Bacause it's first time

Bacause it's first time
Kembali (Akhir dari cerita)


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Tanggal pernikahan Amelia dan Metra telah di tetapkan. Satu minggu setelah pelamaran. Mereka kini disibukkan dengan persiapan untuk pernikahan yang akan datang.


Memang pernikahan mereka masih satu bulan lagi. Tapi mereka ingin pernikahan mereka berjalan dengan baik sesuai keinginan mereka. Sebab itu mereka merencanakan segalanya dengan persiapan yang matang dari sekarang.


Hari terus berganti. Malam dan siang saling bergilir. Waktu tidak berhenti berputar dan terus berlalu. Semua tidak terasa bagi mereka yang berbahagia. Seolah waktu itu terasa sangat singkat untuk mereka jalani. Waktu terasa begitu cepat.


Satu bulan pun tiba, hari pernikahan Amelia dan Metra. Pernikahan yang begitu meriah dan mewah.


"Selamat, yah Bun! Aku bahagia sekali, akhirnya Bunda tidak kesepian lagi," ucap Arel memeluk Amelia dengan bahagia.


"Terimakasih, sayang," balas Amelia membalas pelukan hangat putrinya.


"Selamat, yah Om. Eh? Maksud Arel, Ayah," ucap Arel ketika akan bersalaman dengan Metra. Ia merasa sangat canggung sekali. Metra tersenyum dan memeluk Arel dengan hangat layaknya seorang ayah untuk putrinya.


"Terimakasih, Arel. Ayah janji, akan selalu menjaga kalian berdua," ucap Metra.


"Aku percaya. Ayah akan menepati janji Ayah," balas Arel tanpa ragu lagi.


"Selamat yah, om dan tante. Kalian memang pasangan yang sangat serasi!" sela Devina dengan heboh.


"Terimakasih, Devina."


Tawa kembali pecah dengan bahagia. Mereka berfoto bersama-sama. Seperti sebuah keluarga yang bahagia. Namun, dibalik senyum bahagia Arel tersirat kesedihan yang tidak akan orang lain bisa lihat dan rasakan.


Semunya memang sangat sempurna. Tapi tidak dalam dirinya, rindu itu masih tersimpan dan semakin bertambah setiap harinya. Dihari yang bahagia itu, Arel merasa sangat sepi dan kosong.


Begitulah hari-hari selanjutnya yang ia rasakan. Rindu yang tidak pernah usai. Yang entah kapan bisa ia balas rindu itu dengan sebuah genggaman dan pelukan hangat.


Hanya sepi dan sunyi yang terngiang disetiap hari yang ia lewati. Walau ia tidak pernah sendiri, namun rasanya begitu sepi. Tawa selalu keluar, namun rasanya sunyi. Matahari bersinar begitu terang, namun terasa meredup. Bagi Arel semua itu rasanya hanya sebuah lembarang yang ditulis oleh pensil, namun langsung kembali terhapus oleh hujan. Membuat semuanya memudar.


Menunggu? Ia masih menunggu sampai sekarang. Hari-hari ia lewati dengan sebuah penanti yang tidak berujung. Kapan semua ini akan berakhir? Pikir Arel.


Wakti yang tidak pernah melambat atau mencepat, ia tetap berputar pada edarnya. Tidak terasa 3 tahun telah berlalu begitu saja. Arel kini telah lulus kuliah bersama Devina dan Yoga.


Adalah impian Arel untuk bisa menjadi seorang dokter. Dengan usaha dan kerja kerasnya ia berhasil menjadi seorang dokter. Ia bertemu dengan orang-orang banyak. Ia bisa melihat lebih luas dunia orang lain setelah menjadi dokter.


"Ah, sulit sekali menghubungimu setelah kamu menjadi dokter," keluh Devina ketika berkunjung menemui Arel disaat jam istirahat makan siang.


"Iyah. Banyak pasien yang harus kutangani," balas Arel.


"Tidak terasa, yah. Kita telah menjadi orang dewasa. Padahal kemarin kita hanya murid SMA," ujar Devina mengingat masa lalu.


Arel tersenyum tanpa membalas ucapan Devina. Ia menyeruput kopi hangatny dengan tatapan sedih nan kosonh. Devina mendapati Arel yang tengah melamun itu, mulai mengalihkan perbincangan. Devina tahu, Arel pasti sangat kesepian tanpa Satrya.


"Eh Rel. Aku lupa kedatanganku kemari mau memberitahu hal yang penting," tukas Devina.


"Hal penting apa?" tanya Arel.


"Aku akan tunangan sama Yoga," bisik Devina.


"Benarkah? Wahh... Selamat! Aku harap cinta kalian akan terus bertambah satu sama lain."


"Terimakasih. Pokoknya kamu harus dampingin aku terus, ok? Soalnya aku sangat gugu sekali. padalah tunangan nya kan minggu depan," ujar Devina manja.


"Iyah, kamu tenang saja. Aku akan mengambil cuti nanti. Agar aku bisa terus dampingin kamu sampai acaranya selesai," balas Arel.


"Emmm... Kamu memang sahabat terbaikku," sahut Devina memeluk Arel.

__ADS_1


Arel tidak menduga waktu begitu tidak berpihak kepadanya. Begitu menyakitkan bagi Arel, tidak bisa menghadiri setiap acara penting dengan orang yang ia cintai. Senyum yang harus ia lontarkan, lagi-lagi senyum palsu untuk mereka.


🍂🍂🍂


Malam telah datang berselimut gelap. Arel tiba dirumah dengan rasa penat dan lelah disetiap otot tubuhnya. Begitu banyak pasien yang harus ia tangani hati ini. Begitu melelahkan sekali. Ia merebahkan tubuhnya disofa.


"Kamu sudah pulang?" lontar Amelia terbangun sebab mendengar suara pintu terbuka.


"Bunda? Apa aku membangunkan Bunda?" tanya Arel seraya bangkit dan duduk.


Amelia duduk disamping Arel. "Kamu pulang larut hari ini. Apakah dirumah sakit sangat sibuk?" tanya Amelia lagi.


Arel menyandarkan kepalanya dibahu Amelia. "Emmm... Sangat sibuk. Banyak pasien yang harus Arel tangani. Rere bagaimana, Bun?.Demamnya udah turun?" tanya Arel teringat akan Rere adiknya yang tengah demam tinggi. Rere baru menginjak ke lima bulan.


"Demamnya udah turun, kok. Bunda melakukan seperti yang Arel katakan," balas Amelia.


"Syukurlah. Arel capek, Bun. Arel mau tidur. Selamat malam, Bunda," ucap Arel mencium pipi Amelia dan bangkit menuju kamarnya.


Amelia menatap sedih Arel. Ia tahu, dibalik senyum Arel selama ini tersimpan kesedihan yang tidak bisa ia hibur atau hilangkan dari hatinya. Amelia meneteskan air matanya tidak sadar. Namun, segera ia seka dan bangkit kembali tidur kekamarnya.


Sementara Arel bukannya langsung tidur, ia malah membuka jendela kamarnya dan duduk menatap bulan yang bersinar dengan indah dan sempurna. Ia kembali teringat akan Satrya. Tangisnya seketika pecah. Ia benar-benar merindukan Satrya.


Sadar atau tidak, setiap malam Arel selalu menangis. Dan suara tangisan itu terdengar sampai ke kemar Amelia. Sehingga Metra dan Amelia selalu terbangun dan mendengar tangisan Arel yang begitu menyakitkan.


Pagi telah meyapa untuk memulai hari. Seperti biasa Arel disibukkan oleh pekerjaannya. Baru saja ia datang dan berganti baju. Ia sudah mendapatkan pasien yang mengalami kecelakaan parah. Dengan sigap Arel berusaha menyelamatkan orang itu.


"Tekanan darahnya menurun!" seru seorang perawat.


"Pendarahannya tidak berhenti," timpal perwat lainnya.


Arel terus berusaha sebisa mungkin menyelamatkan pasien itu. Dengan bantuan dari dokter lain, akhirnya mereka berhasil menyelamatkan pasien itu untuk sekarang.


"Iyah, hallo, Dev?"


"Arel! Tolong aku aku, Rel!"


"Devina, ada apa?" Arel terkejut ketika mendapati suara Devina yang panik meminta tolong.


"Rel! Tolong aku... Aaaa...!!"


Panggilan itu pun terputus dengan suara terikan Devina yang membuat Arek panik. "Dev! Devina jangan bercanda. Hallo!"


Arel pun tidak punya pilihan lain selain pergi berlari untuk menemui Devina ditempat kerjanya. Ketika sampai ia bertanya pada salah satu karyawan disana.


"Permisi, apa Devina ada?" tanya Arel.


"Oh Devina tadi sedang keluar. Terus ada beberapa pria yang mengajaknya pergi."


"Beberapa pria? Pergi ke kamana?"


"Saya juga gak tahu, Mbak!"


"Yaudah, makasih, yah!"


Arel pun kembali mencari Devina dan berusaha menghubungi Yoga. Namun, tidak diangkat.


"Aduh, Ga! Angkat!"

__ADS_1


Lalu, tiba-tiba beberapa pria berdatangan menghampirinya. Sama seperti waktu Arel pernah diculik. Arel terkejut bukan main. Ia merasa takut untuk kedua kalinya.


"Nona, Arella? Ikutlah kami. Jika Nona ingin teman Nona selamat," ucap salah satu pria itu.


Devina? Apakah mereka orang-orang yang membawa Devina? Tapi kenapa? Apa alasannya? bathin Arel kini bingung harus apa.


"Baiklah."


Arel tidak punya pilihan lain. Jika ia menolak, maka Devina akan terluka. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Beberapa pria itu membawa Arel dan mengikat tangannya. Mereka juga menutup mata Arel.


Apa sebenarnya yang terjadi? Mereka mau apa? Pikir Arel tidak mengerti keadaan yang ia alamu sekarang.


Mereka sampai ditempat yang mereka tuju. Arel diseret entah akan dibawa kemana. Lantas, tiba-tiba ketika mereka sampai ditempat yang dituju, ikatan Arel dilepas begitu saja. Dan penutup matanya dibuka.


Dan Kejutan! Arel tidak menyangka kalau ini hanya akal-akalan Yoga dan Devina. Mana Amelia dan Metra ikut-ikutan juga. Bikin panik Arel saja.


"Apa-apaan ini?" tanya Arel kesal.


"Maaf Arel, ini hanya sebagian dari rencana. Kami merencanakan semua ini untuk kamu," balas Devina.


"Untukku? Acara apa ini? Untuk apa? Kalian tahu, betapa aku sangat takut dan panik tadi!" ujar Arel marah karena merasa dipermainkan. Lagi pula hari bukan ulang tahunnya kenapa mereka memberi kejutan dan membuat rencana seperti itu.


Arel hendak akan pergi dan berbalik karena marah. "Arel, sayang. Kamu mau kemana?" tanya Amelia.


"Kembali bekerja. Masih banyak pasien yang harus Arel tangani," balas Arel ketus tanpa berbalik.


Ia hendak akan melangkah pergi. Namun, tiba-tiba lampu diruangan itu mati membuat panik Arel. Kemudian sebuah petikan gitar terdengar tidak asing bagi Arel. Ia mengenal lagu ini. Lagu ini adalah lagu yang Satrya nyanyikan untuknya dihari kelulusan. Lagu pertama yang ia terima dari Satrya.


Arel berbalik dan mencari-cari asal suara itu. Tiba-tiba sebuah lampu menyorot ke arah sosok yang memainkan gitar itu. Arel tertegun dan terdiam melihat sosok itu. Sosok yang sangat ia rindukan selama 4 tahun terakhir. Tiba-tiba ia hadir dihadapannya dengan sok keren.


Mata Arel telah basah. Ia mematung menatap tidak percaya sosok itu. Satrya EL, ia pergi selama 4 tahun untuk mengurusi dan mempelajari semua tentang perusahaan Ayahnya.


"Satrya?" gumamnya.


Satrya pun melangkah mendekat pada Arel. Tanpa melepaskan tatapannya ia tersenyum pada Arel.


"Sudah lama sekali. Apa kau merindukanku?" tanya Satrya. Arel begitu kesal dan marah dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Pertanyaan apa itu? Konyol sekali.


Tanpa membalas pertanyaan Satrya, Arel memukul dada Satrya berulang kali dan menangis. "Bodoh! Kau sangat bodoh! Kenapa kau baru datang sekarang?" ucap Arel lirih tidak berhenti memukuli Satrya.


Satrya pun memeluk lembut gadis itu. "Aku minta maaf. Karena aku terlambat. Maaf sudah membuatmu menunggu sangat lama," bisik Satrya.


Lantas, Satrya melepaskan pelukannya. Dan menatap lekat Arel. Kemudian mencium hangat kening Arel dengan jeda yang sangat lama. "Arella, I Love You. Menikahlah denganku," ujar Satrya mengeluarkan cincin berlian.


Arel tertegun dengan kalimat yang terlontar. Ia mengedarkan pandanganya kesemua orang yang ada disana. Mereka tersenyum dan mengangguk kepada Arel. Terutama Devina yang terlihat lebih antusias.


Arel kembali menatap Satrya lekat. "Asal kau berjanji, tidak akan pergi lagi," balas Arel dengan senyum yang tertahan, kemudian melebar.


Diikuti senyum Satrya yang mengembang sangat besar dengan langsung memakaikan cincin itu dijari manis Arel yang indah. Semua orang bersorak dan tepuk tangan.


Satrya pun kembali mendekat dan lebih dekat pada Arel. Ia pun mencium bibir Arel dengan lembut sebagai tanda cintanya untuk Arel. Ciuman pertama yang akan menjadi saksi dari awal kisah hidup mereka yang baru. Ciuman pertama yang akan terus menjadi kisah yang indah sampai nanti hari tua.


(TAMAT)


Hallo guys!


Terimakasih sudah membaca cerita pertama saya. Pokoknya jangan lupa terus kasih dukungannya. Berharap! hehe..

__ADS_1


Ok.. See you next time! daaahhh...


__ADS_2