
Ghifa dan Ghilman
Tubuh dibersihkan dengan air. Jiwa dibersihkan dengan air mata. Akal dibersihkan dengan pengetahuan. Dan jiwa dibersihkan dengan cinta. (Ali Bin Abi Thalib)
Sore ini, Ghifa merajuk, ketika aku baru memasuki ruang tengah. Gadis kecil berambut ikal itu sudah memakai syal ungunya semenjak melepaskan mukenanya setelah sholat ashar bersama Ibu. Wajahnya cemberut menatapku tak sabar. Ia berlari mengejarku masuk kamar sembari melompat-lompat. Rambut ikalnya yang mulai memanjang bergoyang keatas dan kebawah.
“Ayaa … ayo dong cepetannn!”
“Iyaaa, Ayah mandi dulu, cantik.” Sahutku sambil melirik jam dinding yang menunjuk angka 15.35
“Jangan lama-lama, Ayaaa, Ghifa pingin ketemu Bunda!” seru Ghifa sambil duduk di kursi yang berada di depan meja kerjaku.
Angin dingin menyusup dari jendela yang berada di dekatnya. Disana ada foto berbingkai yang selalu ditatapnya dengan wajah berbinar.
“Iya …” jawabku sambil mengambil handuk kering yang berada di loker. Kakiku terhenti sesaat ketika ketukan di daun pintu terdengar.
Tok
Tok
Tok
“Ghifa …” Panggil Ibu setelah mengetuk pintu kamar yang masih terbuka sembari melongokkan wajahnya tertuju pada Ghifa. Gadis kecilku menoleh ke arah Eyangnya.
“Tadi Ghifa bilang apa?” kembali Ibu bertanya sambil mendekat. Di tangannya tergenggam sisir berwarna pink bergambar kuda poni. Kemudian dengan pelan Ibu segera menyisir rambut Ghifa yang hitam.
Aku mengerling ke arah Ghifa dan menempelkan telunjukku di bibir sebelum masuk kamar mandi. Ghifa memutar matanya sebagai balasan untuk menyatakan dia mengerti apa yang aku maksudkan.
Ibu memang selalu bertanya-tanya jika aku sedang asyik bercerita bersama Ghifa, tentangmu Laras.
Tentu saja Ibu hanya bisa mencoba memahami, karena beliau tak melihat keberadaanmu. Tidak seperti aku dan Ghifa.
Untungnya Ghifa gadis cerdas yang mudah belajar bahwa tidak semua orang itu sama. Hingga Ghifa akan membawa cerita pada merpati, ayunan, perosotan dan tangga kastil yang ada di taman untuk mengalihkan cerita tentangmu.
“Ghifa mau ke taman, Eyang.”
Kudengar samar jawaban Ghifa sebelum air menguyur kepala dan seluruh tubuhku. Penat yang kurasakan ketika bergelut dengan data di tempat kerja, berangsur berkurang.
Hujaman air hangat menusuk. Jika saja Ghifa tidak mengultimatumku untuk bergerak cepat, ingin rasanya aku menikmati guyuran air ini lebih lama. Tapi mengingatnya membuatku segera membasuh tubuhku dengan busa sabun dan segera kembali membersihkannya.
Aku keluar dengan posisi sudah rapi berpakain, kaos T-Shirt berkerah warna orange dengan jeans moca sedikit longgar di bawah lutut. Ibu masih disana ngobrol dengan Ghifa. Tatapan beliau mengarah padaku ketika kutengah menyisir rambut.
Perlahan Ibu melangkah mendekatiku.
__ADS_1
“Gie …”
“Iya, Buk?”
“Jangan bermain dengan sesuatu yang halu.” Pesan beliau menghentak lembut.
“Iya …buk.” Jawabku singkat.
Kurasakan nada khawatir dalam pesan beliau. Ah, ini bukan halu buk, Ghifa dan Citra juga melihat yang aku lihat. Kami merasa nyaman dan bahagia bisa bertemu Laras, meski hanya pada 16.15 sampai 17.37 saja. Cukup sebagai penawar rindu, cukup bagi Laras untuk melihat Ghifa tumbuh besar dan cerdas, sebagaimana janji kami waktu itu.
“Aya sudah siap?”
Ghifa menghampiri dan meraih jemariku. Aku mengangguk melempar senyum kemudian kurapikan syal ungu di lehernya. Kaos lengan panjang warna ungu muda dengan gambar kuda poni di bagian depan membalut tubuh Ghifa. Kedua kakinya yang mulai terlihat jenjang terbelit celana jeans longgar.
“Ayo kita berangkat!”
Ghifa mengangguk kuat seperti biasa ketika ia menyatakan sikap setujunya.
Kami berdua bergegas menuju halaman, tempat matic hitamku kuparkir. Ibu masih sempat mengusap bahuku sembari wanti-wanti, untuk tidak terlalu petang pulangnya ketika kami mengucap salam untuk berangkat.
Tak butuh waktu lama, hanya sekitar lima belas menit dengan jalan sangat santai kami tiba di taman kota. Seperti biasa kuparkir sepeda motorku diantara deretan motor yang sudah ada terlebih dulu disana.
Ghifa menungguku mengangkatnya dari singasananya yang terbuat dari anyaman rotan. Kemudian berlari kecil menuju ujung lekukan trotoar, disana terdapat dua anak tangga yang diperuntukkan untuk anak seusia Ghifa untuk naik ke trotoar.
Lari kaki lincah itu diiringi tawa kecilnya, sesekali Ghifa menoleh ke arahku melompat-lompat dan mengajakku untuk bergegas, kemudian dia akan kembali berlari.
Wajah Ghifa terlihat semakin ceria ketika Bangku Taman sudah terlihat, dengan tak sabar dilambaikannya kedua tangannya agar aku mempercepat langkah.
Tepat ketika dia berbalik dan ingin menjejakkan larinya kembali, dari arah berlawanan arah seorang anak laki-laki yang lebih besar darinya berlari sejalur dengan Ghifa.
Dug!
Brukk
“Bunda!!!” jerit Ghifa spontan.
“Ghifa!” hamburku ke tempat Ghifa terjatuh, tapi, dengan sigap gadis kecilku kembali berdiri dan berkacak pinggang.
Anak laki-laki yang menubruk Ghifa pun segera berdiri dan melongo melihat Ghifa melotot dengan kepala menatap lurus ke arah wajahnya.
“Ma … ma …af.” Ucapnya terbata.
Seorang Ibu muda berlari kecil, di belakangnya seorang bapak dengan usia tak terpaut jauh mengikuti sembari membopong anak kecil sekitar satu tahun dengan kedua lengannya.
__ADS_1
“Ghilman, mama bilang hati-hati!” Ibu itu merengkuh pundak anaknya, kemudian pandangannya tertuju pada Ghifa.
“Maaf ya, adik cantik, sakit?”
Kepala Ghifa menggeleng kuat, bibirnya mengatup rapat, tapi matanya masih tajam menatap anak laki-laki di depannya dengan tajam.
“Ghilman, ayo minta maaf.” Pinta Ibu muda itu kembali.
“Sudah kok, Ma. Tapi dia diam saja, tuh galak amat!” adu anak laki-laki itu pada ibunya sambil menunjuk pada Ghifa.
Aku tersenyum simpul, Kau benar Laras, anak kita memang tomboy, gayanya seperti jagoan perempuan yang tak mau kalah di gelanggang tempur.
“Maafkan anak saya, Bu. Benar anak ibu tadi sudah minta maaf kok,” leraiku, ketika kulihat Ibu itu merayu anaknya untuk meminta maaf kembali kepada Ghifa.
Ibu itu menoleh menatapku lekat, wajahnya terlihat kaget. Saat yang sama bapak muda yang mengendong anak kecil tiba dan berdiri di sampingnya.
Ibu itu bersitatap dengan bapak yang mungkin suaminya, menurutku. Kemudian tangannya mengacung ke arahku.
“Mas Gielang kah?” wajah kedua orang di hadapanku penuh harap.
Aku mencoba mengingat, dimana pernah bertemu kedua orang di hadapanku sekarang. Memoriku kelihatannya tak berkompromi, semakin kucoba mengingat semakin bibirku tertarik membuat senyuman.
“Iya saya Gielang, dan ini Ghifa anak saya,” jawabku akhirnya sambil kurengkuh Ghifa ke dalam gendonganku, melepaskan kedua tangannya yang sedang berkacak pinggang dengan marah.
Ghifa cemberut menatapku dengan tatapan protes, ia menggeliat minta kembali turun. Mungkin gadis kecilku tak ingin terlihat lemah di hadapan anak laki-laki yang tadi menabraknya.
Benar saja, anak laki-laki itu mengejek Ghifa.
“Wee, sudah besar masih digendong kayak adik bayi!” ledek anak laki-laki itu sambil menjulurkan lidahnya.
“Biarin, huh!” jawab Ghifa galak, mencondongkan mukanya ke arah wajah Ghilman dengan mata membulat penuh.
“Ghilman, ayo minta maaf lagi! Maafkan anak saya Ghilman, Mas Gielang.” Sekarang Bapak muda itu yang berbicara. Karena kulihat wajah Ibu itu menjadi sedikit sendu dan terbata.
“Mas Gielang, maafkan kami, apakah mas Gielang ingat kita pernah berjumpa dulu?” Ibu itu menatapku kemudian menunduk mengusap rambut Ghifa yang sudah berhasil turun dari gendonganku, lalu lanjutnya, “Istri Mas Gielang, Mbak Laras, dulu menyelamatkan Ghilman ketika dia berlari ke tengah jalan. Mas Gielang ingat?”
Deg
Seketika senyumku menghilang, peristiwa yang hampir empat tahun berlalu kembali membayang di tempat itu di waktu yang sama …
Dug!
Arrgg!
__ADS_1
...……...