Bangku Taman

Bangku Taman
Keputusan Yang Tertunda


__ADS_3

Keputusan yang tertunda


Hidup terus berjalan, suka atau tidak suka masalah akan silih berganti menghampiri. Keputusan harus selalu kita ambil, sekarang atau nanti kita harus segera bersikap.


 Ibu duduk di sebelahku dengan wajah lembutnya. Menatapku penuh kasih seperti layaknya ketika aku masih kecil. Ghifa tengah bermain dengan Bik Nah di dapur, sesekali terdengar tawa kecilnya yang ceria. Kami berada di ruang tengah, dengan  TV menyala menyiarkan berita pagi. Meski mata kami tertuju pada layar data itu, tapi yangtersiarkan hanya menjadi musik pengiring. 


“Gie, kemarin Ibu sempat ngobrol dengan Citra.”


Kalimat pembuka dari Ibu, membuat kutahu arah pembicaraan ini akan menuju.


“Citra ke rumah, Bu?”


“Tidak.”


Kukeryitkan keningku, Ibu menepuk pahaku.


“Justru karena minggu ini Citra tidak pernah main ke rumah maka Ibu tanyakan padanya.”


“Ibu meneleponnya?”


“Iya.”


“Oooh.”


Ibu menoleh dan mengacak-ngacak rambutku dengan gemas. 


“Kok, cuman ooo, Gie? Kamu tak ingin tahu obrolan Ibu dengan Citra?”


“Hehehe …” 


Kucomot pisang goreng hangat yang sudah terhidang di meja, mengalihkan ledekan Ibu yang pasti akan kuterima sebentar lagi.


“Mau tahu tidak?”


“Ah Ibu, itu obrolan sesama wanita kan? Jadi, mungkin aku tidak perlu tahu.” Elakku.


Sambil melorotku dudukku di atas karpet, dan bersandar pada kaki sofa yang sejajar dengan kaki Ibu.


“Dasar kamu, Gie! Tidak peka!” cubit Ibu pada pundakku kesal.


“Hehehe … ampun Bu,” seruku.


Kumasukkan gigitan terakhir lalu kugelontor dengan tegukan susu kreamer yang masih mengepulkan uap, nikmat.


“Gie …Gie, mau sampai kapan kamu seperti ini tho Le?”


Kuusap telapak tanganku dengan tissue, hingga kering.  Kemudian kedua tanganku mulai beraksi memijat kaki ibu dengan lembut.


“Maksud Ibu?”


Aku mendongak, kulihat mendung sesaat di wajah orang tua yang telah melimpahkan kasih sayangnya kepadaku, hatiku berdesir.


“Apakah kau tak punya keinginan untuk menikah lagi? Kau tahu, sejak anak Ardi dan Lidya lahir, Ghifa selalu maracau pingin punya Adik!”


“Hahaha, Ibu kayak ndak tahu Ghifa saja, Buk. Kucing melahirkan saja dia pingin punya adik kucing,”


Kurasakan cubitan gemas menerkam pundakku..

__ADS_1


“Aduhhh sakit Buk!’


“Gie, Gie, benar kata Ardi. Kamu itu tidak peka!”


Aku mendengkus. Apa yang diadukan Ardi pada Ibu, hingga Ibu seperti sangat kesal kepadaku? Awas kau Ar!


“Iya deh, apa yang Ibu obrolkan Ibu sama Citra?”


Ibu menghela nafas, kemudian membelai rambutku.


“Citra bercerita bahwa kedua orangtuanya memintanya untuk segera menikah.  Anak  teman bisnis Bapaknya, datang melamar Citra, dulu dia adalah  teman Citra semasa kuliah.”


Aku diam, apakah Anton yang dimaksud?


“Lalu, apa hubungannya dengan Gie, Buk?”


Sebuah bantal kursi dipukulkan di punggungku dengan gemas.


“Gie, menurutmu mengapa kedua orang tua Citra menunggu kedatanganmu?”


Aku terdiam, sejujurnya aku tak melihat keterkaitan, toh selama ini jalinan yang terjadi antara aku dan Citra adalah sebuah persahabatan? Seperti halnya aku dan Ardi serta Lidya? Sekedar sahabat, apakah Citra menganggapnya lebih dari itu? Aku tidak pernah membahas persoalan rasa dengannya.


“Menurut Ibu?”


Aku balik bertanya, mungkin Ibu punya jawaban yang lebih tepat.


“Apakah kau memang tidak punya rasa sedikitpun untuk Citra. Le?”


Aku menatap Ibu dengan takzim.


“Maafkan aku buk, Laras baru saja pergi, apakah pantas aku menumbuhkan rasa pada Citra?”


Tangan ibu mencoba meraih cangkir yang berisi teh hangat, sigap kuambilkan, lalu kembali diletakkan setelah meminumnya beberapa teguk.


“Sudah tiga tahun, Gie. Secara norma sosial, sah saja kau menikah lagi. Tapi Ibu tidak akan memaksa, itu semua tergantung hatimu.”


“Maafkan Gie ya buk. Gie tidak ingin jika menikah lagi, istriku akan merasa selalu diduakan, itu pasti akan  sangat menyakitkan.” 


Bibirku kelu, kutatap Ibu yang tersenyum penuh pengertian.


“Kalau begitu, kau sudah tahu apa yang akan kausampaikan pada orang tua Citra kan , Le? Sampaikan sejujurnya, meskipun itu akan membuat sakit. Tapi lebih baik terbuka di awal, daripada kau memaksakan diri untuk menerimanya menjadi pendamping hidup.  Tapi justru kau selalu merasa bersalah setiap saat."


“Ibu?”


Kupandangi wajah Ibu yang teduh.


“Aku akan selalu mendukungmu, Le. Lakukan yang terbaik, Laras memang sudah tiada, tapi tidak dengan cinta dan keberadaanya di hatimu, Ibu faham apa yang kaurasakan. Tapi lebih baik mengambil sikap, daripada memberi harapan semu,”


“Baik, Bu. Itu yang harus kulakukan,” jawabku pasti.


“Dah, sekarang sampaikan kabar, kapan kau akan  bertandan ke rumah Citra.”


Ibu menyerahkam gawaiku yang berada di sebelah beliau duduk, kuterima dengan pasti.


“Nanti sore, bu?”


“Ya, lebih cepat lebih baik.”

__ADS_1


Ibu tersenyum penuh arti. menguatkan diriku  untuk segera bersikap, Laras bagaimana menurutmu?


*****


Kulajukan si hitam memasuki halaman rumah Citra, kali ini aku sendiri tanpa Ghifa ataupun Bik Nah.  Apalagi Ibu, beliau hanya akan mengantarku jika untuk meminang Citra, begitu katanya. Tapi tentu saja bukan itu yang akan kulakukan. Citra punya masa depan yang lebih baik daripada bersamaku.


“Asssalamualaikum …”


Sapaku, kedua orang tua Citra ternyata telah menunggu di pendopo demikian pula dengan Citra.


“Waalaikumsalam, Nak Gie, silakan-silakan, ayok silakan duduk.” Sambut Bapak Citra sembari menyambut uluran tanganku.


“Terima kasih, bapak, Ibu.”


Aku kemudian duduk, mengambil tempat yang berhadapan dengan kedua orang tua Citra duduk,


“Kok Ghifa ndak diajak, Gie?”


Tanya Citra sembari mencari-cari. Tapi memang hanya aku yang keluar dari mobil itu.


“Ohh tadi Ghifa minta main ke tempat Adam, jadi tak bisa ikut.” Jawabku, kulihat mata Citra sedikit kecewa, tapi kemudian ia tersenyum kembali, sebelum pamit ke belakang.


“Bagaimana kabar Ibu, Mas Gielang?


“Alhamdulilah, baik Bu.”


“Sesekali ajaklah beliau silaturahmi kesini, kita kan sudah seperti keluarga sendiri, Nak Gie.”


Aku tercekat, Bapak Citra berkata dengan tenangnya.


“Insha Allah, Pak. Suatu saat nanti.”


Citra kembali datang dengan empat cangkir jahe panas.  Uapnya terlihat masih mengepul, pas sekali disaat gerimis mulai menitik. Sendu.


“Silakan, Nak buat hangat-hangat,”


"Terima kasih, Buk. Mari Pak,”


Kuambil cangkirku, setelah Bapak Citra mengambil cangkir beliau. Menyesapnya sebentar, kemudian kembali diletakkan. Dan kuikuti.


“Begini, Mas Gielang. Bapak mau cerita terlebih dahulu.  Anggaplah  ini Bapak tengah meminta pendapat kepadamu, karena Bapak sudah  menganggap Mas Gielang seperti anak kami sendiri,”


Deg.


Kucoba mengatur nafasku. Ini sekedar meminta pendapat. Tetapi, jika pendapat yang aku sampaikan diikuti, kemudian dalam perjalanan kedepan menuai masalah, lalu bagaimana?


"Nggih, Bapak, saya akan menyimak,” jawabku lirih. Citra menatapku kemudian menunduk ketika aku  memergokinya.


Suasana menjadi senyap sesaat, tetapi rintik gerimis yang jatuh di dedaunan membuat ritme dan nada sendiri.


“Apakah, Mas Gielang kenal dengan Nak Anton?”


Aku mengangguk, kutatap kedua orang tua Citra bergantian. 


“Jujur Bapak, Ibu, saya belum begitu mengenal mas Anton. Tapi saya pernah bertemu dengannya,” jawabku akhirnya.


Pak Cipto berpandangan  sesaat dengan Bu Cipto sebelum kemudian meneruskan pertanyaannya. Aku menunggu mencoba setenang mungkin, meski ada desiran yang tiba-tiba datang di dada, ketika kulihat wajah Citra tak seceria biasanya.

__ADS_1


“Menurut Mas Gie, Bagaimana kalau Citra menikah dengan Anton?”


……


__ADS_2