
Arella masih berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Walau tangan dan kakinya terikat, sehingga tidak bisa bergerak leluasa, tetapi selama ia masih punya jalan untuk bisa kabur dari sana. Maka ia berpikir kalau ia tidak boleh menyerah seperti apapun keadaannya saat ini.
Arel mengesot berusaha mendekati sebuah kayu yang tampak patah dan menyisakan sebuah pinggiran yang terlihat tajam. Arella sampai pada kayu itu dan segera memosisikan tubuhnya membelakangi kayu itu dan mulai menggosok-gosok tali yang mengikat tangannya.
"Ayolah! Aku mohon, terlepaslah!" gumam Arella terus berusaha sekuat tenaganya. Ternyata cukup sulit memutuskan tali itu. Sampai-sampai Arel merasa pegal dan berhenti sejenak karena lelah.
Lalu tidak lama beberapa menit, ia mencobanya lagi sampai akhirnya tali itu terputus dan terlepas dari tangannya. Arel tersenyum senang karena ia berhasil melakukannya.
Kemudian ia pun tidak ingin membuang waktu lagi. Ia harus mencari jalan keluar sebelum orang-orang jahat yang menculiknya datang kesana. Ia mengedarkan pandangannya dengan sangat panik. Lantas, pandangannya terhenti di sebuah jendela yang tertutup rapat oleh kayu-kayu yang dipaku.
Arella mencoba mencari celah. Namun, terlalu sempit dan sepertinya tidak bisa dibuka. Arel semakin panik dan kembali mengedarkan pandangnya keseluruh ruangan tersebut. Namun, karena gelap ia tersandung dan menyenggol sebuah meja yang tertumpuk keatas. Dan Draaakkk!!
Suara ribut berjatuhannya meja itu terdengar begitu keras. Untung ambrukan meja yang disusun keatas itu tidak jatuh diatas tubuh Arel. Nafas Arel mulai tertahan karena panik dan juga syok.
Gebrakan pintu terdengar sangat keras, ributnya suara langkah kaki terdengar berdatangan, membuat Arel membulatkan matanya mengarah pada mereka yang berdatangan. Tiga pria datang dengan raut wajah marah melihat Arel yang berusaha untuk kabur.
Salah satu diantara mereka menghampiri Arel. Dan dengan kasarnya ia menarik rambur Arel sampai meringis karena sakit.
"Sedang apa kamu, hah? Ingin kabur?" tanya pria yang menjambak rambut Arel itu.
"Lepaska! Sakit!" ringis Arel mulai menangis.
"Sakit? Kamu belum merasakan sakit yang sebenarnya," bisik pria itu terdengar begitu menakutkan ditelinga Arel.
"Sebenarnya apa mau kalian? Kenapa kalian menculikku?" tanya Arel meminta alasan.
"Kau akan tahu, sebentar lagi. Sabar dan tunggu saja dengan tenang. Jangan membuat keributan seperti ini, dan menyusahkan kami seperti ini, mengerti?" sahut pria itu melepaskan jambakannya dengan mendorong kepala Arel dengan keras.
Arel begitu geram dan marah. Ia melihat ada paku dan mengambilnya diam-diam. Lalu, pria itu menarik kasar lengan Arel berniat mengikat Arel lagi. Tapi Arel melakukan perlawanan dan menggores wajah pria itu dengan paku yang ia pegang saat ini.
"Arggh!"erang pria itu melepaskan cengkramannya.
Kedua pria lainnya mencoba menangkap Arella saat itu juga. Namun, dengan sigap Arel mengambil sebuah senjata api yang menggantung dipinggang pria yang ia lukai. Dan menodongkannya kepada kedua pria itu.
__ADS_1
"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat!" seru Arel dengan gemetar juga takut.
Arel melangkah mundur sedikit menjauh dari mereka.
Namun, tampaknya kedua pria itu tidak takut akan ancaman yang Arel lontarkan kepada mereka saat ini. Mereka malah menatap Arel dengan tajam dan tersenyum simpul. Mereka berpikir Arel tidak akan pernah bisa menarik pelatuk pistol itu.
"Aku tidak main-main. Angkat tangan kalian diatas dan merunduklah!" seru Arel lagi berusaha terlihat agar lebih meyakinkan dengan ancamannya.
Namun, kedua pria itu malah terus melangkah menghampirinya dan membuat Arel terus melangkah mundur. Tangan Arel begitu gemetar. Namun, ia tidak punya pilihan lain, dan melesatkan satu tembakan dengan sengaja ia arahkan kebawah kaki mereka.
Dorr! Suara tembakan itu terdengar sangat menggema diruangan itu. Kedua pria itu begitu terkejut dengan keberanian Arel. Dan karena itu, langkah mereka pun terhenti dan berdiri mematung ditempatnya saat ini.
"Aku bilang, aku tidak main-main," ucap Arel dengan suara yang bergetar hebat. Tapi tiba-tiba pria yang Arel lukai tertawa terbahak-bahak. Lalu, menatap pada Arel. Ia melangkah mendekat pada Arel. Sementara Arel kini mulai panik dan semakin ketakutan.
"Kau bodoh, sekali!" seru pria yang Arel lukai itu. "Didalam sana hanya tersisa satu peluru. Tapi, kau malah menyia-nyiakan?" lanjutnya tersenyum simpul.
"Apa?" sahut Arel terkejut dan kembali menarik pelatuknya. Ternyata benar-benar kehabisan peluru. Gawat! Bagaimana sekarang? Bathin Arel begitu kacau.
"Tidak! Lepaskan aku! Lepas!" Arel meronta-ronta. Namun, kedua pria itu memegangi Arel dengan sangat kuat.
Kemudian pria yang Arel lukai itu, mendekat padanya dan kembali menjambak rambutnya. "Kau lihat wajahku? Beraninya kau melukai wajah tampanku ini. Jujur, kau sudah membuat kami bekerja sangat keras hari ini. Dan, untuk itu kau harus membayarnya."
"Tidak, kumohon. Lepaskan aku!" lirih Arella benar-benar ketakutan. Entah apa yang akan ia lakukan untuk membalas perbuatan Arel padanya. Arel hanya bisa berdo'a dan berharap Tuhan mengirim seseorang untuk menolongnya.
Plaakkk!!
Pria itu menampar Arel dengan sangat keras. "Itu karena kau sudah menyusahkan kami," ucapnya.
Lalu, ia pun menampar Arel untuk kedua kalinya. "Dan itu, karena kau sudah mengambil senjata kesayanganku."
Lalu, tamparan ketiga melesat lagi dipipi kanan Arel dengan keras, hingga darah keluar dari hidung Arel dan membuat luka dibibi Arel. "Yang ini, karena kau sudah melukai wajah tampanku," ucapnya lagi.
Arel hanya bisa pasrah dan menangis kesakitan.
__ADS_1
Bunda, Satrya, tolong Arel! bathin Arella begitu lirih.
"Kalian sedang apa?" lontar suara seseorang yang baru saja datang. Entah siapa itu, tapi sepertinya dia yang memerintah ketiga pria jahat ini. Melihat ketiga pria itu terkejut dan panik saat kedatangannya, Arel bisa menerka bahwa dia dalang dibalik apa yang terjadi kepadanya saat ini.
"Boss?" ucap pria yang telah Arel lukai itu.
"Kalian menyiksanya?" tanyanya dengan tajam.
"Dia berusaha kabur, Boss. Dan dia melukai wajahku. Setidaknya aku harus membuat dia kapok dan membalas perbuatannya untuk wajahku ini," balasnya.
"Baiklah. Itu setimpal. Ada untungnya juga kalian menyiksa gadis ini. Potret dia, dan kirim potonya pada bocah itu," ujarnya.
Bocah? Siapa maksudnya? bathin Arel. Apa hubungannya dengaku?
"Baik bos!"
"Tapi tunggu sebentar. Agar bocah itu tidak bertele-tele dan macam-macam. Buat gadis ini lebih menderita lagi," perintahnya tanpa ragu.
"Maksud bos, kita harus menyiksa gadis ini?"
"Tidak, lepaskan saja."
"Maaf, bos. Kami akan membuat dia terlihat lebih menderita."
"Bagus, kalau begitu tunggu apa lagi?"
"Yah? Sekarang bos?"
"Tahun depan! Yah, sekaranglah!"
"Baik, bos!"
Arel benar-benar takut sekali. Apa yang akan mereka lakukan kepadanya saat ini? Hanya mendapat beberapa tamparan saja terasa begitu sakit. Tapi, Arel hanya bisa pasrah. Ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.
__ADS_1