Bacause it's first time

Bacause it's first time
Tersipu malu


__ADS_3

Satrya keluar lewat jalan yang sama saat ia masuk kedalam. Ia turun dari lantai dua dengan penuh gaya. Dan kembali melompati pagar lewat samping. Arel dan Devina merasa lega saat melihat Satrya telah kembali. Satrya lupa tidak memakai kacamatanya dan tidak mengancingkan kancing atas bajunya. Satrya tampak sangat keren dan tampan saat dibukan kacamatanya yang tampak culun baginya.


"Satrya! Syukurlah kamu sudah kembali!" seru Arel merasa lega.


"Iyah, dan aku sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan kita," balas Satrya.


Devina yang seketika menganga melihat Satrya yang tampan tanpa kacamata bulatnya terus menatap Satrya. Menyadari hal itu, Satrya langsung memakai kacamatanya.


"Kamu kenapa Devina?" tanya Satrya kembali menculun.


"Tunggu tunggu Satrya! Kurasa kamu tidak perlu memakai kacamata itu! Lepaskan saja! Kamu sangat tampan kalau tidak memakai kacamata," ujar Devina tersipu malu.


Arel hanya mengerutkan alis dan dahinya dengan sikap genit Devina. Sementara Satrya jadi gelagapan karena hal itu. "Tidak bisa. Aku akan sulit melihat nanti," balas Satrya menolak dengan berbagai alasan.


"Devina, kamu ini apa-apaan sih? Jangan genit deh!" seru Arel merasa geli melihatnya.


"Aku hanya bicara apa adanya kok," rajuk Devina cemberut karena teguran dari Arel.


"Jadi, apa yang kamu dapat?" tanya Arel kembali pada pembicaraan inti.


Satrya mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto yang ia ambil saat masuk menyusup kedalam.


"Jadi masalahnya adalah, ternyata kalau Rey itu adalah anak kandung dari pengasuhnya yang diakui oleh istri dari Pak Haris. Ia baru mengetahuinya sekarang, sebab itu ia marah besar pada pak Haris,"terang Satrya.


"Maksudnya gimana sih? Kok aku gak ngerti!" sambar Devina.


"Jadi begini. Kedua wanita difoto ini adalah Nyonya besar istri dari pak Haris, dan yang satunya lagi adalah pelayan yang hamil oleh Pak Haris yang menyebabkan Rey lahir kedunia. Nah, ketika Rey lahir istrinya Pak Haris mengakui Rey sebagai putra kandungnya untuk menutupi skandal ini. Dan ibu kandungnya itu, menjadi pengsuh Rey sejak lahir yang sudah Rey anggap sebagai ibu kandungnya sendiri," jelas Satrya dengan rinci dan kini Devina mulai paham.


"Ouh begitu yah? Pantas saja Rey sangat marah besar," angguk Devina.

__ADS_1


"Sebab itu, Pak Haris pun tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan semua yang Rey lakukan. Karena ia takut, skandal tentang keluarganya ini sampai Rey bocorkan pada media atau publik," terka Arel.


"Benar. Itulah sebabnya," sahut Satrya. "Ini adalah masalah yang sangat besar bagi Rey. Kita tidak bisa melakukan apapun walau kita sudah tahu. Jika kita ikut campur, maka kita akan terkena masalah besar," lanjutnya.


Arel mendesah dan menghela nafas panjang. Ia merasa sedih juga merasa kasihan oada Rey. Walau bagaimana pun juga Arel menganggap Rey sebagai teman yang selalu mengganggu juga melindunginya selama ini. Walau pun memang nyebelin dan selalu membuat Arel kesal dengan sikap sok romantisnya, tapi Arel juga menyukainya sebagai teman biasa.


"Kamu benar Satrya. Biarlah masalah ini, Rey selesaikan sendiri. Kita tidak bisa ikut campur," tukas Arel sependapat.


"Yah, memang mungkin itulah yang terbaik," sahut Devina.


"Yasudah, karena kita sudah tahu apa yang terjadi. Sebaiknya ini menjadi rahasia hanya diantara kit saja," ujar Satrya diikuti anggukan sari Arel dan Devina.


"Terimakasih Satrya, kamu sudah mau repot-repot bantuin kami," sahut Arel merasa tidak enak, katena ia baru saja mengenal Satrya, tapi sudah merepotkannya.


"Tidak papah. Lagi pula, kalian adalah orang pertama yang aku kenal dan menerimaku disekolah dengan senang hati," balas Satrya dengan lugunya.


"Benar juga! Kalau begitu kamu mau menjadi teman kami?" sambar Devina.


Tapi terlintas dalam pikirannya, toh ini sudah terlanjur dan terjadi. Jadi, tidak ada salahnya jika ia berteman dengan mereka. Asalkan dia bisa berhati-hati dalam bersikap dan mengendalikan kemarahannya.


"Boleh," jawab Satrya setelah berpikir cukup lama.


"Baiklah, kalau begitu kalian mau pergi makan? Aku lapar soalnya!" seru Devina merangkul Arel dan Satrya pergi.


"Dasar kamu ini, Dev!" sahut Arel.


Mereka pun pergi mencari makan untuk mengisi perut mereka. Dan mereka dapati tukang ketoprak yang kebetulan mangkal tidak jauh dari mereka berada saat ini. Mereka pun pergi kesana dan memesan 3 porsi.


"Jadi, Satrya! Karena kamu baru saja menjadi teman kami, dan untuk merayakannya bagaimana kalau kamu yang bayar dan traktir kami," ujar Devina bergurau.

__ADS_1


"Devina!" tegur Arel merasa tidak enak terhadap Satrya yang seolah Devina hanya memanfaatkannya saat ini.


Satrya tersenyum. "Baiklah. Karena kalian menerimaku dengan senang hati, maka aku akan tertaktir kalian," balas Satrya dengan senang hati.


"Gak usahlah Satrya. Kami jadi tidak enak. Lagi pula Devina emang suka bercanda. Kami punya uang kok," sahut Arel tidak ingin terlihat kalau ia hanya memanfaatkan pertemanannya dengan Satrya.


"Tidak papah. Aku senang bisa mentraktir kalian," balas Satrya.


"Yaudahlah Rel, toh Satrya juga gak keberatan kok!" seru Devina menggoda. Arel hanya memutar malas kedua bola matanya. Pesanan mereka pun sudah siap disantap.


Usai mereka makan ketoprak, mereka lekas pulang bersama. Sepanjang perjalanan pulang mereka saling berbincang dan sesekali bersenda gurau. Mereka mencoba untuk lebih dekat dan akrab. Namun, tanpa sengaja sebuah bola melayang kearah Arel dari samping. Satrya yang melihatnya langsung menarik Arel dan memeluk memutar posisi mereka hingga bola membentur punggung Satrya dengan keras.


Sontak Arel kaget. Jantungnya berdetak sangat cepat saat Satrya mendekapnya dan melindunginya. Lagi-lagi pandangan mereka beradu dan mereka saling menatap. Arel tiba-tiba merasa sangat malu, dan pipinya memerah. Sementara Satrya bisa merasakan detak jantung Arel yang berdetak cepat karena Arel masih berada dalam pelukannya.


"Kamu baik-baik saja, Arel?" tanya Satrya membuat Arel gelagapan dan segera melepaskan dirinya dari pelukan Satrya.


"Ahmm.. Iyah. Aku tidak papah," balas Arel salah tingkah.


Oh ya ampu! Ada apa denganku? Kenapa aku merasa gerah dan kenapa aku jadi deg deggan karena Satrya? bathin Arel.


"Bola siapa ini?" tanya Devina.


"Permisi!" sapa lelaki jangkung dan berkulit putih menghampiri mereka. "Maaf, itu bola kami. Kami sedang bermain bola, tapi salah satu teman kami menendangnya terlalu keras dan jauh. Maaf jika bolanya mengenai kalian," terang lelaki itu.


"Tidak papah. Kami baik-baik saja," balas Satrya.


"Yasudah, ini bolamu!" seru Devina melempar bola itu pada lelaki itu yang dengan sigap menangkapnya.


"Terimakasih," balasnya, lalu berlari kembali menghampiri teman-temannya yang lain.

__ADS_1


"Ada-ada saja," gumam Devina. Sementar kini Arel masih belum bisa mengatur detak jantungnya agar stabil. Saat Satrya tersenyum padanya, ia menjadi tersipu malu.


__ADS_2