
sesampainya di kafe, semua tampak biasa-biasa saja. hingga Lita kembali ke kafe itu dan memesan pada Erin. mereka saling memberikan tatapan tajam dan seperti yang mereka lakukan tadi saat menyeberang mereka saling membuang muka saat itu juga.
"oh, iya. saat kafe tutup nanti. aku ingin bicara denganmu, langsung!!" kata Lita dengan masih memasang wajah kesal
"untuk apa?"
"memangnya kenapa? aku hanya ingin bicara biasa denganmu. pokoknya saat kafe tutup, aku akan menunggu disini!" kata Lita yang langsung berjalan ke tempat duduknya
"hah... malas sekali, aku meladeni orang yang kayak gitu"
disaat Erin istirahat makan siang pukul 13.00, Erin mulai merasa kesepian dan disaat itulah tiba-tiba Rangga ada didepannya sedang duduk disana
"Erin, bagaimana pekerjaanmu hari ini? apa kau sangat menyukainya?" kata Rangga sambil menatap langsung Erin yang ada di depannya
"Rangga? sejak kapan kau ada disini?"
"bukankah aku pernah bilang padamu, saat kau mulai merasa kesepian disanalah aku akan ada untuk menemani mu."
"ah, begitu ya. soal yang waktu itu, apa kau marah padaku?"
"kapan? sepertinya aku lupa tentang itu."
"kau lupa ya. tapi kau sama sekali tidak marah padaku kan?"
"aku tidak akan marah pada istriku sendiri."
"hei, Rangga!"
"apa?"
__ADS_1
"menurutmu, apa aku tidak usah ya untuk mencari seorang ayah baru untuk Raka? aku pikir nanti mungkin aku akan mengatakan hal yang sebenarnya nanti pada Raka"
"soal itu, kau yang akan memutuskannya. bagiku, tidak apa-apa kau mencarikan ayah baru untuk Raka. karena aku sendiri juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk kalian. jadi, kau yang akan memutuskannya nanti"
"aku sendiri juga bingung, apa yang harus kulakukan." kata Erin sambil mengusap matanya dan tersenyum pada Rangga
melihat tangan Erin yang ia letakkan di meja, Rangga begitu penasaran apakah ia memang bisa menyentuh tangan Erin secara langsung. Rangga pun mencobanya tanpa sepengetahuan dari Erin. dan setelah mencoba menyentuhnya ternyata ia memang tidak bisa menyentuh tangan Erin.
"oh, iya waktu istirahat ku telah habis. aku pergi bekerja dulu. oh, iya Rangga. kapan-kapan kita bicara lagi ya" kata Erin sambil melambaikan tangannya dan masuk kedalam kafe itu
"aku, ingin sekali menyentuh tangan istriku dan anakku. tapi kenapa tidak bisa ya? jika saat itu aku diberi kesempatan untuk kembali hidup, aku ingin kembali memeluk erat anakku dan juga istriku yang saat ini telah bekerja keras untuk anakku dan ibunya. aku ingin sekali hidup." kata Rangga sambil menangis di meja itu dan kemudian menghilang
sore harinya saat kafe sudah ditutup. Erin langsung bergegas pulang ke rumahnya karena tidak ingin bicara dengan Lita namun saat Erin membuka pintu keluar kafe itu, Lita sudah berdiri didepan pintu itu sejak tadi. dan akhirnya Erin terpaksa pulang telat lagi karena harus bicara pada Lita
"apa yang mau kau bicarakan?" tanya Erin yang langsung menaruh tasnya diatas meja
"ya, aku tahu. kau adalah mantan Renaldi kan?"
"oh, jadi Renaldi sudah menceritakannya padamu ya"
"sudah? apa itu saja yang mau kau bicarakan?"
"sifatmu terlihat berbeda ya, saat melayani pelanggan itu. kau sudah tahu kan? kalau aku ini adalah mantannya Renaldi. karena itu, aku ingin bicara dengan mu dan meminta bantuan dari mu"
"bantuan seperti apa?"
"aku ingin, berbaikan dengan Renaldi. kau bisa bantu aku kan?"
"b..baikan dengan Renaldi?"
__ADS_1
"ya, apa kau bisa membantuku?"
"a....s..soal itu, sepertinya aku tidak bisa membantumu"
"kenapa? apa kau menyukainya?"
"b...bukan begitu aku"
"kenapa kau tiba-tiba gugup seperti itu? ah... sudahlah sekarang aku paham, kau memang menyukai Renaldi. aku tidak menyangka itu akan terjadi, aku tahu kau sudah memiliki suami kan? tapi sayangnya dia sudah meninggal karena kecelakaan"
"d...dari mana kau tahu?"
"aku tahu, karena saat itu aku yang menjadi sekretarisnya. ya, sudahlah lanjut saja ke intinya."
"eh....?"
"kau cukup bilang iya dan tidak. katakan padaku kalau kau memang menyukai Renaldi saat ini!?" tanya Lita dengan mengeluarkan suara keras namun Erin tetap diam saja dan tidak ingin menjawabnya. Lita semakin marah padanya dan akhirnya ia memukul meja.
"jawab pertanyaan ku!!" teriak Lita dihadapan Erin
"i....iya"
"oh, begitu ya. aku sudah menduganya. itu berarti kau meninggalkan Rangga sendirian disana ya."
"b..bukan seperti itu maksudku!"
"sudahlah, hanya itu yang ingin aku tanyakan. aku pulang dulu" kata Lita yang berjalan keluar dari kafe itu
"aku sama sekali tidak ingin meninggalkan Rangga disana. tapi, Raka ingin sekali melihat sosok ayah yang sebenarnya. apa yang harus aku lakukan sekarang?" kata Erin sambil menangis di meja itu
__ADS_1