Ayah Untuk Anakku

Ayah Untuk Anakku
bab. 20


__ADS_3

malam harinya, Erin terus memikirkan apa yang terjadi pada Rangga kemarin malam itu.


"aku sama sekali tidak mengerti, apa yang terjadi kemarin malam. apa Rangga benar-benar sudah tidak lagi menemani ku disini? hei, Rangga! apa kau masih disini? jika kau ada tolong jawab aku." kata Erin sambil menangis melihat keluar jendela


telepon Erin, tiba-tiba berdering seseorang telah menelponnya. dan ketika Erin melihatnya ternyata Renaldi yang menelponnya. awalnya Erin tidak ingin mengangkatnya tapi karena Renaldi terus menelfonnya sejak tadi, akhirnya Erin mengangkat telepon itu.


"iya, halo Renaldi. ada apa?"


"apa kau sudah tidur? maaf kalau aku mengganggumu karena telah menelponmu malam-malam begini"


"tidak kok. aku masih belum bisa tidur saat ini"


"kalau begitu, kita sama ya. wah.... lihat keluar jendela, Erin!! ada pesawat disana!!" kata Renaldi sambil menunjuk langit


"iya, aku melihatnya."


"kalau begitu, itu berarti kita melihat langit yang sama, ya"


"yah, aku rasa kau benar."


"suaramu terdengar sedang menangis. apa kau juga sedang menangis disana?"


"tidak, aku tidak menangis"


"benarkah? kau pasti sedang memikirkan tentang Rangga, apa aku benar?"

__ADS_1


"tidak. aku sedang tidak memikirkan apapun. tolong jangan membicarakan tentangnya saat ini"


"kau pasti masih merasakan kehilangan ya? aku juga sama sepertimu, jadi tenang saja kau tidak sendiri. Rangga sebenarnya adalah teman masa kecil ku, jadi aku juga ikut merasa kehilangan. kamu juga, jangan terlalu memikirkan Rangga, itu tidak baik untuk mu. aku yakin, Rangga tidak benar-benar menghilang darimu. dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat."


"aku tutup saja ya, teleponnya. aku ingin tidur"


"tapi, sebelum itu ada yang ingin aku katakan padamu."


"apa, itu?"


"aku menyukaimu." kata Renaldi yang langsung menutup teleponnya


"e...eh? T.. tunggu?.." Erin pun melihat telponnya dan ternyata Renaldi sudah menutupnya.


"apa yang sebenarnya Renaldi katakan ya? dia seperti bilang suka. ah.... sudahlah apa yang aku pikirkan sih. tapi, karena Renaldi menelponku tadi, pikiranku jadi tenang sekarang"


"ah....apa yang aku katakan tadi!!? aku terbawa suasana saat itu!! aku harap sinyal disana sedang buruk jadi Erin tidak bisa mendengar apa yang aku katakan tadi. aku tidak tahu harus berkata apa ketika Erin sudah kembali bekerja disini!!?" kata Renaldi yang tiba-tiba heboh sendiri


seminggu kemudian, Erin sudah kembali bekerja di kafe dan sedang membicarakan menu baru untuk kafe itu dengan Aldo


"hei, Aldo. menurutmu, menu baru apa yang kau inginkan di kafe ini?" tanya Erin


"menu apa ya, oh, iya..bagaimana kalau tahu bulat!?"


"heh? tahu bulat?"

__ADS_1


"iya, yang katanya bisa digoreng dadakan itu lho!!!"


"Tapi, sepertinya sudah banyak yang jualan tahu bulat seperti itu"


tiba-tiba Renaldi yang mendengar pembicaraan aneh mereka langsung menghampiri mereka dan memukul mejanya hingga mereka terkejut melihatnya


"menu aneh apalagi, yang akan kalian adakan disini!?" kata Renaldi dengan tatapan seram melihat mereka


"e...heh...tatapan mu bagus sekali Aldi" kata Aldo


"i...iya... mungkin sebaiknya kau memerankan tokoh antagonis saja" kata Erin.


"oh, iya Erin. bagaimana kalau disini akan ada belut goreng, belut sate?"


"wah...iya, belut"


"iya-iya belut"


Renaldi yang mendengar saran aneh dari Mereka semakin kencang memukul mejanya hingga membuat pandangan semua pelanggan tertuju pada mereka


"jika menu belut goreng ada disini, siapa yang mau menggorengnya!!!!?" kata Renaldi dengan suara yang cukup keras


"hei, Erin aku rasa kita jangan membuat Renaldi marah deh" bisik Aldo ditelinga Erin


"iya, aku rasa kita membicarakannya dalam hati saja" bisik balik Erin

__ADS_1


setelah itu, Erin dan Aldo hanya diam saja dan memikirkannya dalam hati saja sampai pulang


__ADS_2