
Kelas telah usai beberapa menit yang lalu. Devina terlihat murung sejak di pelajaran ketiga. Dia bahkan tidak menoleh pada Arel atau berusaha untuk bicara padanya. Dan hal itu membuat Arel bingung aka sikap Devina yang mendadak berubah.
Sampai kelas usai pun Devina tidak melirik pada Arel dan meninggalkan Arel yang masih berbenah bersiap pulang. Arel mulai merasa ada yang salah dengan sikap Devina. Ia mengejar Devina dengan buru-buru dan menghadang nya dikoridor sekolah.
Satrya dan Yoga mengikuti mereka dan hanya memperhatikan apa yang terjadi. "Ada apa dengan mereka?" tanya Yoga.
"Entahlah. Sesuatu pasti telah terjadi," jawab Satrya datar, dan terus memperhatikan yang terjadi antara Devina dan Arel.
"Devina, sebentar!" seru Arel.
Devina terhenti dan menatap tajam pada Arel. "Apa?"
"Kamu kenapa, sih? Kenapa sikapmu tiba-tiba sikapmu seperti ini?"
"Kau benar-benar tidak tahu, kenapa? Dasar munafik kamu! Aku pikir, kamu teman terbaik ku. Tapi ternyata kamu sama saja seperti yang lainnya! Minggir!" balas Devina dingin dan menusuk sampai kehati Arel. Ia mendorong bahu Arel hingga Arel terhempas oleh dorongan keras dari Devina itu.
Entah kenapa kalimat itu sangat menyakiti hati Arel. Ia bahkan tidak tahu apa kesalahannya? Sehingga Devina begitu marahnya pada Arel. Dimana letak kesalahan Arel? Padahal tadi pagi, Devina masih baik-baik saja. Itulah yang Arel pikirkan saat ini.
Satrya cukup terkejut dengan sikap Devina yang sangat kasar pada Arel tadi. Mereka menghampiri Arel yang masih terdiam bengong memikirkan apa yang telah ia perbuat hari ini, sampai-sampai Devina begitu marah.
"Ada apa, dengan Devina?" tanya Satrya menyadarkan Arel dari bengongnya.
"Entahlah. Dia tiba-tiba seperti itu," sahut Arel seolah menahan kesedihannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Yoga diikuti anggukan kecil dari Arel.
"Sudahlah jangan sedih. Karena kamu sekarang temanku, mau pergi karokean?" ajak Yoga dengan antusias.
"Boleh juga. Kamu yang bayar!" sambar Satrya.
"Baiklah," tandas Arel setuju. Yah, karokean disaat seperti ini, setidaknya akan sedikit menghibur hati. Pikir Arella.
Sebenarnya Yoga sudah mengira dari sejak awal. Dan ia sudah membaca segala disekitarnya sejak bersama Arel dan Devina. Ia peka dengan segalanya. Hanya saja si Satrya nya aja yang sulit memahami keadaan sekarang. Dan terlalu lelet. Begitu juga Arel yang begitu polos akan perasaanya sendiri pada Satrya.
Saat Arel bilang dia pacar Satrya, saat itulah Yoga bisa memahami segalanya. Yoga tidak sengaja melihat Devina yang tampak sangat sedih dan kecewa mendengar ucapan Arel itu.
🍂🍂🍂
Devina benar-benar hancur saat melihat Arel yang bahkan tidak memikirkan perasaannya. Dan sekarang ia bahkan ingin pergi kekaroke bersama mereka. Sungguh. Dia teman yang sangat buruk dan munafik. Pikir Devina tidak menerima apa yang ia dengar ataupun lihat saat ini.
__ADS_1
"Kamu sungguh akan seperti ini, Arel?" gumam Devina begitu marah.
Sementara Arel masih bisa tersenyum dan tertawa bersama Satrya dan Yoga saat ini bersenang-senang dikaroke saat ini. Namun, pikiran tentang Devina masih menggelayut dalam pikirannya. Ia merasa benar-benar tidak tahu dimana letak kesalahannya sehingga Devina bersikap dingin seperti itu.
Setelah karokean Arel langsung balik kerumahnya tanpa menyimpang kemana-mana lagi. Apalagi ini sudah sore.Takut Bundanya nanya kesana kemari karena pulang terlambat. Apalagi hari ini, ia tidak kerja. Jika pulang lebih dari jam 6 sore, bisa-bisa Arel mendapatkan ceramah lebih dari dua jam dari Bundanya. Tidak tidak, disaat seperti ini sangat menyebalkan jika harus mendengarkan ceramah dari Bunda. Pikir Arel.
"Arel pulang!" seru Arel setelah sampai dirumah.
"Kenapa kamu pulangnya kesorean?" tanya Amelia curiga.
"Maaf, Bun. Arel hanya pergi bermain sebentar sama temen-temen Arel," balas Arel lesu.
"Temen cowok apa cewek?"
"Bunda! Aku lagi males menjawab pertanyaan dari Bunda. Jadi, bisakah Bunda tidak bertanya?"
"Apa? Sejak kapan kamu mulai berani melawan Bunda?"
"Arel bukan ngelawan, Bun. Hanya saja, ini bukan waktu yang tepat untuk Bunda nanyain ini itu sama Arel!" seru Arel terkekeh sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Kamu sebut ini bukan perlawanan?"
"Bunda, cukup!" bentak Arel tanpa sadar. Sehingga Amelia terdiam tidak berkutik karena sikap kasar Arel untuk pertama kalinya.
Sementara Amelia masih tertegun dengan sikap Arel yang mendadak berubah tidak sopan terhadapnya. Dan itu membuat hatinya sangat sakit. Selama bertahun-tahun ia mendidik Arel supaya menjadi anak yang baik dan hormat terhadap orang tua, hari ini Arel menunjukkan betapa sia-sianya pengajaran yang Amelia ajarkan selama ini untuknya.
🍂🍂🍂
"EL, menurutmu kenapa Devina mendadak bersikap dingin dan kasar pada Arel?" tanya Yoga saat diperjalanan pulang.
"Kenapa kamu menanyakan itu padaku?"
"Kau tidak menyadarinya? Sebab dari mengapa Devina mendadak marah pada Arella?"
Langkah Satrya terhenti mendapatkan pertanyaan itu dari Yoga. Terpaksa Yoga ikut berhenti melangkah.
"Apa maksudmu?"
Yoga tersenyum. "Kau ini benar-benar sangat lelet."
__ADS_1
Yoga bahkan tidak menjawab pertanyaan dari Satrya dengan lengkap dengan menggantungnya. Satrya hanya mengernyit bingung.
"Jelaskan secara rinci. Apa maksud perkataanmu?"
"Kau benar-benar tidak tahu? Yasudahlah. Lupakan saja." Yoga pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa yang telah membuat Satrya penasaran karena pertanyaannya.
"Hei, tunggu! Kenapa kamu main pergi begitu saja!" Kejar Satrya menghentikan langkah Yoga dengan menarik kerah baju belakangnya.
"Kau tidak bisa memikirkannya sendiri? Cobalah untuk belajar memahami seseorang disekitarmu," balas Yoga membuat Satrya sangat jengkel dan geram dengan maksudnya itu.
"Memahami? Apa yang harus kupahami saat ini?" sahut Satrya masih tidak mengerti sama sekali. Juga hanya menggeleng dan melanjutkan langkahnya disusul oleh Satrya.
"Hei!.." Langkah mereka lagi-lagi terhenti saat beberapa orang bertopeng menghadang jalan mereka. Mereka memakai pakaian yang sama dan serba hitam. Ada lambang gambar kalajengki di jaket kulit yang mereka pakai.
Satrya mengenal lambang itu. Mereka adalah para mafia yang pernah mereka kalahkan sebelumnya. Walau saat itu, Yoga hampir saja terbunuh karena luka dalam dari tusukan yang ia terima sehingga harus dirawat beberapa hari dirumah sakit.
Ia bahkan baru saja sembuh dan keluar dari rumah sakit. Tapi sepertinya para mafia itu dendam pada mereka, sehingga para mafia itu masih mengejar Satrya dan Yoga.
"Jadi, kalian disini bocah tengik yang sudah membuat malu kami. Ciiihh.. Kalian bahkan tidak akan bisa lolos sekarang," ujar salah satu pria berotot dan sangat besar.
"Ahh.. Ternyata kalian. Kali ini, kalian membawa begitu banyak orang," ucap Satrya dengan angkuh.
"Jangan terlalu sombong bocah tengik. Kalian akan tamat hari ini juga," ancam pria besar itu.
"Wow wow santai!" seru Yoga mendekat pada Satrya dan berbisik pelan. "EL. Sayang sekali ini bukan waktu yang tepat. Karena luka diperutku masih belum sembuh, aku tidak bisa bertarung," uajarnya.
"Begitu yah? Sayang sekali. Mereka juga terlalu banyak untuk aku hadapi sendiri," balas Satrya.
"Hei! Apa yang sedang kalian bisikan?!" sela pria besar itu, tampak tidak sabar ingin segera menghajar.
"Aku ada pertanyaan untukmu," ujar Satrya.
"Pertanyaan apa?"
"Kalian mengejar kami karena dendam kalian atau karena hal lain?"
"Apa maksudmu?" sela Yoga tidak mengerti.
"Karena, jika kalian mengejar kami karena hal ini. Maka urusan kalian adalah denganku, bukan dengannya," lanjut Satrya menunjukkan sebuah jam tangan hitam kepada mereka.
__ADS_1
"Jadi, memang kau yang mengambilnya?"
"EL! Apa maksudnya ini?" sambar Yoga benar-benar tidak mengerti ada apa dengan jam tangan itu.