Bacause it's first time

Bacause it's first time
Rencana penyelamatan


__ADS_3

"Ga, menurutmu siapa yang telah menculik Arella?" tanya Satrya setelah menceritakan semua yang Devina kabarkan padanya.


"Kurasa, bukan Burno," jawab Yoga tampak begitu yakin sekali.


"Kenapa kau begitu yakin bukan dia?" tanya Satrya lagi.


Yoga hanya melirik dan tersenyum kepada Satrya. Lalu ia bangkit dan berjalan menghadap jendela, lalumenatap keluar. "Kau mempertanyakan hal yang juga sudah kau yakini," balas Yoga berbalik dan menatap Satrya. Kemudian ia memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.


"Aku hanya curiga pada seseorang. Aku hanya merasa kalau kita benar-benar masuk kedalam jebakan seseorang," sahut Satrya pandanganya teralih menatap pada dokumen yang ia pegang saat ini.


Yoga melangkah kembali menghampiri Satrya. Lalu, menepuk bahunya cukup kerasa dan duduk disampingnya. "Kalau begitu pemikiranmu saat ini sama denganku. Burno tidak tahu apapun soal Arella. Dan saat para anak buah Burno mengepung kita. Salah satu yang paling aku ingat wajahnya tidak ada disana. Aku merasa ada penghianatan yang terjadi hari ini. Dan hal itu membuatku curiga pada seseorang," balas Yoga.


Satrya baru menyadarinya. Benar kata Yoga, tidak ada Fugo disana. Orang kepercayaan Burno tidak bersamanya saat itu. Lalu, dimana dia? Jika Burno tahu semua rencana mereka malam ini, maka Fugo pasti orang yang pertama yang akan mereka lihat malam ini. Tapi, dia tidak ada disana. Dan hal itu sangat mencurigakan.


"Kalau begitu kecurigaan kita memang benar. Kita hanya dijebak dan dijadika alat untuk mengambil dokumen ini. Karena mereka pikir, hanya aku yang bisa membukannya. Jadi, mereka menggunakanku untuk mengambilnya," tukas Satrya.


"Benar. Dan orang-orang yang mengawasi sudah mengetahui segalanya. Dan kini mereka menjadikan Arella untuk dijadikan pion yang sangat berharga. Dengan mereka menangkap Arel. Maka akan mudah bagi mereka untuk mengambil dokumen itu darimu. Tentunya dengan menggunakan Arella sebagai ancaman," sahut Yoga. "Dan orang yang melakukan ini adalah..."


"Ratyo," serempak keduanya bersamaan.


"Dialah dalang dari semua ini. Fugo mengawasi kita, bukan untuk Burno, tapi Ratyo."


"Tepat sekali! Dia tahu kamu akan datang kepadanya. Dan dia merencanakan semua ini. Kau ingat, saat kita melihat Burno datang menemui Ratyo? Kurasa mereka memang bekerja sama. Tapi, Ratyo tidak pernah berniat sedikit pun untuk bekerja sama dengannya. Dia hanya memanfaatkannya. Dan penyadap itu, itu rencana mereka. Hah! Ratyo memang sangat licik! Dia tahu rahasia ayahmu, tapi tidak bisa mendapatkannya. Jadi, dia menggunakanmu untuk mendapatkan apa yang ia incar selama ini," ujar Yoga begitu panjang lebar.


"Sekarang, apa yang akan kita lakukan?" tanya Satrya terdengar begitu putus asa.

__ADS_1


"Apa lagi? Kita harus membuat rencana, sebelum Ratyo menelponmu dan meminta dokumen itu."


Kini mereka pun larut dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka berpikir apa yang akan mereka lakukan sekarang? Mereka tidak bisa membiarkan Ratyo mengambil segalanya. Tapi, mereka juga tidak bisa mengabaikan Arella. Kedua pilihan akan sangat menyulitkan bagi mereka.


Keheningan pun menyelimuti kamar gelap milik Yoga itu. Dengan jendela yang sengaja mereka buka agar angin masuk kedalam, hanya terdengar suara helaan nafas dan hembusan angin berdengung ditelinga mereka.


Tiba-tiba ada yang melempar batu kecil dari arah luar masuk kedalam kamar Yoga. Sontak mereka terkejut dan segera melihat siapa yang melempar batu kedalam kamar Yoga tengah malam begini.


Satrya mendapati sosok Devina yang melambai-lambai dari bawah didepan gerbang rumah Yoga. Kebetulan sekali, kamar Yoga berada dilantai atas dan jendelanya menghadap kejalan.


"Devina? Kok, dia bisa ada disini?" ucap Satrya bertanya-tanya.


"Sepertinya, kita akan butuh bantuan dari Devina. Ayo!" seru Yoga. Entah apa yang kali ini muncul dalam idenya itu. Satrya memasukkan kembali dokumen itu kedalam tasnya, lalu mengikuti Yoga yang tengah turun lewat balkon dan tiang yang ada. Mereka sudah terbiasa melakukan itu sejak dulu.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Yoga setelah tiba diluar gerbang.


"Ok. Tapi katakan dulu, siapa pria ini?" tanya Satrya menoleh kepada Metra.


"Saya Metra. Calon Ayah nya Arella," sela Metra. Membuat mereka terkejut dan membulatkan mata.


"Ok. Sekarang kalian harus menceritakan semua yang terjadi," sambar Devina kembali ke inti perbincangan.


"Ok. Tapi tidak disini," balas Yoga berjaga-jaga takut kalau mereka masih diawasi oleh orang-orang licik itu, alias musuh mereka.


Mereka pun segera pergi menuju mobil Metra dan masuk. Mereka menjelaskan segala apa yang terjadi saat ini. Devina benar-benar tercengang dengan apa yang ia ketahui dari mereka.

__ADS_1


"Oh my God, Yoga, Satrya! Kenapa kalian baru cerita sekarang? Kalau sudah begini jadinya, apa yang akan kita lakukan sekarang?" ucap Devina.


"Kalian harus bertanggung jawab. Arel bahkan tidak tahu apapun. Jika sampai terjadi sesuatu kepadanya, maka akan kupastikan kalian menyesal seumur hidu," sahut Metra memperingatkan mereka.


"Jika terjadi sesuatu kepada Arel. Maka aku berjanji, aku akan meninggalkanya dan aku akan mengutuk diriku sendiri," sela Satrya merasa begitu terbebani.


"Hei, ayolah! Ini bukan saatnya kita menyalahkan siapapun. Kita harus membuat rencana untuk menyelamatkan Arel," sambar Yoga.


"Itu mudah! Serahkan dokumen itu kepadanya. Dan dengan begitu Arel akan selamat!" seru Metra sangat geram dan marah mengetahui semua itu.


"Maaf, anda pikir semudah itu? Anda tidak akan pernah tahu sekejam apa mereka. Anda pikir, setelah kita menyerahkan dokumen ini, mereka akan melepaskan Arel begitu saja? Maaf, menurutku itu tidak akan terjadi," balas Yoga.


"Lalu, apa rencanamu sekarang?" tanya Metra benar-benar emosi tidak terkendali.


"Om, tenanglah. Benar kata Yoga. Kita harus hati-hati. Walau bagaimana pun juga. Kita sedang berhadapan dengan orang-orang yang kejam dan tiada ampun. Sebab itu kita harus berhati dan menyusun rencana," sela Devina mencoba menenangkan dan mendinginkan suasana yang mulai memanas.


"Baiklah. Jadi apa rencanamu Yoga?" tanya Satrya.


"Aku ada ide. Tapi, aku akan membutuhkan bantuan Om dan kamu Devina," jawab Yoga menatap mereka bergiliran.


"Aku? Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Devina terkejut menunjuk kewajahnya sendiri.


"Tentu saja. Kami sangat membutuhkan bantuan darimu," balas Yoga.


"Oke! Jangan bertele-tele. Katakan, apa rencananya?" sambar Metra.

__ADS_1


"Baiklah, rencananya adalah...." Yoga lagi-lagi kembali menyusun rencana untuk menyelamatkan Arella. Keseriusan mendalami suasan dimalam itu. Entah apa rencana Yoga kali ini. Tapi mereka mengangguk bersedia melakukan apa rencana yang Yoga buat. Setidaknya mereka harus mencoba daripada tidak sama sekali.


Sementara saat ini, Arel tengah menangis ketakutan. Ia disekap disebuah ruangan yang sangat gelap dan menakutkan. Juga dengan tangan yang terikat dan kaki yang terikat, ia mencoba melakukan sesuatu untuk melepaskan diri dari sana. Ia mengesot dan mencoba meraih sesuatu yang tajam untuk melepaskan ikatan ditangannya.


__ADS_2