
Satu jam Arel habiskan waktu untuk menegerjakan tugas sekolahnya. Ia menutup buku-bukunya dan merapihkannya kembali seperti semula. Lalu, ia bangkit dan melompat menjatuhkan diri dikasurnya yang empuk. Tidak lama ia bangkit lagi hanya untuk mengambil ponsel saja, kemudian kembali merebahkan tubuhnya.
Arel melihat-lihat sosmed lagi. Lagi-lagi yang muncul adalah berita tentang orang yang sama yang Arel lihat tadi siang disekolah. Berita siswa yang melawan 12 orang dewasa sampai kalah telak. Mereka para netijen menjulukinya dengan julukan Ghost Fighter. Sebab, mereka seperti hantu dengan kelincahan dan kecepatannya dalam menjatuhkan lawan. Tapi sayang, wajahnya tidak jelas karena vidio terlalu gelap dan juga tidak jelas. Seolah vidio itu diambil secara diam-diam.
"Sepertinya berita ini lahi viral," gumamnya.
"Arel!"
Terdengar suara terikan dari balik kamar Arel. Suara yang sudah tidak asing lagi. Ibunda Arel memanggilnya, sontak Arel langsung bangun dan menyahut panggilan ibundanya.
"Iyah Bun! Sebentar!" balas Arel segera bangkit dan menghampiri Ibundanya.
"Ada apa, Bun? Bunda mau kemana?" tanya Arel ketika melihat ibundanya sudah rapih hendak akan pergi lagi.
"Bunda mau pergi ke supermarket. Stok makanan dirumah sudah pada habis. Kamu mau ikut atau mau nunggu dirumah?"
"Arel ikut! Ada sesuatu yang Arel ingin beli," sambar Arel dengan cepat.
"Yasudah, ayo!"
Mobil pun melaju menuju supermarket. Malam ini terasa segar setelah hujan turun. Tampak orang-orang yang berlalu lalang masih sibuk dengan urusan pekerjaanya. Geliat hidup orang-orang masih membisingkan hari yang seharusnya menjadi waktu dimana mereka beristirahat. Mereka bekerja lembur hingga larut malam. Bahkan para anak jalanan yang masih tampak semangat mengamen disetiap lampu merah.
Begitulah kehidupan dikota-kota. Bekerja adalah segalanya bagi mereka. Padahal jika dilihat lagi, mereka terlalu memaksakan diri akan perkejaan yang tidak seberapa dengan hasilnya. Namun, begitulah hidup. Mereka yang kaya akan dihormati, dan mereka miskin tiada haraganya. Tidak ada yang gratis didunia ini. Semua harus memakai uang. Dan tanpa mereka sadari uang sudah memper budak diri mereka.
"Kamu mau beli apa?" tanya Ibunda Arel sesaat setelah sampai disupermarket.
"Ada deh. Arel akan mencarinya dulu," jawab Arel seraya meninggalkan Ibundanya.
"Baiklah," sahut Ibundanya.
Arel pergi mencari sesuatu yang diingikannya. Ia tidak memperhatikan jalan karena pandangannya terus mencari apa yang ia inginkan disana. Hingga BRuuukk!! Arel menabrak seorang cowok dengan topi hitam yang menutupi matanya.
"Ahh maaf! Maafkan saya! saya tidak sengaja," ucap Arel meminta maaf dan membantu mengambilkan beberapa belanjaanya.
"Tidak papah. Lain kali tolong hati-hati," balasnya datar dan dingin.
"Baiklah, saya akan lebih berhati-hati," balas Arel merasa tidak enak. Tanpa membalas ucapan Arel lagi, cowok itu pergi kekasir untuk membayar.
Arel merasa lega karena orang yang ia tabrak tidak marah-marah. Sebab, kalau sampai seperti itu, ia pasti akan sangat malu. Arel melanjutkan mencari sesuatu yang diingikannya itu. Dan dia sudah menemukannya. Ternyata ia ingin membeli pembalut, karena pembalut dirumahnya sudah habis. Untuk jaga-jaga, sebelum waktunya datang ia bersiap membelinya dari sekarang.
__ADS_1
Arel mencari Ibundanya yang juga sudah selesai membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Arel memasukan pembalut itu kedalam keranjang belanjaan.
"Hanya itu?" tanya Ibundanya.
"Iyah, cuma itu."
"Kalau cuma itu, kamu kan bisa nitip sama Bunda."
Arel tersenyum manja. "Bukan begitu Bun. Sekalian kita lagi diluar, gimana kalau kita maka diluar. Arel pengen makan pizza," pintanya begitu manis dan manja.
Bunda Arel hanya menggeleng tersenyum dengan rayuan Arel. "Baiklah."
"Yeeyyy! Terimakasih, Bun!"
Bunda Arel membayar semua belanjaannya dikasir. Sementara Arel menunggu diluar. Arel melihat cowok yang ia tabrak tadi masih berada diparkiran sedang memasukan belanjaannya kemobil berwarna biru tua.
"Dia masih disini rupanya," ucap Arel terus memperhatikannya hingga mobilnya melaju keluar parkiran dan berlalu pergi.
Setelah menunggu sedikit lama Bunda Arel pun datang dengan barang belanjaanya. Arel membantu memasukkan kedalam mobil. Hendak saja mereka kan pergi, seorang pria memanggil nama Bundanya.
"Melina!"
"Hei! Apa kabar?" tanya Melina sesaat setelah pria itu sampai dihadapannya.
"Kabar baik. Bagaimana denganmu?" balas pria itu sambil berciuman pipi dengan Melina.
"Aku juga baik. Kebetulan sekali kita bertemu disini. Sudah lama sekali kita tidak bertemu," balas Melina. "Ouh iyah! Kenalkan putriku Arella," ujarnya memperkenalkan Arella pada pria itu dengan senang hati.
"Ouh! Hallo, Arella? Saya Bryan!" sapanya memperkenalkan diri.
"Hallo, om Bryan!" balas Arel ramah tersenyum.
"Cantik, sama seperti Ibunya," goda pria itu.
"Kamu bisa saja. Sedang apa kamu disini?"
"Biasalah, kalau hidup sendirian harus melakukan semuanya sendiri. Yah, termasuk belanja."
"Kamu masih melajang?"
__ADS_1
"Yah, begitulah. Aku belum menemukan wanita yang tepat."
Dan bla.. bla.. bla..
Mereka mengobrol hingga membuat Arek harus menunggu lama. Arel hanya menjadi pendengar obrolan mereka yang saling kembali flashback pada masa lalu mereka. Arel mulai tidak sabar karena ia pun sudah lapar dan ingin segera makan pizza.
"Bunda?" sela Arel.
"Iyah sayang, ada apa?"
"Ayo pergi! Aku sudah lapar," rengek Arel manja.
"Ah iyah, bunda sampai lupa. Baiklah, ayo pergi! Maaf yah Met. Tapi kami harus duluan pergi," ujar Melina.
"Oh iyah. Silahkan! Lain waktu jika ada waktu luang, kita bisa minum kopi bersama," sahut Metra.
"Baiklah. Duluan yah!"
Metra hanya membalas dengan tersenyum dan melambai. Mereka melaju pergi untuk makan pizza. Tidak butuh waktu lama, karena kebetulan jarak dari supermarket tidak terlalu jauh menuju restoran pizza. Arel merasa senang akhirnya ia bisa makan pizza juga. Ia memesan pizza Deluxe cheese dan American favourite. Ia duduk dan menunggu pesanannya datang.
"Bun, pria tadi siapa sih?" tanya Arel juga merasa penasaran.
"Dia mantan Bunda saat masih SMA."
"Ouh.. Ganteng. Juga sepertinya dia pria baik," ucap Arel menilai.
"Yah dia memang pria yang baik."
"Lalu, kenapa Bunda putus sama dia? Dan malah menikah sama Papah?"
"Karena Bunda menikah sama Papah itu dijodohkan."
"Oh.. Perjodohan yah? Lalu, apa Bunda masih cinta sama pria tadi?"
Melina terdiam sejenak mendapat pertanyaan dari Arel yang tidak terduga itu. Sulit sekali baginya untuk menjawab pertanyaan Arel itu. Sementara pesana pizza Arel datang dan membuat Amelia menemukan alasan untuk mengalihkan pembicaraan itu.
"Wahh pizzanya datang!" seru Amelia. "Terimakasih yah, mas," ucap Amelia pada pegawai yang mengantar pesanannya.
"Waah.. Baunya sangat harum. Ayo kita makan. Selamat makan Bun!" seru Arel langsung mengambil potongan Deluk cheese-nya dan melahapnya dengan nikmat bersama Bundanya.
__ADS_1