Bangku Taman

Bangku Taman
Mengurai Amarah


__ADS_3

Mengurai Amarah


Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah. (Abu Bakar As – Shiddiq) 


Iptu Risma mengangguk menberi hormat kepada semua yang ada di ruang tamu. Bibirnya tersenyum bersahabat. Semua berdiri menyalami, lalu kupersilahkan untuk duduk di kursi yang masih kosong.


“Syukurin! Penculik Amatir!” Kunthi terkekeh, sementara Sinta masih sempat melotot tapi tak bisa membalas.


“Ampun, tolong Mas, Gie … beneran aku tidak berniat menculik Ghifa, tolong buk, a-aku minta maaf …tolong, mbak polisi aku jangan ditangkap ya …”


Santi memohon, sembari mengatupkan kedua telapak tangannya, matanya ****** penuh harap memandang ke arah kami satu per satu. 


“Maaf, maaf, enak aja minta maaf! Kau harus dihukum!” ancam Kunthi menyerigai.


“Jangan, jangan dihukum, Mbak Polisi!” rintih Santi makin menjadi. Pak Muji sampai kebingungan untuk menenangkan, isak Santi mulai terdengar.


“Oh, jadi Mbak yang menculik Ghifa?” tanya Iptu Risma dengan tenang, senyumnya masih tersunging, tapi Santi tetap saja ketakutan.


“Saya hanya di suruh, Mbak Polisi, beneran, swear!” Santi mengacungkan kedua jari kanannya.


“Swear ewer, ewer… mau mengelak saja kau, penculik!” Kunthi masih saja menekan.


Santi melirik pedas, tapi tak bisa berkutik.


“Diam kau Kuntilanak!” umpatnya pelan. Kunthi membalasnya dengan menjulurkan lidahnya.


“Coba mbak, siapa namanya?”


“Saya Santi, Mbak Polisi!” Santi menjawab cepat, berharap hukumannya berkurang mungkin.


“Coba Mbak Santi ceritakan, sebenarnya apa yang Mbak Santi inginkan dari membawa anak Mas Gielang. Begitu mungkin, ya Bu, mas Gie?” Mbak Risma meminta persetujuan kepada Ibu yang menyambutnya dengan anggukan.


“Iya, Mbak Risma. Silakan bagaimana baiknya mengatasi masalah ini. Bagi kami, sudah sangat bersyukur, Ghifa kembali dengan selamat tidak kurang suatu apa, katanya tadi hanya diajak jalan-jalan, tapi kok seperti diculik?” kata Ibu dengan intonasi datar.


“Baiklah Bu, nah  mbak Santi silakan bercerita awal mula mengapa Mbak Santi melakukan ini semua.” Pinta Iptu Risma.


Semua mata sekarang memandang ke arah Santi. Gadis itu menunduk, mengencangkan rambut ekor kudanya resah kemudian mendongak dengan sendu.

__ADS_1


“Emmm … emmm …sa-ya hanya …” Santi terlihat ragu-ragu.


“Am em am em, cepetan ngomong!” bentak Kunthi tak tahu malu.


Gadis bermata coklat itu lebih galak dari Iptu Risma yang bahkan tidak terdengar mengeluarkan suara yang keras.


Kembali Santi mendengus kesal ke arah Kunthi yang merasa di atas angin. Semua memang ingin mendengar penjelasan dari Santi. Bagaimanapun dia adalah sepupu dari teman kami, tak selayaknya kami memperlakukannya seperti penjahat yang sadis. Santi menarik nafas panjang kemudian menatap Iptu Risma lurus. Tak dihiraukannya tatapan Kunthi nyang tak lepas dari dirinya.


“Saya hanya diminta tolong untuk membawa Ghifa, mbak, agar em agar, agar mas Gielang sibuk mencari anaknya, jadi tidak datang ke akad pernikahan Mbak Citra dan mas Anton pagi tadi.”


“Apa, nduk? Mengapa?” tanya Ibu dengan nada penuh tanya, dan semua tak ada yang berani menyela.


“Emmm, ma-af buk, Mas Anton tidak mau mas Gie menggagalkan pernikahannya dengan mbak Citra.” Jawab Santi pelan tapi membuat hatiku tertohok kuat.


“What? Hellooo, jadi ini masalah cinta? Ngapain anak kecil dibawa-bawa, Hah? Siapa itu Anton nggak gentle amat! Jangan-jangan dia merebut Mbak Citra dari Mas Gie, ya?! Benar begitu penculik amatir?!” solot Kunthi dengan galak.


Mengapa juga dia lebih marah daripada aku? Bukannya aku yang seharusnya marah? Bukankah dia juga baru saja kenal tadi pagi, gara-gara bikin ulah nabrak aku seenaknya? Dasar aneh! Bahkan memar di kaki dan tanganku masih terasa sakit. Setidaknya omonganya yang ceplas ceplos justru membuat amarahku terurai.


“Hellooo … ngapain juga kamu yang sewot, hah?!” 


“Suka-suka aku lah! Mau apa kau!”


“Sudah, nduk, sudah…” Ibu melerai kedua gadis yang tak mau saling mengalah. Santi dan Kunthi akhirnya mengambil sikap dalam duduknya. Sementara itu kulihat Iptu Risma masih duduk dengan tenangnya.


“Bagaimana menurut mbak Risma?” Pandangan Ibu beralih ke arah Iptu Risma.


“Masalah ini tergantung mas Gielang dan Ibu,” Iptu Risma mengedarkan pandangan. “Pihak kepolisian akan memproses kasus ini, jika pihak Mas Gielang dan Ibu mengajukan aduan terhadap penculikan ananda Ghifa.” 


Sesaat kami terdiam mendengarkan penjelasan Iptu Risma. Ibu menatapku dengan lembut, sementara kulihat Santi kembali menunduk dan meremas-remas tangannya. Kunthi pun tak mengeluarkan suara berisiknya. Ardi dan Pak Muji yang sedari tadi hanya mendengarkan, menatap ke arah kami dengan tatapan yang menguatkan. Ibu tersenyum merangkul bahuku dan mengelusnya.


“Mbak Risma, seperti kata Ibu tadi, kami sudah cukup bersyukur Ghifa sudah kembali berkumpul bersama kami. Kejadian tadi pagi memang hampir merobohkan kehidupan kami, tapi sekarang itu semua sudah berlalu. Biarkan masalah selanjutnya Gie selesaikan langsung dengan Anton. Tidak perlu diperpanjang ke ranah hukum. Terima kasih sekali Mbak Risma telah membantu kami.”


Kata Ibu yang disambut dengan ucapan syukur Santi dengan mengatupkan kedua tangannya di wajah.


“Ibu terima kasih, sekali lagi saya minta maaf …”


Iptu Risma tersenyum dan mengangguk takzim. Kemudian setelah beberapa saat dirasa tak ada lagi yang perlu disampaikan, ia mohon pamit. Aku dan Ardi beranjak mengantarnya keluar. Ketika dengan pelan Iptu Risma berkata.

__ADS_1


“Mas Gie, ada sedikit yang ingin saya sampaikan kepada anda,”


***


Pagi-pagi ketika mentari masih merangkak naik di ufuk timur, bahkan ketika embun semalam belum habis sempurna dari kelopak mawar merahmu yang mekar indah. Aku dan Ghifa sudah bersiap, tinggal menunggu Ardi dan Lidya beserta Adam anak mereka.


Hari ini kami ingin berjumpa dengan Citra sebagai sahabat, Laras. Setelah rencana untuk menghormati prosesi janji suci itu tertunda karena kejadian kemarin. Kau tahu, Laras, gadis kecil kita tak sabar ingin ketemu dengan mama Citranya. Hampir satu bulan sejak terakhir mereka bertemu, bisa dibayangkan besarnya rindu yang menumpuk. Meski saat ini keadaanya mungkin tak lagi sama.


Ardi datang bersama keluarganya mengendarai Honda jazz warna putih. Ghifa melambai-lambaikan tangannya dengan ceria. Ibu telah berdiri di sampingku sembari membelai rambut ikal Ghifa dengan lembut.


“Sampaikan salam ibu buat Citra ya, Gie. Bilang kapan mau ngajak hang out Ibu lagi.”


“InshaAllah buk, nanti Gie sampaikan salamnya. Eh apa kata ibu barusan, hang out?”


Ibu tertawa pelan sambil mengecup pipi Ghifa.


“Yah, setidaknya Ibu harap, Citra masih bisa main ke rumah ini.”


Aku tersenyum kecut.


“Semoga buk, tapi lebih baik tidak terlalu berharap.” Gumamku.


Aku segera menuju mobil setelah mengecup punggung tangan ibu dan mengucapkan salam, begitu pula yang dilakukan oleh Ghifa. Lidya sudah terlebih dulu masuk kembali di bangku belakang bersama Adam, setelah membukakan pintu untuk Ghifa. Sementara itu aku bersiap membuka pintu depan di samping kemudi.


“Hah! Dia lagi?!” seru Ardi menepok jidatnya.


“Apa, Ar?” 


Langkahku terhenti, pandanganku mengikuti arah pandangan Ardi. Sebuah sepeda motor snoppy memasuki halaman langsung menuju garasi di sebelah kiri bangunan rumah.


Suara cempreng berseru tanpa tedeng aling-aling.


“Tunggu, Mas Gie! Aku ikut!”  


...……...


 

__ADS_1


 


__ADS_2