Bacause it's first time

Bacause it's first time
Memulai aksi


__ADS_3

Arel masihcemberut ketika sampai dirumah. Bahkan ia hanya memainkan makan malamnya. Melihat hal itu Amelia terus saja menatap bingung dengan kelakuan putri satu-satunya ini. Yang kadang seperti ini, yang kadang seperti itu dan dengan sangat tiba-tiba.


"Arel! Kenapa kamu tidak memakannya? Jangan dimainkan saja. Makan dong!" seru Amelia angkat bicara.


"Arel gak nafsu makan, Bun," ucap Arel lesu seraya menopang dagunya.


Amelia menghela nafas lalu meneguk satu tegukan air minum yang tersaji didepannya.


"Sekarang apa lagi? Bukankah masalah kamu sudah kelar?" tanya Amelia penasaran.


"Kelar apanya, Bun. Yah, emang sih, masalah sama Devina udah kelar. Lah, sama si Satrya? Sampai sekarang ia terus saja menghindar dari Arel," jawab Arel.


"Satrya, yang waktu itu nganterin kamu pulang pas hujan, yah?"


"Iyah, Bun. Hah! Sulit sekali membuat dia untuk balik ke Arel."


"Jangan nyerah dong! Kalau kamu sayang sama dia. Kamu harus lebih berjuang lagi dapetin dia!" seru Amelia menepuk bahu Arel dengan keras, sehingga membuat Arel terhenyak kaget.


"Bunda! Kaget tahu!" seru Arel. "Susah, Bunda! Kurang berjuang apa coba Arel? Setidaknya beri Arel alasan yang lebih masuk akal, mengapa dia harus menghindari Arel," keluh Arel.


"Ahhh! Udah ah! Aku mau cari udara segar. Aku mau beli pembalut ke Alfamart."


"Eh! Ini udah malam. Besok saja!" cegah Amelia dengan tegas.


"Bunda! Pembalut buat besok sudah habis. Nanti, kalau belinya besok, Arel juga yang kerepotan Bunda!" rengek Arel kesal.


"Kalau begitu, jangan lama-lama. Langsung kembali, setelah membelinya, ok?"


"Iyah, Bun! Arel pergi dulu." Arel pun meminta diri dan melengos pergi keluar untuk membeli pembalut.


"Eh! Bawa uang gak?" teriak Amelia.


"Bawa kok, Bun! Yaudah Arel pergi, yah!" balas Arel ikut berteriak karena ia sudah berada di depan pintu keluar.

__ADS_1


"Hah! Kok aku merasa gak enak hati gini, yah?" gumam Amelia merasa cemas akan sesuatu yang mungkin terjadi. Namun, Ia segera membuang perasaan buruknya itu dan pikiran negetifnya.


Arel tiba di Alfamart dan membeli yang semestinya ia ingin beli. Dan juga tentunya ia juga membeli beberapa camilan. Yah, kan sayang udah jalan jauh-jauh hanya buat beli pembalut saja. Tidak lupa ia juga membeli es krim untuk dimakan saat berjalan pulang ke rumah.


Setelah selesai ia membeli semua yang ia inginkan. Arel pun pergi kekasir untuk membayar.


"Rp.125,600, Mbak," ucap penjaga kasir itu dengan lembut.


"Oh iyah, ini!" balas Arel menyodorkan uang seratus dan lima puluh.


"Ini kembaliannya," ujar penjaga kasir itu.


Arel menerima kembalian uang miliknya. Dan memasukannya kesaku. Kemudian ia melangkah pergi untuk pulang. Sambil berjalan pulang, Arel membuka es krim yang ia beli dan memakannya sambil berjalan.


"Uhh ... Dinginnya! Makan es malam-malam enak juga!" gumamnya tampak senang bisa memakan es krim dimalam hari tanpa diketahui oleh bundannya.


Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti dan menepi tepat didepan Arel. Dua orang pria berjaket kulit hitam turun dan menghampiri Arel. Tentu saja Arel merasa sangat takut, kalau-kalau mereka orang jahat yang ingin menjambretnya.


Tapi, tunggu! Apa yang akan mereka jambret? Secara Arel tidak punya apapun yang berharga untuk dicuri. Jika ada pun hanya ada uang kembalian sisa tadi. Pikir Arel.


Ia berniat berbalik dan kembali ke Alfamart untuk menyelamatkan diri. Namun, kedua pria itu menghadang cepat langkahnya.


"Maaf, Nona Arella?" tanya salah satu pria itu.


"Maaf, sepertinya kalian salah orang," sangkal Arel berbohong karena takut sekali kepada mereka.


"Kami tidak mungkin salah. Nona adalah Arella, iyah kan?" sahut teman pria yang satunya.


Arel tidak menjawab pertanyaan mereka. Saking takutnya ia merasa kakinya melemas dan kaku.


"Bisa Nona ikut kami? Bos kami ingin bertemu dengan Nona," ucap pria itu lagi.


"Bos? Siapa?" ulang Arel bertanya.

__ADS_1


"Nona akan tahu setelah bertemu dengannya."


"M-maaf. T-tapi saya harus segera pulang. Bunda nanti bisa marah," balas Arel gelagapan dan mecoba kabur. Namun, lagi-lagi kedua pria itu menghadangnya dengan cepat.


"Nona, jangan membuat kami melakukannya dengan kasar. Ikutlah bersama kami," ucap salah satu teman pria itu sambil menodongkan pisau dipinggang Arel.


Arel hanya pasrah untuk sekarang. Mau tidak mau ia harus ikut dan nurut kepada mereka. Walaupun ia kini merasa sangat ketakutan. Tapi, ia pun tidak bisa berteriak meminta tolong. Jika sampai ia lakukan itu, maka pisau itu pasti akan berakhir diusus perutnya.


Ya Tuhan! Tolong lindungi aku! bathin Arel berdo'a untuk keselamatannya. Kini hanya pertolongan dari Tuhanlah, yang Arel harapkan.


🍂🍂🍂


Malam ini Satrya dan Yoga memulai aksi mereka untuk menyusup kedalam rumah. Pertama mereka harus melumpuhkan penjagaan gerbang utama tanpa suara agar bisa masuk. Mereka menjalankan tugas pertama mereka dengan baik.


Melumpuhkan musuh dengan pakaian dalam wanita yang dicampur oleh obat bius. Ternyata semua pria sama saja. Hanya dengan melihat pakaian dalamnya saja sudah tergoda dan langsung menciuminya. Dasar pria mesum.


Kemudian mereka masuk dan menyusup lewat sela-sela pepohonan kecil yanga ada dihalaman rumah, lebih tepatnya taman, untuk menyelinap agar tidak terlihat dikegelapan. Lalu, mereka menuju ke bagian timur garasi mobil. Untuk bisa masuk kesana mereka harus melumpuhkan satu penjaga.


Namun, siapa duga ternyata penjaga-penajag dirumah ini begitu terlihat santai dan lengah. Sehingga mudah bagi Satrya dan Yoga membungkam mulutnya dari belakang dan membiusnya, lalu mengikatnya.


"Bagus!" bisik Yoga memberi tos pada Satrya. Mereka pun diam-diam membuka garasi mobil dan menyelinap masuk. Garasi mobil itu menuju keruang bawah tanah yang terdapat sebuah perpustakaan tua milik ayah Satrya dulu. Rencana mereka adalah untuk pergi kesana.


Namun, ternyata penjagaan dirumah ini semakin lebih ketat dari pada dulu. Dua pria yang tengah asik minum dan merokok sambil mengobrol dipintu masuk ruang bawah tanah sangat merepotkan Satrya dan Yoga.


"Kau bilang, jalan menuju ruang bawah tanah tidak pernah dijaga," ucap Yoga kesal karena kesalahan Satrya.


"Dulu memang tidak pernah. Bagaimana kita harus melumpuhkan mereka?" sahut Satrya bukannya berpikir tapi malah bertanya.


Yoga terdiam untuk berpikir. Lalu ia mendapat sebuah ide dalam pikirannya. Ia menjatuhkan sebuah vas bunga. Praakkk!!


Kedua penjaga itu terhenyak kaget dan menatap kearah asal suara jatuhnya vas.


"Hei, siapa disana?" tanyanya memeriksa. Namun, tidak ada sahutan.

__ADS_1


"Kau, coba periksa!" perintah salah satu temannya.


"Aeh! mengganggu saja," kesal temannya karena mau tidak mau ia harus melihatnya.


__ADS_2