Bangku Taman

Bangku Taman
Dua Gadis


__ADS_3

Dua Gadis


Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini. (Ali Bin Abi Thalib)


“Ada apa sih?” sungutku.


Aku kembali menghadap ke depan, Ardi memperlambat laju mobil. Jalan masih sama, berkelok dengan banyak pepohonan di kiri kanan.  Kiri dengan lereng batu rimbun tertutup tumbuhan pakis, pohon pinus menjulang di terjalnya lereng. Sebelah kanan jalan, lembah, jurang, jauh di bawah sungai besar mengalir seiring kelokan jalan.


“Itu lho mas!” 


Telunjuk gadis itu menunjuk sebuah pohon yang sekarang berada di sebelah kanan jalan. Pohon itu terlihat menjulang, keluar dari lereng di bawah jalan. Bunga putih sepanjang batang, sebagian telah berubah menjadi bulatan berduri bergerombol.


“Apa?”


“Itu pohon duren, kan, Mas! Seumur-umur aku belum pernah lihat pohon duren. Ternyata pohon duren itu seperti itu ya, tinggi juga. Tahu nggak, Mas, padahal aku paling suka makan buahnya, lho...” 


“Ndak nanya!” sentakku dan Ardi bersamaan. Ardi menginjak gas dengan kesal, tangan kiri terangakat mengacak-ngacak rambut gondrongnya.


“Dengar, ya. Kita tidak sedang tamasya! Kalau sampai Ghifa kenapa-napa karena kekonyolanmu, kau harus bertanggungjawab, faham!?” ancamku sembari memalingkan kepalaku ke arahnya tak bersahabat.


Bukannya cemberut, bibir gadis itu justru melebar, kemudian jemari lentiknya menutupi mulutnya ketika aku mendengkus tak suka.


“Jangan-jangan dia memang gila,Gie?” bisik Ardi.


“Gawat juga kalau gila beneran.” Balasku.


Sesaat aku dan Ardi bersitatap, mau ndak mau kami jadi lebih waspada, bukannya takut yang berlebihan, tapi jangan sampai gadis itu berbuat konyol di saat kami sedang melakukan pengejaran pada bumblebee.


“Dah ndak usah dipikirin, coba cek lokasi terkini.” Pinta Ardi.


Segera kubuka gawaiku, pesan dari Mas Lutfi masuk dan tak kusadari, gara-gara berdebat dengan gadis gaje yang berada di bangku belakang itu. Segera kubaca dengan harapan yang menumpuk.


“Bumblebee itu tengah berhenti. Dari radar yang digunakan oleh tim Mas Lutfi, tidak ada pergerakan darinya beberapa menit kebelakang.”


“Good! Itu memperpendek jarak kejar kita!”


“Mudah-mudahan mereka tidak melakukan apapun pada Ghifa dan bik Nah.”


“Aamiin ….” Sahut gadis bermata coklat itu keras.


Aku hanya mengelus dada. Ardi geleng-geleng kepala.


Mobil tetap melaju, kencang di jalan yang lurus meski hanya beberapa meter, karena tikungan demi tingkungan berada di sepanjang jalan. Entah sudah berapa puluh tikungan yang kami lalui semenjak pertigaan sehabis jembatan besar tadi.


"Ar, lima kilometer lagi.”

__ADS_1


“Berarti sekitar kota kecamatan?”


“Kelihatannya begitu.” Jawabku.


Aku beberapa kali ke kecamatan yang seluruh wilayahnya adalah daerah pegunungan ini. Tentu saja berkaitan dengan tugasku memberikan sosialisasi Pengelolaan Aset Daerah. Jadi sedikit faham dengan lokasi sepanjang jalur utama yang tidak mempunyai traffict light.


Mendekati lokasi, aliran sungai di sebelah kanan kami, hanya berjarak beberapa meter saja ketinggiannya dari jalan. Hingga kami bisa melihat bongkahan batu-batu vulkanik yang besar menyebar di alirannya.


Setelah melewati jalan yang lapang karena ada sedikit daerah persawahan dengan sistem terasering, kami memasuki kota kecamatan. Ditandai dengan beberapa gedung perkantoran di pinggiran jalan. Ardi memperlambat laju mobil


“Itu dia Ar!”


Sebuah mobil cevrollet berwarna kuning dengan plat nomor antiknya yang langsung kuingat di luar kepala tengah terpakir di depan deretan gardu pandang sekaligus menjadi tempat rest area.


Wajahku tegang, tanganku mengepal. Tak sabar rasanya menunggu Ardi mengambil posisi parkir di dekat bumblebee itu.


Dengan geram aku segera keluar begitu mobil berhenti, kulihat gerakan di belakangku melakukan hal yang sama. Langkahku panjang menuju mobil itu. Ingin segera kugedor-gedor pintunya dengan emosi tinggi. Tapi kulihat mobil itu kosong! Kuedarkan pandangan menyapu ke semua sudut di rest area tersebut. Tiba-tiba kudengar seruan yang sangat kurindukan.


“Ayaa!”


Aku berlari dengan gelora di dada yang membuncah hingga pecah menganak di pelupuk mata. Disana kulihat Ghifa tengah berdiri di sebuah bangku di bawah pohon karsen bersama Bik Nah yang duduk di sampingnya. Tak kurang suatu apa.


Bersamaan dengan itu seorang gadis juga berjalan dengan cepat mendekat.


“Ayaa …Yeee…. yeee ...” sorak Ghifa melonjak-lonjak.


Rona kegembiraan terpancar pada kedua wajah yang seakan sudah sekian waktu tak kujumpa, meski baru tadi pagi kami masih bertemu. Kurengkuh gadis berambut ikalku ke dalam pelukanku tanpa kata, hanya isak syukur yang menyesak berbuah kecupan di kening dan kedua pipinya yang gembil.


“Alhamdulillah, Ghifa …, Bik Nah tidak apa-apa kan?” Ardi merangkul pundak Bik Nah, Orang tua itu melepaskan tangisnya.


“Alhamdulillah, bibi takut den …, kaget, bingung, untung sudah ketemu dengan mas Gielang dan mas Ardi.” Senyumnya mengembang diantara tangis, kelegaan mampak terpancar di wajah tuanya.


“Gie? Ba-gai-mana bisa?!” seru seorang gadis dengan blue jeans dan t shirt ungu, rambutnya di ekor kuda, satu dua jerawat menghiasi kedua pipinya. Tatapannya terlihat shock melihat Ghifa dalam gendonganku.


“Santi! Jadi kau yang menculik Ghifa?!” teriakku.


Aku melongo, tidak menyangka jika sepupu Anton itu yang melakukan penculikan. Kepalan tanganku mengendur, tak mungkin aku menghajar seorang perempuan, meski perbuatannya membuat emosiku tak terkendali. Kucoba menenangkan amarah, peta persoalan mulai terbaca jelas. Aku rasa, aku tahu siapa dalang peristiwa ini. 


“A –aku tidak menculik, Gie … a-aku…” Santi tergagap. 


Seorang lelaki separuh baya yang berjalan di belakang Santi dengan memabwa bingkisan plastik memperhatikan pertengkaran kami dengan bingung.


“Menculik? Maaf, mas mungkin salah orang, Neng Santi hanya mau mengajak jalan-jalan keponakannya kok,” kata lelaki itu dengan lugunya mencoba membela Santi yang dihujani tatapan emosi dari kami.


“Bapak siapa?” solot gadis gaje yang sedari tadi sudah berada di sampingku.

__ADS_1


“Saya sopir Neng Santi, Mbak …”


 “Dengar pak, perempuan ini pembohong!” 


Dengan garang gadis itu berhadapan dengan Santi. Pak supir terlihat tambah bingung.


"Eh, siapa kamu ikut-ikutan urusan orang hah!” bentak Santi dengan muka merah padam.


“Ini juga urusanku, tahu! Gara-gara aku nabrak mas Gie, aku harus ikut mencarimu, dasar penculik!”


“Lho apa hubungannya? Dengar! Aku bukan penculik!”


“Hellooo …., apa namanya kalau pinjam milik orang lain tanpa ngomong? Pencuri tahu! Kalau yang diambil orang, namanya penculik! Kamu masih mau mengelak?” desak gadis gaje sambil melotot tepat di depan wajah Santi.


“Jaga mulutmu, tadi kan sudah ada yang ngasih tahu Gie, kami Cuma pinjam …”


“Enak saja! Emang nggak pernah belajar etika apa? Kalau pinjam itu ijinnya di depan, bilang baik-baik, lha ini?! Bikin orang bingung saja! Emang apa susahnya sih ngomong, ha!” suara gadis gaje semakin keras dan sadis. Santi yang terpojok tak mau begitu saja mengalah.


“Kamu itu siapa sih? Apa urusanmu dengan yang aku lakukan? Tak ada hubungannya denganmu tahu!”


“Sama kan, sekarang apa hubungannu dengan mas Gie? Tidak ada kan, ngapain main culik adiknya segala, Hah?!”


Gadis gaje kekueh sambil berkacak pinggang, Bik Inah yang masih terpana melihat gadis bermata coklat itu kemudian mendekat.


“Maaf mbak, bukan adik tapi anak mas Gie,” bisik Bik Nah meluruskan. 


“Sttt …iya Bik. Aku tahu.” Jawab gadis gaje dengan berbisik pula.


“Nah kan, ketahuan sok tahu kamu!” sentak Santi dengan muka nyinyirnya.


“Daripada kamu, Penculik!”


Lelaki separuh baya yang menjadi supir Santi itu memperhatikan dengan bengong. Aku memberi kode pada Ardi untuk mengajaknya dan Bik Nah menjauh dari kedua gadis yang bersitegang. Ardi menggamit lengan Pak supir dan merangkul pundak Bik Nah untuk duduk di sebuah gazebo disana.Sementara Ghifa dalam gendonganku asyek memandangi pertengkaran Santi dan gadis gaje dengan terkekeh. 


Masih terdengar pertengkaran mereka, ketika aku dan Ardi segera menghubungi nomor-nomor yang berbeda, menyampaikan bahwa Ghifa sudah dalam pelukan.


“Dasar Cewek nggak jelas!”


“Dasar cewek jerawatan!”


“Dasar sok Tahu!”


“Dasar penculik amatir!


Brukkk!!!

__ADS_1


...……...


__ADS_2