Ayah Untuk Anakku

Ayah Untuk Anakku
bab. 8


__ADS_3

keesokan harinya, benar apa yang Renaldi katakan kemarin. kafe itu begitu ramai, Erin begitu kewalahan mengurusi pelanggan yang terlalu banyak. dan disaat Erin sedang melayani seorang pelanggan perempuan, perempuan itu tiba-tiba menanyakan sesuatu padanya dan bukan mengatakan pesanannya.


"apa kau mengenal Renaldi, pemilik kafe ini?" tanya perempuan itu sambil menutup buku menunya


"M...maaf, saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan" kata Erin


"jangan pura-pura bodoh ya. aku tahu kau berusaha untuk mendekatinya kan?"


"s..saya hanya seorang karyawan disini. saya tidak bermaksud untuk mendekatinya. saya dan renaldi hanya sebatas karyawan disini saja"


"Halah..jangan pura-pura tidak tahu ya" kata perempuan itu sambil memukul mejanya dan membuat semua orang melihat mereka.


mendengar ada keributan disana, Renaldi akhirnya datang dan memberhentikan pembicaraan itu.


"sudahlah, Lita. hentikan jangan mengganggu karyawan baruku!" kata renaldi sambil memegang tangan perempuan itu


perempuan itu pun akhirnya berhenti dan hanya menatap Erin dengan tatapan tajam. Renaldi pun menarik tangan Erin dan membawanya ke dapur.


"Erin, lupakan saja yang tadi itu ya. Lita memang orang yang seperti itu" kata Renaldi


"lita? apa itu nama perempuan tadi?"


"yah, begitulah. tapi, jangan dipikirkan soal tadi ya."


"tenang saja. lagipula, bagiku itu hal biasa kok. aku juga tak akan memikirkannya" kata Erin dengan tersenyum di wajahnya dan membuat wajah Renaldi terlihat memerah


"oh,iya sepertinya didepan ada pelanggan sangat banyak. ayo kita kedepan!!" kata Erin sambil berjalan keluar dari dapur itu

__ADS_1


"hatinya lembut sekali. pantas saja banyak yang iri dengan kebaikannya. dan lebih lagi, dia adalah seorang istri dari pemilik usaha besar"


malam harinya pukul 10 malam. akhirnya tak ada pelanggan lagi yang datang. Erin sedang beristirahat di meja pelanggan nomor 4 sambil menundukkan kepalanya. melihat Erin yang sedang duduk disana karena kelelahan, Renaldi pun membuatkannya kopi dan memberikannya padanya


"apa hari ini kau sangat lelah, Erin?" tanya Renaldi sambil memandangi wajah erin


"tidak apa-apa kok, aku hanya merasa sedikit pusing"


"ini, aku buatkan kopi untukmu"


"yah, terimakasih" kata Erin sambil minum kopi yang Renaldi buatkan


"oh,iya ada yang ingin aku tanyakan. orang yang kau panggil Lita tadi siang itu siapa?" tanya Erin


"ah....Lita ya. sebenarnya dulu dia itu mantan ku" kata Renaldi yang membuat Erin tersedak tiba-tiba.


"Erin kau tidak apa-apa?" tanya Renaldi yang tiba-tiba khawatir dengannya


"i....iya, m...mungkin wajah mu itu, terlalu dekat a...aku tidak bisa mengatakannya" kata Renaldi dengan wajah dan suara yang terlihat gugup


"ah, maaf. aku terbawa suasana" kata Erin yang kembali duduk di kursinya


"kenapa kau begitu terkejut ketika aku bilang, kalau Lita itu adalah mantanku?"


"T...tidak kok. tidak apa-apa"


"ada apa dengan wajahmu?"

__ADS_1


"kenapa?"


"ada serbuk kopi di pipimu" sambil menunjuk pipinya sendiri


Erin sama sekali tidak mengerti apa yang renaldi katakan. dan akhirnya Renaldi pun mengalah dan mengelap pipi Erin dengan sapu tangan miliknya. wajah mereka saling berhadapan dan perlahan memerah karena tidak menyadari apa yang telah mereka lakukan itu. terkejut melihat apa yang ia lakukan, Renaldi pun kembali duduk di kursinya


"maaf, aku mungkin juga terbawa suasana." kata Renaldi dengan wajah yang semakin memerah


"ah...tidak apa-apa kok. aku juga tak merasa keberatan." kata Erin


"maksudnya?"


"ah....iya. ini sudah malam, sebaiknya aku pulang saja ya. Raka pasti sudah menunggu ku dan juga terima kasih kopinya!"


Erin pun mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kafe itu. sesudah Erin keluar dari kafenya, ibu dan ayah Renaldi tiba-tiba menghampirinya dan langsung memukul bahunya


"Aldi... kau semakin dekat ya, dengan Erin.... ibu curiga kalau kau memang menyukainya" kata ibu yang merangkul bahu Renaldi bersama dengan ayah


"ah, apa yang ibu katakan sih?" kata Renaldi sambil melepaskan tangan ibu dan ayahnya dari bahunya


"ayah sangat setuju jika kau mau menikahinya, Aldi." kata ayah sambil mengusap matanya


"ah... kenapa ayah jadi ikut-ikutan juga!?" kata Renaldi yang tiba-tiba ngegas


"Aldi, Erin itu wanita yang sangat baik. meskipun ia seorang janda, tapi hatinya begitu lembut. Erin adalah menantu yang ibu idam-idamkan sejak dulu" kata ibu.


"iya, Aldi. Erin wanita yang lebih baik dari pada Lita, kau harus tahu itu" kata ayah

__ADS_1


"ah!!! kalian ngomong apa sih!!? aku mau tidur" Renaldi tiba-tiba berlari menuju kamarnya dan tidak mau dengar apa yang ayah ibunya katakan


keesokan harinya, saat Erin berangkat bekerja. dan sedang menunggu waktunya untuk menyebrang di jalan yang ramai, ia melihat Lita yang sedang berdiri jauh di depannya. saat menyebrang, mereka saling menatap dengan tatapan tajam dan saling membuang muka setelah itu.


__ADS_2