Ayah Untuk Anakku

Ayah Untuk Anakku
bab. 31


__ADS_3

sesampainya di rumah sakit, erin yang langsung berlari ke kamar Renaldi, sama sekali tidak melihat Renaldi ada dikamarnya.


"Renaldi tidak ada disini? lalu kemana dia?"


Erin pun akhirnya berlari menuju lantai atap rumah sakit dan melihat Renaldi sedang duduk disana sedang memainkan pianika bersama 2 orang anak kecil dengan menyanyikan sebuah lagu


"kenapa Renaldi bisa sampai kesini? memangnya dia kuat untuk berjalan?" kata Erin yang heran melihatnya


Renaldi yang melihat Erin, berhenti memainkan pianika itu dan melambaikan tangannya ke arah Erin.


"hai!! Erin!! kenapa kau hanya diam saja!? kemarilah!!" kata Renaldi yang membuat Erin berjalan ke arahnya


"kakak! siapa cewek itu!?" tanya seorang anak kecil


"iya, apa itu istri kakak?"


"tidak! kakak belum menikah jadi kakak belum punya istri" kata Renaldi yang membuat kedua anak kecil itu terkejut


"heh?? kakak belum menikah!?"


"di umur kakak yang segini, kakak belum punya istri!?"


"memangnya kalian tahu umurku saat ini berapa!?" kata Renaldi dengan suara dan wajah yang seram


"uwah.... kakak seram..."


"kita kabur saja yuk!!!" dan kedua anak kecil tadi pergi meninggalkan mereka berdua.


"kau begitu dekat dengan anak kecil ya"


"eh? bukankah kau pernah bilang sebelumnya?"


"memangnya aku pernah bilang ya?"


"pikun!! Seperti itu saja lupa!!"


"hah? ternyata meskipun sakit juga, kau masih bisa mengejek orang ya!?"


"oh, iya. kenapa kau kesini? bukankah saat ini kau masih bekerja?"


"tidak, aku membolos!!"


"beraninya kau membolos Erin!!!!" kata Renaldi dengan suara dan wajah yang cukup seram menatap Erin

__ADS_1


"i...iya, iya aku minta maaf deh"


sementara itu, Lita yang sedang bekerja dikantor. terpaksa harus menyelesaikan tugas atasannya yang tidak masuk hari ini.


"hah.... menyebalkan sekali aku memiliki atasan yang malas. kenapa tidak diberhentikan saja orang yang seperti itu!!?" kata Lita sambil menaruh kepalanya diatas mejanya.


"kau lelah ya, Lita? mau ku bantu?" kata seorang laki-laki yang berdiri di depan mejanya


"nggak biasanya, kau menawarkan bantuan seperti itu?"


"yah, suasana hatiku sedang bagus."


"bagus? ah..iya, selagi hatimu sedang bagus, tolong kau coba untuk menyelesaikan semua tugasku disini ya." sambil menuntun laki-laki itu duduk di kursinya


"eh? maksudnya aku menyelesaikan semua tumpukan tugas ini!?"


"iya!"


"heh? kenapa aku?"


"bukankah tadi kau menawarkan bantuan padaku?"


"iya, sih tapi.."


"kalau begitu aku pergi dulu ya!!" kata Lita sambil berjalan keluar ruangan itu


"ke rumah sakit!"


"untuk apa dia ke rumah sakit?"


sementara itu, di rumah sakit Erin harus membantu Renaldi berjalan ke kamarnya kembali karena terkadang Renaldi terjatuh dengan sendirinya saat berjalan.


"bagaimana keadaanmu saat ini? apa kamu sudah semakin baik?" tanya Erin


"ah.. bagaimana ya? aku tidak tahu"


"kenapa kau malah tidak tahu keadaanmu sekarang!?"


"karena aku bilang pada dokter untuk tidak memberitahu keadaan ku saat ini padaku. dan jika kau sangat ingin tahu, tanya saja pada orang tua ku"


"kenapa kau malah melakukan hal itu? jika kau tahu keadaanmu saat ini, bukankah kau akan berhati-hati nantinya?" bentak Erin


"aku hanya tidak ingin mendengar berita buruk tentang keadaan ku sekarang."

__ADS_1


setelah itu Erin hanya diam saja dan melihat Renaldi yang mengeluarkan sebuah buku dari laci mejanya


"oh, iya. aku belum tahu nama panjang mu apa?"


"nama panjang ku?"


"iya."


"apa kau akan menuliskannya di buku mu itu?"


"ya! ini buku harian ku sejak aku masih 1 SMA. lama sekali bukan? jadi, apa nama panjang mu?"


"Nadia Erin."


Renaldi pun seperti terkejut mendengarnya lalu menuliskannya di buku hariannya.


"yah! baiklah sudah!" kata Renaldi sambil menutup bukunya


"apa yang kau tulis? aku ingin tahu!!" sambil mencoba mengambil buku itu


"heh? apa yang kau lakukan!? tidak akan aku beritahu!!"


"tapi, aku ingin tahu sekarang!!"


"nanti saja, akan aku berikan buku harian ku suatu saat!!"


"tapi kapan!?"


"nanti!!!!"


setelah itu, akhirnya Erin menyerah untuk mengambil buku itu dan hanya bicara seperti biasanya.


"oh, iya. tahun baru nanti, kau mau aku bawakan apa?" tanya Erin


"tahun baru ya.. kalau bisa aku ingin kue lapis lagi!!"


"hah? itu lagi? tidak ada yang lain?"


"tidak ada! hanya itu saja."


"oh, iya. aku pergi dulu. aku rasa Aldo sedang repot di kafe karena banyak pelanggan"


"silahkan saja"

__ADS_1


"kalau begitu aku pergi!" sambil berjalan keluar kamar Renaldi


"aku harap, aku bisa sampai pada malam tahun baru nanti. maaf ya, aku merepotkan kalian semua"


__ADS_2