Bacause it's first time

Bacause it's first time
Jebakan


__ADS_3

Salah satu penjaga itu masuk kedalam jebakan Yoga. Mereka yang bersembunyi tanpa bersuara melumpuhkan musuh dengan membungkam dan memukul belakang kepalanya dengan keras. Sehingga pria itu pingsan dan terjatuh.


Salah satu temannya lagi, merasa heran kenapa begitu lama sekali hanya memeriksa apa yang terjatuh disana? Sehingga ia pun pergi menyusul dan melihatnya sendiri.


"Hei, kenapa lama sekali?" tanya temannya itu sebelum melihat bahwa temannya sudah jatuh pingsan tergelatak dilantai.


"Hallo!" sapa Satrya pada teman yang satunya, memberikan senyuman yang licik kepadanya.


Tanpa pria itu sadari, kalau Yoga kini tengah berada dibelakangnya dan membius pria itu seseger mungkin sebelum ada perlawanan.


"Itu bagus, sekali!" seru Satrya.


"Ayo!" balas Yoga agar segera bergerak dan tetap pada rencana. Kini mereka sampai diruang bawah tanah, diperpustakaan milik ayahnya. Mereka mencari-cari sebuah pintu menuju lorong jalan rahasia, tempat dimana brankas itu disembunyikan.


"Ketemu!" seru Yoga menemukan sebuah papan tombol dibalik salah satu buku-buku yang tersimpan.


"Apa ini? Apa ini harus memakai sandi?" ucap Satrya tidak tahu apa sandi yang bisa membuka pintu itu.


"Sandi? Tapi Pak Ratyo tidak mengatakan kalau membuka pintunya harus memakai kata sandi," sahut Yoga merasa heran dan bingung.


"Baiklah, mari kita coba membukan nya," ujar Satrya mencoba memasukan beberapa angka yang memungkinkan.


Sandi ditolak


"Apa? Kalau bukan ini sandinya, lalu berapa?" ucap Satrya bertanya dan berpikir.


"Ayolah, coba lagi sandi yang lainnya," tutur Yoga.


"Okay." Satrya kembali memasukkan beberapa angka yang menurutnya akan dijadikan sandi pintu itu oleh ayahnya.


Sandi ditolak


"Ahh! Berapa yah?" Satrya kembali memutar otaknya. Mengingat angka-angka istimewa yang mungkin akan ayahnya jadikan kunci sandi untuk pintu ini.

__ADS_1


"Benar juga! Itu dia!" seru Satrya saat teringat waktu ayahnya bertanya angka berapa yang paling disukainya.


"3579." Satrya menekan kembali angka-angka yang disukainya. Yaitu angka ganjil dari 1 sampai 10.


Sandi diterima


"Yah! Berhasil!" seru Satrya begitu girang karena berhsil membuka pintu rahasia itu. Mereka tos atas keberhasilan mereka dan segera masuk. Diujung lorong mereka melihat ada sebuah kamar lagi. Dan mereka pun segera masuk untuk membuka brankasnya.


"Baiklah. Ini dia, kita mendapatkan apa yang kita inginkan," ucap Yoga.


Kini mereka memegang semua dokumen kepemilikan dan memasukannya kedalam tas. Lalu, mereka pun segera keluar dari sana. Mereka mencoba keluar mengambil jalan lain dari rumah itu. Sebab, jika mereka mengambil jalan yang sama, pasti mereka akan ketahuan.


Mereka masih mengendap-endap disebuah ruangan yang menuju pintu keluar mereka. Kebetulan lampu disana dimatikan, jadi sangat leluasa bagi mereka untuk bisa keluar dan menghindari pandangan para penjaga dengan bersembunyi dikegelapan.


Namun, apa yang terjadi? Tiba-tiba lampu menyala terang dengan sendirinya. Langkah Satrya dan Yoga terhenti ketika mendengar suara tepuk tangan seseorang yang menggema diruangan itu.


Satrya dan Yoga dapati Burno yang tengah duduk dan bertepuk tangan untuk mereka. Apa ini? Apa ini jebakan? Pikir mereka tidak menduga akan hal ini.


"Bagus sekali, Satrya! Kau melakukan pekerjaanmu dengan sangat baik sekali!" serunya dengan senyum licik terpampang diwajahnya.


Lalu, tidak lama beberapa menit kemudian. Sekitar 20 orang penjaga berdatangan dengan membawa senjata tajam.


"Sial! Sepertinya ini jebakan!" seru Yoga.


"Darimana kau bisa tahu, kami akan menyusup kerumah ini?" tanya Satrya.


"Kami punya informan. Dan rencana kalian sudah gagal. Kami sengaja membiarkan kalian menerobos masuk dengan mudah dan menemukan dokumen penting itu. Jadi, aku tidak perlu lagi pusing-pusing mencarinya. Karena dokumen itu sudah berada didepan mataku," ujar Burno mengangkat kaki dan menopangnya. Lalu, ia memutar pergelangan kakinya secara cepat.


"Informan? Apa jangan-jangan.." sahut Satrya terpikirkan kepada seseorang. Begitu pun Yoga berpikir hal yang sama.


"Ambil dokumen itu dari mereka!" perintah Burno kepada para anak buahnya yang kini siap menyerang mereka saat ini.


"Kau sudah lupa Burno. Anak buahmu, tidak ada yang berguna!" seru Satrya.

__ADS_1


"Hei, hei! Sombong sekali, kau! Kali ini kalian tidak akan lolos! Tangkap mereka!" seru Burno lagi memerintah untuk kedua kalinya.


Yoga sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Jadi ia menyiapkan rencana cadangan untuk menghadapi situasi seperti ini. Para anak buah Burno pun menyerang mereka dan mengkeroyok mereka berdua. Namun, Satrya dan Yoga tidak tinggal diam, mereka melawan mereka dan bertarung. Namun, sehebat apapun Satrya dalam berkelahi, ia tetap kalah jumlah.


Sehingga salah satu dari penjaga itu berhasil menggores sebuah luka diwajah Satrya. Tepat pipinya begitu dekat dibawah matanya. Untunglah pisau itu tidak mengenai matanya dan hanya menggores pipinya.


"EL!" panggil Yoga. Satrya menoleh dan menerima isyarat dari Yoga. Mereka sudah membuat rencana untuk hal seperti ini. Sehingga dengan sengaja ia membawa bubu cabe. Jadi, ketika mereka melawan, menangkis dan menghindar. Mereka menaburkan bubu cabe itu tepat kedalam mata mereka. Dengan begitu akam sangat mudah bagi mereka mengalahkan anak buah Burno, walau mereka kalah jumlah.


"Apa?" sahut Burno tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Sialan! Bocah tengik itu, ternyata tidak bisa diremehkan," gumamnya merasa geram. Dan kini ia angkat tangan dan turun sendiri untuk melawan mereka berdua.


Satrya dan Yoga melawan Burno secara bersamaan. Tapi, Burno terlalu kuat bagi mereka. Bagaimana tidak? Dia adalah salah satu anak buah ayah Satrya yang paling kuat dan hebat dalam bertarung.


Setiap serangan mereka berhasil ia tangkis dengan mudah. Bahkan Burno berhasil mengenai mereka dengan mudahnya. Serangannya berhasil bersinggah ditubuh Yoga dan Satrya.


Tetapi Satrya dan Yoga tidak menyerah. Seperti kepada para anak buah Burno. Mereka mengincar penglihatan Burno agar dan menaburkan bubuk cabe dimatanya. Sehingga Burno mengerang karena perih dan panas yang ia rsakan. Ia tidak bisa melihat apapun.


Satrya dan Yoga menjadikan hal itu sebuah kesempatan yang sangat besar untuk menjatuhkan Burno. Satrya menendang salah satu bagian tubuh Burno yang paling intim dan tetunya menyakitkan. Mereka tidak memberi celah dan terus menyerang Burno.


Sehingga Burno pun terjatuh kalah karena kerja sama mereka dalam mengalahkan lawan.


"Ayo, EL! Kita harus segera pergi!" ajak Yoga setelah semua musuhnya terjatuh. Satrya hanya mengangguk. Mereka pun segera lekas pergi dari sana dengan dokumen penting yang berhasil mereka dapatkan untuk mengalahkan Burno.


"Kita berhasil," ucap Satrya.


"Dengan ini. Kamu bisa mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu. Setelah ini, kita hanya perlu menyewa pengacara. Dan aku sudah mengatur semua itu. Ayahku memiliki teman seorang pengacar yang hebat. Aku akan meminta bantuan darinya," ujar Yoga.


"Terimakasih, kawan. Kau sahabat terbaik yang pernah ada," balas Satrya benar-benar terharu dengan apa yang telah Yoga lakukan untuknya.


"Tentu saja, kawan. Kita bukan hanya sahabat. Tapi, kita saudara. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Yoga menyungging senyum.


"Baiklah. Ayo kerumahku!" lanjut Yoga.


"Kenapa kerumahmu?" tanya Satrya.

__ADS_1


"Jangan ke panti asuhan. Itu akan berbahaya. Kita pergi kerumahku saja. Disana akan lebih aman. Setidaknya sampai dokumen ini, benar-benar menjadi atas namamu," terang Yoga.


"Baiklah," balas Satrya mengerti dan percaya kepada Yoga. Ia tidak pernah meragukannya dalam hal apapun. Dengan cepat mereka segera pergi kerumah Yoga. Dan masuk secara diam-diam agar tidak ada orang rumah yang tahu.


__ADS_2