Ayah Anak ku

Ayah Anak ku
DUA BELAS


__ADS_3

Lucas terbaring tidak berdaya di gang kecil yang sepi itu dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya.


Tubuhnya remuk lantaran di pukuli, di tendang dan di injak injak, lebih parahnya lagi dengan belakang kepala Lucas yang sudah jelas jelas luka parah.


Lucas sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan suara untuk minta tolong, ia pasrah menatap langit sore yang mulai menggelap.


Dalam hati Lucas hanya bisa berdoa semoga kakak perempuannya baik baik saja, semoga Adara tidak disakiti oleh Markus.


Pandangan Lucas semakin menggelap, hingga akhirnya semuanya mendadak gelap dan sunyi.


***


“Untuk pertama kalinya aku menyesal dalam hidup ku menuruti apa yang kau mau, Clara.” Damian mengusap wajahnya kasar, ia benar benar merasa gagal sebagai seorang Ayah. “Seandainya kau tidak pernah meminta aku untuk berhenti memperkerjakan anak buah ku untuk mengawasi anak anak kita semuanya tidak akan begini!”


“Jika saja kau tidak keras kepala mungkin Adara tidak akan seperti ini, dia tidak akan hamil di luar nikah. Dan Lucas pun tidak akan berada di ruang UGD seperti sekarang ini. Kau selalu saja mengatakan soal kebebasan, hak mereka untuk hidup seperti apa yang mereka mau, kau selalu mengatakan padaku untuk berhenti terlalu ikut campur dalam hidup mereka. Tapi lihatlah apa yang terjadi, anak kita hancur dan terluka tepat di depan mata kita Clara!”


Clara hanya bisa menangis, ia juga menyesali keputusannya dulu. Clara tahu bagaimana rasanya diawasi dan di kekang ia tidak suka hal seperti itu sehingga ia meminta Damian untuk tidak melakukan hal itu kepada anak mereka, ahh.. lebih tepatnya tidak meminta, karna saat itu Clara tidak meminta dengan baik baik, lebih tepatnya Clara mengancam Damian.


Dan lihat lah sekarang, Lucas sedang bertarung melawan maut.


Clara tidak tahu siapa orang yang tega melakukan ini kepada putranya Lucas.


“Berhenti menyalahkan Mama Pa, Mama tidak salah. Ini semua salah Adara. Sebelumnya Lucas menelepon Adara, Adara rasa dia menelepon untuk meminta bantuan tapi Adara justru mengabaikannya. Seandainya saja Adara tidak mengabaikannya semuanya tidak akan jadi begini.”


Adara juga menangis, ia tidak ingin adik laki laki nya kenapa napa.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja, aku akan menemukan orang yang sudah membuat Lucas seperti ini dan memastikan akan membuat orang itu luka lebih parah dari Lucas.” desis Damian mengepalkan tangannya.


***


Cukup lama mereka semua menunggu dokter yang menangani Lucas keluar hingga akhirnya dokter tersebut keluar dengan wajah lelah.


“Bagaimana dengan keadaan anak saya dok?” tanya Clara cepat, ia menatap penuh harap ke arah dokter tersebut.


“Dia baik baik saja, tapi apakah ada diantara kalian yang bernama Markus?” tanya dokter tersebut sembari menatap keluarga pasien satu persatu.


Markus mengangkat tangannya ragu-ragu, “Saya Markus.. ada apa dok?”


“Pasien terus menyebut nyebut nama anda, apakah anda keluarga pasien?” tanya dokter tersebut lagi.


Damian melirik Markus dengan tatapan curiga. “Dimana kau saat Lucas terluka, Markus?”


Adara menoleh kearah Damian, “Markus bersama ku Pa, Markus menemani ku menjaga Aaron. Markus tidak mungkin orang yang menyakiti Lucas.”


***


“Kau gila Sean?!”


Markus memaki orang suruhan nya itu, ia tahu bahwa orang yang telah membuat Lucas masuk rumah sakit adalah Sean, orang yang sama yang telah menembak Aaron.


“Kenapa kau mengamuk seperti ini, bukan kah kau seharusnya berterima kasih kepada ku?!” Sean bangkit berdiri, “Kalau aku tidak menghabisi nya dia pasti sudah membocorkan rahasia mu ke semua orang!”

__ADS_1


“Tapi aku tidak pernah meminta mu untuk memukulnya sampai seperti itu! Dia kritis! Dan dia terus saja menyebut nyebut nama ku!”


“Kau tenang saja, hanya perlu sedikit waktu aku bisa membuat dia lenyap dan tidak akan bisa membuka mulutnya lagi.”


“Jangan gila kau Sean!” Markus mendorong Sean, “Dia itu adik nya Adara!”


“Lalu kenapa kalau dia adik wanita itu? Yang kau ingin kan itu kan kakaknya bukan adiknya.”


Markus menggelengkan kepalanya tidak setuju, “Jangan.. jangan sakiti dia, dia tidak bersalah.”


“Jangan berlagak suci kau Markus, aku tahu saat anak itu menghubungi kakak nya kau yang mengangkat panggilan tersebut, kalau kau memang tidak ingin anak itu terluka kau bisa saja menghubungi ku saat mendengar suara anak itu tapi kau tidak melakukannya, karna memang kau ingin membuat anak itu bungkam. Aku sudah mengenal mu sejak lama Markus, aku tahu kau itu orang yang seperti apa. Aku tahu jauh di lubuk hati mu kau berharap anak itu tidak selamat dan mati kan? Seperti kau mengharapkan kematian Aaron.”


Markus terdiam, Sean memang benar. Markus takut ketahuan. Dan ia ingin Lucas tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya kepada semua orang.


“Kau cukup diam dan sedia kan uang untuk ku. Kau hanya perlu terima beres, aku akan melenyapkan dua orang itu untuk mu.”


***


“Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?” Damian menatap anak buah nya tersebut dengan tatapan serius.


Anak buahnya tersebut menganggukkan kepalanya, “Ya Tuan.”


“Oh ya, jangan lupa untuk menyelidiki soal Markus Orlando juga. Dia sangat mencurigakan.”


“Baik Tuan.”

__ADS_1


__ADS_2