit bukan karna itu Cherryl, tapi karna Bian mau tumbuh gigi, sehingga gusi nya gatal dan ia menggigit mu.”


“Bagaimana sih Cherryl, kata nya mau punya 5 adik. Tapi baru punya 3 saja sudah mengeluh.” Markus muncul meledek putri nya tersebut, ia melihat Cherryl yang cemberut.


“Cherryl pusing Pa, Cherryl gak mau punya adik lima!”


“Yahh.. gimana dong, padahal Mama sama Papa baru mau kasih tahu kamu kalau Mama hamil lagi. Kamu akan punya adik lagi.”


Cherryl menatap Markus horor.


Astaga, Cherryl belum siap jika harus punya adik lagi yang nakal nakal seperti adik adik nya.


Dan saat itu pula Andreas menarik rambut Cherryl lagi, namun kali ini dengan sekuat tenaga nya. Membuat Cherryl kembali berteriak hingga mendongak.


“Huahhh sakittt!!!!”


***

__ADS_1


Markus masih cekikikan melihat Cherryl yang kesusahan karena adik adiknya, Markus menoleh kearah Adara masih dengan tawa nya.


“Mereka menggemaskan sekali ya.”


Adara menganggukkan kepalanya setuju, namun Adara kembali menoleh kearah Markus dan mencubit lengan Markus. “Tapi kau tidak seharusnya berbohong begitu kepada Cherryl, aku kan tidak hamil. Lagi pula kita sudah sepakat bukan hanya punya dua anak saja.”


Markus meringis kesakitan, ia mengiyakan perkataan Adara, memang mereka sudah sepakat untuk hanya punya dua anak saja. lantaran Adara tidak sanggup lagi untuk kembali mengandung.


Markus merangkul Adara, memberikan kecupan lembut dipipi istrinya itu. “Lagi pula aku tidak ingin melihat mu kesakitan lagi, melihat mu mempertaruhkan nyawa mu untuk melahirkan anak kita adalah hal yang indah namun juga mengerikan bagiku. Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi.”


Adara tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Kalau begitu malam ini kau yang menjaga Arvin jika dia tiba tiba terbangun tengah malam ya, kau bilang kan kau sangat mencintai ku. Kalau kau benar benar mencintai ku, biarkan aku menikmati tidur ku malam ini dengan tenang.”


Markus mengacungkan ibu jarinya, “Siap! jangan kan menjaga Arvin, kalau kau mau aku juga bisa mengurusmu nanti mal—”


“Mesum!”


***


(AARON & CLAUDIA)


3 Tahun Kemudian..


“Bian, jangan begitu sayang. Gak boleh.” Claudia menasehati putra nya itu yang merampas mainan teman nya.


Bian cemberut, ia kesal karena di marahi Claudia. “Bian mau mobil mobilan juga.”


“Iya, nanti minta sama Papa ya.” Claudia berusaha untuk membujuk putranya itu, berusaha untuk mengambil mainan dari tangan putranya itu dan mengembalikkan nya kepada sang empunya.


Putra nya ini memang ada ada saja, di undang ke acara ulang tahun teman nya. Bian justru ingin menguasai kado yang di miliki teman nya.

__ADS_1


Sepertinya masalah ini harus Claudia bicarakan kepada Aaron, Claudia merasa Bian menjadi seperti ini karena Aaron terlalu memanjakan Bian.


Jika terus begini Bian bisa menjadi jadi nantinya.


“Sekarang kita pulang ya, sayang.”


***


“Sudah berapa kali ku bilang Aaron jangan terlalu memanjakan Bian, tadi dia membuat kekacauan di pesta ulang tahun teman nya. Bian ingin memiliki semua yang teman nya punya, itu tidak baik.”


Claudia mengeluh, ia berdecak ketika melihat Aaron pulang kembali membawa mainan untuk Bian.


“Kau selalu menuruti apa yang dia mau sehingga ia merasa bahwa semua yang dia mau itu harus terkabul. Ini bisa berdampak buruk bagi anak kita Aaron, bagaimana nanti kalau dia saat besar nanti menginginkan sesuatu yang tidak bisa ia miliki tapi memaksa untuk mendapatkannya.”


Aaron hanya tertawa melihat wajah panik Claudia, ia mengecup kening putra nya setelah memberikan mainan yang ia bawa dan menyuruh Bian untuk bermain di kamar nya.


Aaron menghampiri Claudia, ia mengusap pipi istrinya itu berharap itu bisa meredakan emosi Claudia.


“Kau belum menjawab ku Aaron, bagaimana jikalau itu terjadi. Bagaimana jika Bian menginginkan hal yang tidak bisa dia miliki namun ia memaksa untuk tetap memiliki nya.”


“Bahasa mu rumit sekali, seperti apa contohnya? Seperti menginginkan istri orang lain?” tanya Aaron terkekeh karena teringat saudara nya, Lucas.


“Kau justru tertawa, ini masalah serius Aaron.”


“Iya sayang, aku mengerti. Kita akan mendidik anak kita bersama sama dengan baik.” Aaron tersenyum ketika ibu jari nya mengelus bibir Claudia. “Tapi pasti akan lebih seru lagi jika kita mengurus dua anak, Bian menjadi seperti itu mungkin karena dia kesepian dan ingin punya adik.”


Claudia berdecih dan memukul dada Aaron, “Itu sih alasan mu saja.”


“Nah itu kau tahu.” jawab Aaron tertawa, yang di ikuti tawa Claudia.

__ADS_1


__ADS_2