Bacause it's first time

Bacause it's first time
Aksi penyelamatan


__ADS_3

Mereka kini melakukan tugas mereka sesuai dengan rencana yang telah mereka diskusikan. Yoga diam-diam pergi ke kantor milik Ratyo dan menyusup kedalam sana. Ia mencoba mencari informasi tentangnya. Akan bagus jika Yoga bisa menemukan beberapa bukti kejahatan Ratyo untuk memudahkan rencananya.


Sementara Metra kini tengah menyalin dokumen itu menjadi dokumen palsu untuk Satrya serahkan kepada Ratyo. Yah, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa membuat dokumen palsu itu agar terlihat lebih sama dengan aslinya. Namun, ia meminta bantuan kepada seorang temannya yang ahli dalam mencetak dokumen palsu dengan cepat.


Satrya mendapat sebuah pesan whatsApp dari nomor yang tidak tercantumkan nama si pengirimnya. Ia mendapat beberapa foto Arel yang dipenuhi oleh luka disekujur tubuhnya. Melihat itu, Satrya benar-benar marah dan ingin rasanya ia membalas mereka saat ini juga.


Dan tidak lama kemudian sebuah panggilan telepon masuk. Segera Satrya angkat dengan emosi yang menggebu dalam hatinya.


"Hallo, Satrya! Kau suka dengan kejutan nya? Bagaimana kau sudah menerimanya, bukan?"


"Dasar penghianat! Seharusnya aku langsung menyadarinya saat aku bertemu dengamu," sahut Satrya dengan sangat geram dan tangan yang terkepal dengan erat.


"Yah. Tapi kau terlalu bodoh untuk menyadari hal itu. Sudahlah, jangan banyak basa-basi. Serahkan dokumen itu padaku."


"Dimana Arel?"


"Jangan cemas. Dia ada bersamaku. Datanglah, jika kau ingin dia baik-baik saja. Datanglah seorang diri. Akan ku kirimkan lokasinya. Ingat! Jangan mencoba melakukan sesuatu yang akan merugikanmu. Dan yah, usahakan agar temanmu itu untuk tidak campur ikut. Mengerti?"


"Jangan sakiti Arel. Jika sampai kau berani melukainya lagi. Akan kupastikan kau lenyap dari dunia ini," ancam Satrya.


"Baiklah, baiklah. Tapi, jika kau berusaha untuk menjebakku atau menipuku. Bersiaplah untuk kehilangannya. Dan datanglah tepat waktu, karena aku tidak punya banyak waktu yang tersisa. Akan kuberi kau waktu 1 jam untuk sampai disini. Terlambat satu menit saja, maka kau akan menyesal,"


"Baiklah."


Satrya pun segera memutuskan teleponya. Dan lokasi yang Ratyo kirimkan sudah Satrya terima. Jaraknya sangat jauh. Tidak mungkin Satrya bisa sampai disana tepat waktu. Kecuali jika ia memakai motor, ia bisa sampai lebih cepat.


"Om! Apa sudah selesai?" tanya Satrya panik.


"Sebentar lagi," balasnya.


"Cepatlah Om. Kita tidak punya banyak waktu lagi," sahut Satrya begitu panik. Sementara waktu terus berjalan.


"Ok! Selesai!"


Satrya pun segera mengambil dokumen palsu itu. Dan dokumen aslinya ia serahkan kepada Devina untuk diserahkan kepada seseorang yang Yoga percayai.


"Aku mengandalkanmu, Devina. Kau harus berhati-hati," ucap Satrya menatap Devina penuh dengan kecemasan.


"Tentu saja. Aku akan sangat berhati-hati. Jangan cemas, kita pasti bisa melakukan ini," sahut Devina.


Satrya mengangguk dan tersenyum kecil kepada Devina. "Ayo, om Metra!" ucap Satrya segera pergi mengajak Metra.

__ADS_1


"Baiklah. Hei, Fad. Terimakasih atas bantuanmu. Maaf, mengganggu malam-malam begini," ucap Metra pada temannya itu.


"Sama-sama. Jangan sungkan!" balas Fadli.


Metra pun tersenyum dan segera menyusul Satrya. Sementara Devina kini harus pergi secepatnya. Tapi tidak mungkin ia pergi berjalan kaki seorang diri malam-malam.


"Emm.. Maaf, boleh saya meminjam sepedamu?" pinta Devina pada Fadli.


"Ahh, baiklah. Pakai saja. Tapi, dengan satu syarat."


"Syarat apa?"


"Boleh aku minta nomor ponselmu?" pintanya dengan senyum lebar diwajahnya.


Yah, Fadli memang teman Metra. Tapi usianya masih sangat muda. Ia baru 25 tahun. Dia jenius dan juga tampan. Yah, mau tidak mau Devina harus memberi nomor ponselnya pada Fadli.


"Sudah. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Devina seraya melangkah mengambil sepeda yang ada disana dan segera mengayuhnya dengan cepat.


"Dia sangat manis," ucap Fadli tertarik pada Devina. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Devina. Ia merasa khawatir jika membiarkan Devina pergi seorang diri. Ia pun mengikutinya dari belakang menggunakan sepeda motor.


Ia hanya memastikan agar Devina tiba dengan selamat. Ia tidak bisa berhenti tersenyum menatap Devina dari kejauhan.


Sementara itu, Satrya kini sampai di lokasi yang ia terima dari Ratyo. Satrya menyuruh Ratyo untuk menunggu didalam mobil. Dan pergi seorang diri menemui Ratyo disebuah gudang kayu yang sudah lama tidak terpakai.


"Dimana Arella?" tanya Satrya dengan dingin dan menatap tajam pada Ratyo.


"Dokumennya dulu," balas Ratyo.


"Tidak. Sebelum aku melihat Arel. Dokumen ini, tidak akan pernah sampai ditanganmu," sahut Satrya.


Ratyo mendesah malas. "Kau sangat kerasa kepala seperti ayahmu. Fugo, bawa gadis itu!"


"Akan segera datang," balas Fugo segera pergi membawa Arella kehadapan Satrya.


Satrya begitu merasa sakit ketika mendapati beberapa anak buah Ratyo menarik paksa Arel untuk dibawa kehadapan Satrya. Satrya begitu sedih melihat keadaan Arella yang tampak lemah.


"Arel?" panggil Satrya dengan lirih dari kejauhan. Alih-alih Arella benar-benar terkejut dengan kedatangan Satrya. Apakah bocah yang mereka maksud adalah Satrya? Hubungan apa yang mereka miliki? Pikir Arel. Ia menatap sendu pada Satrya.


"Satrya?" ucap Arel.


"Sekarang kau puas? Berikan dokumennya!" sambar Ratyo lagi. Satrya pun melempar dokumen itu kehadapan Ratyo. Fugo segera mengambilnya dan memberikannya kepada Ratyo.

__ADS_1


"Ini, bos."


Ratyo pun menerimanya dengan gembira dan senang. Ia memeriksa dokumen itu terlebih dahulu. Satrya sempat ragu dan degdegan takut kalau Ratyo menyadari kalau itu dokumen yang sengaja dipalsukan.


"Bagus. Kerja yang bagus," ucap Ratyo mengangguk peecaya. Satrya merasa lega akan hal itu.


"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Lepaskan Arella!" sela Satrya.


"Hei, jangan terburu-buru. Kau tahu? Aku sangat ingin melihatmu menderita."


"Apa maksudmu?"


Ratyo pun memberi isyarat pada anak buahnya untuk memukuli Satrya. Fugo adalah orang pertama yang melesatkan tinjunya. Satrya cukup terkejut dan hendak akan membalas pukulan Fugo. Namun, tinjunya terhenti ketika ia melihat salah satu anak buah Ratyo menodongkan pisau keleher Arel.


Lantas, anak buah Ratyo yang lain, mulai memukuli Satrya. Tidak ada perlawanan dari Satrya. Ia hanya bisa menerima pukulan dari mereka untuk melindungi Arella. Sementara Arella kini hanya bisa menangis menyaksikannya.


"Jangan! Hentikan! Jangan pukuli Satrya! Hentikan!" teriak Arella. "Satrya! Tidak, hentikan! Kumohon!"


Namun, itu sia-sia saja. Mereka terus memukuli Satrya tanpa ampun. Sehingga salah satu anak buah Ratyo memukul Satrya dibagian belakang kepalanya oleh kayu hingga kayu itu patah. Dan ia pun ambruk jatuh. Darah mengucur dari kepalanya.


Sebelum Satrya pingsan ia sempat menyungging senyum kecil dan lemah untuk Arella. Kemudian Satrya pun pingsan.


"Sudah cukup! Mari pergi dan bakar tempat ini," ucap Ratyo segera pergi meninggalkan tempat itu bersama Fugo. Sementara anak buah yang lainnya membakar gudang kayu itu meninggalkan Arella dan Satrya disana.


"Satrya! Satrya!" seru Arella menghampiri Satrya dan mencoba membangunkannya.


"Satrya bangun! Satrya, jangan tinggalkan aku! Satrya bangun!" seru Arella gemetar takut. Apalagi ketika bara api memakan lahap kayu-kayu digudang itu hingga cepat merambat.


Metra yang sedari tadi menunggu Satrya dalam mobil melihat kobaran api dari kejauhan. Dan beberapa mobil melaju pergi dari arah sana.


"Arella, Satrya?" ucap Metra bergegas turun dan berlari menuju gudang kayu itu untuk menyelamatkan mereka.


Ia mendobrak pintu itu dan masuk kedalam gudang. Ia dapati Arella dan Satrya yang terluka parah dan pingsan.


"Arella!" seru Metra menghampiri mereka.


"Om Metra. Syukurlah om disini. Satrya om," ucap Arella lirih.


"Jangan cemas. Om disini. Kita harus keluar dari sini," balas Metra segera menggendong Satrya dipunggungnya.


"Kau bisa berjalan?" tanya Metra pada Arel. Diikuti anggukan Arel.

__ADS_1


"Kalau begitu, pegang baju om dan ikuti om. Jangan dilepas, mengerti?" ujar Metra.


Mereka pun segera keluar dari gudang kayu yang terbakar itu dengan selamat.


__ADS_2