
akhirnya setelah semua pelanggan itu pergi, Erin bisa merenggangkan tubuhnya. dan meletakkan kepalanya di meja antrian
"ah.... akhirnya selesai juga. aku capek sekali." kata Erin
"sepertinya kau lelah sekali ya, karyawan baru?" kata seorang laki-laki yang memberikan Erin secangkir teh.
"siapa kau?" tanya Erin dengan wajah datarnya
"heh? jadi aldi belum pernah menceritakan tentang ku padamu ya!? awas saja kau, aldi!!" laki-laki itu ngegas tiba-tiba ketika mengetahui hal itu
"jadi? siapa kau?"
"hah, iya baiklah namaku Rivaldo beny. biasa dipanggil Aldo." katanya sambil merapikan rambutnya
dan ketika aldo memperkenalkan dirinya pada Erin, Renaldi yang baru datang malah menarik Erin dan mengajaknya untuk membereskan meja yang berantakan.
"woi!! Aldi aku lagi ngomong sama dia!!!" teriak Aldo dari meja itu sambil melemparkan kotak tisu kekepala renandi
"hah? salah siapa tidak fokus?" kata Renaldi
"s ..sudahlah, tidak usah berdebat." kata Erin yang mencoba menenangkan suasana yang mulai panas.
sepulangnya dari kafe, kebetulan sekali jalan pulang Erin dan Aldo searah dan akhirnya mereka pun pulang bersama.
"si Aldi menyebalkan sekali. dia selalu saja memotong pembicaraan orang lain."
"kalian terlihat akrab sekali, apa kalian teman masa kecil?"
"hah? eh .....i.iya begitulah kami dulu tiga sahabat."
"selain kalian berdua, memangnya satu lagi siapa?"
__ADS_1
"itu ya, teman kami satu lagi sudah meninggal karena kecelakaan" kata Aldo yang tiba-tiba menundukkan kepalanya
"begitu ya, aku minta maaf"
"ya, teman kami yang satu lagi itu orangnya bisa dibilang sudah sukses dan cukup dewasa bahkan dia sudah menikah aku mulai merasa iri padanya karena bisa mendapatkan seorang wanita"
"siapa namanya?"
"namanya adalah Rangga"
"Rangga!?" Erin tiba-tiba terkejut mendengarnya dan terjatuh saat berjalan
"Erin? kau baik-baik saja? apa kau merasa pusing?" kata Aldi sambil memegang bahu Erin
"tidak apa-apa. aku hanya merasa lelah saja" Erin pun bangun dan kembali berjalan menuju rumahnya..
keesokan harinya, saat Raka baru saja pulang dari TK. ia memiliki ide untuk mengunjungi ibunya yang bekerja di kafe bersama dengan neneknya. sesampainya disana, terlihat Erin yang sedang mengelap gelas dan langsung menyambut kedatangan Raka disana
"Erin, kau sudah selesai?" tanya ibu Erin
"aku rasa pekerjaan ku disini belum selesai" kata Erin
"begitu, ya"
"ibu, ada yang ingin aku tunjukkan pada ibu." kata Raka
"apa itu?"
"sebentar lagi, akan ada hari ayah. disekolah aku akan menyanyikan lagu untuk ayah."
"hari ayah, ya?"
__ADS_1
"jadi, kapan ayah bisa pulang dari pekerjaannya itu!?"
"soal itu, sepertinya ayah masih sibuk Raka. jadi ibu rasa ayah tidak bisa pulang."
Raka yang tadinya tersenyum lebar, tiba-tiba menundukkan kepalanya dan tidak tersenyum lagi
"ayah sibuk ya. kalau begitu tidak apa-apa" kata Raka sambil berjalan keluar kafe itu.
"Erin, mungkin ibu rasa kau harus berhenti membohongi anakmu lagi" kata ibu
"maaf, ibu aku belum bisa memberikannya seorang ayah yang baik. jika aku mengatakan yang sebenarnya, apa mungkin Raka akan membenciku?"
"itu hanya nasehat dari ibu, mau sampai kapan kau berbohong dan yang lainnya kau yang urus nanti" kata ibu sambil berjalan menyusul raka
"iya ibu"
setelah kafe tutup, Renaldi melihat Erin yang hanya diam saja di meja antrian menghampirinya dan duduk disampingnya.
"pikiran mu sepertinya sedang berat, ya Erin?"
"ya, begitulah"
"aku dengar kok apa yang kau bicarakan dengan anakmu tadi"
"sebagian hanya bisa mendengarnya tidak bisa melakukan apapun"
"aku paham, apa yang kau rasakan saat ini. lagipula kenapa kau selalu menutupi kenyataan tentang suami mu?"
"aku tidak tahu, apa yang sebenarnya aku lakukan. tapi, aku sangat menyesal"
"tak usah menyesal seperti itu, aku yakin jika kau mengatakan yang sejujurnya kalau itu untuk kebaikannya. dia pasti tidak akan marah" kata Renaldi sambil berjalan ke dapur
__ADS_1
"mungkin, Renaldi benar. aku harus mengatakannya."