Bacause it's first time

Bacause it's first time
Lamaran


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu. Hari kelulusan Arel akhirnya tiba. Hari ini mereka berpseta mencorat-coret seragam putih SMA mereka dengan pilok. Tawa Arel yang lepas, membuat Satrya tidak bisa berhenti menatapnya. Banyak hal yang terjadi dalam kisah cinta yang mereka jalani. Namun, semua kejadian itu adalah sebuah awal yang semakin memperkuat cinta diantara mereka.


Arel menoleh kepada Satrya yang tengah menatapnya dan tersenyum kepadanya. Arel membalas senyuman itu dengan bahagia yang tiada tara. Ia berlari dan menghampiri lelaki itu dengan riang.


"Boleh ku tulis namaku dibajumu?" tanya Arel kepada Satrya.


"Tentu saja. Kau boleh menulis namamu dimana saja yang kau mau," balas Satrya.


Arel pun menuliskan namanya disalah satu lengan baju seragam Satrya. Dan menuliskan nama Satrya disalah satu lengan baju seragam Satrya yang satunya lagi.


Lalu, pandangan mereka kembali bertemu dan saling menatap sangat lekat. Satrya mendekat dan mencium kening Arel dengan hangat. Orang-orang yang melihaynya dibuat iri oleh hubungan mereka yang sangat romantis.


"Ya ampun! Aku sangat cemburu!" ujar Devina.


"Kau menginginkan hal itu juga?" tanya Yoga.


Devina mengangguk dengan semangat. Ia memejamkan matanya menunggu bibir Yoga mendarat dikeningnya. Devina bersiap dengan hati yang berbunga. Yoga tersenyum manis melihat Devina yang begitu menggemaskan dimatanya. Ia pun mulai mendekat dan memberikan kecupan singkat, namun mengandung banyak makna.


Devina sontak terkejut mendapat kecupan itu yang mendarat bukan dikeningnya. Tapi malah dibibir merahnya. Lantas, Yoga memalingkan wajahnya langsung dan berdehem pelan.


Devina menatap Yoga dengan terkejut. Ia meraba bibirnya yang sempat bersentuhan dengan bibir Yoga. Wajahnya memerah karena malu.


"Yoga, kamu..." ucap Devina.


Namun, sebelum Devina menyelesaikan kalimatnya. Yoga malah pergi begitu saja menghampiri Satrya dan Arel dan kembali bermain pilok.


Sementara Devina masih mematung dengan hati yang berbunga membuat taman yang sangat indah dihatinya. Senyumnya mengembang dengan sempurna. Ia begitu bahagia mendapat kecupan singkat nan hangat itu dari Yoga. Kini mereka telah menjadi sepasang kekasih.


ย 


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


ย Satu setengah tahun kemudian

__ADS_1


"Ihhh... Nyebelin!" seru Devina yang tiba-tiba marah tidak jelas apa penyebabnya. Ia datang ketaman kampus dengan raut wajah yang cemberut dan sedih. Ia duduk disamping Arel yang sedang sibuk mengerjakan sebuah tugas kluiahnya yang belum sempat ia selesaikan pagi tadi.


"Ada apa lagi, sih Dev?" sahut Arel yang merasa risih karena gangguan temannya itu.


Devina menoleh kepada Arella yang bahkan tidak meliriknya sama sekali. "Aku sebel sama si Yoga!" seru Devina.


Kini Arel menutup laptopnya dan menoleh kepada Devina. Ia menatap sahabatnya itu dengan lekat. "Yoga kenapa lagi?"


"Arel! Dia selingkuh!" rengek Devina pada Arel.


"Serius kamu? Gak mungkin! Secara Yoga cinta banget sama kamu," sahut Arel tidak percaya.


Devina semakin kesal karena Arel tidak mempercayai ucapannya itu. Padahal disini siapa yang sahabatnya? Tapi malah siapa yang ia bela?


"Ihhh... Arel! Kamu harusnya percaya sama aku!" kesal Devina merajuk pada Arel.


"Ah maaf. Bukan aku tidak percaya. Yah, tapi kamu kan lebih kenal Yoga dari siapapun," balas Arel mencari alasan untuk menyelamatkan diri dari amukan Devina.


"Sayang!" teriak Yoga berlarian menghampiri mereka ditaman dengan tergesa-gesa.


"Membantu? Apakah harus seromantis itu?" balas Devina seraya bangkit dan berdiri. Lantas, ia pun melengos pergi lagi entah mau kemana.


"Devina! Sayang!" teriak Yoga mencoba menghentikannya. Namun, Devina benar-benar amat marah. Yoga melirik melas pada Arel.


Sementara Arel hanya membalas tatapannya itu dengan senyum canggung. Yoga menghela nafas lembut dan kembali mengejar Devina yang sudah berlalu jauh dari hadapannya.


Arel hanya menatap pertengkaran mereka dengan cemburu. Mereka beruntung bisa terus bersama-sama sampai sekarang. Walau mereka sering bertengkar. Tapu setidaknya mereka selalu bersama dalam suka maupun duka mereka.


Andai Arel bisa melakukan hal yang sama seperti mereka. Bertengkar, tertawa, bercanda dan terus bersama-sama seperti mereka bersama Satrya. Namun, hal itu tidak bisa ia lakukan. Ia hanya bisa menahan rindu yang entah kapan rindu itu akan terobati.


Seketika setetes Air mata jatuh dipipi Arella. Namun, segera ia menyekanya. Ia tidak mau terlihat lemah. Lantas, ia pun kembali menyungging senyum kepedihan. Ia bangkit dan melirik pada jam yang melingkar ditangannya. Sudah waktunya ia masuk kelas.


Ia pun segera melangkah pergi menuju kelasnya. Dan mengikuti pelajaran seperti hari-hari biasanya. Sudah lebih dari satu tahun. Ia memendam rindu untuk Satrya. Ia hanya menikmati kesendiriannya dalam belenggu rindu yang bertempat tinggi dihatinya.

__ADS_1


Sampai kelas pun usai. Ia harus segera cepat pulang. Arella hampir lupa kalau hari ini akan ada sebuah lamaran untuk Bundanya dari Metra. Sebab itu, ia tidak mau melewatkan hari yang bahagia ini.


Ketika Arel tiba dirumahnya, ia dapati sosok wanita yang hebat itu, sudah berhias diri dengan sangat cantik. Senyum mengembang diwajahnya, menyempurnakan keindahannya. Arel begitu bahagia melihat sang Bunda yang akhirnya tersenyum bahagia. Sudah lama Arel tidak melihat senyum itu dari Bundanya.


"Arella, kamu sudah pulang? Bagaimana penampilan Bunda?" tanya Amelia sedikit ragu akan apa yang ia pakai.


"Wahh.. Bunda sangat cantik! Bunda terlihat seperti bidadari," sahut Arel memuji Amelia.


"Kamu ini, terlalu berlebihan kalau bicara," balas Amelia tampak malu-malu. Arel hanya membalas dengan senyum tanda gembira.


"Kamu juga harus siap-siap! Kita akan segera pergi," ucap Amelia lagi.


"Oh iyah, bentar Bun. Arel bersiap dulu!" seru Arel yang langsung bergegas pergi ke kamarnya untuk berhias secantik mungkin.


Setelah selesai mereka pun segera pergi ke lokasi tempat yang Metra kirim untuk pelamarannya. Ia berniat melamar Amelia disebuah restoran yang megah dan menyewanya salama satu hari penuh untuk pesta lamarannya. Tidak ada yang mereka undang untuk acara ini. Kecuali Devina dan Yoga saja.


Metra tampak sudah tidak sabar menunggu kedatangan Amelia. Ia begitu gugup sekali. Metra terlihat sangat tampan dan rapih. Ia memakai jas berwarna putih agar tampak serasi dengan gaun yang Amelia pakai.


Devina dan Yoga sudah tiba disana lebih dulu. Dan mereka menghampiri Metra yang tengah duduk dimeja besar yang sudah dihias dengan cantik.


"Hallo, om! Udah keren ajah, nih!" seru Yoga menggoda Metra.


"Om gugup, yah? Jangan gugup om. Santai saja!" imbuh Devina. Mereka duduk dikursi satu meja dengan Metra yang sudah disiapkan.


Metra menghembus nafas kasar. "Iyah nih. Saya gugu sekali," sahut Metra.


Tidak lama Amelia dan Arel datang. Metra langsung menoleh dan menatap indah wanita berusia 36 tahun itu dengan senyum yang terpampang indah menggaris dibibirnya. Ia bangkit berdiri menunggu kedatangan wanita yang sangat spesial dihatinya itu.


"Hai!" sapa Metra kaku.


"Kau tampak keren sekali hari ini," sahut Amelia memuji Metra yang membuatnya menjadi gugup dan salah tingkah.


"Kamu juga terlihat sangat cantik. Begitu cantik!" balas Metra tidak kalah memuji Amelia. Senyuman gugup diantara keduanya saling terlontar satu sama lain.

__ADS_1


Arella dan yang lain hanya ikut tersenyum bahagia melihat keduannya tampak bahagia. Metra pun segera menarik kursi untuk Amelia duduk. Dengan senang hati Amelia pun duduk disana. Diikuti Arel yang menempati kursi yang masih kosong.


Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan. Namun, sayang sekali tidak ada Satrya. Rasanya kebahagiaan ini kurang lengkap tanpa adanya dia. Arel memang bahagia, tapi didasar paling dalam dihatinya, ia begitu sedih karena terlalu merindukan Satrya. Ia ingin sekali bisa menggenggam dan memeluknya disaat seperti ini. Melengkapi kebahgaiaannya dihari ini.


__ADS_2