
Kasih sayang adalah suatu perasaan yang sangat murni. Walau amarah mencoba untuk menyingkirkannya, tapi kasih sayang selalu bisa mengalahkan segala bentuk amarah itu. Hanya butuh sedikit pelukan dan sandaran untuk menenangkannya. Pelukan dan belaian adalah cara untuk bisa meredam amarah seseorang. Karena dengan memeluk, kita bisa sama-sama merasakan detak jantung satu sama lain.
Arel merasa lega, pada akhirnya Rey dan Ayahnya bisa berbaikan dan saling melontar perasaan. Mereka saling bicara dan membagi rasa sakit mereka. Dengan bicara mereka bisa menyelesaikan kesalah pahaman diantara mereka. Dan hal itu membuat Arel senang melihatnya.
"Kurasa semua sudah membaik. Mungkin aku harus kembali," ucap Arel pergi tanpa menemui Rey atau berpamitan pada Pak Haris. Ia tidak ingin mengganggu mereka.
"Ayah?"
"Hmm? Iyah, nak?"
"Soal siswa yang berkelahi denganku..."
"Ada apa dengannya?"
"Bisakah, Ayah jangan memeberikan kesempatan padanya? Maksudku, jangan keluarkan dia hanya karena masalah ini."
"Kenapa? Bukankah kamu terluka karena dirinya? Apa kau tidak marah padanya?"
Rey tersenyum dan memutar kembali ingatannya saat berkelahi dengan Satrya. Saat itu, Rey bisa melihat cinta dari tatapan Satrya untuk Arel ketika Arel berteriak memanggil namanya. Ia langsung berhenti, karena Arel memintanya.
"Karena dia memang tidak bersalah. Dia hanya melindungi seseorang. Dan dia telah membuatku sadar, kekuasaan tidak akan menjadikanmu kuat. Tetapi, hanya menjadikanmu menjadi seorang pengecut yang bersembunyi dibalik kekuasaan."
"Begitu yah. Apa hanya itu saja?"
"Tidak. Ada hal lain juga. Karena aku akan berhenti, jadi aku ingin Satrya tetap berada disisi Arel dan terus melindunginya. Setelah kepergianku nanti, aku ingin Satrya menjaga Arel dari para lelaki yang mengejarnya, yang membuat ia merasa tidak nyaman setiap hari. Karena ada dia aku yakin, Arel akan baik-baik saja," terang Rey.
"Kamu yakin ingin pergi?"
"Yah. Aku tidak ingin mempermalukan Ayah lagi. Dan setelah aku menjadi orang yang hebat dan sukses, saat itulah aku akan kembali agar Ayah tidak perlu merasa malu lagi karena aku."
"Lalu, kamu akan menyerah pada gadis yang kamu cintai itu, Arel?"
Rey tersenyum. "Yah, anggaplah seperti itu. Tapi, sampai kapan pun dia akan tetap menjadi nomor satu dalam hatiku. Lagi pula, masih banyak cewek diluar sana, yang mengejarku."
"Dasar kau ini! Baiklah. Apapun itu, asalkan menurutmu baik, maka Ayah akan selalu mendukungmu. Ah dan soal murid yang berkelahi dengamu itu, Ayah tidak akan mengeluarkannya. Tapi, dia akan tetap menerima hukuman dari Ayah," balas Pak Haris.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih Ayah."
Senyum kembali menghiasi suasana damai diantara mereka. Sungguh pemandangan yang sangat baik untuk dilihat. Sudah lama sekali, sejak mereka bisa bercerita dan mengobrol seperti itu berdua. Setelah kematian Ibunya dan Mamahnya yang mengalami kecelakaan hebat, hingga mereka harus meninggal ditempat. Dan meninggalkan Rey dan pak Haris.
¤☆¤
Satrya dan yang lainnya baru saja keluar dari kantor guru. Devina yang sedari tadi sudah berada diluar mencemaskan Satrya langsung menayakan banyak pertanyaan pada Satrya.
"Bagaimana hasilnya? Mereka tidak mengeluarkanmu, kan? Kamu akan tetap bersekolah disini, kan?"
"Hei, tenang! Satu-satu bertanyanya!" sahut Satrya.
"Baiklah, maaf. Jadi, bagaimana?"
"Aku dikeluarkan," balas Satrya singkat tapu sangat jelas.
"Apa? Apa-apaan itu? Tidak. Ini tidak benar. Mereka tidak bisa mengeluarkanmu begitu saja!" seru Devina tidak terima.
"Tidak apa. Ini memang salahku. Lagi pula, kita tidak punya wewenang untuk mengubah keputusan sekolah," sahut Satrya melontar senyum manis pada Devina. Membuat hati Devina melayang terbang keudara.
"Hei! Memangnya apa yang akan kamu lakukan? Sudahlah. Jangan membuat keributan dan jangan membuat dirimu dalam masalah. Terimakasih yah, karena sudah menjadi temanku," sahut Satrya sambil mengacak pelan rambut Devina. Sungguh membuat hati Devina bahagia dan melayang terbang semakin tinggi. Wajahnya memerah karena malu.
Satrya pun melangkah pergi kekelas untuk mengambil tas ranselnya.
"Ini tidak boleh terjadi. Satrya, dia harus tetap sekolah disini. Sepertinya aku punya ide," ucap Devina menemukan cara untuk mempertahankan Satrya dan membelanya.
Devina mengumpulkan para penggemar Satrya yang tidak lama ini menjadi sangat menyukainya. Aksinya itu, telah mencuri setiap hati para siswi yang ada disana. Dalam waktu yang singkat, Satrya menjadi bahan gosip yang masih hangat dikalangan para cewek. Dan menjadi sangat populer dan begitu banyak cewek yang mengidolakannya.
Devina berhasil mengumpulkan banyak cewek yang juga menentang keputusan kepala sekolah, terkait pengeluaran Satrya. Mereka bersiap untuk Demo dan membela Satrya. Mereka semua bergegas menuju kantor untuk Demo dan membuat keributan.
"Bebaskan Satrya! Tarik kembali pengeluarannya!" teriak Devina memimpin dan diikuti oleh yang lainnya disepanjang koridor sekolah. Satrya yang mendapati hal itu tersenyum lucu dan menggeleng.
"Ternyata Devina tidak main-main. Dia ini ada-ada saja," ucap Satrya.
"Mereka apa-apaan sih? Bikin berisik saja!" lontar Dani merasa risih dengan kelakuan para siswi itu.
__ADS_1
"Hei, bung! Kau beruntung karena banyak cewek yang memihakmu," ucapnya, lalu melengos pergi begitu saja.
Satrya mengerutkan keningnya heran. "Dia kenapa sih?" ucapnya.
Satrya hendak saja akan menyusul Devina dan siswi lainnya agar berhenti dan jangan membuat keributan hanya karena membelanya. Saat ia akan pergi, ia melihat Arel yang baru saja kembali dari rumah sakit. Pandangan mereka beradu. Arel tampak masih kecewa dan marah pada Satrya.
"Arel?" panggil Satrya pelan. Namun, Arel tidak menggubrisnya dan hanya melontar tatapan tajam kekecewaanya. Lalu melengos pergi lagi entah akan kemana.
Satrya hanya bisa menghela nafas berat. "Sepertinya dia benar-benar sangat marah."
Satrya membiarkan Arel pergi untuk menenangkan dirinya. Ia hanya bisa berharap, Arel bisa meredam amarahnya terhadapnya dirinya secepat mungkin. Dan bisa menerimanya kembali menjadi temannya, walau pada akhirnya ia tidak akan berada disekolah yang sama dengan Arel. Tapi, ia berharap ia masih bisa menemui Arel dimana pun ia bersekolah.
Karena baginya, Arel adalah cinta pertama yang ia temukan dengan tiba-tiba. Dan perasaan itu, telah menanam benih yang sangat bagus untuk segera tumbuh menjadi cinta yang indah. Dan bermekar menjadi cinta yang luar biasa.
Sementara itu, Devina dan para siswi lainnya telah sampai didepan kantor guru dan membuat keributan.
"Kami tidak menerima keputusan pengeluaran Satrya! Tarik kembali keputusannya! Bebaskan Satrya!" teriak Devina dan diulangi oleh siswi lainnya.
Para siswa hanya menonton aksi demo para siswi. Mereka hanya bisa menggeleng dengan keributan yang telah mereka sebabkan hanya demi Satrya.
"Aeh! Sepertinya mereka sudah tergila-gila karena murid baru itu," ucap Gio.
Tatkala para guru langsung berhamburan keluar mendengar suara ribut yang terjadi diluar.
"Apa-apaan ini?" bentak Pak Arla terkejut.
"Tarik kembali keputusan pengeluaran Satrya dari sekolah ini! Kami tidak menerima keputusan itu!" seru Devina.
"Apa? Dasar anak ini! Bapak minta sekarang bubar! Apa kalian tidak malu? Membuat keributan seperti ini?"
"Pokoknya kami tidak terima Satrya dikeluarkan!" kekeh Devina.
Demo itu berlangsung cukup lama. Dan para guru terus berusaha mencoba membuat mereka bubar dan mengerti. Tidak lama Pak Dodi mendapat telpon dari Pak Haris. Lalu, ia keluar dan mengumumkan pembatalan pengeluaran Satrya pada siswi yang demo.
"Keputusan pengeluaran Satrya dibatalkan! Kalian puas? Sekarang bubar dan kembali kekelas!" seru Pak Dodi.
__ADS_1
Mendengar keputusan itu para siswi yang demo bersorak gembira atas pembatalan pengeluaran Satrya. Satrya cukup terkesan dan juga ikut senang karena pengeluarannya dibatalkan. Dengan begitu ia masih bisa satu sekolah bersama Arel.