
Malam telah semakin larut. Namun, Amelia dan Metra masih mencari-cari Arella. Amelia benar-benar tidak bisa tenang kalau belum menemukan Arel.
"Mel, sebaiknya kamu pulang dan istirahat, yah? Biar aku saja yang mencari Arella," ujar Metra merasa kasihan kepada Amelia yang sudah tampak kusut karena terus menangis.
"Tidak Met. Aku tidak mau pulang. Sebelum Arel ditemukan. Dan kembali dalam pelukanku. Aku tidak ingin pulang," lirih Amelia.
Metra meraih pundak Amelia dan menatapnya lekat. "Mel, dengarkan aku! Kamu harus istirahat, agar kamu tetap sehat. Kalau kamu sakit, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Aku janji, aku akan terus mencari Arel sampai ketemu. Sebelum aku menemukannya. Aku tidak akan pernah pulang. Aku janji.
Tapi, aku ingin kamu pulang dan istirahat. Jika sampai terjadi sesuatu padamu juga, aku benar-benar akan sangat sedih. Pulang, yah?" bujuk Metra dengan lembut. Tatapannya menyorot teduh pada wanita yang tengah sesegrukan itu.
Sejenak Amelia menatap lekat pada Metra. Amelia bisa lihat kecemasan Metra terhadap dirinya. Amelia mengangguk pelan mengisyaratkan setuju dengan apa yang Metra katakan. Metra tersenyum tipis dalam kecemasan nya. Ia mengelus pelan rambut panjang wanita itu, kemudian mencium keningnya dengan begitu lembut dan hangat.
Lalu, Metra segera melaju memutar balik mobilnya untuk megantar Amelia pulang.
Mereka sampai dirumah Amelia dan segera turun. Metra mengatar Amelia sampai kedepan pintu rumahnya.
"Masuk dan istirahatlah. Kunci pintunya dengan rapat, aku akan pergi mencari Arella lagi, mengerti?" ujar Metra begitu cemas terdengar ditelinga Amelia.
"Baiklah. Hati-hati," balas Amelia diikuti anggukan Metra dan senyum tipis darinya.
Metra pun kembali melangkah pergi dan masuk kedalam mobilnya. Sejenak ia melirik kepada Amelia dan Amelia melambai padanya. Metra hanya membalas dengan senyuman kecil, lalu menancap gas dan segera melaju kembali mencari Arel seperti yang dijanjikannya.
Sementara Amelia segera masuk kedalam dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia terduduk disofa sambil bersandar dan menatap langit-lagit ruang tamu. Ia bahkan tidak bisa berhenti memikirkan keadaan Arel sekarang seperti apa? Pikirannya benar-benar kacau dan berantakan. Hal-hal negatif bermunculan dalam otaknya. Ia benar-benar merasa sangat takut sekali.
Tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel milik Arella. Sontak Amelia segera mencarinya dan melihat siapa yang menelpon Arel malam larut begini. Ternyata itu dari Devina. Amelia segera mengangkat, karena kemungkinan ia berpikir kalau Devina tahu sesuatu tentang menghilangnya Arel.
"Hallo, Rel! kamu belum tidur, kan? Maaf, malam-malam mengganggu tidurmu. Aku hanya tiba-tiba merasa tidak enak hati. Jadi, aku tidak bisa tidur," sapa Devina yang langsung menjelaskan sebab dari panggilan via teleponnya malam-malam.
Terlintas perasaan kecewa dalam hati Amelia. Ia sudah mengira dari ucapan Devina, kalau Devina tidak tahu apapun soal hilangnya Arel saat ini.
Amelia terdiam dan hanya sesegrukan menangis. Sampai-sampai suara isakan tangisnya terdengar oleh Devina.
"Rel? Kamu kenapa? Kamu nangis?" tanyanya terdengar cemas dari balik sebrang telepon.
"Devina, ini tante," sahut Amelia kini angkat suara dan bicara.
"Tante? Maaf tante Devina pikir tadi Arel. Tante kenapa menangis?"
Devina... Arel Dev... D-dia, hilang," jawab Amelia terpotong-potong karena tidak kuat menahan isakan tangisnya.
"Ap?! Arel hilang? Bagaimana bisa, tante?" sahut Devina terdengar sangat terkejut dan bertanya bertubi-tubi.
"Tante juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya? Dev, tolong bantu cari Arel, yah? Mungkin, kamu tahu sesuatu tentang Arel. Karena sebelum ia menghilang, ia terlihat sedang punya masalah. Mungkin kamu tahu apa yang terjadi?"
"Oh begitu yah, tante? Sebenarnya sih, Devina tidak tahu banyak apa saja permasalahan Arel saat ini. Tapi tante tidak perlu cemas. Aku akan berusaha mencari tahu dimana Arel. Kalau begitu, sudah dulu, yah, tante?" balas Devina.
__ADS_1
"Iyah, tolong, yah Dev? Temukan Arella," pinta Amelia lagi memohon.
"Iyah tan. Kalau begitu, Devina tutup, yah?"
Devina pun memutuskan panggilannya dan terus berpikir apa yabg terjadi sebenarnya? Apa ini ada hubungannya dengan Satrya? Entahlah, tiba-tiba pikiran itu terlintas begitu saja dipikiran Devina.
Lantas, ia pun segera menghubungi Satrya. Moga-moga Satrya menjawab panggilan via teleponnya itu. Dan semoga Satrya belum tidur nyenyak saat ini.
"Iyah, Dev. Ada apa?" sapa Satrya langsung bertanya. Sungguh melegakan karena Satrya akhirnya mengangkat telepon darinya.
"Satrya! Hallo, Satrya! Sat, Arel menghilang. Apa kamu tahu itu?" sahut Devina begitu panik dan langsung bertanya kepada intinya.
"Apa?! Kamu sedang tidak bercanda, kan?" tukas Satrya terdengar begitu terkejut sekali.
"Yah, nggaklah Sat! Aku gak bercanda! Aku menelpon kamu dan memberitahu kamu. Yah, mungkin saja kamu tahu sesuatu, kenapa Arel bisa sampai hilang."
Tidak ada jawaban dari sebrang telepon. Hanya terdengar suara healaan nafas Satrya. Suasana hening sejenak, dan Devina menunggu Satrya untuk bicara.
"Sat?" panggil Devina. Namun, mendadak Satrya memutuskannya secara sepihak dan tidak memberikan jawaban apapun kepada Devina.
"Ah, dasar! Kenapa dia memutuskannya begitu saja? Menyebalkan sekali!" seru Devina sangat kesal dan geram berbicara pada hp-nya. Niatnya sih, ia ingin marah-marah sama Satrya. Yah, karena orangnya gak ada. Jadi, ia marah-marah pada ponsel miliknya.
Devina sekarang bingung harus apa? Tapi, ia tidak mau menyerah dan segera mengganti pakaian dan diam-diam keluar rumah untuk mencari Arella. Ia berpikir mungkin Arel masih sedih dan terguncang karena si Satrya sepulang sekolah tadi.
Devina mencari ketempat-tempat yang memungkinkan bagi Arel kunjungi ketika sedang sedih seperti ini. Tapi, Devina tidak tahu tempat seperti apa, yang akan Arel kunjungi. Secara yang ia tahu Arel, tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Namun, Devina terlalu nekat pergi mencari Arel keluar sedirian ditengah malam seperti ini. Secara ia kan anak gadis. Yah, bukan apa-apa. Hanya saja Devina tidak berpikir, bagaimana kalau dia bertemu dengan orang jahat saat mencari Arel?
Setelah pergi mencari kesana kemari Devina tidak menemukan Arel dimana pun. Ia mulai merasa lelah dan letih. Ia juga merasa sangat haus sekali. Mana gak ada toko yang buka diderah sana. Jalanan juga tampak begitu sepi dan menakutkan.
Devina mengedarkan pandanganya kesekeliling. Tiba-tiba ia bergidik takut. Bagaimana tidak? Bahaya sekali, jika sampai ia bertemu dengan orang jahat ditempat seperti ini. Ia tidak bisa meminta tolong kepada siapapun.
"Ya ampu! Kenapa sepi sekali, yah?" gumamnya.
Lantas, ia pun mempercepat langkahnya agar segera peegi ketempat yang ramai dengan orang-orang. Tapi, siapa yang bisa menduga? Ketakutan Devina akhirnya datang juga. Ia bertemu dengan dua pria yang terlihat bergitu menakutkan tampak dari penampilannya saja, sudah bisa Devina tebak mereka itu penjahat.
Sontak Devina mulai berlari dan berbalik. Namun, kedua pria itu mengejarnya dan menyusul. Kemudian mereka menarik dan mencengkram tangan Devina.
"Hallo, sayang! Sendirian ajah. Malam-malam begini masih diluar. Abang temenin, yah?" ujar salah satu pria itu.
"Iyah. Gimana kalau kita bersenang-senang?" timpal satu temannya lagi.
"Lepaskan! Jangan macam-macam, yah!" seru Devina mencoba memberontak.
"Jangan galak-galak dong, sayang! Udah yuk, kita seret ajah. Jangan banyak basa-basi," ujar pria itu lagi.
__ADS_1
Devina benar-benar ketakutan dan meronta mencoba melepaskan diri dari cengkraman kedua pria jahat itu.
Ya Tuhan! Siapa saja, tolong aku! lirih batin Devina berharap ada orang yang lewat dan menolongnya.
"Lepas! Tolong!" teriak Devina mulai memanggil siapa saja yang akan mendengarnya.
Ternyata Tuhan mendengar rintihan do'a Devina. Sebuah mobil melintas, dan seorang pria berkameja biru langit turun dari mobil itu.
"Hei! Lepaskan gadis itu!" serunya terlihat begitu keren dimata Devina. Tidak memberi kesempatan untuk mereka membalas ucapannya pria itu langsung menghajar dua pria jahat itu sampai kalah telak olehnya dan lari terbirit-birit.
"Kamu tidak papah?" tanya pria itu menghampiri Devina. Namun, Devina masih trauma dan takut. Bagaimana kalau pria ini lebih jahat dari yang sebelumnya? pikir Devina terdiam dan melangkah mundur menjauhinya.
"Tidak papah. Jangan takut. Saya tidak jahat. Bahaya kalau seorang gadis berkeliaran ditempat sepi seperti ini. Mari, biar aku antar pulang." tawar pria itu dengan lembut.
Tapi, Devina tetap mematung ditempatnya masih berpikir. "Ayo! Kamu tidak takut, kalau kejadian barusan terulang lagi?"
"Aku ikut!" seru Devina akhirnya membuat keputusan dan segera melangkah masuk kedalam mobil. Pria itu hanya tersenyum.
"Kenapa kamu malam-malam masih diluar?" tanya pria itu.
"Saya mau mencari teman saya. Dia hilang dan entah dimana," balas Devina sambil menunduk sedih.
"Kalau begitu kita sama. Saya juga sedang mencari putri dari kekasih saya. Dia hilang sejak beberapa jam yang lalu. Namanya, Arella," sahut pria itu yang ternyata Metra.
Sontak Devina menoleh dan membulatkan matanya.
"Om ini, siapanya Arel?" tanya Devina tiba-tiba.
"Loh, kamu tahu Arel?" sahut Metra malah balik bertanya.
"Yah, saya temannya. Tadi tante Amel memberitahu saya. Kalau Arel hilang. Makanya saya keluar mencarinya," jawab Devina.
"Oh begitu. Kalau begitu kebetulan sekali. Saya calon Ayah tiri Arel. Amelia adalah kekasih saya," balas Metra.
"Oh calon Ayah ternyata."
"Kamu pulang saja. Biar om yang cari Arel. Tidak baik sorang gadis berkeliaran diluar tengah malam begini," ujar Metra.
"Tidak, om. Saya mau cari Arel. Soalnya, aku curiga akan sesuatu."
"Curiga akan apa?"
"Saya curiga. Kalau Arel menghilang karena diculik seseorang. Dan sekarang saya mau pergi ke suatu tempat untuk mencari tahu hal ini. Jadi, om bisa antar saya kesana?" pinta Devina.
"Baiklah, kalau begitu."
__ADS_1
Mereka pun segera meluncur pergi ketempat yang diminta oleh Devina.