
Setelah kelas usai, Satrya dan Yoga segera memulai rencana awalnya untuk mencari tahu tentang lorong jalan rahasia yang ayah Satrya sembunyikan darinya. Yoga memesan taksi oneline supaya lebih cepat sampai untuk menemui Pak Ratyo daripada harus naik angkutan umum. Yah, walaupun Satrya masih sedikit agak ragu dia benar orangnya atau bukan. Tapu setidaknya mereka harus mencoba dan bertanya.
Arel yang melihat Satrya dan Yoga begitu tergesa-gesa merasa begitu heran dan penasaran. Apalagi saat mereka naik mobil oneline.
"Mereka mau kemana, sih? Buru-buru amat?" ucap Arel terus melihat mereka yang sudah masuk kedalam mobil dan segera melaju.
"Apa kau penasaran?" lontar Devina tiba-tiba datang dan menyahut ucapan Arel. Sontak Arel menoleh dengan cepat. Hari ini Devina bawa motor sendiri. Biasanya ia tidak pernah membawanya karena ia bilang ia lebih suka naik bis dengan Arel.
"Devina?"
"Ayo, naik! Kita ikuti mereka. Ada hal yang harus kita tahu tentang Satrya," ujar Devina.
"Maksud kamu apa yang kita tidak tahu dari Satrya?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita akan kehilangan mereka," jawab Devina.
Tanpa bertanya lagi Arel pun langsung naik dan Devina menancap gas dengan cepat menyusul mobil yang dinaiki Yoga dan Devina. Mereka mengikuti Satrya dan Yoga dengan jarak yang sedikit jauh, agar tidak disadari oleh Satrya dan Yoga.
Arel masih bingung dengan sikap Devina yang tiba-tiba seperti ini. Apakah dia sudah tidak marah lagi? Pikir Arel. Tapi, apapun alasan nya. Arel merasa sangat senang karena akhirnya ia bisa bersama lagi dengan Devina.
Sementara itu, ternyata selain Arel dan Devina yang mengikuti mereka. Ada sebuah mobil berwarna hitam pekat sedikit kotor juga mengikuti mobil yang Satrya dan Yoga naiki.
Awalnya Satrya dan Yoga tidak menyadari semua orang yang mengikuti mereka dari belakang. Tatkala Satrya hanya bengong sejak tadi, memikirkan kejadian yang baru saja terjadi dikantin sekolah tadi.
"EL? Aku penasaran. Kenapa kamu melepas tangannya lagi, jika kamu berniat untuk menggenggamnya?" tanya Yoga memecah kebisuan yang terjadi selama beberapa menit itu.
Satrya menghela nafas berat. "Entahlah, Ga. Aku hanya takut saat menggenggam tangannya. Sebab itu aku melepasnya lagi," balas Satrya terlihat begitu sedih.
__ADS_1
"Hah! Begitu yah?" sahut Yoga dengan singkat dan bersandar dengan tatapan mata yang kembali mengarah pada kaca spion depan. Lagi- lagi ia melihat mobil yang sama terus saja mengikuti mereka. Awalnya Yoga biasa-biasa saja. Tapi sekarang ia mulai curiga.
Sudah kuduga. Mobil itu mengikuti kami sejak tadi. Sudah sangat jelas sekali sekarang. Aku harus mencari cara untuk mengalihkan mereka. Bathin Yoga.
"Pak, tolong belok ke mall Giant yang ada didepan. Saya akan bayar tiga kali lipat, jika bapak mau bekerja sama dengan saya," tutur Yoga tiba-tiba tanpa memberitahu Satrya dengan maksudnya.
"Tapi tadi bukannya kalian mau pergi ke..."
"Memang!" sela Yoga. "Tapi keadaan nya sangat darurat untuk sekarang. Jadi saya perlu bantuan dari bapak," pinta Yoga terkekeh. "Bagaimana, Pak? Saya janji akan bayar tiga kali lipat?"
"Baiklah. Apa yang harus kubantu?"
"Bapak hanya perlu menunggu kami di loby bawah, diparkiran. Tapi saya minta saat bapak akan pergi ke loby bawah, pergilah lewat jalan luar."
"Hanya itu saja?" sahut Pak sopir itu.
Yoga hanya tersenyum dan mengangguk kecil juga menepuk bahu sopir itu sok akrab. Sementara itu Satrya masih bingung apa yang Yoga coba lakukan sekarang
"Ada apa, Ga? Kenapa kita malah pergi ke mall? Kamu mau bawain sesutu buat pak Ratyo?" tanya Satrya heran.
Yoga tersenyum. "Bukan. Ini namanya pengalihan."
"Pengalihan? Maksudnya?"
"Kita diikuti sejak tadi. Mobil yang hitam yang dibelakang kita, sudah sangat jelas kalau mereka mengikuti kita," ujar Yoga.
Satrya menengok kebelakang dan benar apa yang Yoga katakan. Ia mengenal mobil itu. "Kau benar. Jadi selama ini mereka tidak muncul dihadapan kita, karena kita berada dalam pengawasan mereka. Apa yang mereka rencanakan sekarang?"
__ADS_1
"Apapun itu, kita harus berhati-hati. Rencana kita harus berjalan dengan baik tanpa mereka sadari," tutur Yoga mulai cemas dan khawatir.
Mereka tiba dimall dan turun di loby atas. Mereka pun masuk kedalam mall. Beberapa orang yang mengikuti mereka ikut turun dan masuk kedalam mall. Dan beberapa lagi menunggu didalam mobil mengawasi kalau-kalau mereka keluar lagi dari mall.
Arel dan Devina juga terhenti saat melihat mereka masuk kedalam mall. Untuk apa mereka pergi ke mall? Belanja? Pikir Arel meracau. Atau jangan-jangan mereka diam-diam berkencan dan janjian bertemu dimall? Pikir Arel lagi mulai mencurigai Satrya dan Yoga tidak-tidak.
"Ayo!" seru Devina mengajak Arel untuk tetap mengikuti mereka dan masuk kedalam mall. Mereka mencari sosok Satrya dan Yoga dikeramaian banyaknya orang yang tengah asik shoping dan jalan-jalan.
Mereka dapati Satrya dan Yoga tengah menaiki escalator menuju lantai atas. Segera mereka pun berlari dan mengikuti Satrya dan Yoga kalantai atas. Juga beberapa orang yang mengikuti Satrya dan Yoga juga ikut naik kelantai atas.
Yoga dan Satrya masuk kedalam toko pakaian. Mereka membeli pakaian dan mengganti pakaian mereka, dengan topi yang menutupi setengah wajah mereka. Setelah mereka selesai mereka kembali kebawah. Namun, beberapa orang yang mengikuti mereka itu kebetulan sekali mencoba naik escalator yang kedua sementara mereka akan hendak turun.
Untuk menghindari kecurigaan mereka. Satrya dan Yoga tiba-tiba menggandeng dua gadis yang melintas dihadapan mereka dengan mesra. Rencananya adalah untuk mengalihkan pehatian mereka yang mengikuti Satrya dan Yoga.
Dan akhirnya rencana mereka berhasil mengecoh orang-orang itu. Mereka tiba dilantai bawah dan berbelok. Lalu, setelah mereka berhasil lolos dari pandangan orang-orang yang mengikuti mereka. Satrya dan Yoga kembali melepas dua gadis itu.
"Terimakasih, yah. Tapi kami sedang terburu-buru," ucap Yoga dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda dua gadis itu. Yah, namanya juga lelaki tampan sangat mudah baginya untuk menggoda atau memanfaatkan gadis-gadis itu.
Satrya dan Yoga berlari dan terus turun hingga kelantai paling bawah. Mereka sampai di loby dan menuju parkiran. Mereka mencari mobil yang tadi. Dan tidak lama mereka akhirnya menemukan mobil itu dan segera naik.
"Ayo, Pak. Cepat jalan!" seru Yoga dengan nafas yang terengah-engah karena lelah berlari dari lantai atas keloby bawah.
Mereka pun kini melesat menuju tempat yang mereka tuju sejak awal. Satrya membuka topinya dan menatap keluar jendela mobil. Sementara Yoga kembali bersandar dan menutup matanya untuk menikmati rasa lelahnya dan menghilangkan penatnya saat ini.
Tatkala Arel dan Devina kini masih mencari keberadaan Satrya dan Yoga. Tapi mereka kehilangan jejaknya. Diantara banyaknya orang yang datang dan luasnya gedung mall itu, akan sangat sulit menemukan Satrya dan Yoga. Dan tanpa sengaja bruuukkk...
Arel bertabrakan dengan salah satu orang yang mengejar Satrya dan Yoga. "Aduuhh!" rintih Arel merasa kesakitan karena terpental jatuh sehingga terduduk dilantai.
__ADS_1