Bacause it's first time

Bacause it's first time
Semakin memburuk


__ADS_3

Arel melihat Devina yang tampak sedang asik menyantap makan siangnya seorang diri. Dengan raut wajah datar, Devina menghela nafas karena merasa tidak enak makan seorang diri.


Arel berniat untuk menghampirinya dan bicara padanya. Namun, ia merasa sangat takut, ia takut melakukan hal yang salah lagi dimata Devina. Dan rasa takut itu membuat ia ragu untuk bicara pada Devina.


"Ayolah Arella! Kamu pasti bisa!" seru Arel menguhkan dirinya dan menarik nafas panjang lalu menghbuskanya dengan perlahan.


Arel hendak saja akan melangkah untuk menemui Devina. Namun, Satrya dan Yoga datang dan melintas didepan Devina, mereka hendak akan memesan bakso.


Devina langsung bangkit dan menghampiri Satrya. "Satrya?" panggilnya.


Satrya dan Yoga menoleh pada Devina. "Ada apa?" sahut Satrya.


"Bisa kita bicara?" pinta Devina.


"Boleh, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Satrya mengangguk pelan.


"Tidak disini. Ikutlah denganku ke atap," pinta Devina lagi.


"Kenapa harus di atap?" sahut Satrya terus bertanya.


"Ikut saja!" seru Devina menarik tangan Satrya agar ikut dengannya. Satrya hanya pasrah dan ikut saja dengan Devina.


Yoga hanya mengangguk kecil menatap kepergian mereka. Tatkala Arel tampak terlihat sedih dan cemburu melihat Devina yang menarik pergi Satrya dengannya. Tidak sengaja Yoga mendapati Arel diantara banyaknya orang yang tengah berada di kantin saat ini.


Yoga bisa melihat sorotan mata Arel yang sedih. Ia pun melangkah dan menghampiri Arel.


"Ehem..!" Yoga berdehem cukup keras dan mampu membuat Arel terkjut dengan kehadirannya yang tiba-tiba disampinya.


"Bengong ajah! Gak mau makan?" ujar Yoga bertanya.


"Yoga? Emm.. Aku lagi gak nafsu makan," jawab Arel.


"Kalau gak nafsu makan, lalu untuk apa kamu ke kantin?" tanya Yoga lagi membuat Arel tidak dapat menjawab pertanyaannya.


"Udah ah! Aku mau kembali ke kelas aja!" seru Arel seraya berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun, Yoga langsung menghadang langkah Arel dengan berdiri di depannya.


"Hei, tunggu dulu! Aku lapar!" serunya.

__ADS_1


"Lalu, urusannya sama aku apa? Kalau lapar, ya makan sana!" balas Arel tampak kesal.


"Temenin akulah! Masa aku makan sendiri?"


"Ya terus?"


"Ya terus kamu harus temenin aku."


"Aku gak mau," tolak Arel seraya melangkah untuk pergi. Tapi lagi-lagi Yoga menghadang jalannya.


"Aku yang teraktir deh! Mau yah? Ayolah Arella, please!" pinta Yoga dengan memelas pada Arel. Menunjukkan raut wajah manisnya. Yang mungkin akan membuat gadis lain kelepek-kelepek. Tapi tidak bagi Arel, ia malah merasa geli melihatnya.


"Aeh!Baiklah. Tapi jangan pernah menunjukkan ekspresi iti lagi dihadapanku!" seru Arel merasa geli.


"Kenapa? Kamu takut jatuh cinta padaku?" sahut Yoga begitu pedenya.


"Cih.. Bukan jatuh cinta, tapi ilfil banget tahu! Aeh!!" balas Arella bergidik, lalu berbalik dan memilih tempat duduk yang kosong.


"Ya ampun! Segitunya. Padahal wajahku ini sangat tampan," gumam Yoga kesal dan menyusul Arella duduk dan memesan makanan.


***


Devina terdiam sejenak dan mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya pada Satrya. Nafasnya terdengar memburu dan ia merasa sangat gugup sekali.


"Katanya mau ada yang diomongin. Apaan? Kalau gak ada aku mau turun, nih. Aku laper Dev," ucap Satrya hendak akan berbalik untuk pergi.


"Satrya!" panggil Devina lagi menghentikan langkah Satrya dan membuat Satrya berbalik lagi menatapnya.


"Satrya. Aku.. Aku suka sama kamu," ujar Devina dengan cepat sambil menunduk malu.


"Terus?" sahut Satrya begitu santai dan dingin. Membuat Devina harus menatap wajahnya yang datar tanpa ekspresi apapun.


"Terus?!" ulang Devina terkejut dengan apa yang ia dengar.


"Aku sudah tahu perasaanmu padaku. Dan tidak terkejut mendengar ungkapan itu darimu. Hanya itu kan yang ingin kamu sampaikan? Apa ada lagi yang lainnya?" tukas Satrya tanpa memikirkan perasaan Devina.


Devina terdiam menatap heran pada Satrya. "Kalau gak ada. Aku mau kembali ke kantin," lanjut Satrya lagi berbalik dan melangkah untuk pergi.

__ADS_1


"Satrya!" seru Devina mengepal erat kedua telapak tangannya. Satrya terhenti tanpa berbalik menatap Devina.


"Apa karena Arel? Apa kau menyukainya?" tanya Devina, membuat Satrya harus berbalik menatapnya. Tampak air mata yang telah mengalir dari kedua mata Devina yang kini menatap tajam pada Satrya.


"Kau jangan menyalahkan segalanya pada Arella," sahut Satrya.


"Lalu, aku harus menyalahkan siapa? Sat, aku cinta sama kamu. Tidak bisakah kamu melihatku? Tidak bisakah kamu lihat cintaku ini?" ujar Devina semakin terbawa emosi.


"Aku bisa melihatnya. Dan aku juga melihatmu. Tapi, bukan sebagai gadis yang aku sukai. Tetapi sebagai teman dan sahabat dari gadis yang ku sukai. Jauh sebelum aku pindah kesini. Arella sudah ada dihati aku. Jadi, bukan salahnya jika cinta ini tumbuh untuk Arella dan bukan untukmu. Jadi, jangan salahkan dia. Berhentilah menyalahkanya," terang Satrya begitu melukai hati Devina.


Devina tidak membalas ucapan Satrya. Ia hanya terdiam dan tangisnya mulai menderas membasahi pipinya. Sementara Satrya kini berbalik untuk pergi dan kembali ke kantin.


"Dan juga. Jangan paksakan egomu ini. Jika kau terus seperti ini. Kau hanya melukai dirimu sendiri dan membuat penderitaanmu sendiri," ucap Satrya lalu kembali melangkah.


"Lalu, mengapa kau dan Arel saling menghindar? Kenapa?" teriak Devina penasaran akan hal itu.


"Karena Arel bilang, kalau dia tidak menyukaiku. Sebab itu, aku menyuruhnya untuk menjauhiku, agar aku bisa terbebas dari apapun masalah kalian. Aku ini orang yang egois Devina. Aku bukan orang baik seperti yang kamu duga. Aku orang yang sangat egois dari kalian berdua!" balas Satrya, lalu kembali melangkah lagi hingga benar-benar berlalu dan meninggalkan Devina di atap seorang diri.


Apa maksudnya Arel menolak dan mengesampingkan perasaannya pada Satrya? Tapi untuk apa? Untuk dia melakukan itu? bathin Devina. Kepalan tangannya semakin erat.


Devina pun kembali dengan tergesa-gesa mencari Arella. Dan tidak lama Devina mendapati Arella yang tengah berjalan menuju kelasnya bersama Yoga setelah makan siang.


"Are!" panggil Devina dengan sorotan mata yang dipenuhi amarah. Dan tiba-tiba PLAAAkkk!!


Devina menampar Arel didepan semua orang dengan sangat keras. Tindakan Devina itu mengejutkan Yoga dan Arella juga beberapa siswa yang menyakasikannya.


"Maksud kamu apa, Rel? Kamu sengaja ngalah sama aku, biar aku terlihat begitu menyedihkan dimata Satrya, begitu?" ujar Devina begitu marah.


Arel menatap Devina bingung. "Kamu ngomong apa, sih, Dev? Apa maksud kamu? Kenapa nampar aku tiba-tiba?" sahut Arel.


"Kamu jangan sok, bego Arel. Aku tidak pernah memintamu untuk mengalah padaku. Kenapa kamu membuatku seolah akulah yang begitu egois. Bahwa.. Akulah teman yang buruk. Kenapa kamu membuatku seolah akulah yang paling menyedihkan disini?! Kenapa?!" teriak Devina begitu marah.


Tangisnya pecah disaksikan oleh banyaknya orang. Arel mengerti apa maksud Devina. "Dev, bukan itu maksud aku? Aku tidak berniat seperti itu. Aku hanya ingin kamu tahu, apapun bisa aku kesampingkan asalkan kita bisa kembali seperti dulu."


"Termasuk perasaanmu? Cihh.. Sekarang kata-katamulah yang terdengar begitu menyedihkan. Kau pikir itu yang aku mau? Kau pikir dengan kamu mengesampingkan perasaanmu, akan memperbaiki segalanya? Nggak Rel. Kamu salah," tandas Devina, lalu melangkah pergi begitu saja.


Sementara Arel hanya terdiam mematung. Tidak tahu lagi harus berkata apa? Untuk kali ini ia benar-benar tidak paham dengan keinginan Devina apa? Dan dimana letak kesalahannya kali ini?

__ADS_1


Yoga tidak bisa bertanya apa Arel baik-baik saja. Tentu tidak ada yang baik soal ini. Yoga hanya mengelus pelan punggung Arel. Satrya pun menyaksikan perdebatan itu. Ia hanya menghela nafas kasar dan mengusap wajahnya kasar. Kini situasi malah semakin memburuk dari sebelumnya.


__ADS_2