
Erin, pergi mengunjungi renaldi dirumah sakit karena permintaannya sendiri. Sesampainya disana, Erin melihat wajah Renaldi yang terlihat begitu sedih dan seperti ingin mengatakan sesuatu padanya
"Kau lama sekali Erin! Darimana saja kau!?" Kata Renaldi yang tiba-tiba mengeluarkan suara keras
"Hah? Kenapa kau begitu marah!? Aku juga baru sampai kemari"
"Tapi, kau terlalu lama!? Bukankah ibuku sudah pulang dua jam yang lalu!? Tapi kenapa saat ini kau baru datang!?"
"Memangnya kenapa!!! Dan sebenarnya kau ingin aku datang atau tidak sih!!!?" Teriak Erin
Renaldi pun akhirnya sadar kalau ia telah meneriaki Erin yang baru datang itu. Renaldi pun berhenti berteriak dan mengusap matanya yang hampir menangis itu
"Maaf, ya. Aku tidak sengaja. Seperti biasa, aku selalu terbawa emosi. Rasanya menyebalkan bukan, jika bertemu orang seperti ku" kata Renaldi yang mulai menangis karena itu.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Erin yang berjalan dan duduk disamping Renaldi.
"Maaf, tadi aku menangis. Karena, aku merasa bersalah telah meneriaki mu tadi"
__ADS_1
"Tidak perlu menangis. Terkadang, aku juga seperti itu pada Raka.
"Benarkah?" Tanya Renaldi yang berhenti mengusap matanya
"Ya. Setiap orang juga pernah seperti itu kan? Jadi....kau tidak usah menangis, aku juga tidak akan marah"
"Terimakasih ya, Erin dan sebenarnya tujuan ku untuk menyuruhmu kemari karena ada yang ingin aku katakan padamu "
"Apa?"
"J...jangan bercanda. Itu semua bohong kan? Bukankah kau sudah janji padaku untuk melihat kembang api pada malam tahun baru!?"
"Maaf, Erin. Aku rasa saat ini aku sudah tidak bisa keluar dari rumah sakit lagi. Dan mungkin, aku hanya akan melihatnya dari jendela rumah sakit."
"Tidak, aku yakin kau akan sembuh dan keluar dari rumah sakit ini!!"
"Terimakasih ya, sekarang aku bisa mengerti perasaanmu sekarang. Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja. Kau percaya padaku kan?"
__ADS_1
Renaldi terlihat tenang-tenang saja mengatakan hal itu seolah-olah ia benar-benar baik-baik saja.
Sepulang dari rumah sakit, saat itu cuaca begitu berawan. Erin pun berjalan pulang melewati sebuah taman bermain tempat Erin bertemu dengan renaldi untuk pertama kalinya. Dan Erin pun mencoba untuk beristirahat di sebuah ayunan yang ada disana.
"Apa mungkin aku akan kehilangan seseorang yang baru kutemui hari ini?. Hei, Rangga! Jika kau masih hidup disini dan melihat salah satu sahabat mu Renaldi sakit seperti itu, akan yang akan kau lakukan? Apa kau juga akan menangis seperti ku? Renaldi bilang kau sedang bersembunyi di suatu tempat. Tapi, dimana!? Aku mohon, tunjukkan wujud mu saat ini! Aku ingin sekali bicara denganmu saat ini"
Dan tak disangka, ketika Erin menangis di ayunan itu, Rangga sudah duduk disebelahnya sejak tadi namun Erin sama sekali tidak bisa melihat wujudnya.
"Maaf, Erin. Aku tidak bisa memperlihatkan diriku saat ini. Karena aku masih merasa sangat bersalah karena telah membuatmu celaka saat itu. Dan ini juga termasuk hukuman bagiku tak bisa menjaga istriku dengan baik. Kau pasti tidak bisa melihat ku saat ini kan? Maaf Erin, aku sangat minta maaf padamu. Aku mohon maafkanlah aku" kata Rangga
Rangga pun akhirnya mencoba untuk memegang tangan Erin yang sedang menutupi wajahnya itu, tapi tetap saja ia tidak bisa menyentuhnya. Tangan Rangga seperti tidak nyata di dunia ini, sama sekali tidak bisa menyentuh manusia. Pada akhirnya Rangga pun memaksa untuk memeluk Erin meskipun Erin sama sekali tidak bisa melihat wujudnya
"Semoga kau bisa merasakannya, Erin. Kalau aku memang selalu ada disamping mu" kata Rangga yang langsung menghilang saat itu juga.
"Rasanya ada yang memelukku tadi. Tapi, siapa ya?" Kata Erin yang mencoba melihat sekeliling namun tidak ada siapa-siapa disana dan bahkan Erin sama sekali tidak merasakan keberadaan Rangga disekitarnya.
__ADS_1