
"apa yang kau lakukan disini, Lita?" tanya Renaldi sambil memegangi Erin
"kau tidak usah memegangnya terus Aldi. aku tak akan menyentuhkannya sama sekali." kata Lita
"lalu kenapa kau kemari?" tanya Aldo
tiba-tiba saja, Lita bersujud dikaki Erin dan menangis meminta maaf. "aku minta maaf, atas segala yang telah aku lakukan padamu. aku tahu ini tak akan bisa dimaafkan, tapi aku minta maaf." kata Lita yang bersujud di kaki Erin itu.
"L....Lita, aku mohon hentikan ini. jangan lakukan" kata Erin sambil mencoba membangunkan Lita dan Renaldi yang juga ikut bersalah, juga bersujud dikaki, Erin dan meminta maaf.
"aku juga minta maaf Erin, atas kejadian kemarin dan bulan lalu. maaf jika menurutmu aku tidak bisa melakukan apapun, maaf" kata Renaldi
Erin, yang melihat mereka bersujud di kakinya, menangis karena ia tidak ingin mereka melakukan hal itu
"kalian jangan lakukan ini. aku mohon.... aku sudah memaafkan kalian, jadi jangan lakukan hal ini"
sore harinya, ketika mereka sudah selesai menjenguk Erin di rumah sakit, Renaldi dan Aldo berjalan pulang bersama dan berbicara sepanjang jalan
"hei, Aldi tadi itu... kenapa kau melakukan hal yang tidak usah pada Erin?"
"maksudnya?"
"caramu meminta maaf pada Erin, bukankah itu terlalu berlebihan?"
"benarkah? tapi, bagiku itu tidak terlalu berlebihan."
__ADS_1
"jelaskan alasanmu kenapa, kamu berkata seperti itu?"
"ah.....soal itu sih... bagaimana menjawabnya ya.. mungkin aku memang menyukai Erin"
"heh? kau menyukainya?"
"yah, meskipun rasanya tidak mungkin bagiku untuk melangkah lebih jauh lagi. tapi setidaknya, aku bisa melihatnya setiap hari, sedang bekerja dengan ku"
"oh, begitu ya. lalu kenapa kau tidak melamarnya? dan hidup dengannya?"
"aku rasa tidak mungkin."
"kenapa bisa begitu?"
"karena, aku....."
"tidak tahu deh..." kata Renaldi sambil tersenyum padanya
sementara itu, ketika malam hari telah datang. Erin sedang ada dikamarnya sendiri sambil melihat keluar jendela
"aku sudah lama tidak melihat Rangga disini. apa yang dia lakukan ya?"
"jadi, kau merindukanku ya, istri ku Erin?" kata Rangga yang tiba-tiba muncul di sudut kamarnya.
"Rangga? kenapa kau baru datang saat ini? darimana saja kau?"
__ADS_1
"yah, sepertinya mereka itu memang menyebalkan ya." kata Rangga sambil mendekati ErinĀ
"ada apa denganmu?"
"aku telah membuatmu celaka. aku minta maaf" kata Rangga yang membuatnya menangis
"T...tidak perlu minta maaf, Rangga. aku baik-baik saja"
"ternyata mereka memang tidak sabaran ya."
"apa maksudmu?"
"maaf, aku tidak bisa membimbing mu lebih jauh lagi. dan sepertinya hanya sampai disini saja"
"T...tidak mungkin. kau....kau akan menemaniku terus kan? dulu kau bilang kalau kau akan menjagaku dengan baik dan terus menemaniku. tapi sekarang kenapa kau bilang seperti itu?"
"selama ini, aku bukanlah Rangga yang biasa kau lihat. aku hanyalah bagian dari imajinasimu saja dan ini bisa dibilang kalau sebenarnya Rangga itu memang sudah tidak ada"
"jangan bercanda, Rangga. jangan bercanda!!" bentak Erin yang sudah mulai menangis
"selama ini, Raka selalu ingin melihatmu. Raka selalu bilang kalau ia ingin melihat ayahnya!! apa kau tidak merasa kasihan padanya?" bentak Erin
"ya, aku juga merasa seperti itu." kata Rangga sambil tersenyum padanya dan perlahan tubuhnya menghilang
"Rangga....tunggu, kau mau kemana!? Rangga!?" Erin terkejut karena merasakan Rangga yang memeluknya dari belakang
__ADS_1
"maaf, Erin. aku tidak bisa menemani mu terus, dan maaf aku tidak bisa melindungimu seperti dulu lagi. aku sangat menyayangimu dan juga Raka. aku sangat ingin memeluk kalian, mencium pipi lembut Raka dan memegang tanganmu, Erin. a...aku sangat ingin itu terjadi" kata Rangga yang menangis lalu menghilang sepenuhnya
"Rangga kau payah, sekali. jika kau ingin itu terjadi, kenapa tidak menemani ku lebih lama lagi!?" Erin pun menangis dan berteriak di dalam kamarnya