Bacause it's first time

Bacause it's first time
Rindu


__ADS_3

Hari telah berganti lagi. Arel merasa kesal sekali setibanya di sekolah. Ia masuk ke kelas dengan wajah cemberut. Ia dapati Satrya yang tengah duduk dan bengong dibangkunya. Tatapan nya kosong menatap buku pelajaran miliknya.


"Satrya!" seru Arel mengejutkan Satrya yang sontak menoleh tajam padanya.


"Kamu keterlaluan banget, sih!" bentak Arel menggebrak meja milik Satrya. Satrya terheran karena hal itu. Datang-datang malah marah-marah gak jelas sama Satrya.


"Ada apa?" tanya Satrya dingin dan datar.


"Kenapa kamu tidak mengangkat telepon dari aku?" tanya Arel dan menghembus nafasnya kasar.


Satrya tidak menggubris pertanyaan dari Arel dan mengabaikannya. Ia malah bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja. Namun, segera Arel menghadangnya.


"Tunggu dulu! Setidaknya beritahu aku. Kenapa kamu terus ingin menghindariku? Jelaskanlah, agar aku mengerti dengan sikap dinginmu yang tiba-tiba seperti ini padaku," oceh Arel tidak membiarkan Satrya pergi.


Santrya mendesah pelan karena ia merasa sangat kasihan juga melihat Arel seperti ini. Tapi Satrya tidak bisa mengatakan apapun pada Arel saat ini. Ia hanya terdiam menatap wajah gadis itu dengan tatapan sedih. Lalu, tanpa menjawab ia melangkahkan kakinya lagi untuk bergegas pergi.


"Hah! Dia ini ... Benar-benar menyebalkan!" geram Arel mengejar Satrya dari dan tidak mau menyerah. Arel berlari untuk mengejar Satrya yang melangkah dengan besar dan berjalan begitu cepat.


"Satrya!" teriak Arel semakin mempercepat langkahnya. Namun, Satrya pun malah berjalan semakin cepat dan sedikit demi sedikit ia mulai berlari kecil.


"Apa ini? Dia ini kenapa sih?" gumam Arel terus berjuang agar dapat menyusul Satrya. "Satrya tunggu! Kita harus bicara! Satrya!" teriak Arel dengan lantang. Suaranya terdengar menggema dikoridor sekolah.


Tatkala Devina yang barus saja datang tidak sengaja melihat sosok mereka yang sudah seperti kucing dan tikus saling mengejar dan berteriak membuat kerisihan pagi-pagi. Devina hanya menggeleng dan menghela nafas halus.


"Aeh! Mereka kekanak-kanakan sekali, bukan?" lontar Yoga yang tiba-tiba berada disamping Devina membuat Devina terhenyak kaget karenanya.


"Yoga?" ucap Devina.


Yoga hanya tersenyum, lalu melangkah pergi begitu saja. Devina sejenak menatap bingung dengan tingkahnya hari ini. Yoga lupa kalau ia harus menjaga jarak dari mereka. Sebab itu, ia bergegas pergi setelah mengejutkan Devina kedatanganya yang tiba-tiba itu.


Devina mengejar Yoga untuk menanyakan sesuatu padanya. "Yoga tunggu!" seru Devina ketika ia berhasil menyusulnya dan menghadangnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Yoga terheran.


"Aku ingin bertanya. Kamu dan Satrya kemarin pergi ke mall mau ngapain?" tanya Devina penasaran sekali.


"Hah? Kok, kamu tahu soal itu?" sahut Yoga terkejut dan malah balik bertanya.


"Maaf, sebelumnya. Tapi, aku dan Arel mengikuti kalian berdua."


"Kenapa kalian mengikuti kami? Ada apa?"


Devina sejenak terdiam. Ia ragu ingin menanyakan tentang Satrya padanya. Tapi rasa ingin tahu yang begitu menggebu membuat ia memberanikan dirinya untuk bertanya pada Yoga.


"Tentang Satrya. Kamu tahu, kenapa di menghindari Arel?" tanya Devina dengan ragu.


Yoga terdiam mendapat pertanyaan itu dari Devina. Ia hanya menatap lekat wajah Devina dengan bingung. Bagaimana ia akan menjelaskan segalanya kepada Devina sekarang?


"Soalnya, Satrya pernah mengatakan. Kalau ia merasa takut untuk menggenggam tangan Arel. Ia takut kalau Arel celaka kareannya. Apa kamu tahu apa maksud ucapannya?" lanjut Devina menjelaskan dari maksud pertanyaannya.


"Aku tida tahu. Kenapa kamu tidak tanyakan langsung saja kepadanya?" sahut Yoga dengan datar.


"Kalau begitu. Bertanya kepadaku juga tidak akan menjawab apapun." Yoga melengos pergi begitu saja setelah mengatakan itu.


Devina sedikit kecewa karena ia tidak bisa mendapatkan jawaban yang membuat ia cemburu dan penasaran akan sebabnya.


 


🍂🍂🍂


 


Sekolah telah usai. Arel dan Devina baru saja keluar dari gerbang. Arel terlihat begitu cemberut dan sedih. Ia terus saja menekuk wajahnya dan benar-benar merasa kesal kepada Satrya.

__ADS_1


"Hei, sudahlah! Jangan cemberut terus seperti itu! Sampai kapan kamu akan menekuk wajahmu itu?" lontar Devina mencoba menghibur Arel.


Arel mendesah. "Kenapa sulit sekali, membuat Satrya kembali seperti dulu?" ucap Arel dengan lirih.


Jujur saja, mendengar itu membuat Devina sakit hati. Tapi, mereka sudah memutuskan untuk tidak saling membenci hanya karena masalah hati mereka kepada lelaki.


"Yah, sabar ajah. Mungkin dia mempunyai alasan mengapa menghindarimu," sahut Devina memberi senyum kepedihan kepada Arel.


Tidak sengaja Arel mendapati Satrya dan Yoga sedang berjalan menuju halte. Ia langsung berlari untuk menyusul mereka. Devina yang terkejut dengan Arel yang tiba-tiba pergi dan berlari menyusul dan mengikuti.


"Satrya!" panggil Arel ketika sampai.


"Mau apa lagi, sih?" sahut Satrya benar-benar tidak harus berbuat apa agar Arel menjauh dari dirinya untuk saat ini.


Jika hanya dengan bicara tidak bisa membuatmu kembali seperti dulu dan bersama-sama lagi. Maka dengan tindakan mungkin akan membuatmu bisa kembali kepadaku, Satrya, bathin Arel.


Ia melangkah mendekat pada Satrya tanpa melepaskan tatapan keseriusan yang menyorot kepadanya Satrya. Kemudian ia pun memeluk Satrya tanpa ragu didepan Yoga dan Devina. Mereka terbelalak kaget karenannya, terutama Satrya yang langsung gerogi dan detak jantung berdegup dengan cepat.


"Aku bisa mendengar detak jantungmu," ucap Arel.


Segera dengan cepat Satrya mendorong Arel dan melepaskan pelukannya.


"Ayolah, Satrya! Aku merindukanmu. Tidak bisakah kita kembali bersama-sama seperti dulu?" rengek Arel.


"Sudah kubilang, aku tidak bisa! Kenapa kamu begitu keras kepala, hah? Sudah kubilang jauhi aku! Dan pergilah dari hadapanku!" bentak Satrya membuat Arel mematung tidak percaya, Satrya bisa sekasar itu padanya. Air mata jatuh begitu saja dari kedua mata Arel.


Satrya pun lekas pergi setelah mengatakan hal yang menyakitkan untuk Arel dan membuatnya menangis.


Setidaknya, sampai semuanya aman. Tolong jauhi aku Arel, bathin Satrya. Air matanya mengalir begitu terasa membasahi pipinya. Lalu, menyekanya dengan cepat.


Yoga tidak bisa mengatakan apapun dan segera menyusul Satrya. Begitu pun Devina yang kini hanya bisa mengelus pelan pundak sahabatnya itu untuk menanangkannya. Arel sungguh tidak percaya Satrya mampu membentak Arel seperti itu. Padahal Arel hanya ingin berbaikan denganya. Setidaknya Arel juga harus tahu alasan Satrya apa dengan mencampakkan Arel.

__ADS_1


Kenapa ini terasa begitu berat bagi Arel? Kenapa kisah cinta pertama yang ia dapat tidak semulus orang lain? Pikir Arel.


kini hanya isakan tangis Arel yang terdengar dihalte. Dengan pelukan hangat dari Devina, dan belaian lembut yang ia berikan. Setidaknya kali ini, Arel bersama Devina. Setidaknya, sosok sahabat yang sangat ia sayangi berada dipihaknya kali ini. Sungguh, hal ini terasa tidak terlalu sulit dari sebelumnya.


__ADS_2