Bacause it's first time

Bacause it's first time
Kecemasan Amelia


__ADS_3

Amelia merasa sangat cemas karena Arel belum pulang juga. Sudah satu jam sejak Arel pergi. Amelia terus mondar-mandir didepan pintu rumah menunggu Arel pulang. Ia bahkan tidak bisa menghubungi Arel karena ponselnya ia tinggalkan dirumah.


"Aduuh! Tuh, anak. Selalu buat aku cemas," gumam Amelia semakin gusar, geisah dan tidak enak hati.


Lalu, tidak lama ia menelpon Metra untuk meminta bantuan darinya mencari Arel bersama-sama. Amelia menunggu kedatangan Metra dengan gelisah. Sesekali ia menggigit kuku jempolnya dan sesekali ia melirik kearah jam.


"Kenapa Metra belum datang juga?" gumamnya benar-benar panik sekali.


Tidak lama menunggu akhirnya Metra sampai dirumah Amelia.


"Amelia?" panggil Metra ketika sampai dirumah Amelia. Ia dapati Amelia yang tampak begitu panik karena mencemaskan Arel.


"Metra! Metra, Metra! Ayo kita keluar dan cari Arel!" serunya begitu sangat cemas dan panik.


"Tenanglah, Amel! Arel hanya pergi satu jam. Jangan panik! Mungkin dia menyimpang ketempat lain saat ini," balas Metra tatap berpikiran postif.


"Nggak Met! Arel gak biasanya gini. Memangnya berjalan dari sini ke Alfamart depan butuh waktu satu jam? Hati aku gak enak Met. Aku cemas!" seru Amelia.


"Yah, mungkin ajah. Di Alfamart Arel masih mengantri untuk bayar."


"Met! Nggak mungkin! Entahlah. Aku tidak tahu. Tapi aku seorang ibu! Tiba-tiba aku merasa cemas. Itu artinya ada sesuatu yang terjadi kepadanya!" bentak Amelia tidak bisa lagi menahan diri.


"Baiklah, kita cari dia sama-sama, ok?"


Amelia mengangguk kecil dalam kepanikannya. Dan mereka bergegas pergi mencari Arel di Alfamart. Namun, sayang mereka tidak menemukannya.


"Maaf, Mbak. Tadi ada gadis berusia 18 tahun. Tingginya sekitar 156 cm. Dia pakai baju tidur. sama rambutnya dikuncir satu. Apa dia datang kesini?" tanya Amelia kepada penjaga kasir.


"Oh iyah. Tadi memang gadis yang disebutkan ciri-cirinya itu kesini. Tapi dia sudah pergi satu jam yang lalu," jawab penjaga kasir itu.


"Apa?! Kamu dengar itu, Metra? Dimana dia sekarang?" sahut Amelia semakin panik dan mulai menangis.


"Tenang dulu. Kita belum tahu. Sebaik kita cari dia dulu disekitar sini. Mungkin, dia menyimpang ke tempat lain," balas Metra tetap berusaha untuk tenang agar kondisi bisa terkendali dengan baik.


Amelia mengangguk kecil dengan pendapat dari Metra. Mereka pun pergi keluar dan mencari disekitar tempat itu yang kemungkinan Arel tuju. Mereka menelusuri seluruh tempat. Tapi sayang setelah dua jam mencari, tidak mereka dapati Arella dimana pun.

__ADS_1


Kini tangisan Amelia pecah. "Dimana Are, Met? Dimana dia?" lirihnya tidak kuasa lagi menahan ketakutan dan kesedihannya mencemaskan putri satu-satunya itu.


"Tenanglah. Kita pasti bisa menemukannya," sahut Metra memeluk Amelia. Namun, Amelia memberontak dan segera melepaskan diri. Lalu menatap tajam pada Metra.


"Tenang kamu bilang? Met, anakku hilang! Dan kamu ingin aku tenang! Bagaimana aku bisa tenang Metra! Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya? Dia satu-satunya kehidupanku Metra! Bagaimana aku bisa tenang," bentak Amelia.


"Aku mengerti! Aku mengerti kesedihanmu, kecemasanmu! Tapi, kau harus tetap tenang, dan berpikir pasitif. Tidak akan ada yang terjadi kepadanya, Ok?" balas Metra meraih kedua pundak Amelia dan menatapnya lekat.


"Aku akan melapor pada polisi. Arel harus segera ditemukan," ucap Amelia seraya melangkah pergi menuju mobil.


"Mel! Mel, tunggu! Amel!" panggil Metra.


"Apa?! Ayo berangkat! Kita lapor pada polisi!" kekeh Amelia membuat Metra tidak bisa lagi berkata apa-apa. Percuma saja menjelaskan pada Amelia dalam kondisinya seperti ini. Lebih baik baginya untuk menuruti apa yang diinginkannya.


"Baiklah," balas Metra pasrah dan mengalah.


Mereka pun segera meluncur menuju Kepolisian. Amelia begitu tergesa-gesa turun ketika sampai disana. Ia langsung masuk dan menerobos begitu saja.


"Mel, Mel tunggu!" seru Metra yang segera menyusul Amelia.


"Iyah. Saya ingin melaporkan kalau anak saya hilang. Dia seorang gadis, rambutnya sebahu dikuncir, tinggi 154 cm. Dan kulitny putih anaknya sangat cantik. Tolong temukan dia!" seru Amelia.


"Baiklah, Ibu mohon tenang sebentar. Berapa usia anak ibu?" tanya polisi itu lagi.


"usia 18 tahun. Dia duduk dikelas 12 sekarang," balasnya diiringi isakan tangis dalam kepanikannya.


"Baik. Kapan dia hilang?" tanya polisi itu lagi.


"Dia hilang 3 jam lalu. Tolong temukan dia!" seru Amelia meminta dan berharap banyak.


Sementara Metra hanya menghela nafas dengan apa yang Amelia lakukan sekarang.


"Maaf, Bu. Maksud ibu, anak ibu hilang 3 jam yang lalu?" ulang polisi itu.


"Iyah, kenapa?"

__ADS_1


Polisi itu tertawa kecil seolah mentertawakan laporan yang Amelia berikan.


"Bu, sebelumnya saya minta maaf. Tapi laporan Ibu tidak bisa kami terima."


"Kenapa? Kenapa tidak bisa?"


"Karena anak Ibu bisa dikatakan hilanh setelah ia tidak pulang atau kembali selama 24 jam. Tapi, jika laporan kehilangannya hanya 3 jam, itu tidak bisa dikatakan ia hilang. Bisa saja, anak Ibu masih bermain atau pergi kerumah temannya. Lagi pula usianya sudah menginjak 18 tahun. Jadi, Ibu jangan cemas," jelas polisi itu membuat Amelia mengeryit marah.


"Apa? Pak! Dia itu anak gadis! Dan saya tidak pernah membiarkannya bermain sampai malam. Saya mendidik anak saya dengan baik. Dan untuk pertama kalinya ia tidak pulang. Itu artinya dia hilang!" Kekeh Amelia.


"Amelia, sudahlah," lerai Metra mencoba menarik pergi Amelia. Namun, Amelia memberontak. "Tidak Metra!"


"Maaf, Bu. Tapi Ibu bisa kembali lagi setelah 24 jam. Jika anak Ibu masih tidak kembali, maka kami akan menerima laporan dari Ibu," ujar polisi itu begitu tenangnya, tanpa memikirkan perasaan Amelia saat ini.


"Dengar yah, Pak polisi. Saya rasa anda tidak pantas disebut sebagai polisi. Karena apa? Karena anda tidak berguna sama sekali. Saya melapor kalau anak saya hilang! Tapi dengan tenangnya anda mengatakan hal seperti itu kepada saya? Anda tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak.


Bagaimana, jika anda berada dalam posisi saya? Apa yang akan anda lakukan? Apa anda akan masih mengikuti peraturan bodoh itu? Sebelum anda bisa menemukan, maka disaat itu anda akan menyesalinya," ujar Amelia panjang lebar.


"Tolong jaga ucapan, anda. Ibu bisa saja di tuntut karena telah menghina petugas kepolisian!" seru polisi itu mulai marah dan menggebrak meja.


"Cihhh.. Menuntut? Anda tidak salah bicara? Asal anda tahu, saya tidak pernah takut. Selama saya benar."


"Amel, sudah. Kita pergi saja," lerai Metra mencoba menarik paksa Amelia.


"Apaan, sih Met? Lepaskan aku!" berontak Amelia terkekeh.


Metra tidak peduli dan terus menarik Amelia keluar dari kantor polisi. Apalagi melihat polisi itu terlihat sangat marah, membuat Metra harus menarik paksa Amelia agar berhenti.


"Kamu ini apa-apaan, sih?" kesal Amelia mendorong dada Metra dengan sangat kuat. "Kenap kau menarikku pergi? Aku belum selesai dengannya!"


"Amel, dengar! Tidak gunanya kamu berdebat dengannya. Yang ada, kamu mau mereka menahanmu semalaman disini, karena telah membuat keributan apalagi menghinanya? Jika sampai itu terjadi, maka kita tidak akan bisa mencari Arella.


Kita hanya akan membuang waktu saja. Dengar, Amelia. Aku janji, aku akan mencari Arel sampai ketemu. Tanpa bantuan dati polisi pun kita pasti bisa menemukannya. Jadi, tenanglah. Ayo, kita cari Arel sama-sama," tutur Metra dengan panjang lebar menjelaskan. Amelia tidak bisa berkata lagi dan hanya menganggui kecil dalam tangisnya.


Metra memeluk Amelia dengan erat untuk menenangkan badai dalam diri Amelia. Ia membelai lembut rambut Amelia.

__ADS_1


"Aku janji. Kita akan menemukannya," bisik Metra.


__ADS_2