
Saat Ghifa Marah
Gubrakk!
Aku terkejut, keasyikan memandangi kuncup mawar yang mulai bermekaran serentak buyar berkelopak jatuh ke alam kesadaran.
Kubalikkan badanku ke arah suara dari belakang punggungku. Ternyata, Ghifa menendang keranjang kosong di sampingnya hingga terpelanting melambung dan jatuh tertelungkup. Wajahnya yang cemberut sengaja ia tampakkan di hadapanku. Pipinya menjadi lebih mengembung, bibir merahnya mengerucut.
“Sayang … ada apa? Apa salah keranjang hingga ditendang seperti itu?”
Tanyaku lembut, sembari meletakkan gunting tanaman yang kugunakan untuk merapikan batang mawar yang mulai menjalar. Kuncup-kuncup terlihat menyembul di sana sini di sela bermekarannya mawar yang terlebih dahulu menyapa dunia. Bergegas langkahku menghampiri.
Sabtu pagi ini, seingatku tak ada janji. Kuputar memoriku, akankah ada sesuatu yang kulupa? Kugandeng jemarinya untuk mengajaknya duduk di kursi teras samping. Gemericik air di kolam berada di samping kanan teras membuat nada sejuk direlung hati, memberi warna pada senyap.
“Mengapa Cipik marah?”
Ghifa tertunduk, kemudian melirik dengan sudut matanya dan segera membuang muka ketika kumelihat apa yang dilakukannya.
“Ada apa sayang? Apa ada yang Ayah lupakan?”
Ghifa masih belum membuka suaranya. Tapi matanya mengerling kembali, memutar bola matanya tanpa senyum, kemudian bersidekap sambil membelakangiku. Kucoba merunut dalam minggu ini, apakah pernah kusampaikan kata-kata yang bernilai janji padanya. Tapi tetap saja aku tak mengingat apa-apa.
“Cipikkk, kalau marah, cantiknya hilang lhoo.” Rayuku.
Masih tak mempan. Posisi gadis kecil berambut ikal itu tak goyah dalam ngambeknya. Seperti yang pernah Laras sampaikan, Ghifa akan tumbuh menjadi sosok gadis tomboy yang keras dalam pendiriannya. Tapi selalu ada sebab untuk itu. Mungkinkah jejak langkah hari-hari kemarin adakah yang terlewat?
“Cipikkk pingin dibeliin balon lagi?”
Sontak Ghifa menoleh padaku, mulutnya melongo kemudian ditepuknya jidat lebarnya yang ditumbuhi rambut-rambut halus berjajar sambil mendongak ke atas. Hemmm, kelihatannya aku merasa ada yang dia contoh untuk ini. Kunthi!
“Hemmm, mau balon apa sayang? Kuda Poni? Hello Kitty? Atau …?”
Matanya yang hitam membulat besar menghentikan rayuannku. Dan sudah seperti kuduga, dua tangannya menepok kembali jidatnya, kemudian berangsur kebawah menutupi wajah, kepalanya menggeleng-geleng hingga rambut bergelombangnya bergoyang lembut mengikuti.
“Ghifa sayang, jadi minta apa dong? Kok ngambek?” rayuku lagi.
Ghifa melepaskan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya lalu menatapku dengan wajah datar. Wangi bedak bayi tercium segar. Kaos warna merah muda lengan pendek dengan gambar bunga sakura membalut tubuhnya yang berisi. Dark Blue jeans selutut sebagai paduannya.
Dan … sebentar, Ghifa memakai sepatu sporty warna putihnya lengkap dengan kaus kaki pendek warna pink bergambar kuda poni. Jadi?
Keningku berkerut menatap gadis kecil di hadapanku dengan terpana, sesaat kemudian senyumku melebar.
“Woow, cantiknya anak Ayah … mau kemana nih?” godaku.
Baru kusadar jika Ghifa ingin diperhatikan dengan penampilannya saat ini. Kukecup pucuk kepalanya dan kucubit kedua pipinya pelan.
__ADS_1
“Hihihi ….!” Akhirnya tawa Ghifa terurai juga. Anak ini tak akan pernah bisa lama jika marah, ia akan segera tertawa lepas, jika masalah sudah dianggapnya selesai.
“Ada dehhh…” tawanya tak juga reda dibalik kata-katanya yang meluncur ringan.
“Lho, emang Ayah ndak diajak nih?”
“Emang, Aya mau ikut?” smashnya telak.
“Emang Ghifa mau kemana?” tanyaku mulai curiga. Mana mungkin gadis sekecil Ghifa punya agenda hang out tanpa ayahnya yang super kece ini?
“Kan, udah Ghifa bilang kemarin Ayaaa …” sungutnya kembali, tapi tidak ada kesal di matanya ya g jernih.
Aku terpekur, menggaruk rambut kepalaku yang mulai memanjang, terasa risih, karena ujungnya mulai menggelitik telinga dan tengkukku. Tapi, sampai kecipuk lompatan nila di atas teraratai merah yang mekar di kolam, aku tidak merasa aku dan Ghifa punya rencana keluar hari ini.
“Ayaa lupa ya …?” ledek Ghifa melihatku tercenung.
“Hehehe …”
Tettt
Tettt
Tettt
“Assalamualaikum Ghifa cantik? Woow sudah siap ya? Maafin tante, ya. Ghifa udah nunggu lama … jangan marah ya cantik, tenang nanti Ghifa boleh minta apa saja sama Tante, Oke?” suara cempreng terdengar memenuhi pagi yang damai.
Kuikuti langkah Ghifa, berjalan memutari teras samping melewati kebun mawar dan menuju halaman depan. Disana kulihat Kunti tengah berpelukan dengan Ghifa di samping jeep modifikasi warna hitam dengan roda yang besar. Hingga sepintas bodynya tak kalah dengan Rubicon seharga 10 digit.
Bik Nah terlihat pula menuruni tangga. Di kedua tanganya menenteng tas punggung Ghifa dan satu tas lagi yang terlihat penuh terisi.
Rupa-rupanya mereka sudah membuat rencana matang di belakangku? Atau aku yang tidak memperhatikan ketika Ghifa bicara?
“Waalaikumsalam Non Danesh, ini tasnya Bik Nah masukin ya …”
“Ohhh … iya, iya Bik. Maaf ya, Bi sudah nungguin lama,”
“Enggak juga, Non. Bik Nah baru saja selesai mandi, kok.”
“Wahhh, pantesan wangi.” Seloroh Kunthi sembari menghirup udara di samping Bik Nah yang sedang memasukkan tas kedalam mobil.
“Halah, Non Danesh lebay!”
“Weleh, Bik Nah tahu lebay juga? Hihihi …”
"Tahu lah Non, itu kayak di sinetron-sinetron … lebay, lebay ….”
__ADS_1
“Hihihi … Bik Nah suka nonton Sinetron juga?”
“Nggak sih, Non. Hanya kadang-kadang. Asyikan nglihatin Den Gielang yang ngalamun daripada nonton sinetron,”
“Haaa?”
“Apa Bik Nah?”
“Eh, Den Gielang, kayak hantu saja, tiba-tiba ada disitu sih?” kaget Bik Nah.
“Jadi Bik Nah suka curi pandang nih yeee …” seloroh Kunthi sambil menjawil pipi Bik Nah yang mulai keriput.
“Eh apaan sih non, Kunthi. Iya lah, miris Bibik, dari bayi kan Den Gielang Bik Nah yang jagain, boleh dong Bik Nah pingin Den Gielang hidup bahagia … sayang kisah hidupnya sekarang kayak sinetron, sedih melulu, Non.” Cerocos Bik Nah seakan curhat.
“Ahhh… Bik Nah …”
Ndak terasa, lengan ini membuka merangkul Bik Nah dengan haru. Seperti yang sering kulakukan ketika masih SMA dulu ketika merayunya untuk dibuatkan mie rebus dengan telur tiga butir. Ibu keduaku ini tak diragukan lagi kasih sayangnya padaku.
“Hihihi Ayaaa, kayak anak kecil … “ ledek Ghifa sambil melompat dan bertepuk tangan.
Suka sekali sepertinya anak itu melihat Ayahnya seperti ini. Tak terkecuali Kunthi, dari tadi cewek kepo itu terpingkal-pingkal kesenengan sambil memegangi perutnya, dapat cerita gratis kisah hidupku yang menyedihkan. Parah.
“Hihihi, oh ya den, hari ini Bik Nah mau ngantar Non Ghifa tamasya dulu sama Non Danesh ya…”
“Emang mau tamasya kemana, Bik?”
“Tuh kan, padahal kemarin sore Ibu dan Bik Nah juga sudah bilang lho. Pasti Den Gielang ndak dengerin ya?”
Aku terhenyak, jadi itu yang dibicarakan kemarin sore? Waktu itu aku sedang tak begitu mendengarkan, aku hanya menanggapi dengan lambaian jempolku. Perhatianku masih terfokus pada berita tentang ricuh anggota dewan yang terpajang di televisi.
“Ayo cantik, Naik!”
Kunthi membantu Ghifa naik ke dalam mobil jeep yang cukup tinggi buat Ghifa. Dasar gadis aneh, seleranya juga tak biasa. Bik Nah sudah terlebih dahulu naik ke bangku belakang.
“Mas Gie, berangkat dulu ya, Ayo ghifa da da sama Ayah,”
“Hihihi … da da Ayaaa…” lambaian tangan mungil Ghifa terlihat menyakitkan hatiku.
Gadis kecilku itu berada di samping kemudi dengan safety belt terpasang. Mobil jeep pelan keluar dari halaman. Aku masih mengejar dengan lambaian tanganku.
“Da … da … cantik, eh tapi Ghifa mau tamasya kemana?” seruku yang dibalas dengan tertawa renyah dari dalam mobil.
“Ada deh … “
...….....
__ADS_1