
Iptu Risma
Brukkk!
Santi terjerembab menabrak bangku, kakinya yang melangkah mundur tak sengaja tergelincir pada tanah yang tak datar.
“Bukan saya!” gadis bermata coklat itu mengangkat kedua tanganya.
“Kau! Ya!” teriak Saanti jengkel , tak ada yang membantunya berdiri, bahkan gadis yang sedari tadi nguntit itu hanya menatapnya penuh kemenangan. Bibirnya menyungingkan senyum penuh misteri. Shit! Kenapa aku masih memperhatikan mereka? Ghifa juga terlihat tertawa melihat roman muka ke dua gadis itu.
Pak Supir permisi, lalu bergegas meninggalkan gazebo dan kembali menghampiri Santi. Orang tua separuh baya yang lugu itu mencoba meredakan emosi tuannya.
Sementara itu sambungan video call yang kutujukan ke nomor Ibu sudah diangkat di seberang.
“Alhamdulillah …!” sontak suara Ibu berseru dengan gembira. Ketika layar kuarahkan persis di depan wajah Ghifa. Terlihat di layar HP rambut ikal Ghifa berkibar dibelai angin pegunungan . Terdengar riuh syukur terucap di sana, bahkan suara Adam pun terdengar terkekeh ketika diberitahu Lidya tentang Ghifa.
“Alhamdulillah bu, tenang di rumah ya, kami akan segera turun setelah makan siang, kasihan Bik Nah wajahnya sudah pucat …”
setelah beberapa saat bersenda gurau kututup sambungan telepon.
“Hihihi Den Gielang tahu saja kalau Bibik kelaparan …” Bik Nah terkekeh menutupi gigi ompongnya ketika mulutnya terbuka.
“Iya lah, Bik … aku juga jadi lapar nih,”
“Ayo pilih mau makan apa Bi!” sahut Ardi yang telah meminta daftar menu dari pelayan resto.
“Ah, Bibik ikut saja deh, Mas Ardi yang penting pingin minum yang anget-anget. Sepanjang jalan tadi, Bibik rasanya pusing …” Kata Bik Nah dengan malu-malu.
“Oke Bi, Teh panas gula batu ya, yang nasgitel!”
Bik Nah mengangguk setuju. Segera Ardi memberi tanda centang pada menu yang dipilih.
“Bagaimana mereka?” tanya Ardi melirik ke arah Sinta dan cewek gaje yang sedang ditengahi pak Supir.
“Biarkan puas dulu, daripada aku yang emosi lagi,” jawabku sembari mengecup pipi gembil Ghifa dalam pangkuanku. Ardi meringis, tapi kulihat tangannya juga menambahkan pesanan jus buah untuk mereka yang sedang beradu mulut.
Sepanjang mata memandang hamparan pegunungan pinus menghijau di setiap sisi. Gazebo ini terletak di pinggir jalan di satu sisi, diseberang perkantoran yang berada di kaki lereng. Sementara di sisi lain adalah lembah sepanjang kelokan sungai yang terlihat melandai. Angin berhembus sejuk di panas terik di siang hari, dimana matahari tepat di atas ubun-ubun.
__ADS_1
Drrttt
Sebuah pesan dari Iptu Risma, nomor kontaknya langsung muncul karena sudah kusimpan sejak nomor itu diberikan Mas Lutfi.
[Dengan Gielang Syailendra?]
[Iya mbak Risma, saya Gie]
[Info yang saya dapatkan, anda sudah menemukan bumblebee?]
Mas Lutfi pasti sudah mengabari Iptu Risma begitu tadi aku menyampaikan bahwa aku sudah bersama Ghifa.
[Benar mbak, saya sudah bertemu dengan Ghifa]
[Alhamdulillah, saya tunggu nanti di rumah anda. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan]
[Baik mbak, terimakasih]
Chat berhenti. Gadis berkerudung misty blush datang dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku kulot jeans mocanya. Santi berada di belakangnya beriringan dengan Pak Supir. Wajahnya tertunduk, tak bisa berkutik ketika mataku tajam menatap wajahnya.
“Kita makan dulu, setelah itu silakan nanti kau jelaskan ulahmu itu di hadapan Ibuku!” ucapku datar tertuju pada Santi.
“Gie … kau tidak marah?” bibirnya melongo menatapku dengan heran.
“Siapa bilang, Mas Gie ndak marah! Tapi sekarang Mas Gie lebih lapar dibanding untuk memarahimu, tahu!” sentak gadis gaje yang sampai sekarang aku belum menanyakan namanya itu.
Bik Inah kembali menutup mulutnya, kelihatannya orang tua itu merasa terhibur dengan kekonyolan dua gadis di hadapannya. Ardi melerai dengan menyodorkan minuman dan makanan yang sudah dipesan. Gurame bakar dan asam manis tersaji dengan nasi mengepul di dalam bakul, tempat nasi dari anyaman bambu. lengkap dengan lalapan dan sambalnya yang merekah.
Ikan Gurame di daerah ini banyak dibudidayakan dengan menggunakan air yang mengalir dari aliran mata air di pegunungan, dagingnya tebal rasanya terasa lebih sedap
Ghifa tertidur pulas, setelah menghabiskan jus alpukatnya. Gadis kecilku masih tertidur dengan nyenyak, meski kami beranjak kembali pulang. Aku memangku Ghifa memasuki bumblebee yang dikemudikan Pak Muji, nama supir Santi, bersama Bik Nah. Sementara Santi berada di mobil hitam bersama Ardi dan gadis yang menabrakku tadi pagi. Dengan begitu Santi mau tidak mau tetap harus menuju rumah terlebih dahulu untuk menjelaskan semuanya.
Kutahan untuk tidak menginterogasinya saat ini. Karena memeluk Ghifa bagiku lebih berarti dari segala penjelasan dan alasan. Benarkan, Laras?
***
Kami tiba di rumah menjelang waktu ashar. Ibu, Eyang Sukma dan Lidya sudah menunggu di teras dengan wajah-wajah tak sabar. Seru keceriaan terdengar melengking begitu aku turun dengan Ghifa dalam gendonganku. Ibu menyambutnya dengan kecupan di dahi dan kedua pipinya, Eyang Sukma tak mau kalah ikut menjawil pipi Ghifa berkali-kali. Terlihat wajah kebingungan Ghifa yang baru beberapa menit sebelumnya terbangun dari tidur lelahnya.
__ADS_1
“Ghifa cantik …”
Ibu segera mengambil alih menggendong Ghifa dan bergegas membawanya ke dalam bersama Eyang Sukma di sampingnya. Bik Nah mengikuti dari belakang. Ardi mempersilahkan pak Muji dan Santi juga untuk masuk. Gadis itu terlihat ragu-ragu, tapi tentu saja tidak ada alasan untuk menolak. Apalagi gadis bermata coklat besar sedari tadi menatap ke arah Santi dengan tajam, dan ia mengikuti langkahku tanpa disuruh.
Kami semua sudah berkumpul di ruang tamu, Ibu duduk di samping kananku, berhadapan dengan Pak Muji dan Santi di seberang meja. Ardi duduk di sisi yang lain. Ghifa dan Adam bercanda di ruang tengah bersama Lidya dan Eyang Sukma. Dan gadis gaje itu, siapa yang menyuruhnya duduk disamping kanan Ibu? Dasar gak jelas!
Tak ada yang bersuara, semua menatap ke arah Santi. Gadis itu terlihat keningnya dipenuhi peluh. Pak Muji pun menunggu, saat ini memang ia hanya bisa menjawab jika ditanya pendapatnya.
Ibu menepuk lututku sambil melirik. Ku balas dengan anggukan, memberi tanda untuk menunggu beberapa menit lagi. Santi meremas-remas tangannya, keresahan adalah miliknya saat ini. Posisi tertuduh tertimpa pada dirinya, bahkan mendongak pun dia tak berani.
“Gie, kasihan …” bisik Ibu.
“Tapi dia yang membuat Ibu menangis tadi,” balasku dengan berbisk pula.
Kudengar helaan nafas Ibu lembut. Kulihat pula bibirnya tersenyum kemudian berkata.
“Siapa namamu, Nduk?”
“Saya bu? Nama saya Kunti, Buk.” Sahut gadis di sebelah kanan Ibu dengan penuh semangat, padahal bukan dia yang ditanya.
“Apa? Kuntilanak?!” sahut Santi tertawa ngakak, tiba-tiba saja groginya hilang.
“Kamu itu yang kuntilanak!” jawab Kunti tak mau kalah.
Aku kembali tepok jidat, Ibu mendelik ke arahku. Awal yang sudah terbangun serius, menjadi pecah kembali. Kekacauan berhenti ketika suara salam terdengar dari luar.
“Assalamua’alaikum ….”
“Waalaikumsalam …” jawab kami serempak.
Aku bergegas ke arah pintu mempersilahkan masuk tamu yang datang. Seorang perempuan semampai dengan seragam berwarna coklat. Kepalanya berhiaskan kerudung, rapi tertutup kerah dengan segala tanda kepangkatan lengkap di baju yang dipakainya.
“Kenalkan saya Risma.”
Sontak Santi langsung mengkeret matanya terbelalak sempurna.
“Jangan! Jangan tangkap saya!”
__ADS_1
...….....