
Pagi-pagi sekali Dona dan Bram sudah bersiap-siap menuju ke kediaman Hutomo.kedua nya berhasil bangun tepat waktu agar tidak telat dan semua persiapan menjadi keteteran.
" Tenang saja dia tidak akan berani menampakkan wajah hina nya di depan Kamu lagi!" ucap Bram sambil mengecup punggung tangan Dona yang berada di samping nya.di belakang mobil mereka saat ini ada beberapa anak buah Nanda yang mengikuti dari belakang.
" Tapi undangan nya sudah telanjur sampai di tangan dia Mas! Aku nggak mau dia tiba-tiba saja datang dan membuat kekacauan di pernikahan kita." sanggah Dona lirih.wanita ini sebenernya masih merasa sangat trauma jika menyebut nama Bram.tidak bisa dia bayangkan apa yang akan terjadi kepada nya ke depan jika saja calon suami nya telat datang untuk menyelamatkan hidup nya.Dona tidak akan bisa memaafkan diri nya sendiri jika sampai Bram berbuat nekat kepada dia.
" Aku sudah meminta anak buah ku untuk menjaga ketat pintu masuk .foto dia sudah tersebar kepada semua penjaga dan akan langsung di tangkap jika berani muncul di hadapan Kamu." balas Bram merengkuh tubuh lemah Dona masuk ke dalam pelukan nya.
" Anak-anak jangan sampai tahu tentang masalah ini ya Mas! Aku takut mental mereka semakin tersakiti oleh Ayah mereka sendiri." pinta Dona menengadah kan kepala menatap wajah bantal Nanda yang semakin terlihat tampan.
" Iya sayang." Nanda kembali mengecup punggung tangan Dona dan terakhir pindah ke kening sangat lama dan penuh kasih sayang.
Sedangkan Marwa yang sudah terlebih dahulu sampai dengan di antar oleh suami nya langsung di persilahkan masuk dan di minta untuk menunggu di sebuah kamar yang nantinya akan di pakai sebagai tempat makeup pengantin.
" Kamar tamu aja mewah begini? Lantas kamar utama seberapa wah lagi?" batin Marwa memilih kembali berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponsel nya.sedangkan untuk suami Marwa masih berada di teras depan menemani Pak Hutomo meminum segelas kopi hitam kesukaan nya.
5 menit kemudian dua orang mua yang di pilih langsung oleh Dona juga ikut masuk ke dalam kamar tersebut sehingga mengejutkan Marwa yang hampir saja terlelap karena terlalu nyaman menikmati ranjang yang memiliki harga fantastis.sambil menunggu kedatangan calon pengantin wanita nya.Marwa dan kedua mua tersebut mengobrol santai untuk mengusir rasa suntuk.
" Dona kenapa lama sekali sih? Udah jam segini masih belum sampai juga?" gumam Marwa sambil mengetik pesan di layar ponsel nya.namun belum sempat pesan tersebut dia kirim menuju nomer Dona.sebuah bunyi klakson mobil terdengar masuk ke pekarangan rumah mewah ini dan sudah bisa di tebak oleh Marwa jika orang yang berada di dalam mobil itu adalah Dona.
Kedatangan Dona di sambut riang oleh Marwa bersama dengan kedua mua terhits itu.setelah melaksanakan sholat subuh yang sudah mulai masuk waktu nya.kini Dona mulai mendapatkan sentuhan dari tangan handal sang Mua.
Pintu kamar yang di tempati oleh para wanita dewasa itu di ketuk dari luar dan beberapa detik kemudian nampak lah wajah kedua gadis cantik yang masih memakai mukena lengkap.
" Ibu.." Alena dan Priska berhamburan memeluk tubuh Dona yang sedang di rias oleh sang Mua.
__ADS_1
" Ibu sudah lama sampai nya?" tanya Alena lalu berpindah mencium punggung tangan Marwa sahabat dari ibu mereka dan di ikuti oleh Priska dari belakang nya.
" Baru setengah jam yang lewat sayang! Ibu sengaja tidak membangunkan kalian karena tidak ingin membuat tidur nyenyak nya terganggu.apalagi hari ini sejak pagi hingga malam nanti pasti akan ramai dengan tamu yang datang.sebaik nya kalian istirahat dulu sambil menunggu giliran untuk di hias." ujar Dona panjang kali lebar.
" Kita istirahat di sini saja Bu! Kayak nya Tante Marwa juga sudah mau hampir siap di rias nya.nanti makeup Alena sama kayak Tante Marwa aja ya Bu! Jangan terlalu tebal tapi harus terlihat cantik." pinta Alena sedikit menjelaskan.
" Aku juga mau yang biasa aja ya Bu! Jangan kayak mak-mak mau pergi kondangan." sahut Priska menimpali.
Dona mengangguk kan kepala sambil tersenyum tipis.
" Kalian sudah sangat cantik meskipun tidak memakai makeup.wajah Ayu dari Mbak Dona seperti nya menurun keras kepada kalian berdua." ucap sang Mua membuka suara nya.
" Produk Dona memang nggak pernah gagal.Aku akan menunggu produk selanjutnya dengan orang yang berbeda! Aku yakin akan sempurna lagi." tukas Marwa mendapatkan cubitan keras di paha kiri nya.
" Jangan bicara terlalu jauh Wa! Aku sudah punya umur banyak dan belum tentu bisa memiliki keturunan lagi."
" Bukan kah Ibu masih cukup subur untuk memberikan kami berdua adik kecil.3 lagi ya Bu!" Alena mengacungkan tiga jari ke arah Dona sehingga membuat wanita tersebut terdiam dengan helaan nafas panjang nya
" Aku mau 5 aja Bu!" sambung Priska. Menggoda sang Ibu.memiliki adik di usia yang sudah remaja seperti nya akan menjadi sesuatu yang sangat asyik nanti nya. terlebih lagi ada seseorang yang akan membuat suasana rumah menjadi ramai dengan tangisan dan juga rengekan manja nya.atau bahkan akan meminta ikut keluar jika mereka ingin pergi menonton di bioskop bersama temannya.
" Mbak, Adek! Jangan seperti ini.Ibu sudah tidak muda lagi dan belum tentu bisa mewujudkan impian kalian." tegur Dona dengan wajah bersemu merah.
" Ayah juga sudah menyetujui nya Bu! Pokok nya wajib punya adik bayi ya Bu." tegas Alena sambil cengengesan lalu duduk di kursi yang di tempati oleh Marwa karena sahabat sang Ibu sudah selesai di rias dan saat ini sedang memakai gaun nya.
" Tuh denger Na! Aku juga ingin memiliki keponakan lagi.Kamu kan tahu sendiri kondisi Aku bagaimana.kali aja nanti setelah Kamu di berikan keturunan bisa menular kepada Aku yang masih berjuang ini." Marwa seakan menambah kan bumbu-bumbu agar sahabat nya mau mengikuti apa yang mereka inginkan.bukan untuk memaksa tetapi lebih kepada keharusan.apalagi di usia yang sudah hampir memasuki kepala 4 semua nya terasa sangat sulit.
__ADS_1
" Sudah kita sambung nanti saja pembahasan ini!Sekarang fokus dulu untuk acara penting nya." Dona yang tidak ingin menjadi bahan ledekan semua orang yang berada di kamar tersebut mencoba mengalihkan atensi dengan acara yang sebentar lagi akan di mulai.
Sedangkan untuk Bram,sejak tadi malam lelaki ini tidak bisa tertidur pulas untuk sedetik saja.bayangan kehancuran perusahaan yang sedang berkembang pesat sudah menari di kepala nya.tak bisa tinggal diam saja dengan hanya mengandalkan Jefri dan juga Sarah.Bram dengan wajah kesakitan akhirnya memaksa bangkit dari tempat tidur membuka laptop beserta ponsel genggam milik nya.sejumlah email keberatan sudah dia layangkan kepada kolega bisnis nya berharap mereka mau bersimpati dan menanamkan kembali modal beserta kepercayaan mereka kepada Bram.
Matahari masih enggan menampakkan diri nya ke permukaan bumi.tapi Bram sudah selesai mandi dan berganti pakaian kantor yang lebih rapi.wajah penuh lebam tidak dia hiraukan lagi demi menyelamatkan kehancuran perusahaan nya.
Prankkk...
Bram yang sudah berada di dalam ruangan nya melempar kuat gelas di tangan nya hingga membentur dinding yang ada di hadapan nya.gelas yang tadi nya cantik dan memberikan banyak manfaat untuk pengguna nya kini sudah hancur berserakan tidak berbentuk lagi.sama persis seperti kisah hidup nya detik ini juga.
Wajah memerah serta kedua tangan yang terkepal kuat adalah sebagai bukti bahwa dada nya saat ini sedang memendam kemarahan yang sangat luar biasa.kecerobohan yang dia lakukan berakhir sangat fatal untuk kehidupan dia dan juga keluarga nya.
10 menit yang lalu Bram baru saja datang setelah mengadakan pertemuan mendadak dengan beberapa rekan bisnis nya .
Jefri dan Sarah yang sedang memeriksa beberapa berkas di dekat meja Sarah langsung terjingkat kaget sambil menoleh sebentar ke arah ruangan Bram .namun sedetik kemudian kembali fokus dengan pekerjaan mereka karena sudah di kejar oleh waktu.
" Kurang ajar! Hutomo benar-benar ingin bermain dengan Aku rupa nya dia ." gumam Bram seraya menghempas kan tubuh nya di kursi.
" Jangan sampai dia melakukan hal yang lebih gila nanti nya! Dan Aku benar-benar akan terpuruk." bayangan mendekam di penjara tiba-tiba saja muncul di kepala Bram dan dengan cepat dia menggeleng kan kepala untuk mengusir bayangan jelek itu .
" Astaga! Hari ini Dona menikah!" seru Bram lalu kembali duduk setelah sempat kaget.Bram sudah bisa mengira jika kedatangan nya ke sana sama saja artinya untuk menyerahkan diri.dia harus memberi jarak sejenak agar langkah berikutnya tidak tercium oleh Hutomo beserta cucu nya.
" Nikmati saja kebahagiaan kalian untuk hari ini! Tapi untuk besok Aku pastikan kalian akan menangis memohon ampun kepada ku." Bram tertawa licik tanpa menyadari bahwa saat ini Hutomo sedang mengambil ancang-ancang untuk membuat hidup nya semakin menderita.
Jangan lupa Like,Vote dan Komen ya guys 😍🥰😍
__ADS_1