Bacause it's first time

Bacause it's first time
Cinta yang sebenarnya


__ADS_3

Untunglah Metra tidak mengalami luka yang serius. Dokter hanya menyarankan agar dia memperbanyak istirahat dengan kondisinya yang sekarang. Dan sangat melegakan bagi Amelia dan Arel mendengar kabar baik itu dari dokter.


Sebelumnya Amelia terlihat sangat cemas dan ketakutan. Saking cemasnya ia tidak mau duduk dan mondar mandir didepan pintu IGD sambil menggigit ujung kuku jari telunjuknya.


"Kau membuatku takut saja," ucap Amelia tampak marah dan kesal.


"Kamu mencemaskanku?" balas Metra tersenyum menggoda.


"Hei!" TUK! Amelia menyentil dahi Metra.


"Aww!" Metra meringis kesakitan sambil memegangi jidatnya yang terasa sakit dan memerah karena sentilan keras dari Amelia.


"Dasar ceroboh! Kupikir kamu sudah berubah karena sudah semakin tua! Tapi ternyata kamu masih saja sama kayak dulu," ucap Amelia membuat garis senyum lebar dibibir Metra.


"Kamu juga sama. Kamu masih saja seperti dulu. Amelia yang galak."


"Biarin! Daripada kamu yang selalu ceroboh dan tidak pernah mengerjakan apapun dengan benar," balas Amelia tidak mau kalah.


"Yah yah yah. Awel!" sahut Metra mencubit kedua pipi Amelia dan memanggilnya dengan sebutan manis mereka saat berpacaran dulu.


Mendengar itu tiba-tiba Amelia menepis tangan Metra dengan kasar. Lalu, ia berbalik berpaling dari Metra. Ia merasa sedih saat mendengar panggilan itu. Ia kembali teringat akan masa lalu yang menyakitkan. Perjodohan yang ia terima dan memutuskan hubungannya dengan Metra sepihak.


Mengingat hal itu membuat Amelia tersadar dan merasa sangat bersalah karena telah mencampakkan Metra dan menyakiti perasaanya.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Metra heran dengan sikap Amelia itu.


"Jangan lakukan itu. Kau mengingatkanku betapa jahatnya aku padamu," sahut Amelia.


Metra tersenyum. "Begitu yah. Padahal, aku sangat senang saat memanggilmu seperti itu."


"Lagipula, kita sudah dewasa. Panggilan seperti itu, sudah tidak cocok lagi untuk kita."


"Baiklah. Aki minta maaf."

__ADS_1


"Jangan minta maaf. Kenapa selalu kamu yang meminta maaf. Padahal seharusnya aku yang mengucapkan kalimata itu. Jadi, Maafkan Metra," sambar Amelia terdengar marah. Namun terselip nada sedih.


Arel hanya mengintip dari balik pintu. Ia sengaja tidak ikut masuk kedalam karena tidak ingin mengganggu. Mendengar percakapan dan emosi yang mereka tunjukkan, membuat Arel berpikir kalau Amelia masih sangat mencintai pria berusia 35 tahun itu. Dan hal yang sama ia lihat dari sorotan indah mata Metra untuk wanita berusia 32 tahun itu.


Metra meraih pundak Amelia dari belakang dengan sangat lembut. Amelia sedikit terkejut. "Memang, keputusanmu waktu itu, membuatku seolah ingin mati. Dengan teganya kamu pergi dengan pria lain dan menikahinya, tanpa berpikir apa yang akan terjadi padaku? Aku sempat menyakiti diriku sendiri karena keputusan konyolmu itu.


"Aku depresi, hidupku hancur. Aku tidak bersemangat menjalani hidup. Tapi, cintaku yang malah semakin bertambah justru membangkitkanku, agar aku terus menjalani hidupku, dan menunggu waktu dimana aku bisa kembali bersamamu. Bahkan sampai saat ini, hati ini, cinta ini, perasaan ini, sama sekali tidak berkurang atau menghilang. Justru yang ada cintaku, rasa rinduku, rasa ingin memilikimu, semakin kuat dan semakin menjadi.



"Dan saat aku memdapat kabar, bahwa kamu telah menjada. Aku langsung mencarimu. Mungkin, inilah jalan bagi kita untuk bisa bersama."



Tetesan air mata kini menyelimuti ruangan IGD. Amelia berbalik dan menatap Metra dengan lekat dan penuh arti. Bukan hanya Metra saja yang mengalami kesulitan saat itu, tapi Amelia pun merasakan hal yang sama. Ia begitu tersiksa karena memilih pria yang tidak dicintainya untuk dijadikan teman hidupnya.


Sejenak Amelia berpikir. Apakah semua memang telah menjadi takdir? Cinta ini, pertemuan ini? Apakah memang sebuah tanda bahwa Metra memanglah jodohku untuk selamanya? Pikir Amelia.


Perlahan Metra memeluk Amelia dengan hangat. "Kembalilah kesisiku, Awel," lirih Metra menembus dan menusuk hingga kehati.


Arel pun ikut merasa sedih medengar percakapan mereka itu. Arel berpikir, Bunda memang tidak pernah bahagia selama ini bersama Ayah. Karena Bunda mencintai Ayah. Tidak ada nama Ayah disana selama pernikahannya. Dan hanya terdapat satu nama yang akan membuatnya bahagia yaitu Om Metra. Bathin Arel.


"Mungkin, memang sudah saatnya bagiku untuk bisa membuka mata. Bunda berhak untuk bahagia. Maaf Ayah, tapi kebahagian lebih penting bagiku sekarang," gumam Arel.


Lantas ia pun pergi meninggal mereka dan berjalan menuju taman yang ada didepan rumah sakit. Ia duduk dan menatap langit malam yang indah dan ceria dengan hadirnya para gemintang dan sang rembulan.


"Cinta? Satrya? Bunda? Om Metra? Seperti apa cinta yang akan kujalani nanti?" gumamnya lagi.


"Indah, bukan?" lontar suara besar tapi lembut mengejutkan Arel.


"Ya ampun! Membuatku terkejut saja," sahut Arel mengerjap ketika menoleh kesamping kanannya, ada seorang cowok tampan duduk disana. Cowok dengan seragam rumah sakit dan membawa influsan yang menancap ditangan kirinya. Sepertinya dia pasien disana.


"Maaf, sudah membuatmu terkejut," balasnya tersenyum ramah pada Arel. Dia berambut hitam sedikit kemerahan dengan hidung tipis dan mancung, matanya sipit seperti artis korea, yang ada di tv-tv. Perawakan yang jangkung dan berkulit putih kekuningan. Sungguh lelaki yang sangat sempurna.

__ADS_1


Arel membalas senyumannya. "Ah tidak papah."


"Menurutmu, apakah bintang bisa menangis?" tanya lelaki itu tiba-tiba sambil mendongak keatas menatap para bintang.


"Hah? Ah.. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" sahut Arel yang juga ikut mendongak ketas.


Lelaki itu tersenyum. "Hanya bertanya saja. Ada anak kecil yang menanyakan hal itu padaku. Aku tidak tahu jawaban apa yang harus kuberikan, jadi kupikir aku akan menanyakan pada orang lain," ucapnya.


"Ah begitu yah. Bintang menangis? Aku jadi mengapa anak kecil itu menanyakan hal yang sangat rumit seperti ini?" balas Arel membuat lelaki itu harus menoleh dan menatap dirinya.


"Kamu benar. Aku juga penasaran akan hal itu." ucapnya. "Oh, yah! Namaku Prayoga, panggil saja Yoga!" serunya memperkenalkan dirinya. Mengulurkan tangannya pada Arel.


"Arella. Panggil saja Arel!" balas Arel, menerima uluran tangannya dengan senang hati.


"Apa kita sudah menjadi teman?" tanya Yoga.


"Apa?"


"Yah, karena kita sudah saling berjabat tangan, bukankah artinya kita sudah menjadi teman?"


"Cih.. Yah, bisa jadi sih. Tidak ada ruginya juga kalau kita berteman," balas Arel melepas senyum. Diikuti oleh Yoga yang melepas sedikit tawa.


"Kenapa kamu ketawa?"


"Tidak papah. Sepertinya aku harus kembali sekarang." balasnya seraya beranjak bangun dari duduknya.


"Secepat itu?"


"Kenapa? Kamu masih ingin bersamaku? Atau kamu takut rindu sama aku?"


"Ciih apaan sih. Gombalan seperti itu gak akan mempan sama aku!"


"Yah, sepertinya begitu. Kalau begitu, aku pergi. Sampau ketemu lagi," ujarnya meminta diri seraya melengos pergi.

__ADS_1


"Baiklah. Sampai jumpa! Hati-hati!" seru Arel menghentikan langkah Yoga dan berbalik lagi melihatnya sejenak. Arel pun melambai pada Yoga. Yoga hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju kamar rawat inap.


__ADS_2