
Angin berhembus cukup keras. Arel masih terpuruk dengan masalah yang ia hadapi ini. Ia masih berpikir akan kesalahannya. Setelah ia berpikir cukup lama. Kini ia sadar apa kesalahan yang telah menyakiti hati temannya itu.
Arel menghela nafas berat sambil menatap langit malam dari balik jendela kamarnya. Sambil menggenggam ponsel miliknya, ia berniat untuk menghubungi Devina dan menjelaskan segalanya. Tapi ia ragu dan merasa sangat takut.
Bagaimana jika Devina tidak mau mendengarkan penjelasan darinya? Bagaimana jika Devina tidak mau memaafkan nya? Itulah yang Arel pikirkan saat ini.
Tetapi, ia pun tidak bisa menyangkal atau berbohong pada perasaanya sendiri. Bahwa ia telah jatuh cinta pada Satrya. Semakin Arel pikirkan, memang benar adanya apa yang dikatakan oleh Devina terhadap dirinya. Munafik! Itulah yang ia rasakan saat ini. Kata itu benar-benar tidak bisa pergi dari pikirannya dan terus terngiang di telinganya.
"Aku harus bagaimana sekarang? Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta pada seseorang. Tetapi, untuk pertama kalinya juga, aku menjadi orang yang sangat munafik untuk temanku sendiri. Ku pikir ketika ku jatuh cinta, aku akan bahagia mengejar cintaku dan menjalaninya dengan senyuman. Ku pikir jatuh cinta itu sangat mudah dan indah. Tetapi ternyata sangat sulit dan rumit," ucap Arel berbicara pada keheningan yang kini berteman sepi dihatinya.
"Arel makan malam sudah siap sayang!" teriak sang Bunda menyadarkan Arel dari lamunannya saat ini. Arel pun mau tidak mau bangkit dan pergi untuk makan malam bersama Amelia.
Arel terkejut saat Metra ternyata sudah berada disana bersama Bunda. Arel bahkan tidak sadar kapan dia datang? Tapi, ya sudahlah.
"Hallo, Arel? Apa kabar?" tanya Metra dengan ceria dan hangat.
"Baik, Om," balas Arel tersenyum tipis dan lesuh. Lalu, duduk dimeja makan. Amelia mengangguk kecil pada Metra seolah memberi isyarat. Metra tersenyum dan mengangguk balik.
"Emm Arella? Mau jalan-jalan keluar bersama Om? Kemana saja yang kamu inginkan!" ajak Metra mencoba menghibur Arel dan membujuknya.
"Aku lagi males keluar om. Lain kali saja. Kalau om mau jalan-jalan ajak Bunda saja," tolak Arel mencari alasan.
"Baiklah kalau gak mau. Gak papah. Kalau begitu mau pergi...." Metra belum sempat menyelesaikan apa yang ingin ia ucapkan. Namun, ponsel Arel berdering ada via telepon yang masuk.
Arel langsung mengangkatnya saat ia lihat nama sipemanggil. "Devina?" sapa Arel.
__ADS_1
"Bisa kamu datang menemui ku sekarang juga? Aku ada di taman bermain biasa."
"Baiklah. Tunggu aku! Aku akan segera kesana."
Arel segera menutup teleponnya dan berlari tergesa-gesa tanpa mengucapkan apapun pada Metra dan Amelia.
"Arel sayang, kamu mau kemana?" tanya Amelia berteriak. Namun, Arel tidak menggubrisnya bahkan tidak berhenti melangkah dan tetap berlari untuk menemui Devina.
Baginya Devina adalah buka hanya sekedar teman. Tapi sahabat sekaligus saudara baginya. Teman yang mengisi hari-harinya dengan sangat indah dan istimewa. Satu-satu orang yang mau berteman dengannya dari pertama masuk SMA sampai saat ini.
***
Sebab Aksi kejar mengejar itu, mereka menemukan sebuah rumah tua dan bersembunyi disana. Jahitan diperut Yoga kembali terbuka dan berdarah. Satrya lagi-lagi merasa bersalah karenanya. Dia terus saja berusaha menekan luka Yoga agar darahnya tidak mengucur terus-terusan.
"Sudahlah tidak papah," ujar Yoga menepis tangan Satrya pelan dari perutnya.
Yoga hanya tersenyum. "Kenapa kamu sampai bisa ditransfer kesekolah itu?" tanya Yoga.
Satrya terdiam sejenak dan menoleh pada Yoga. Ia tersenyum dan kembali menekan luka Yoga dengan cukup keras, sehingga Yoga meringis kesakitan.
"Kau sendiri, bagaimana? Kupikir kau tidak akan mengikutiku sampai kesana," balas Satrya malah balik bertanya.
"Baiklah, anggap saja seperti itu. Aku memang mengikutimu setelah mendengar bahwa kau ditransfer karena vidio yang tersebar itu. Dan aku dengan sukarela meminta pada pihak sekolah untuk mengikutimu. Yah, walaupun aku harus bertengkar dengan ayahku." sahut Yoga.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena aku juga terlibat, kan? Bagaimana mungkin mereka mengabaikanku diriku seperti ini?"
Satrya tersenyum. "Dasar bodoh! Aku sengaja menerima keputusan dari sekolah untuk pindah kesekolah lain. Agar aku bisa menghindarimu. Apa kau tidak tahu perjuanganku agar kau tidak dipindahkan juga? Aeh!.. Tapi kau malah mengejutkanku dengan mengikutiku seperti ini," ucap Satrya.
"Kenapa kau ingin menghindari ku?"
Satrya menghela nafas dan tersenyum tipis. "Karena kau akan terluka, jika terus berada dekatku. Semua yang terjadi bukanlah kebetulan. Kau hampir terbunuh karena diriku. Dan hari ini, kau menderita karena diriku juga."
Yoga tersenyum dan menyentil dahi Satrya dengan sangat keras tanpa aba-aba. "Aww! Hei..!" teriak Satrya kesakitan dan meraba jidatnya yang memerah. Rasanya seolah tulang jidatnya hampir retak karena sentilan itu.
"Kau ini terlalu berlebihan. Kau mengajariku cara bertarung dan menjadi temanku. Bagaimana mungkin kau mengatakan hal seperti itu saat ini? Jangan menjadi pengecut dan lari begitu saja.
"Saat pertama kali kita bertemu, kupikir kau adalah lelaki culun yang lemah dan tidak berguna. Sebab itu aku selalu mengganggumu. Kau bahkan tidak melawan disetiap aku memukulimu bersama teman segeng ku.
"Tapi suatu hari, kau mulai berontak dan melawan memberi kami pelajaran yang sangat berharga. Aeh! Saat itu aku benar-benar kehilangan harga diriku karena dirimu sebagai pria tampan yang keren. Tapi, kau menyadarkanku, dan menarik perhatianku. Sebab itu, aku menghampirimu dan berteman denganmu. Bukankah aku sangat keren?" sahut Yoga flashback, dan bercerita panjang lebar.
Satrya hanya tersenyum mengingat hal itu kembali. "Yah, kau memang sangat keren. Kupikir kau akan bunuh diri saat itu. Karena aku telah menghancurkan kepopuleranmu dan membuatmu dijauhi oleh teman-temanmu. Tapi, dengan beraninya kau meminta maaf padaku dan menawarkan pertemanan denganku. Dan aku mengerti saat kau melakukan hal itu, kau bukanlah seorang pengecut, sebab itu aku menerimamu," balas Satrya.
Mereka kembali tersenyum dan perlahan tertawa. Memang sejak saat itu mereka menjadi dekat dan terus bersama hingga sekarang. Dan Satrya mengajarkan beberapa ilmu bela dirinya kepada Yoga.
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa saat kau melihatku pagi tadi. Kau tidak terkejut sama sekali?"
"Itu karena, kabar kepindahanmu itu sudah bocor dan tersebar disekolah. Mereka menjuluki kita dengan Ghost fighter. Kau tahu itu?"
"Yah, aku tahu. Bahkan kita menjadi terkenal karena vidio itu. Aku sudah melihatnya di medsos."
__ADS_1
"Ahh.. Padahal aku berharap, vidio itu harusnya tidak tersebar. Siapapun yang mempostingnya, benar-benar sangat merepotkan! Aeh!" seru Satrya menggeleng cepat mengingat kembali kejaran para gadis yang hampir saja membunuh mereka karena saling berebutan ingin selfie.
Yoga tertawa mendengar hal itu karena terpikirkan hal yang sama. Tawa mereka pun pecah dikehenigan malam. Menepiskan sepi yang mencengkam dan menggantikannya dengan irama nada yang indah untuk didengar.