Bacause it's first time

Bacause it's first time
Amarah Rey


__ADS_3

Rey yang dikenal tampan dan keren, juga tentunya tukang buat onar terlihat begitu marah pagi ini. Ia berjalan dengan tatapan dinginnya dengan tangan yang terkepal erat, menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Dengan penuh amarah ia pergi menuju ruang guru dan berpapasan dengan Arel dan Satrya yang kebetulan mereka pun menuju kantor guru. Karena Satrya sudah menolongnya, jadi Arel membantu Satrya menunjukkan jalan menuju kantor guru.


"Rey?" panggil Arel pelan. Namun, Rey bahkan tidak melirik atau menggubris Arel seperti biasanya.Walau mereka bertemu dan berpapasan saat sampai didepan kantor guru. Rey masuk begitu saja dengan kasar dan tidak sopan. Arel merasa heran dan bingung dengan sikapnya itu. Rey membuat kekacauan dikantor guru. Ia mengobrak abrik kantor guru tanpa ragu. Arel yang terkejut dengan tindakannya itu pun hanya menonton dan menyaksikan.


"Rey?" ucap Arel.


"Dia temanmu?" tanya Satrya.


"Iyah. Dia satu kelas denganku. Tapi apa yang terjadi padanya? Mengapa ia melakukan ini?"


Tiba-tiba Arel merasa cemas dengan tindakan Rey itu. Sementara, Rey masih mengamuk dan mengobrak abrik kantor guru dengan penuh bara api yang menyala dalam dirinya.


"Apa yang kamu lakukan Rey?" ucap salah satu guru disana.


"Rey, hentikan!" imbuh guru lainnya mencoba menghentikan Rey yang sedang mengamuk. Kegaduhan itu menarik para siswa yang lewat untuk menonton dari balik jendela.


"Rey!" bentak seseorang yang baru saja datang. Pria paruh baya memakai jas hitam dan tatapannya terlihat sangat akrab walau sorotannya penuh dengan amarah dan kecewa. Pria itu adalah Pak Haris, seorang Presdir alias pemilik sekolah ini.


Pria itu pun melangkah maju menghampiri Rey yang tengah berdiri menatap kehadirannya dengan tatapan tajam yang menahan bendungan air matanya. Tiba-tiba Pak Haris menampar keras Rey. Sontak semua yang menonton terkejut.


Ada beberapa siswa yang merekam kejadian itu dengan ponselnya. Namun, Satrya yang menyadari itu segera menghentikan aksi mereka yang merekam kejadian itu, dengan sengaja ia menepis satu persatu tangan mereka hingga ponsel mereka terjatuh dari genggaman mereka.


"Hal seperti ini, bukan untuk kalian sebarkan atau viralkan. Seharusnya kalian bisa menjaga nama baik dan kehormatan sekolah ini," ucap Satrya dengan dinginnya. Seketika nada cupu dalam gaya bicaranya hilang begitu saja.


"Keterlaluan sekali kamu!" bentak pak Haris sepertinya sangat marah besar karena tindakan Rey.


"Keterlaluan? Seharusnya aku melakukan semua ini sejak dulu. Tega sekali kamu melakukan itu? Dan mengingkari janjimu!" balas Rey kini matanya mengalirkan air mata.


"Hentikan ini! Mari kita bicarakan ini dengan baik-baik," bujuk Pak Haris membuat bingung Arel dengan perkataannya.


"Tidak ada gunanya lagi, aku menyembunyikan semuanya, Ayah," sahut Rey membuat Arel dan siswa lainnya terkejut ketika ia menyebut Pak Haris dengan sebutan Ayah.

__ADS_1


"Rey!" bentak Pak Haris.


Jadi selama ini, Rey adalah anak dari pak Haris? Pemilik dari sekolah ini? Pantas saja, apapun yang Rey lakukan, tidak ada satu pun dari guru yang berani menghukumnya. Paling-paling, ia hanya mendapat teguran dari beberapa guru saja. bathin Arel.


Rey pun yang diamuk badai amarah pergi setelah mengobrak abrik kantor guru. Sejenak ia melirik pada Arel dan pandangan mereka saling beradu. Bisa Arel rasakan kemarahan Rey dari sorotan matanya. Lalu, Rey pun pergi entah kemana. Pak Haris terlihat sangat frustasi dengan apa yang baru saja terjadi.


"Apa yang kalial lihat? Pergi dan masuk kekelas kalian masing-masing!" bentak pak Haris kepada para siswa yang menonton. Sontak mereka kaget dan berhamburan pergi menghindar sebelum kena imbas akan amarah Pak Haris.


Tapi tidak dengan Arel dan Satrya yang masih mematung dan berdiri disana. "Kenapa kalian masih disini?" tanya Pak Haris.


"Maaf, pak. Kami ada urusan disini," jawab Satrya dengan sebuah alasan.


Tanpa membalas ucapan Satrya, Pak Haris pun pergi meninggalkan kantor guru. Sementara guru yang lainnya kini sibuk membereskan berkas-berkas yang berserakan.


"Ya ampun! Ada-ada saja. Membuat perkejaan kita bertambah saja," ucap salah satu guru.


"Benar. Kalau saja dia bukan anak dari Pak Presdir sudah pasti dia dikeluarkan dari sekolah," imbuh guru yang lainnya.


"Yah, kalian tahulah. Rey bersikap seperti itu karena ia tidak pernah mendapat perhatian dari ayahnya walau pun sedikit. Saya bisa mengerti dengan sikap Rey itu," sambar Bu Lisa wali kelas Arel dan Rey.


Satrya dan Arel yang sedari tadi mendengarkan ikut membantu membereskan beberapa berkas yang berserakan.


"Biar kami bantu," ucap Arel membantu Bu Lisa.


"Eh, Arel? Terimakasih," sahut Bu Lisa.


Setelah mereka selesai membereskan berkas-berkas yang berserakan dilantai. Bu Lisa baru sadar akan kehadiran Satrya disana. Dan ia pun baru ingat, kalau dikelasnya hari ini kedatangan murid transfer.


"Oh? Apa kamu Satrya?"


"Iyah, bu."

__ADS_1


"Maafkan atas kekacauan yang terjadi dihari pertamamu," sesal Bu Lisa.


"Tidak papah, bu."


"Ah kebetulan sekali Arel ada disini," ucap Bu Lisa. "Satrya, kamu ikut saja dengan Arel. Karena kalian akan berada dikelas yang sama. Karena kekacauan yang baru saja terjadi, dan ibu harus menyusun kembali berkas-berkas ini. Jadi, ibu akan memberikan tugas padamu untuk kelas ibu,"lanjutnya.


"Baik, bu. Serahkan saja pada saya," balas Arel.


"Tunggu sebentar yah!" pinta Bu Lisa. Seraya menandai tugas yang harus dikerjakan.


Setelah usai Ibu Lisa memberikan buku itu pada Arel. "Ibu sudah menandai tugas yang harus dikerjakan. Jadi, Ibu minta tolong yah, Arel."


"Siap, bu."


"Kalau begitu kami permisi, pergi kekelas dulu," sambar Satrya.


"Baiklah."


Mereka pun kembali kekelas dengan tugas yang Bu Lisa berikan. Arel tidak menduga kalau ternyata Satrya akan berada disatu kelas yang sama dengannya. Mereka sampai dikelas yang kini sedang bergemuruh membicarakan berita yang menyebar cepat tentang kejadian yang baru saja terjadi dikantor guru, yang disebabkan oleh Rey yang kini menghilang entah pergi kemana.


"Baiklah teman-teman! Cukup! Jangan terus bergosip yang tidak berguna! Bu Lisa tidak bisa mengajar karena sebuah alasan. Jadi, ia memberi kita tugas untuk dikerjakan!" seru Arel mengumumkannya didepan kelas. Membuat semua siswa terdiam dan berhenti bergosip.


"Dan satu lagi, kita punya teman baru dikelas kita. Namanya Satrya EL! Dia murid transfer!" lanjut Arel memperkanalkan Satrya kepada teman-teman satu kelasnya.


"Hallo, semuanya! Senang bertemu dengan kalian!" sapa Satrya sambil membenarkan kacamatanya dan nada bicaranya kembali menjadi cupu.


"Arel! Apa benar, Rey putra dari Presdir?" lontar salah satu teman satu kelasnya.


"Iyah, apa berita itu benar? Kamu ada disana, kan saat kejadiannya?" imbuh yang lainnya.


"Kalian bicara apa sih? Tidak ada yang terjadi. Sekarang kerjakan saja tugas kalian! Dan berhentilah bergosip yang tidak tidak!" balas Arel menyangkal.

__ADS_1


Satrya pun tersenyum dan langsung duduk dibangku kosong yang ada. Lagi pula kehadirannya tidak terlalu menarik perhatian mereka. Malah, mereka lebih penasaran akan berita yang menggetarkan seluruh sekolah.


__ADS_2