
besok malamnya, Erin baru tersadar dari tidurnya itu. tidak ada siapa-siapa disana hanya ada dirinya saja.
"jadi, aku kembali kerumah sakit lagi ya. dan lagi-lagi karena kecelakaan karena menyelamatkan orang."
Erin mengalami luka kecil karena serpihan kaca di sekitar bagian tangan dan kaki lalu luka kecil akibat terkena aspal jalan di kepala. Erin pun berjalan keluar kamarnya untuk mencari apakah ibu dan Raka ada disana untuk menjenguknya atau tidak. hingga ketika Erin sudah tak kuat berjalan lagi, tiba-tiba ia terjatuh dan seorang laki-laki yang berhasil menangkapnya.
"Erin? kau sudah sadar?" tanya laki-laki itu yang ternyata adalah Renaldi yang datang untuk menjenguknya di rumah sakit.
"Renaldi?!" Erin terkejut melihatnya dan akhirnya Erin dibawa oleh Renaldi kekamarnya.
"apa, lukamu itu masih sakit, Erin?"
"tidak apa-apa kok. luka ku sudah tidak sakit lagi"
"untuk kedua kalinya kau mengalami kecelakaan karena menyelamatkan seseorang kan?"
"tidak apa-apa kok, lagi pula ini tidak separah yang kemarin"
"Erin....a...aku...." tiba-tiba saja Renaldi menangis dan langsung memeluk Erin dengan erat
"L....luka ku ....re..."
"maaf Erin, a...aku sangat minta maaf. aku tidak bisa berbuat apa-apa padahal saat itu aku ada disana. maaf...aku tahu kau akan marah karena itu, aku minta maaf."
__ADS_1
"tidak, tidak apa-apa" sambil melepas pelukannya
"bagiku tidak masalah. lagipula saat ini aku masih hidup kan? dan juga kau bilang kalau aku ini orang yang kuat kan? lalu kenapa kau masih menangis jika kau tahu kalau aku ini orang yang kuat?"
"tapi... a..aku"
"kau terlihat manis ketika sedang menangis ya!" kata Erin sambil tersenyum padanya
keesokan harinya, erin berjalan keatas gedung rumah sakit dan 2 anak kecil sedang bermain di tumpukan selimut yang sedang dijemur. Erin pun hanya tersenyum pada mereka dan duduk dikursi yang ada di sudut bangunan.
"apa yang kau lakukan disini Erin?" tanya Aldo yang baru saja sampai di atas gedung
"Aldo? kau datang sendiri? mana Renaldi?"
"saat ini, tidak ada yang bisa diharapkan Erin. ibumu pergi mengantarkan Raka, lalu Aldi malah disuruh ibunya untuk menjaga kafe."
"tidak, aku sedang malas bekerja" kata Aldo yang berjalan duduk disamping Erin.
"eh? pasti Renaldi akan kesulitan ya, karena ada dua orang yang tidak masuk hari ini" kata Erin
"jangan bohong, Aldo!!!" teriak seorang laki-laki dari balik selimut yang dijemur itu sambil melemparkan tas kewajah Aldo
"eh....? ada apa ini?" tanya Erin yang bingung melihat itu semua. dan ternyata laki-laki yang melemparkan tas itu adalah Renaldi yang juga baru sampai di atas gedung
__ADS_1
"jangan seenaknya meliburkan diri di kafe ku, Aldo!!!"
"memangnya kenapa? lagi pula ayahmu yang menyuruhku."
"heh? seharusnya kau yang menjaga kafe hari ini, Aldo!!"
"sudahlah....jangan bertengkar dirumah sakit" kata Erin yang mencoba menenangkan mereka
dan tak lama kemudian, akhirnya Aldo dan Renaldi bisa berbaikan. Aldo dan Erin saling berbicara dan sedang duduk di kursi itu, sedangkan Renaldi sedang bermain bersama anak-anak tadi.
"Renaldi orang yang cukup dekat dengan anak kecil ya" kata Erin sambil melihat Renaldi bermain dengan anak kecil itu
"ya, sejak dulu Aldi memang orang yang seperti itu"
"eh? sejak dulu?"
"ya, begitulah. dulu dia selalu berkata layaknya orang dewasa. bahkan dia pernah bilang, "dimasa depan ketika aku sudah menjadi ayah, aku akan membahagiakan istriku nanti."
"dewasa sekali..."
"iya, tapi dia jauh tampak berbeda saat ini. sikapnya, tidak dewasa lagi. terkadang dia masih saja menangis gak jelas, seperti anak kecil sekali ya"
"tapi, aku suka sikapnya saat ini. terlihat membuktikan kalau ia adalah orang yang lembut dengan semua orang, anakku saja sampai menyukainya. tidak heran kan?"
__ADS_1
"hah.... sepertinya kau sama sekali tak mengerti apa yang ku katakan"
terlihat dari sana, Lita yang berjalan ke arah mereka. dengan tatapan yang sama seperti saat mereka bertemu. Renaldi yang menghampiri Erin dan Aldo disana, merasa terkejut melihat Lita yang ada di depan mereka.