
seminggu kemudian, akhirnya Erin sudah diperbolehkan pulang oleh rumah sakit. dan beberapa hari setelahnya Erin mulai bekerja di kafe milik Renaldi.
"selamat datang....." sambut ayah Renaldi yang sedang menyajikan makanan untuk pelanggannya. ayahnya begitu terkejut melihat anaknya Renaldi pulang dengan seorang perempuan yang digandengnya. melihat hal yang jarang terjadi, ayahnya langsung berlari menuju istrinya yang sedang menata gelas itu.
"ibu......ini gawat!!!" kata ayah dengan wajah yang berkeringat dan seperti was-was dan menggoyang-goyangkan tubuh istrinya itu
"apa, kenapa!? apanya yang gawat? ada pelanggan protes lagi!? lagian juga enggak usah was-was kayak gitu! biasa aja kali!" kata ibu
"bukan itu Bu!!! coba lihat deh, anak kita. dia pulang dengan seorang perempuan disana dan sedang duduk di meja nomor 3!!" kata ayah sambil menunjuk ke arah meja nomor 3
ibu yang melihatnya langsung terkejut dan menghampiri Renaldi anaknya dan teman perempuannya, Erin
"selamat datang di kafe kami, mau pesan apa?" kata ibu dengan senyum lebar di wajahnya.
"ini, nikmatilah makanan dan minuman yang ada di kafe ini, enak lho..." kata ayah sambil menyajikan semua menu makanan dan minuman yang ada di kafe di depan Erin.
"eh....se... sebenarnya aku, disini untuk..." Erin semakin bingung dengan tingkah orang tua Renaldi itu dan tidak tahu harus menjawab apa.
"aduh, ayah ibu jangan membuat Erin bingung dengan kalian dong ...." kata Renaldi
"Erin? apa itu namamu? wah....sejak kapan kau kenal dengan Renaldi? katakan kapan kalian akan serius dalam hubungan ini? oh... tunggu-tunggu...mungkin apa nanti kalian akan menikah?" kata ibu sambil memegang kedua bahu Erin
"sudahlah, ibu, ayah. Erin kesini untuk melamar pekerjaan, jangan salah paham dulu" kata Renaldi yang mencoba menjelaskan
ayah dan ibunya terdiam setelah Renaldi mengatakan hal itu. dan terdengar bel pintu masuk, ternyata seorang anak kecil dan ternyata itu adalah Raka, anak Erin yang langsung memeluk Erin disana
"heh.... apa ini anak mu Erin? wah manisnya...." kata ayah sambil memegang pipi lembut Raka
"jika kau sudah punya anak, berarti kau sudah memiliki suami ya, Erin?" tanya ibu
__ADS_1
"s....soal itu..." tiba-tiba saja Erin menolak untuk menjawab hal itu dan hanya diam saja. melihat Erin yang seperti itu, Renaldi langsung menarik ayah dan ibunya menjauh dari Erin
"eh? ada apa ini, Renaldi?" tanya ibu
"aduh...ibu jangan menanyakan tentang suaminya dong..." kata Renaldi
"memangnya kenapa?" tanya ayah
"sebenarnya, Erin sudah tidak memiliki suami sejak 5 tahun yang lalu. bersamaan dengan lahirnya Raka, anaknya. suaminya telah meninggal karena kecelakaan saat ingin melihat Erin dengan anaknya yang baru lahir. jadi, itu mungkin akan menjadi hal berat untuk dijelaskan" kata Renaldi
"jadi, Erin itu janda dengan satu anak ya. kalau begitu sampaikan pada Erin ya, ayah dan ibu minta maaf tentang tadi." kata ayah
"ya, jika Erin ingin bekerja disini. terima saja ya. kau jangan pelit pelit dengan perempuan! ingat itu!" kata ibu
"iya-iya ibu, aku tak akan lupa itu"
"yah, kalau begitu kami pergi dulu ya!! banyak pesanan sekarang!! kau juga, bersiap-siaplah!!" kata ibu sambil mendorong ayah
"maaf, ya Erin soal tadi. orang tuaku memang selalu asal ngomong. lagipula mereka juga belum tahu tentang mu" kata Renaldi
"yah, tidak apa-apa kok. aku sudah bisa melupakan hal tadi itu kok."
"oh, iya ayah dan ibuku sudah setuju kau untuk bekerja disini. jadi mulai besok kamu bisa bekerja disini"
"wah.... benarkah!? terimakasih.. terimakasih...." kata Erin sambil memegang kedua tangan Renaldi
"i...iya, mungkin hari ini kau bisa pulang dan siapkan tenagamu untuk kerja besok ya"
"terimakasih, kalau begitu aku pergi ya..sampai besok!!!"
__ADS_1
dan ketika Erin ingin membuka pintunya, ayah dan ibu Renaldi tiba-tiba menghentikan erin dengan membawa bingkisan kecil untuk Erin
"Erin....sampai jumpa besok ya..." kata ibu sambil memegang tangan Erin
"iya, Erin..... ayah akan menunggu mu untuk kerja besok ya, jaga kesehatanmu terus ya...." kata ayah sambil terus memegang tangan Erin
"ayah, mau sampai kapan ayah terus memegang tangan Erin?" tanya ibu
"eh, iya maaf deh. kalau begitu sampai besok ya Erin!!"
"i....iya. terimakasih untuk hadiahnya" kata Erin sambil keluar dari kafe itu dan kembali pulang kerumahnya
"Erin, itu orang yang baik kan?" tanya ibu
"iya, ayah tak menyangka Renaldi lebih memilih seorang janda dari pada yang perawan ya" kata ayah
"ah, ayah ini apa-apaan sih... lebih baik janda daripada perawan tahu, soalnya mereka lebih berpengalaman"
"dari mana ibu tahu?"
"ibu tahu lah... karena ibu kan seorang perempuan juga"
sementara itu, saat berjalan melewati taman bersama dengan Raka. Erin melihat Rangga suaminya yang telah meninggal itu sedang duduk ditempat yang biasa Erin duduki disana. dan sedang tersenyum padanya
"apa yang ibu lihat?" tanya Raka yang menggandeng tangan Erin itu
"tidak apa-apa kok. ayo jalan lagi"
Rangga yang sedang duduk di tempat kemarin yang ia duduki bersama Erin, sedang menatap langit dan memikirkan tentang Erin, istrinya itu.
__ADS_1
"apa tidak apa-apa jika Erin mengenal sahabat ku? Renaldi itu orang yang sering sakit-sakitan, aku tidak yakin Erin akan bahagia dengan Renaldi jika memang mereka ingin menikah. mungkin sebaiknya aku berfikir dua kali tentang hal ini ya."
dan Rangga pun akhirnya menghilang dari tempatnya dan pergi kesuatu tempat.