Bacause it's first time

Bacause it's first time
Kemenangan


__ADS_3

Malam yang begitu panjang dan penuh akan aksi dan emosi telah usai tergantikan oleh hangatnya mentari yang damai. Hembusan angin menerpa wajah Arel yang tengah duduk menikmati belaiannya dan memejamkan matanya ditaman rumah sakit.


Ia merasa lebih baik setelah mendapatkan perawatan dan istirahat sejenak.


"Rel, sedang apa disini?" lontar suara Devina.


Arel membuka matanya dan menoleh tersenyum kepada Devina. "Hanya menikmati pagi yang damai," balas Arel.


"Tante Amel nyariin kamu. Ayo, kita sarapan!" ajak Devina menarik lembut tangan Arel.


"Baiklah," ucap Arel seraya bangkit dan mengikuti ajakan Devina.


Setelah apa yang terjadi, membuat Arel paham akan cinta yang ia miliki sesungguhnya. Ternyata cinta itu memang nyata. Cinta menyakitimu bukan karena dia tidak menyukaimu. Namun, selalu ada alasan dibalik itu. Alasan yang tidak pernah kita tahu. Mungkin bagi sebagian orang akan beranggapan, bahwa cinta menyakiti mereka adalah sebuah penderitaan bagi mereka.


Namun, tidak bagi Arel. Cinta yang menyakitinya adalah sebuah pelajaran hidup yang berharga. Ia jadi melihat lebih luas lagi dalamnya Arti cinta. Cinta yang ternyata selalu menyakiti, mencoba untuk melindungi.


Air mata Arel menetes ketika kembali melihat sosok yang ia cintai, tengah terbaring lemah dengan beberapa alat bantu medis ditubuhnya. Setelah kejadian malam tadi. Dokter berkata kalau Satrya mengalami pendarahan hebat diotak kanannya. Dan beberapa tulang rusuknya patah. Ia mengalami cedera dikaki kirinya yang menyebabkan Satrya tidak bisa berjalan untuk sementara waktu.


Mengingat akan hal itu, membuat hati Arel sakit dan rapuh. Seolah apa yang Satrya rasakan kini, terasa ditubuh Arel yang baik-baik saja. Sosok itu masih tertidur dan belum sadarkan diri sampai sekarang.


"Arel sayang, ayo sarapan dulu nak. Biar Bunda suapi, yah?" ujar Amelia ketika sampai dikamar rawat inapnya. Arel meminta untuk berada disatu kamar bersama Satrya, agar dia bisa menjaga dan melihat perkembangannya. Dan kini Satrya tepat berada disampingnya.


"Iyah, Bun." Walau sebenarnya hati Arel menangis, tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum di depan semua orang.

__ADS_1


Amelia menyuapi Arel bubur layaknya seorang ibu yang merawat putrinya sedang sakit. Metra, Yoga dan Devina hanya menonton dengan senyum gembira juga sedih.


"Bagaimana semalam? Kamu mendapatkan sesuatu?" tanya Devina berbisik pada Yoga.


"Tentu saja. Akan ada kejutan untuk kalian, nanti pada jam 08:00," jawab Yoga dengan senyum yang tergaris dibibirnya.


"Kejutan apa?" tanya Devina lagi penasaran.


Yoga menoleh dan menatap Devina dengan heran. "Kamu ini, kalau namanya kejutan gak mungkin dibocorkan."


"Yaelah. Pelit amat, sih!" rajuk Devina memalingkan wajahnya dan cemberut kesal.


"Kemenangan kita," bisik Yoga tiba-tiba. Helaan nafasnya bisa Devina rasakan didaun telinganya. Devina terkejut karena itu. Devina tidak menyangka kalau Yoga akan memberitahunya semudah itu.


"Satrya anak yang hebat," ucap Metra pada Arel.


"Sepertinya Satrya memang lelaki yang cocok buat kamu. Hanya pemikiran om saja. Dia pasti sangat mencintaimu," goda Metra mencoba menghibur Arel dan mencairkan suasana.


"Om ini! Jangan begitu, aku malu!" sahut Arel.


Tawa pun pecah diantara mereka menggema didalam ruangan sana. Sungguh sangat melegakan sekali.


Jam sudah menunjuk ke arah angka 08:00. Yoga segera membuka ponselnya. Sebuah berita besar ditayangkan langsung, bahkan sampai di internet.

__ADS_1


"Lihatlah ini!" seru Yoga.


Mereka pun sama-sama menonton berita terbesar itu. Sebuah berita yang mengabarkan Ratyo ditangkap karena atas penggelapan dana perusahaan dan telah bekerja sama dengan para mafia dalam pembunuhan yang terjadi 3 tahun yang lalu. Yaitu, kasus pembunuhan yang terjadi pada Gumilar ayah dari Satrya.


Saat berita kematiannya dengan mendadak itu menyebar. Hal itu menjadi berita yang sangat booming. Karena ayah Satrya memang dikenal sebagai seorang mafia yang kejam dan brutal. Tapi, ia penegak keadilan. Sebab itu, Gumilar sangat terkenal diberita-berita. Mafia yang menjalin hubungan bisnis dengan pemerintahan dalam suatu pengamanan para petinggi Negara dan sebagai pemasok senjata untuk Negara.


Namun, kini kematian Gumilar telah terungkap oleh kerja keras Yoga. Ia berhasil mendapatkan rekaman cctv saat Ratyo dan Burno merencanakan pembunuhan Gumilar. Dan juga tentunya beberapa bukti kejahatan lainnya seperti penggelapan dana perusahaan.


Ratyo sempat memberikan dokumen yang ia rebut dari Satrya kepada sekretarisnya untuk diubah kepemilikannya. Namun, sayang ia mendapat kabar kalau dokumen itu dipalsukan dan tidak bisa digunakan. Ratyo amat kesal dan marah karena ditipu oleh Satrya. Awalnya ia hendak akan membalas Satrya. Tapi sayangnya, kepolisian telah mengepung dirinya dan ia mendapatkan surat penangkapan atas kejahatannya tiba-tiba.


Dan itulah menjadi akhir bagi Ratyo dan Burno. Mereka akan mendekam dipenjara untuk membayar semua kejahatan yang telah mereka lakukan kepada Satrya. Mereka tersenyum gembira setelah mendegar dan menonton berita tersebut. Kemenangan akhirnya menjadi milik mereka.


Arel menghampiri Satrya dan meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Air mata kembali menetes dikedua pipinya. Ia mencium tangan Satrya dengan penuh kasih sayang.


"Kau menang Satrya. Keadilan akhirnya membebaskanmu Satrya. Bangunlah, dan lihat kemenangan itu Satrya," lirih Arel mulai terdengar isakan dalam suara seraknya.


"Awalnya, aku tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Tapi aku tahu, kau tidak ingin aku terluka. Tapi, Satrya seharusnya kau memberitahu segalanya. Mungkin semua ini tidak akan terjadi jika kau memberitahuku alasanmu. Satrya, ini lebih menyakitkan daripada saat kau bilang tidak ingin melihatku lagi dan menyuruhku untuk pergi darimu.


"Kau tahu Satrya, kupikir saat kau mengatakan itu. Kaulah yang merasa takut. Tapi, sekarang akulah yang merasa takut Satrya. Kau takit kamu pergi. Jadi bangunlah Satrya, lenyapkan rasa takut itu dari dalam hatiku. Aku mencintaimu, Satrya," lirih Arel menenggelamkan wajahnya ditangan Satrya yang ia genggam.


Kini tangisnya pecah membuat suasan haru dan sedih. Amelia bisa tahu seperti apa perasaan Arel kini. Ia mendekat dan mengelus pelan punggungnya. Sementara yang lain hanya terdiam dan ikut sedih melihat hal yang mengharukan ini. Devina kini sadar, bahwa cinta Arel lebih besar dari cintanya. Ia tidak bisa memungkiri hal itu.


Ia tersenyum dalam tangis kesedihannya. Yoga yang melirik dan mendapati Devina bisa tahu segalanya. Ia yang selalu peka terhadap apapun bisa mengerti segalanya. Lantas, ia pun memeluk Devina oleh sebelah tangannya. Devina sempat kaget dan menoleh dan menatap kepadanya. Tapi Yoga tidak membalas tatapan Devina walau ia tahu, kini Devina tengah menatap dirinya heran.

__ADS_1


Namun, tanpa Arel duga. Sebuah suntuhan lembut dan lemah mendarat diatas puncuk kepalanya. Arel terkejut dan segera mengangkat kepalanya. Bukan hanya Arel tapi semua orang terlihat terkejut dan senang. Senyum tiba-tiba merekah dibibir mereka melihat Satrya yang akhirnya membuka lemah kedua matanya.


"Dasar ... Cengeng," ucap Satrya walau terdengar sangat lemah. Namun, mampu membalikkan suasa tangis itu menjadi segurat garis senyuma yang lebar bagi mereka.


__ADS_2