
Arel mengurung diri dikamar setelah pulang dari sekolah. Ia benar-benar sangat bingung apa yang harus ia lakukan agar semua ini membaik dan selesai? Kenapa dimata Devina apapun yang Arel lakukan selalu salah? Padahal ia telah mengorbankan perasaanya pada Satrya demi dirinya. Namun hal itu pun masih saja salah bagi Devina.
Sampai malam pun tiba, Arel masih berdiam diri dikamarnya dan melamun berpikir apa yang mesti ia perbuat kali ini. Masalahnya benar-benar membebani pikirannya saat ini.
Arel bahkan sampai tidak fokus dalam belajarnya. Sementara besok akan ada ulangan harian matematika. Jangankan untuk belajar, otaknya kini terasa pusing hanya dengan memikirkan masalahnya dan Devina.
Sampai Amelia pun sudah pulang, Arel masih tidak keluar dari kamarnya atau menyambut Bundanya. Berapa lama pun ia berpikir soal masalahnya kali ini, dan menghabiskan beberapa jam waktu belajarnya. Tidak ada ide yang muncul dari otaknya.
Sampai ketukan pintu dan suara Amelia terdengar dan membuyarkan segala pikirannya saat ini.
"Arel, sayang! Makan malam sudah siap!" seru suara Amelia dari balik pintu.
"Iyah, Bun!" segera Arel keluar untuk makan malam bersama Bundanya setelah beberapa jam berpikir dan tidak keluar dari kamarnya.
"Arel?" ujar Amelia bingung saat melihat pakaian yang Arel kenakan saat ini.
"Ada apa, Bun?" tanya Arel bingun mendapat tatapan heran dari Bundanya.
"Kenapa kamu masih pakai baju seragan sekolah?"
Arel mengerjap sadar kalau ia belum mengganti pakaian sekolahnya sejak pulang sekolah. Ia malah melamun hingga malam seperti ini.
"Ah iyah, Arel lupa Bun. Bentar yah, Arel ganti baju dulu," ucap Arel serya kembali pergi kekamar untuk mengganti seragamnya dengan baju biasa.
"Sepertinya masalahnya belum Arel selesaikan," ucap Amelia memaklumi dengan perubahan Arel yang seperti ini. Ia jadi lebih banyak melamun dan tidak fokus dengan sesuatu. Hal itu pernah terjadi juga pada Amelia saat dulu. Sehingga ia bisa mengerti dan membiarkan Arel menyelesaikan permasalahannya sendiri.
Arel kembali tidak lama sesaat. Lalu, ia duduk dan mengambil piring bersih. Pikiran Arel masih menggelayut pada masalahnya bahkan saat makan. Sampai-sampai ia pun kembali melakukan kecerobohan didepan Bundanya untuk kedua kali.
Dengan tidak sadar Arel menyendok sambal dengan satu sendok penuh dan mencampurkannya pada nasi. Saking tidak fokusnya ia pun melahap begitu saja nasi yang dicampur sambal yang sangat pedas itu. Sehingga Arel tersadar karena rasa pedas juga panas yang terasa menyengat di lidahnya.
"Hah! Pedas, Bun. Air!" seru Arel heboh menari air minum. Sementara Amelia menuangkan air kedalam gelas dan memberikannya pada Arel.
"Ini." Arel meneguk langsung air dalam gelas itu sampai habis. Walah begitu rasa pedasnya masih menetap kuat di lidah Arel.
"Makannya kalau lagi makan jangan bengong," ucap Amelia sedikit tertawa karena baginya itu sangat lucu.
__ADS_1
"Bunda! Bukannya bantuin aku. Malah ngeledek," rengek Arel kesal.
"Yasudah, kamu mau Bunda bantu apa?" tanya Amelia.
Arel sejenak terdiam dan ragu untuk meminta bantuan dari Bundanya. Tapi ia memberanikan diri agar ia bisa cepat mendapatkan solusi atas masalah yang kini ia hadapi.
"Jadi gini Bun...." Arel menjelaskan segalanya pada Amelia. Dengan sedetail-detailnya. Tidak ada yang terlewat satu pun.
"Nah, jadi begitu Bun masalah yang sebenarnya. Aku bingung harus bagaimana sekarang?"
Amelia hanya mengangguk kecil. "Jadi begitu? Ternyata masalahnya cukup serius juga, yah?"
"Nah, makannya dari itu Bun. Beri aku solusi buat nyelesain masalah ini. Apa yang mesti Arel perbuat sekarang?"
Amelia tampak berpikir sejenak. "Kalau begitu, kamu hanya perlu mengikuti kata hatimu."
"Maksud Bunda apa? Arel gak ngerti."
"Maksud Bunda. Ikuti kata hatimu. Jangan terlalu mengikuti akal. Jika menurut hatimu itu yang terbaik, maka lakukanlah. Tapi, jangan terlalu dibawa emosi. Kamu harus tetap bisa mengendalikan perasaanmu," ujar Amelia dengan tatapan yang serius dan senyum yang tipis terpampang diwajahnya.
"Iyah, Bun. Bunda benar. Akan Arel coba," ujar Arel dengan semangatnya yang telah kembali.
Lalu, ia menyantap lagi nasi yang tercampur sambal itu. Ia lupa kalau ia belum mengganti nasi dipiringnya saat ini. Lantas, ia pun lagi-lagi merasa terbakar dilidah dan bibirnya.
"Bunda!" teriak Arel meringis karena pedas. Sementara Amelia hanya menggeleng dan tersenyum seraya menyodorkan segelas air minum lagi pada Arel.
🍂🍂🍂
Yoga malam ini ikut Satrya mengunjungi panti asuhan. Ia berniat untuk menginap malam ini disana. Yah sambil memikirkan cara dan membuat rencana untuk mencuri harta berharga milik ayah Satrya yang dijaga dengan ketat.
"Jadi apa rencanamu?" tanya Satrya.
__ADS_1
"Ini tidak akan mudah. Kita harus menyusunnya dengan matang-matang. Untuk hari ini aku perlu kamu menggambar denah rumahmu itu. Dan tempat-tempat yang tidak terlalu ketat akan pernjagaannya," ujar Yoga.
Lantas, Satrya pun mulai menggambar denah rumahnya. Dengan raut wajah yang serius Satrya menjelaskan beberapa tempat yang kurang akan penjagaan seperti yang Yoga minta.
"Jadi maksudmu, ada lorong jalan rahasi yang tidak diketahui oleh orang lain selain ayahmu?"
"Yah. Aku sendirk bahkan tidak tahu dimana letak lorong jalan rahasia itu. Aku hanya pernah mengetahuinya saat ayah menelpon seseorang dan membicarakan jalan rahasian didalam rumah."
"Siapa yang ayahmu telepon?"
"Entahlah aku juga tidak tahu."
"Hmm.. Sepertinya rencana ini butuh waktu berhari-hari untuk menyusunnya."
"Jadi apa rencana awalmu sekarang?"
"Menurutmu apa lagi? Kita harus mencari tahu jalan rahasia yang ada dirumahmu."
"Caranya?"
"Mencari tahu siapa orang yang ayahmu telepon saat itu."
Satrya sejenak terdiam bingung. Bagaimana mereka bisa mengetahui siapa yang ayah Satrya telepon saat itu.
"Untuk sekarang, ayo kita tidur," ajak Yoga dan berbaring diranjang milik Satrya dan memejamkan matanya.
Sementara Satrya masih bingung dan berpikir keras mengingat kembali memori saat ia menguping perbincangan ayahnya saat itu. Ia berpikir siapa kira-kira orang yang ayah percayai soal jalan rahasia itu. Tapi yang pastinya bukan Barno si penghianat itu. Soalnya saat ayah menelpon Burno sedang berada di depan dan mengobrol dengan para anak buah bawahan nya.
Lalu siapa? Siapa orang terdekat ayah? Dan orang yang begitu ayah percayai? Pikir Satrya. Jika Satrya saja tidak diberitahu soal jalan rahasia, putranya sendiri. Pasti ada sesuatu yang membuat ayah Satrya merahasiakan lorong jalan rahasia itu darinya dan Burno.
"Siapa orang yang ayah telepon? Orang yang ayah percaya, dia pasti sangat dekat dengan ayah. Jika diingat lagi, aku pernah diperkenalkan dengan seseorang waktu itu oleh ayah. Apa mungkin dia orangnya?"
Satrya terus berpikir sampai ia teringat, untuk pertama kalinya ayahnya mengajak Satrya untuk pertemuan penting dengan seseorang dan memperkanalkannya pada Satrya. Biasanya ayahnya tidak pernah ingin Satrya ikut dalam pertemuannya. Tapi hari itu ia diajak dan diperkenalkan. Memang saat itu Satrya sempat heran dan kenapa?
Mungkin memang dia orang yang ayah telepon saat itu. Pikir Satrya memantapkan keyakinan nya tentang orang itu. Ia hendak saja akan memberitahu Yoga dan membangunkan nya. Tapi melihat Yoga yang sudah terlelap membuat Satrya mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk segera tidur di samping Yoga.
__ADS_1