Ayah Untuk Anakku

Ayah Untuk Anakku
bab.7


__ADS_3

keesokan harinya, Erin sedang bersiap untuk pekerjaan pertamanya di kafe milik Renaldi dan sepertinya sangat bersemangat tentang itu


"Erin kau semangat sekali hari ini." kata ibu sambil menaruh tas kecil disampingnya


"ya, aku senang karena bisa memenuhi kebutuhan kalian." kata Erin dengan tersenyum pada ibunya


"ternyata Renaldi memang orang yang baik ya, menawarkan pekerjaan padamu. ibu sangat menyukai orang itu"


"iya, ibu. kalau begitu aku berangkat dulu ya" kata Erin yang langsung berjalan keluar dari rumahnya


diperjalanan menuju kafe, tiba-tiba Rangga terlihat oleh Erin sedang berjalan di sampingnya dan sedang mencoba untuk memegang tangan Erin.


"Rangga? ada apa?"


"e..eh? Erin, jadi kau sekarang bisa melihat ku ya? maaf aku datang tiba-tiba"


"tidak apa-apa, aku senang kau ada disini rangga. apa kau mau menemaniku berjalan?"


"ya, tentu saja. lagipula itu tujuan ku untuk datang padamu."


"saat ini, bisakah kau menyentuhku?"


"heh? a..apa yang kau pikirkan sih, Erin? sudah jelas kan, kalau aku ini tidak nyata. aku tidak akan bisa menyentuh apa-apa" kata Rangga yang berusaha menjelaskan


"kau, yakin? cobalah untuk menyentuh tanganku perlahan dan lihat aku" kata Erin sambil memberikan tangannya itu


rangga begitu terkejut mendengarnya dan hanya bisa terdiam dengan semua ucapan erin. ia pun akhirnya menyerah pada dirinya sendiri dan memilih untuk lari.


"hah....kau jahat, sekali. Erin..." kata rangga yang sedikit tersenyum


tiba-tiba saja, Rangga saat itu menghilang dari pandangan Erin. dan muncul rasa tidak enak Erin pada Rangga karena telah menyuruhnya untuk menyentuh tangannya.


"kenapa aku mengatakan hal itu pada Rangga? aku sangat tidak percaya ini. seharusnya aku tidak pernah mengatakannya." dalam hati erin


sesampainya di kafe, orang tua Renaldi sangat menyambut Erin dengan baik dan langsung memberinya sebuah topi dari kafe itu.


"selamat datang kembali, Erin...." kata ibu yang masih tersenyum lebar di wajahnya


"wah.... karyawan baru kita telah datang ya,ibu" kata ayah sambil memakaikan topi pada erin


"i....iya." Erin semakin dibuat bingung dengan orang tua Renaldi yang langsung memperkenalkan lingkungan kafenya berlari kesana kemari

__ADS_1


"nah, Erin... apa kau sudah mengerti? tugasmu disini adalah melayani para pelanggan yang baru datang dan menyajikan pesanannya" kata ibu


"kalau masih bingung, tanyakan saja padaku ya" kata ayah


"i....iya"


Renaldi yang mendengar keributan saat mengelap gelas, langsung memisahkan mereka


"ah, sudahlah ayah dan ibu jangan membuat Erin bingung dengan kalian. lihat, disana ada dua pelanggan yang menunggu pesanan." kata Renaldi


"ya, baiklah kalau begitu, ibu dan ayah melayani pelanggan dulu ya.... ayo ayah, jalan" kata ibu sambil mendorong ayah


"maaf ya, Erin. orang tuaku memang sejak dulu seperti itu" kata Renaldi


"ah, tidak apa-apa kok. lagipula aku suka dengan orang tuamu. mereka penuh kejutan ya?  kata Erin dengan tersenyum dan membuat wajah Renaldi memerah


"ah....i..iya.. begitulah mereka"


"oh iya, ibumu bilang kalau aku akan menjadi pelayan di kafe ini. jadi mana buku menu yang akan aku tunjukan pada pelanggan?"


"bukunya ada diatas meja. ambil saja" kata Renaldi sambil menunjuk buku itu


"kalau begitu aku ambil ya..." Erin pun berjalan mengambil buku itu dan mulai melayani pesanan pelanggan yang baru datang itu


sore harinya pukul 5 sore disaat kafe sudah tutup. Erin masih mengelap gelas yang baru saja ia cuci tadi. orang tua Renaldi yang melihat semua pekerjaan yang Erin lakukan dari balik tembok mulai merasa terkagum-kagum dengan kerja kerasnya.


"yah, ayah.... Erin kelihatan orang yang baik banget ya. rajin lagi." kata ibu yang mengintip dari balik tembok


"calon menantu yang baik ya...." kata ayah yang juga mengintip dari balik tembok


"ih, ayah mikirnya jauh-jauh banget sih!!"


tiba-tiba ibu dan ayah terkejut, karena merasakan ada yang memegang bahu mereka saat melihat Erin dari balik tembok


"apa yang ibu dan ayah lakukan!?" tanya Renaldi yang sejak tadi memperhatikan mereka


"eh, Renaldi jadi kau yang memegang bahu ayahmu!?" kata ayah


"sudahlah ayah, jangan mengalihkan pertanyaanku. apa yang kalian lakukan disini?"


"eh, k....kami hanya melihat kerja keras yang dilakukan Erin saja..... dia pegawai yang baik ya" kata ibu

__ADS_1


"yah, kalau begitu ibu dan ayah pergi dulu ya!!!" kata ayah sambil mendorong ibu


Renaldi yang juga melihat itu, langsung menghampiri Erin disana.


"hari ini, kau sangat bekerja keras Erin. aku kagum padamu" kata Renaldi


"iya, terimakasih..."


"oh, iya ini bayaran untuk mu" sambil memberi amplop yang berisi uang


"eh? baru hari pertama aku kerja, sudah diberi uang sebanyak ini?"


"ya, itu bayaran mu dan masih ada lagi nanti di pertengahan bulan. asalkan kau terus berkerja keras seperti ini"


"wah.... terima kasih!!!"


"iya, sama-sama. oh, ya ini sudah sore. mau aku antarkan pulang kerumahmu?"


"eh? sungguh?"


Renaldi pun akhirnya menghantarkan Erin pulang dengan menggunakan sepeda yang ada di cafe nya saat itu.


"terimakasih ya, mau menghantarkan ku pulang. aku senang sekali" kata Erin


"ya, tidak apa-apa kok. lagi pula orang tua ku juga sudah senang padamu"


"eh? benarkah?"


"yah, meskipun aku tidak tahu artinya."


"begitu ya.... jujur saja aku juga senang denganmu. saat aku pertama kali melihat mu, kau sedang bermain bersama anak-anak di taman saat itu. sikapmu sangat lembut saat itu, bahkan dengan mudahnya kau akrab dengan anakku."


"hah? apa yang kau katakan tadi?"


"e...eh? bukan apa-apa kok."


"yah, Erin.... sebaiknya besok kau harus menyiapkan tenaga yang lebih ya"


"memangnya ada apa?"


"besok karena hari libur, biasanya pelanggan akan lebih banyak dari biasanya. jadi siapkan tenagamu ya!!"

__ADS_1


"ya, besok aku akan berusaha sebaik mungkin."


__ADS_2