
Kini Satrya dan kedua temannya Rey juga Hami tengah disidang oleh kepala sekolah dan beberapa guru yang lainnya juga. Satrya awalnya hanya ingin membantu memberi pelajaran agar berhenti berbuat seenaknya. Tapi yah, dia memang selalu hilang kendali saat ia mulai menggunakan tinjunya. Ia menyadari kesalahannya karena terlalu kejam memberi pelajaran pasa Rey.
"Kamu? Siapa nama kamu?" tanya Pak Dodi kepala sekolah, menunjuk pada Satrya.
"Satrya," jawabnya singkat dan datar.
"Satrya? Aku dengar kamu baru disini. Tapi, kenapa kamu harus membuat masalah sebesar ini, huh? Bagaimana jika Rey terluka parah karena dirimu? Apa yang akan saya lakukan terhadapmu?" geram Pak Dodi mengomel.
Satrya hanya terdiam menatap kosong melamunkan Arel yang tampak kecewa sekali dimata Satrya saat itu. Arel yang pergi bersama Rey dan Pak Haris menuju rumah sakit yang bahkan tidak ragu meninggalkan Satrya disekolah. Satrya mendesah pelan dan hal itu membebani pikirannya saat ini.
"Satrya! Bapak sedang bicara sama kamu, jawab. Jangan bengong saja," ujar Pak Dodi menyadarkan kembali Satrya dari lamunannya tentang Arel.
"Maaf, pak. Saya yang salah. Saya akan bertanggung jawab dan menerima hukuman apapun," balas Satrya pasrah dan tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang sedang berlangsung.
"Bukan itu yang kami maksudkan Satrya. Kami tahu, kamu berniat membantu Hami dengan memberi Rey pelajaran. Tapi, masalahnya sekarang adalah apa yang akan terjadi selanjutnya? Pak Haris terlihat sangat ketakutan saat melihat Rey babak belur dan pingsan tadi..."
"Lantas, kalau begitu. Kenapa salah satu diantara kalian para guru, yang melihat hal itu bahkan didepan mata kalian, kenapa tidak ada satu pun yang menghentikanku, atau melerai perkelahian tadi?" sela Satrya mulai kesal karena mereka para guru terus menekan dirinya. Ia pun malah balik bertanya dengan sorotan mata yang melirik tajam.
"Benar. Kalian para guru tidak bisa menyalahkan Satrya sepenuhnya. Kalian pun sebagai guru telah melakukan kesalahannya yang lebih daripada Satrya," bela Hami kini angkat bicara.
"Apa maksud kamu?" sahut Pak Dodi menyipitkan tatapannya mengarah pada Hami.
"Aku yakin, kalian juga tahu dari pagi aku telah dibully oleh Rey. Kalian melihatnya, tapi kalian tidak peduli dan tidak melakukan apapun saat itu. Kalian hanya lewat dan seolah tidak melihat apapun. Kalian mengabaikan diriku," ujar Hami kini nada bicaranya sedikit meninggi.
Para guru yang merasa pun tertunduk dalam-dalam. Bahkan ada yang memalingkan wajahnya.
"Benarkah itu? Wahh... Jika memang benar begitu. Kalian sungguh sangat mengerikan. Kalian tidak pantas disebut sebagai seorang guru. Hanya karena kalian takut dengan ancaman Rey, kalian bahkan mengabaikan siswa yang membutuhkan perlidungan kalian," tutur Satrya bertepuk tangan sendirian.
"Hei, jaga bicaramu anak muda!" bentak salah satu guru yang merasa melihat Hami yang merasa telah mengabaikan penderitaan Hami.
__ADS_1
"Tenanglah! Dan bicaralah pelan-pelan," sambar Bu Lisa. Lalu, ia menoleh pada Satrya dengan tatapan keibuanya.
"Pak Dodi? Saya minta biarkan masalah ini saya yang tangani. Walau bagaimana pun juga mereka yang terlibat adalah murid dari kelas saya. Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya atas perlakuan mereka. Jadi, saya mohon beri Satrya kesempatan. Dan biarkan saya yang menyelesaikan masalah ini dengan Pak Haris," pinta Bu Lisa memohon.
Hal itu membuat Satrya merasa tidak enak pada Bu Lisa. Mendengar hal itu keluar dari mulut Bu Lisa membuat Satrya sedih dan teringat akan Ibunya yang pernah memohon pembebasan Satrya dikepolisian karena perkelahian besar.
"Maaf Bu Lisa, tapi ini masalah yang sangat besar. Hari ini juga kami harus memutuskan sanksi apa yang pantas untuk Satrya," tolak Pak Dodi.
"Tapi pak.."
"Aku terima! Aku menerimanya! Jika memang masalah ini bisa selesai dengan memberi sanksi padaku. Maka putuskanlah sekarang juga. Dengan senang hati aku akan menerimanya," sela Satrya dengan begitu yakin.
Ia hanya tidak ingin menyulitkan Bu Lisa yang benar-benar tulus membelanya saat ini. Sebab itu dengan cepat ia bersiap menerima keputusan apapun yang akan diberikan oleh Pak Dodi.
¤☆¤
Arel kini masih dirumah sakit dengan Pak Haris. Mereka masih menunggu Rey untuk siuman. Untungnya dokter bilang, tidak ada luka yang serius pada Rey. Dan kabar itu membuat Arel dan Pak Haris bisa bernafas dengan lega sekarang.
"Minta maaf untuk apa?" sahut Pak Haris bingung.
"Seharusnya saya bisa menghentikan mereka saat itu. Pasti semua ini tidak akan terjadi. Ini kesalahan saya," terang Arel.
"Kamu tidak salah. Bahkan para guru yang hadir disana, tidak mampu atau berani melerai Rey, kan? Jadi kamu tidak perlu minta maaf," balas Pak Haris dengan lembut.
"Tapi, Satrya..."
Arel tidak menyelesaikan kalimatnya karena melihat Rey siuman. "Rey? Kamu baik-baik saja?" tanya Arel tersenyum lebar melihat Rey telah bangun.
"Rey! Syukurlah kamu sudah sadar, nak!" imbuh Pak Haris.
__ADS_1
"Ayah? Arel?" ucap Rey berusaha untuk duduk. "Kenapa kalian ada disini?" lanjutnya bertanya.
Pak Haris memeluk Rey saat itu juga. Mata Rey terbelalak kaget. "Ayah sedang apa, huh? Apa-apaan ini?"
"Maafkan Ayah, nak. Biarkan Ayah memelukmu. Kau pasti sangat kecewa karena Ayah. Ayah minta maaf," ucapnya lirih membelai pelan rambut Rey.
Arel hanya bisa tersenyum lega melihatnya. Lalu, ia pun lekas keluar dan membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama dan menyelesaikan permasalahan diantara mereka.
"Kenapa Ayah tega melakukan ini?" tanya Rey masih di tanam rasa penasaran dan penuh akan pertanyaan.
Pak Haris melepaskan pelukannya dan menatap Rey dengan lekat.
"Bagaimana bisa, Ayah dan Ibu juga Mamah... Apakah Ayah tidak memikirkan perasaan Mamah sama sekali?" tanya Rey.
Ibu adalah sebutan untuk Wanita yang selama ini menjadi pengsuh Rey, yang ternyata Ibu kandungnya. Dan Mamah adalah sebutan untuk wanita yang ia anggao sebagai ibu kandungnya. Wanita yang paling ia sayangi dan cintai melebihi apapun.
"Lantas, Ayah ingin bertanya. Hal apa yang paling membuatmu sangat marah hingga seperti ini?" tanya Pak Haris.
"Karena aku tidak bisa memanggil Ibu dengan sebutan Mamah. Walau hanya sekali, aku yakin dalam hatinya ia ingin aku menyebutnya Mamah. Tapi, aku bahkan tidak bisa mengatakannya karena kini sudah terlambat," lirih Rey, kini tangis pecah memberikan suasana sedih yang mencengkam.
"Maafkan Ayah. Ini memang kesalahan Ayah."
"Bukan itu ingin aku dengar! Aku hanya ingin tahu. Dimata Ayah siapa Ibu? Jika dia hanya menjadi seorang pengsuh, itu artinya Ayah tidak mencintainya. Tapi, mengapa Ibu hamil anak dari Ayah?"
"Sebenarnya, itu bukan kecelakaan. Ayah dan Mamah kamu, sengaja melakukannya. Apa kamu tidak heran, mengapa Mamah sangat menyayangimu? Walau ia tahu, kamu adalah anak dari wanita lain. Tapu ia tetap menganggapmu sebagai anaknya," ujar Pak Haris.
"Karena semua itu memang sudah direnakan. Mamahmu divonis tidak akan memiliki seorang keturunan. Sebab itu, Mamahmu menyuruh Ibu untuk bercinta dengan Ayah. Ibu dan Ayah, sama-sama menolak. Tapi, Mamahmu bersikeras dan memohon. Ibumu setuju untuk melakukannya, dengan syarat ketika kamu lahir didunia, ia meminta untuk menjadi pengsuhmu selama sisa hidupnya.
Dan itulah yang terjadi sebenarnya. Namun, para pelayan dirumah beranggapan lain akan hal ini. Ayah menyembunyikam semua ini dan menutup mulut mereka. Agar tidak menjadi skandal yang memberatkan untuk kita. Jadi, semua ini kesalahan Ayah. Maafkan Ayah, nak," jelas Pak Haris panjang lebar. Mengatakan segala kebenarannya.
__ADS_1
Namun, hal itu masih tetap menyakiti Rey. Dan sangat sulit bagi Rey untuk mengendalikan emosi kesedihannya saat ini. Ia hanya bisa menangis dalam pelukan maaf dari sang Ayah.