Bacause it's first time

Bacause it's first time
Kebenaran Satrya


__ADS_3

Amelia dan Metra begitu resah dan gelisah. Sudah satu jam setengah sejak Arel pergi malam ini, untuk menemui Devina. Namun, ia belum kembali juga. Hujan yang turun dengan derasnya membuat Amelia semakin dilanda oleh rasa cemas dan panik. Mereka hendak akan keluar dan mencari Arella.


Namun, ternyata Arel sudah tampak kembali di antar oleh Satrya. Amelia begitu lega melihat putri satu-satunya itu telah kembali. Ia memeluk, mencium dan memeluk lagi dengan erat putrinya itu. Tidak peduli walau basah kuyup karena hujan, ia begitu lega dan bisa menepiskan rasa cemasnya.


"Tante, buatkan teh jahe hangat biar Arel tidak masuk angin. Kalau begitu saya pamit pulang tante," ujar Satrya meminta diri.


"Tunggu!" cegah Metra. "Hujannya sangat deras, apa sebaiknya kamu tetap disini dan berteduh sampai hujannya mereda?" tawar Metra.


"Tidak apa, Om. Saya baik-baik saja. Tolong jaga Arel dengan baik. Jangankan biarkan dia terkena flu," tolak Satrya dengan baik, lalu tersenyum seraya hendak melangkah pergi.


Tetapi Arel menarik ujung bajunya dengan pelan. Satrya lagi-lagi terhenti dan berbalik menatap Arel yang masih mengalirkan air mata kesedihannya.


"Aku harus pulang. Jangan sakit, makan dan istirahat dengan baik. Tidurlah sekucupnya, itu sudah lebih cukup bagiku," ujar Satrya mengelus pipi Arel dengan lembut dan menyeka air matanya yang menyatu dengan tetesan air hujan.


Satrya tersenyum berat. Matanya berkaca-kaca seolah menahan air matanya kesedihannya. Kenapa rasanya begitu berat bagi Satrya dan Arel untuk mengucapkan selamat tinggal.


Satrya berbalik dan mulai melangkah pergi. Tangis Arel lagi-lagi pecah melihat kepergian Satrya yang berlalu bersama derasnya hujan. Pertemuan yang berawal dari hujan, dan kini perpisahan pun diakhiri dengan turunnya hujan. Arel menangis cukup keras dalam pelukan sanga Bunda. Satrya yang mendengar tangisan yang begitu menyakitinya mempercepat langkahnya.


Kini air mata pun tidak bisa Satrya bendung lagi, ia menangis dibawah hujan yang deras. Menyatukan kesedihannya dengan alam.


Untuk pertama kalinya Arel patah hati. Tangisannya ini, membuat Amelia cemas. Sama seperti saat Ayahnya meninggal, kesedihannya ini begitu dapat Amelia rasakan. Kini ia tahu, bahwa putrinya sudah beranjak dewasa. Ia mulai jatuh cinta, tapi cinta yang sangat rumit.


Amelia tahu dan mengerti apa yang Arel rasakan saat ini. Ia hanya bisa membiarkan putrinya itu menangis. Malam ini begitu terasa menyakitkan bagi Arel.


 


🍂🍂🍂


 


Devina begitu marah dan sedih ketika sampai dirumah, ia membanting pintu kamarnya dengan sangat keras. Lalu, ia menangis sejadi-jadinya. Ia mengobrak-abrik kamarnya dan melempar segala apapun yang bisa ia lempar untuk meredam amarahnya.


"Kenapa Arel? Kenapa? Aku begitu mempercayaimu. Tapi dalam sekejap, kau hilangkan kepercayaan ku. Kupikir kau sahabat yang baik. Sudah bertahun-tahun kita menjadi teman. Tapi, kenapa kau hancurkan segalanya dalam waktu yang singkat? Kenapa Arek?"


Devina begitu merasa sesak dan frustasi. Ia terduduk dilantai dan bersandar pada ranjang. Ia memeluk kakinya dan menenggelamkan wajahnya menempel pada lututnya. Ia menangis sejadi-jadinya meluapkan semua rasa emosionalnya.


Sementara dari balik pintu kamarnya terdengar suara ribut ketukan dan panggilan resah dari ibu dan adiknya.

__ADS_1


"Kak Vina! Ada apa, kak? Buka pintunya, Kak!" teriak Rina adik perempuannya.


"Devina, sayang! Ada apa? Jangan buat ibu merasa cemas! Buka pintunya sekarang juga!" teriak sang Ibu terus menggedor pintu kamar Devina berharap putrinya itu membuka pintu kamarnya.


Namun, Devina yang masih dilanda badai kekecewaan dan kesedihan sama sekali tidak bergerak dari tempat duduknya saat ini. Ia hanya menangis dan menangis.


Dua sahabat telah dikalahkan oleh perasaan ego mereka terhadap cinta pada satu orang lelaki yang sama. Malam ini, adalah untuk pertama kalinya mereka bertengkar sebesar ini. Sampai mereka memutuskan tali pertemanan yang sudah mereka ikat bertahun-tahun. Dan dalam sekejap tali itu terputus oleh perasaanya yang tidak ingin saling mengerti satu sama lain.


 


🍂🍂🍂


 


Semua berubah dengan cepat. Tidak ada lagi cahaya kegembiraan diraut wajah mereka pagi ini. Semua itu telah meredup seperti saat matahari akan menyambut malam tanpa rembulan dan gemintang.


Tidak ada yang saling menyapa atau melontar kata. Tidak ada lagi kata gembira di pagi hari yang baru ini di sekolah. Mereka saling menghindar dan membuang muka.


Memperlebar luka yang tergores dalam hati. Hanya Yoga yang tampak biasa-biasa saja. Hanya ia terus tersenyum dan melontar sapa. Namun, ia tidak mendapat balasan yang sama seperti kemarin, ia hanya mendapat senyuman kecil dengan tatapan mata yang sedih.


Ia mengerti situasi yang terjadi saat ini. Membuat dirinya merasa begitu tidak nyaman karena hanya bisa tersenyum lepas seorang diri.


"Bersama yang lain?" ulang Satrya melirik bergantian pada Devina dan Arella.


"Ayolah, jangan bersikap seperti ini? Kalian berteman, tidak seharusnya kalian saling berdiam seperti ini. Jika ada masalah, bukankah lebih baik selesaikan dengan cara musyawarah?" tutur Yoga mencoba membantu. Namun, tidak ada yang menggubrisnya.


Devina bangkit seraya melangkah pergi keluar tanpa melirik seusai membereskan bukunya. Arel menatap kepergian Devina yang begitu saja. Ia mengehal nafas, lalu mulai bangkit tanpa melirik pada Satrya dan Yoga.


Satrya memang merasa sangat tidak enak. Karena walau bagaimana pun, salahnya sampai kedua sahabat itu menjadi saling diam dan menjauh.


"Hei, Arella! Ayolah! Aku baru saja berteman dengan kalian! Apa kalian akan mengabaikanku seperti ini?" ujar Yoga lagi tetap berusaha agar ada yang merespon dirinya.


"Sudahlah. Kau hanya akan membuang waktumu saja. Ayo!" tarik Satrya menarik kerah belakang baju Satrya untuk pergi keluar bersamanya.


"EL? Aku tahu semua masalah yang terjadi, berawal dari ego dan perasaan yang tidak mau kalah. Tapi, bukankah menurutmu ini tidak benar?" tanya Yoga saat berjalan dikoridor sekolah menuju kantin.


Satrya tidak menjawab dan hanya mengenal nafas. "Hei, EL! Ayolah, jangan seperti ini?"

__ADS_1


"Kau memang benar, Ga. Tapi, bukankah sebaiknya kau juga mulai menjauhi diriku?" sahut Satrya dingin dan malah meminta untuk menjauh darinya.


"Waahh.. Hei! Kau ini bicara apa? Aku temanmu. Mana mungkin aku menjauhimu tanpa alasan!"


"Kau punya banyak alasan untuk menjauhiku. Dan begitu pun dengan Arel dan Devina. Adalah keputusan yang tepat bagi Arel untuk menjauhiku. Kau tahu kenapa? Karena aku hanya akan membahayakan kalian saja," sambar Satrya.


Sejenak Yoga terdiam. Lalu ia menghembus nafas berat. "EL? Kau sungguh akan seperti ini? Kalau begitu katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?"


Satrya menatap lekat Yoga yang mendadak mempertanyakan siapa dirinya. "Kau ingin tahu? Aku adalah anak dari seorang mafia yang sangat kejam dan brutal. Mereka terkenal dengan nama Spider! Artinya laba-laba. Mereka membuat jaring bagi musuhnya dan tidak pernah membiarkan musuhnya lolos.


"Mafia terbesar yang bekerjasama dengan pemerintahan Negara dalam keamanan dan juga sebagai pemasok senjata. Juga pemilik dari club malam yang tersebar dimana-mana dan juga dibeberapa Negara.


"Dan ayahku adalah pimpinannya. Namun, salah satu anak buah yang begitu ayah percayai telah mengkhianatinya. Dia membunuh ayahku dan mengambil alih segalanya. Dan dia membuang ku sebagai penghianat dengan menuduh bahwa akulah yang tanpa sengaja membunuh ayahku sendiri. Kau sudah puas sekarang?" Jelas Satrya panjang lebar mengungkap siapa dirinya pada Yoga.


Yoga terdiam mengetahui hal itu. Namun, masih ada pertanyaan yang menggelayut dalam pikirannya.


"Lalu, kenapa mereka mengejarmu setelah membuangmu?"


"Karena aku, memiliki kode brangkas milik ayahku. Brangkas yang didalamnya terdapat uang dan berkas-berkas yang sangat penting. Dan kode itu, hanya aku dan ayahku yang tahu. Selama brangkas itu tidak bisa dibuka, dia tidak akan bisa menjadi pemilik yang sah untuk segalanya," balas Satrya.


"Begitu yah? Ternyata situasimu lebih sulit dari yang kuduga. Lantas, sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Yoga lagi beruntui dan ingin tahu segalanya.


"Aku tinggal di panti asuhan. Disana aku mendapatkan biaya sekolah dan tempat tinggal gratis. Yah, setidaknya aku bisa melanjutkan hidup."


"Tapi kau tidak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut. Kau harus melakukan sesuatu agar masalahmu ini selesai. Kau tidak bisa hidup terus bersembunyi seperti ini. Lambat laun, mereka akan menemukanmu," tutur Yoga.


"Kau memang benar. Tapi apa yang harus kulakukan? Aku hanya seorang diri. Dan usiaku masih dibawah umur."


"Kau tidak sendirian. Ada aku. Itulah gunanya teman. Kita akan membuat rencana untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu," sahut Yoga.


Satrya mengeryit bingung dan menyipitkan tatapannya pada Yoga. "Maksud kamu?"


"Brankas itu! Berkas-berkas disana masih dengan kepemilikan atas nama ayahmu. Itu artinya orang yang mengkhianati ayahmu tidak punya hak atas segalanya. Dan kamu sebagai anaknya memiliki hak penuh atas berkas-berkas itu. Kau hanya perlu mengambilnya, dan jadikan berkas itu sebagai bukti untuk menyeretnya ke penjara," tutur Yoga.


"Caranya? Kau pikir mereka akan dengan senang hati memberikannya kepada kita? Hello! Brankas itu dijaga dengan sangat ketat. Akan sulit untuk mendapatkannya."


"Satrya kau ini bodoh atau bagaimana? Siapa bilang kita harus meminta. Aku bilang kita hanya perlu mengambilnya. Itu artinya kita akan mencurinya. Kau paham? Mari kita buat rencana," balas Yoga begitu yakin.

__ADS_1


Sejenak Satrya berpikir dan menatap ragu pada Yoga. Tapi tidak lama ia tersenyum dan mengangguk setuju dengan ide Yoga. Ia percaya dengan kemampuan berpikir Yoga dalam membuat rencana atau strateginya. Karena Yoga memang terkenal sangat licik dengan ide-idenya.


__ADS_2