Bacause it's first time

Bacause it's first time
Perubahan Rey


__ADS_3

Setelah apa yang terjadi, Rey berubah menjadi sangat dingin dan kasar. Dia memang suka membuat onar, tapi hanya keonaran biasa. Tapi kini, ia malah menjadi gila dan tidak waras. Entah apa permasalahan dengan Ayahnya sehingga ia menjadi sangat dingin dan kejam. satu jam berlalu, Rey datang kekelas dengan cara menendang pintu dengan keras. Sontak mereka yang berada dikelas terkejut karenanya.


Tatapan tajam Rey dan sikap Rey yang seperti itu, membuat siswa lain dikelasnya bergemuruh membicarakan dirinya. Tatkala aktivitas belajar mereka terganggu dengan kedatangan Rey yang sangat kasar dan tidak berahabat itu.


"Rey?" ucap Arel.


Rey tidak menggubrisnya dan malah berdiri didepan kelas dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya.


"Dengar kalian semua! Kalian pasti sudah tahu siapa gue? Disini gue hanya mau bilang, kalau gue yang akan memegang kendali disini," ujarnya dengan datar.


"Apa-apaan ini Rey?" sahut Arel bingung akan sikapnya. Rey mengalihkan tatapan tajamnya oada Arel.


"Arella, gadis yang selalu kukejar. Tapi dengan beraninya kamu menolakku. Hah! Sangat disayangkan. Tapi sekarang, rasa suka itu sudah berubah menjadi kebencian," balas Rey menyungging senyum.


"Hei, Rey! Jangan mentang-mentang kamu anak dati pemilik sekolah ini, kamu bisa seenaknya seperti ini!" sambar Fino teman satu kelasnya.


"Kenapa tidak? Aku memiliki kuasa disini. Kau lihat saja, apa yang terjadi padamu karena sudah mengatakan itu," ancam Rey dingin.


"Rey!" bentak Arel yang langsung berdiri menatap Rey kesal. "Kau bukan Rey yang kukenal. Senakal apapun Rey, dia tidak seburuk ini!" seru Arel.


Sementara Satrya hanya menyimak dan menonyon saja. Ia tidak ingin terlibat apapun disekolahnya yang baru.


"Buruk? Apa kau melihatku seperti itu?" tanya Rey lagi seraya melangkah dan mendekat pada Arel. Sorotan matanya tidak teralihkan dari Arel. Begitu pu Arel yang menatap balik Rey dengan kesal. Siswa lainnya hanya menonton dan menyaksikan apa yang akan Rey lakukan saat ini.


"Kalai begitu, sembunyilah dan jangan membuatku kesal! Karena kau tidak akan pernah tahu,apa yang akan aku lakukan padamu," ancam Rey.


"Kau tidak memiliki kuasa apapun Rey! Walau Ayahmu pemilik sekolah ini, tapi peraturan tetaplah peraturan. Jika kau melewati batas, kau akan dikeluarkan dari sekolah ini," balas Arel.


Pembicaraan mereka mulai semakin memanas. Tatkala Rey merasa marah dengan ucapan Arel.

__ADS_1


"Benarkah? Kau ingin segera mengetahuinya? Kau mau mencobanya?"


"Apa?"


"Kau ingin tahu? Apa aku akan dikeluarkan dari sekolah atau tidak bukan? Kalau begitu, mari kita lihat! Apa aku punya kuasa disekolah ini atau tidak," tutur Rey yang langsung menjambak rambut Arel tanpa ragu, sehingga Arel meringis kesakitan. Devina dan yang lainnya terkejut dengan aksi yang Rey lakukan. Begitu pun Satrya yang mulai merasa geram ingin menghentikan aksi Rey itu.


"Kalian lihat! Aku tidak bercanda! Mulai hari, semua ada dalam kendaliku," ujar Rey.


"Rey, lepaskan! Sakit!" rintih Arel.


Rey pun melepaskan jambakannya dengan menarik kasar rambut Arel kebelakang hingga Arel terlempar dan hampir jatuh. Namun, dengan kebetulan Arel terlempar mengarah kepada Satrya, dengan sigap Satrya bangkit dan menopang tubuh Arel dengan kedua tangannya. Tatapan mereka sejenak bertemu dan saling bertatapan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Satrya segera melepaskan tangannya dari tubuh Arel.


"Iyah, terimakasih," balas Arel.


Rey tidak main-main dengan ancamannya. Sikapnya yang nekat itu, bahkan pada Arel yang selama ini ia sukai dan kejar-kejar. Ia berani melakukan hal kasar seperti itu.


Rey benar-benar sudah tidak waras. Ia menjadi sangat liar dan tidak terkendali. Amarahnya yang entah kenapa, telah merubahnya menjadi orang yang sangat gila. Arel tidak percaya, kalau Rey bisa senekat ini. Bahkan para guru yang berdatangan kini terlihat diam dan tidak mau berurusan dengan Rey. Mereka para guru yang melihatnya tidak mencoba untuk menghentikan Rey.


Arel yang tidak bisa tinggal diam dengan kelakuan Rey, merekam aksi Rey itu dan berlari menuju ruangan Presdir untuk melapor apa yang sudah Rey lakukan. Satrya menyusulnya dari belakang dan diikuti oleh Devina yang tidak sengaja mendapati Arek yang tiba-tiba berlari pergi.


Arel sampai diruangan Pak Haris dengan nafas yang tersengal-sengal dan memburu cepat. Tanpa mengetuk pintu ia masuk menerobos begitu saja.


"Permisi, pak!" sapanya terengah-engah.


"Siapa kamu? Berani sekali kamu masuk tanpa mengetuk pintu!"


"Ini darurat pak! Bapak harus lihat rekaman ini!" seru Arel yang langsung menyerahkan rekaman tentang Rey. Sontak Pak Haris terbelalak marah melihatnya. Ia hendak bangkit untuk menghentikan Rey. Namun, ia teringat akan ucapan Rey satu jam yang lalu, yang mengancamnya bahwa Rey akan menghancurkan sekolah ini, jika sampai Ayahnya mengeluarkannya dari sekolah.

__ADS_1


"Dasar anak ini.." gumam Pak Haris.


"Bapak harus segera mengambil tindakan atas apa yang Rey lakukan!" seru Arel.


"Biarkan saja dia. Aku tidak bisa menghentikan apapun yang ingin dia lakukan," balas Pak Haris tampak pasrah.


"Tapi pak.."


"Lebih baik, sekarang kamu kembali! Dan jangan melibatkan dirimu dalam urusan Rey!" seru Pak Haris memperingatkan.


Arel merasa kalau semua ini tidak benar. Tapi ia pun tidak bisa melakukan apapun. Protes hanya akan membuat situasi semakin memburuk. Arel hanya mendesah pelan dan segera keluar dari ruangan Pak Haris dengan lesuh.


Satrya dan Devina sengaja menguping dari balik pintu. Saat Arel keluar dengan raut wajah sedih, Devina pun menepuk pelan punggung Arel untuk menenangkannya dan menyemangatinya.


"Sudahlah. Tidak perlu melibatkan diri. Lebih baik, untuk kita tetap diam dan belajar saja," ujar Satrya.


"Tapi ini tidak benar," kekeh Arel.


"Tapi kita juga tidak bisa melakukan apapun!" sambar Devina.


Arel kembali mendesah dan terdiam. Benar yang dikatakan oleh Devina. Tidak ada yang bisa Arel lakukan untuk menghentikan niat Rey yang buruk untuk mengendalikan sekolah ini dalam genggamannya. Bisa-bisa sekolah ini akan menjadi penjara dan neraka. terlintas sebuah pikiran yang tidak terduga dari Arel untuk masalah ini. Jalannya adalah mengubah Rey kembali menjadi seperti dulu lagi. Dan untuk sekarang, setidaknya itulah tujuannya saat ini.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Devina menyadarkan Arel dari lamunanya.


"Ah iyah,"


"Sebaiknya kita kembali. Atau kita bisa terkena masalah," sambar Satrya.


"Kamu benar sat. Ayo, kita kembali dan lihat. Apa Rey masih mengobrak abrik kelas kita," tutur Arel yang langsung bergegas lari diikuti oleh Satrya dan Devina menuju kelasnya.

__ADS_1


Niatku untuk menyembunyikan siapa diriku, kini malah harus dihadapakan pada hal seperti ini. Bahkan dihari pertamaku sekolah. Apa aku bisa menahannya dan menyembunyikannya? bathin Satrya berbicara.


__ADS_2