
Rencana makan malam yang Metra siapkan untuk Amelia dan Arel berjalan dengan baik. Mereka tampak seperti keluarga yang bahagia ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang berkujung direstaurant tersebut. Arel seolah memiliki keluarga yang lengkap malam ini, dengan hadirnya Metra disisinya dan Amelia.
Walau baru Arel mengenal Metra, tapi ia sudah memberi penilaian terhadap sosok pria yang bernama Metra itu. Aira merasa kalau Metra memang pria yang sangat baik dan sangat cocok dengan Bundanya. Sebab itu, ia punya rencana untuk menyatukan kembali mereka, agar Amelia tidak lagi merasa kesepian.
"Bun, Om? Maaf, Aira permisi ketoilet," sela Arel ditengah-tengah perbincangan mereka.
"Oh iyah sayang, jangan lama-lama yah?" sahut Amelia.
"Iyah, Bun. Sebentar kok!"
Arel lekas bengkit dan pergi menuju toilet. Saat ditoilet ia tidak sengaja mendengar beberapa gadis membicarakan berita tentang pelajar SMA yang berkelahi melawan 12 orang dewasa yang pernah Arel baca saat dinternet. Ternyata berita itu sudah menyebar kemana-kemana. Berita tentang pelajar SMA itu mendadak terkenal dan membuat penasaran semua orang akan wajah pelajar SMA itu.
Para gadis itu bergitu asik membicarakannya dan mengidolakannya. Mereka berpikir kalau pelajar SMA itu sangat keren dan pastinya juga tampan. Walau bahkan mereka sama sekali tidak tahu seperti apa wajahnya, tapi mereka tetap berpkir bahwa dia sangat tampan dan juga keren.
Mendengar gosipan mereka itu membuat Arel tersenyum dan ingin tertawa. Bagaimana bisa mereka mengidolakan sosok cowok berandalan seperti itu? Pikir Arel. Arel pun kembali dan melanjutkan aktivitas makan malamnya dengan Bundanya dan Metra.
¤☆¤
Alarm sudah berbunyi saja dengan nyaringnya. Mengganggu aktivitas tidur Arel yang nyenyak. Arel menggeliat malas. Matanya sangat rapat dan tidak mau terbuka. Ia masih mengantuk karena semalam terlalu larut pergi tidur. Namun, alarm terus berbunyi membuat kebisingan yang memaksanya untuk bangun dan bangkit duduk. Perlahan ia membuka matanya yang masih terasa berat.
Kemudian ia meraih alarm yang masih beerbunyi dan mematikannya. Arel kembali menggeliat dan menguap. Ia memaksakan diri pergi kekamar mandi dan bersiap untuk berangkat sekolah.
Arel pun pergi untuk sarapan. Tampaklah sosok wanita yang cantik yang begitu akrab bagi Arel tengah menyiapkan sarapan diatas meja makan.
"Pagi sayang!" sapa wanita itu yang tidak lain adalah Amelia tengah tersenyum lebar pada Arel. Memeberi kesan yang hangat dipagi hari.
"Pagi, Bun!" balas Arel membalas senyum Amelia kemudian duduk untuk sarapan bersama Bundanya.
Arel tidak bisa berhenti melihat wajah Amelia yang terlihat begitu cerah pagi ini. Yang pastinya ia juga tahu, apa yang membuat Amelia tampak sebahagia ini. Perlahan Arel tersenyum lebar melihat kebahagiaan itu digaris raut wajah Ibundanya. Sudah lama sejak Ayahnya meninggal, Arel tidak melihat raut wajah seperti itu dari Ibundanya.
"Kamu kenapa, sayang? Bukannya dimakan sarapannya, malah bengong liatin Bunda."
__ADS_1
"Ah iyah, Bun. Aku hanya senang saja melihat Bunda pagi ini."
"Memangnya kenapa sama Bunda? Toh, setiap hari Bunda gini-gini saja. Sudah, habiskan sarapanmu!"
"Iyah, Bunda!"
Aktivitas sarapan mereka lanjutkan dan setelah usai mereka pun berangkat bersama-sama. Seperti biasanya Amelia akan mengantar Arel kesekolah, lalu pergi kekantor bekerja.
¤▪︎¤
"Satrya!" panggil Devina pada Satrya saat mendapatinya dikoridor sekolah menuju kelasnya.
Satrya menoleh dan berbalik. "Devina? Ada apa?"
"Satrya, kamu mau kekelas?"
"Yah."
"Kita kekelas sama-sama yuk?"
Mereka pergi bersama kekelas mereka. Devina mulai tertarik pada Satrya. Ia mulai jatuh cinta saat ia melihat Satrya membuka kacamatanya. Dalam benaknya ia ingin sekali melihat wajah tampan Satrya yang tidak memakai kacamata bulat itu, yang membuatnya terlihat culun.
Devina terus saja mesam-mesem bisa berjalan berdua dengan Satrya. Ia merasa senang walau dengan hal sekecil itu. Mereka tiba dikelas, tapi lagi-lagi Rey membuat pemandangan buruk dipagi hari ini.
Satrya dan Devina mendapati Rey yang sedang membully seorang cowok yang tidak lain teman satu kelasnya sendiri, yaitu Hami. Hami si murid pendiam dan suka menyendiri itu kini sedang dibully oleh Rey dan dua temannya yang baru didepan teman-teman yang lainnya.
Entah siapa dua temannya itu, yang pasti mereka bukanlah dari kelas ini. Satrya dan Devina berhenti melangkah saat tiba diambang pintu karena melihat perbuatan Rey yang mengerikan itu.
Tidak lama sesaat Arel sampai didepan pintu yang Satrya dan Devina halangi. Ia heran kenapa mereka masuk dan malah berdiri diambang pintu seperti itu menghalangi jalan masuk bagi Arel. Namun, Arel pun mendengar suara keributan dari dalam kelas. Arel penasaran dan menerobos masuk lewat tengah-tengah Satrya dan Devina, hingga mereka terdorong kedepan karena Arel.
"Kalian jangan berdiri disini. Menghalangi jalan masuk tahu, gak?" ujar Arel tanpa melihat apa yang terjadi didalam kelas.
__ADS_1
"Arel!" seru Devina terkejut karena tubuhnya yang terdorong. Sementara Satrya hanya membenarkan kacamatanya. Arel terkejut saat melihat Rey yang tengah membully Hami didalam kelas bahkan didepan teman-teman yang lainnya.
"Rey? Kau.." ucap Arel tidak percaya Rey akan melakukan hal seperti ini.
Hami yang kini tengah terduduk dilantai dan berlutut didepan Rey dan dua temannya itu, sangat kacau dan sudah babak belur. Keningnya berdarah dan bajunya berantakan. Rambutnya acak-acakkan seolah bekas jambakan. Tangannya yang terkepal seolah menahan amarah dalam genggamannya. Matanya yang dipenuhi rasa marah, takut dan benci bisa Arel lihat dalam sorotannya.
"Hallo, Arella?" sapa Rey tersenyum pada Arel tetapi menatapnya dengan dingin.
"Apa yang kau lakukan Rey?"
"Apa yang kulakukan? Kau tidak bisa melihatnya, apa yang sedang aku lakukan saat ini?" sahut Rey menendang punggung Hami dengan keras, membuat Arel terkejut.
Hami adalah salah satu cowok yang menyukai Arella diam-diam. Sepertinya cowok yang lainnya. Namun, ia tidak melakukannya terang-terangan.
"Kau sudah gila, Rey!"
"Aku memang gila Arel. Aku sudaj gila sejak dulu. Hanya saja, aku juga baru menyadarinya."
"Rey! Jangan membuat kekacauan disekolah hanya kerena masalahmu dengan Ayahmu. Ini tidak adil Rey!" seru Arel sedikit membentak.
"Tidak adil? Lalu, apakah yang terjadi padaku itu adil?"
"Itu.."
Satrya langsung meraih tangan Arel saat Arel hampir saja mengatakan apa yang seharusnya ia katakan. Arel menoleh pada Satrya dan Satrya menggeleng pelang. Arel pun berhenti bicara karena ia sadar, tidak akan ada gunanya.
"Sudahlah Rey. Rasanya sia-sia saja bicara padamu," ucap Arel seraya melangkah menghampiri Hami. Lalu, ia berjongkok didepan Hami.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arel.
Hami menatap tajam pada Arel. "Jangan sentuh aku! Apa yang terjadi padaku, ini semua karenamu!" serunya berteriak dan sedikit mendorong Arel hingga terduduk dilantai. Arel sempat bingung dengan ucapannya. Apa salah Arel? Kenapa dia menyalahkan Arel?
__ADS_1
Hami bangkit dengan kaki yang masih gemetar, lalu pergi meninggalkan kelas. Sementara Arel masih terduduk bingung dan menoleh tajam pada Rey.
"Usaha yang bagus," ujar Rey, lalu melengos pergi kelaur kelas yang diikuti oleh kedua teman barunya itu.