
" Mbak,Adek! Apa kalian tidak ingin membeli oleh-oleh untuk sahabat kalian yang ada di tanah air?" tanya Nanda begitu perhatian ketika mereka dalam perjalanan menuju sebuah mini market besar yang ada di Den Haag.
" Sebenarnya itu yang ingin Mbak bilang tadi sama Ayah dan juga Ibu,tapi Mbak takut." Alena nyengir kuda sambil menatap kedua orang tua nya.
Nanda geleng -geleng kepala sambil tersenyum hangat menatap kedua putri nya secara bergantian.
" Kenapa harus takut? Selagi untuk kebaikan dan masih dalam batas kewajaran.Ayah sama Ibu nggak akan marah kok.bukan kah kita ini sebuah keluarga? Jangan lagi memberi jarak di antara kita karena Ayah sangat tidak menyukai nya."
" Ayah tidak pernah bosan untuk mengatakan jika Ayah sangat mencintai kalian melebihi apapun.Ayah tidak mungkin memaksa kalian untuk percaya karena kalian berdua tentu bisa merasakan nya sendiri." imbuh Nanda menggosok lembut puncak kepala kedua putri nya secara bergantian.
" Iya Yah! Maaf." ucap Alena merasa bersalah sudah membuat Nanda tersinggung dengan sikap malu dan juga segan nya.
" Kalian boleh pilih apapun yang ingin kalian beli dan sekalian untuk kalian beri kepada teman-teman. Jika ingin memborong semua isi toko ini Ayah juga nggak masalah." goda Nanda untuk mencair kan suasana.
" Mas! Jangan ngaco deh." sanggah Dona tidak suka.
Hahahaha...Nanda tertawa puas melihat wajah tidak suka yang di tunjuk kan oleh istri nya.
" Gawat! Ibu marah sama Ayah." adu Nanda kepada kedua putri nya sambil membawa sebuah troli di tangan nya untuk menampung belanjaan para wanita Kesayangan nya.
" Ibu memang selalu mengajarkan kita untuk hidup hemat dan nggak boleh terlalu boros.beli seperlunya dan tidak boleh berlebihan.tapi meskipun begitu kedua orang tua Ayah masih saja mengatakan Ibu adalah wanita boros yang suka menghambur kan uang Ayah." celetukan Alena sukses membuat Nanda meradang hebat.
" Sungguh mereka ngomong seperti itu?" tanya Nanda kembali memastikan.
" Hmm..Tapi jangan bilang Ibu kalau kita kasih tahu Ayah." Alena memelankan suara nya agar tidak terdengar oleh Dona yang berada di belakang mereka bersama Pak Hutomo.kedua nya malah terlihat asyik memilih berbagai cemilan sambil membaca bungkus makanan yang mereka inginkan.
" Apa mereka selalu menghina Ibu dan nggak pernah memperlakukan kalian dengan baik?" tanya Nanda kembali mencari informasi dari kedua putri nya.
" Lebih dari hinaan Yah! Bahkan kami nggak pernah di anggap ada oleh mereka sekeluarga.hanya Ayah saja yang menerima kami selebih nya menjauh."
" Kalian tidak perlu takut lagi,Ayah pastikan mereka tidak akan berani lagi menganggu kalian.ada Ayah sama Kakek yang akan melindungi kalian." bukan nya memilih oleh-oleh yang ingin mereka beli.tetapi Nanda bersama kedua putri nya malah berpelukan dan mengabaikan tatapan semua pengunjung yang tertuju kepada mereka.
Dona dan Pak Hutomo yang tidak mengerti apa yang sudah terjadi hanya bisa mengernyit heran dan sedetik kemudian saling melirik mencari jawaban.
" Apa yang terjadi? Kenapa mereka malah berpelukan seperti itu?" tanya Pak Hutomo lirih.
__ADS_1
" Entah lah Kek! Mereka memang suka bikin penasaran dan selalu kompak membuat Aku bingung." jawab Dona tersenyum tipis.
" Nanda begitu menyayangi mereka.bahkan Kakek saja selama ini tidak pernah melihat dia tersenyum dan tertawa lepas seperti ini.rasa nya dunia ini berada di genggaman Kakek setelah beberapa tahun terasa begitu hampa." tutur Pak Hutomo dengan wajah berbinar.
" Aku juga bisa melihat dan merasakan ketulusan hati dari Mas Nanda dan juga Kakek.terimakasih sudah memperlakukan kami dengan sangat baik Kek."balas Dona dengan tangan yang terisi penuh oleh berbagai macam cemilan.
" Kamu salah besar! Bukan kah sebagai sebuah keluarga kita memang harus saling menyayangi dan melindungi.itu juga yang Kakek lakukan karena kalian adalah bagian dari keluarga kami.sudah cukup rasa nya kami hanya hidup berdua dengan kesibukan masing-masing.kini rumah terasa ramai karena kehadiran kedua cicit Kakek."
Setelah memilih dua troli oleh-oleh yang akan mereka bawa ke tanah air.Nanda langsung mengajak keluarga nya kembali melanjutkan perjalanan liburan ini.sementara untuk semua belanjaan mereka sudah di antar terlebih dahulu ke hotel tempat mereka menginap.
Bram hanya bisa menatap pasrah rumah yang sudah menjadi milik orang lain.cukup lama mata nya memandang sampai Jefri datang untuk menyadarkan dia karena pemilik baru dari rumah ini sudah datang untuk mengurus semua surat-suratnya.
" Mas Bram apa kabar?" tanya sosok pria pembeli rumah yang bernama Budi.
" Alhamdulillah baik Pak." jawab Bram lugas.
" Baiklah,Saya sudah menyiapkan semua dokumen kepemilikan yang harus di tanda tangani oleh Mas Bram." ujar Pak Budi mengeluarkan sebuah map dari dalam tas nya,lalu menyodorkan nya kepada Bram.
Map itu berpindah tangan kepada Bram lalu di baca nya dengan begitu teliti.setelah merasa yakin tidak ada yang harus dia pertanyakan lagi.Bram lalu membubuhkan tanda tangan nya di berkas penting itu.kemudian menyerah kan kembali Map tersebut kepada Pak Budi.
" Alhamdulillah semua nya sudah selesai ya Mas. " ucap Pak Budi tersenyum hangat.
" Saya sejak tadi malam sudah pindah dan Pak Budi mulai hari ini sudah bisa menempati rumah ini." imbuh Bram menjelaskan lagi.
" Tidak perlu buru-buru Mas Bram! Saya juga belum tahu anak Saya kapan mau pindah nya.kalau masih ada yang perlu di bereskan ya silahkan saja." titah Pak Budi yang memang masih begitu santai.
" Tidak perlu Pak, Saya akan langsung pamit saja." Bram lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan setelah merasa tidak ada lagi yang harus dia bicarakan dengan pria ini.
Bram melajukan mobil nya meninggalkan pekarangan rumah yang sudah menjadi milik orang lain.kali ini tujuan dia adalah untuk menemui rekan bisnis nya yang sejak kemarin sudah merengek menagih ganti rugi kepada dia.
Uang hasil penjualan rumah ini bahkan tersisa sedikit saja setelah Bram menyelesaikan satu persatu tanggung jawab nya.masih ada dua orang lagi yang menunggu kedatangan nya namun sayang nya uang yang berada di tangan nya seperti nya sudah tidak cukup lagi untuk menutupi semua nya.
" Bagaimana lagi Aku membayar sisa ganti rugi ini Jefri?" gumam Bram lirih meminta pendapat kepada asisten nya.
" Kenapa Bos tidak mencoba untuk meminta bantuan kepada Mbak Dona! Kali aja Mbak Dona mau berbaik hati membantu Bos menyelesaikan semua nya."
__ADS_1
Bram terdiam cukup lama.bagaimana mungkin dia datang meminta bantuan kepada wanita yang sudah dia lukai hati nya .bahkan batin nya juga ikut tersobek ulah kekejiannya waktu itu.
" Dosa ku kepada dia dan anak-anak sudah begitu banyak.rasa nya Aku sudah tidak punya muka lagi untuk menemui dia ." jawab Bram lesu.
" Bos belum mencoba nya.bagaimana mungkin Bos bisa mengatakan hal itu.Mbak Dona orang baik dan Saya yakin jika beliau mau membantu permasalahan Bos."ujar Jefri meyakinkan Bram.
" Tapi... Andaikan Dona mau pasti suami nya sekarang akan menolak permintaan Dona.Kamu kan tahu sendiri bagaimana Nanda selama ini."ujar Bram .
" Dona benar-benar sudah tidak mau lagi berurusan dengan Aku .mereka juga sudah tidak tinggal di rumah itu lagi ." imbuh Bram dengan pikiran yang kalut.
" Saya paham Bos! Tapi tidak ada salahnya kita untuk mencoba,kita tidak akan pernah tahu hasil nya jika kita tidak mencoba nya."
Suasana berubah menjadi hening tanpa ada yang membuka suara lagi.
Bram tampak nya sedang mempertimbangkan saran yang di berikan oleh Jefri yang merupakan satu-satunya orang yang masih perduli kepada dia dan hidup nya.
" Baiklah akan Aku coba nanti." ucap Bram pada akhirnya.
Bram langsung meminta Jefri untuk mengantar kan dia kembali ke apartemen.rencana nya setelah ini dia akan menjual kedua mobil nya dan membeli sepeda motor sebagai kendaraan nya nanti.
Jika kedua mobil nya sudah laku otomatis dia tidak akan terlalu banyak meminta bantuan kepada mantan istri nya itu.rencana ingin memiliki lagi Dona sebagai istri nya menguap begitu saja dan berganti dengan rasa malu yang menyelimuti hati nya saat ini.
" Terimakasih sudah membantu Aku sampai sejauh ini.mulai sekarang Kamu ,Aku bebaskan dan bawa lah ini sebagai gaji terakhir mu." ucap Bram sambil memberikan sebuah amplop coklat yang memang sudah sejak kemarin dia persiapkan untuk Jefri.
" Bos ! Tidak perlu." cegah Jefri namun sayang nya Bram sudah terlebih dahulu pergi menuju unit apartemen nya.mau tidak mau Jefri terpaksa menerima nya dan akan mencari pekerjaan lain setelah perusahaan milik Bram benar-benar tidak bisa di selamatkan lagi.
Dan untuk Pak Maman dan juga Bi Surti tetap di minta untuk bekerja kepada Dona setelah mereka berdua keluar dari rumah sakit.meskipun rumah itu sudah kosong tetapi Bi Surti tetap membersihkan nya seperti biasa nya.dan untuk Pak Maman bertugas berjaga di pintu depan sekalian membersihkan taman yang ada.
" Untung saja Bu Dona tidak sampai memecat kita berdua." ucap Pak Maman merasa sangat lega.
" Iya atuh Pak Man!Saya kemarin juga sempat khawatir dan sudah mulai menghubungi teman-teman untuk mencari pekerjaan.tapi sayang nya susah sekali dan belum ada yang butuh tenaga asisten rumah tangga."
" Tidak mungkin Ibu menjual rumah ini karena rumah ini milik Nona Alena dan juga Nona Priska."
Kedua nya tampak bersemangat membersihkan sekeliling rumah setelah beberapa hari tidak mendapatkan sentuhan dan sudah di tumbuhi oleh rumput liar.
__ADS_1
Dona tetap menyiapkan bahan makanan untuk kedua asisten rumah tangga yang menjaga rumah nya.bahkan setiap waktu dia juga ikut mengontrol lewat Cctv yang terhubung ke layar ponsel nya.
Jangan lupa Like Vote dan Komen ya guys 🥰🥰🥰