
Shadow
Bayangan itu selalu mengikuti kemanapun langkah tertuju. Namun, pernahkah kau lihat bayangan di saat hujan turun? Percaya atau tidak, aku mendapatkan bayang itu lekat dalam guyuran air yang menderas.
“Shitt!”
“Siapa. Gie?”
“Orang gila!” jawabku ketus. Kupanggil ulang nomor tanpa nama yang baru saja menghubungi. Sementara Ardi melajukan motor dengan kecepatan sedang, mungkin dia berpikir kakiku tidak boleh teerkena hentakan keras ketika melewati jalan yang sedikit berlubang.
Sementara gadis yang menabrakku membawa motorku di belakang. Dengan jarak yang rapat. Aneh juga, mengapa dia mau susah payah terlibat sejauh ini?
Tuttt
Tuttt
Tak diangkat. Kuulang sampai beberapa kali, tapi nomor itu membisu. Sampai kemudian Ardi membelokkan motornya ke halaman rumah, nomor itu tak mau mengangkat panggilanku.
“Mereka mencoba mempermainkan aku rupanya!” runtukku menahan marah.
Aku turun dengan sedikit tertatih, mencoba menaikki tangga teras dengan pelan. Ternyata nyeri masih kurasakan.
“Siapa?” Ardi membantu memapahku.
“Orang itu mengatakan meminjam Ghifa sebentar, kita tidak boleh lapor polisi, katanya, Shitt! Gila mereka, seenaknya saja main pinjam!” makiku.
“Ha? Mereka sudah menghubungimu?” Ardi menatapku dengan mata membulat.
“Nomor tanpa nama.” Jawabku dengan gigi mengelutuk.
Pintu terbuka, Ibu terlihat sudah rapi dengan mengenakan kebaya brokatnya. Wajahnya sontak tegang melihat kedatanganku dengan langkah gontai.
“Gielang, Kau kenapa, Le? Dimana Ghifa dan Bik Nah?” Ibu menyambutku dengan panik, melihat aku berjalan. Diperhatikannya seluruh tubuhku. Aku belum menjawab, hanya menuju kursi rotan di teras dan duduk disana.
“Kau baru saja jatuh?” Ibu kembali bertanya. Aku hanya merenges.
“Maaf buk, saya yang menabraknya.” Gadis itu ternyata mengikuti kami masuk ke teras, lalu mengulurkan tanganya dengan takzim kepada Ibu yang menyambutnya dengan bingung.
“Apa, nduk?” Ibu mengajaknya duduk di kursi di sisi yang lain dan kubiarkan Ibu menginterogasi gadis itu. Sementara Ardi duduk di kursi rotan yang berada di seberangku. Kami sibuk dengan gawai kami.
“Aku beritahu Lidya dulu.” Ardi meminta ijin, aku hanya mengangguk.
Sementara itu, kumasukkan nomor tanpa nama itu ke dalam daftar kontak dengan nama Penculik, kemudian kukirimkan ke mas Lutfi dengan keterangan perkataannya ketika menghubungiku tadi.
[Barusan nomor itu menghubungiku, Mas]
tulisku dalam pesan.
[Dia bilang, jangan lapor polisi, anakmu aku pinjam sebentar]
Terlihat mas Lutfi mengetik
[Enak saja! Main pinjam anak!]
Aku tahan untuk tidak meratap, meski kedua mataku kurasa memanas.
[Tolong Mas, cari tahu keberadaan bumblebee itu, aku akan segera mencarinya]
[Sebentar lagi, anak buahku sedang mencari titik ordinat keberadaannya. Tunggu!]
__ADS_1
Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menunggu. Lengan dan kakiku masih terasa nyeri, lebam mulai terlihat membiru. Ghifa, dimana kau sayang? Laras, maafkan aku …”
“Gie …”
“Hemmm.”
“Kita ditunggu Agung, Gie.” Ardi berkata pelan dan ragu.
Aku menoleh, menatap Ardi dengan bingung kemudian kuhembuskan nafasku, mendengkus kesal. Resah bergelayut, kembali aku mencoba menghubungi ‘penculik’ tak terhubung. Terdengar suara Ibu panik tergopoh menghampiri, gadis itu pasti sudah bercerita apa yang dia dengar. Dasar!
“Gie! Jadi Ghifa? Aduhh nggerrr, cucuku, bagaimana ini, Gie? Ayo, Ar, tolongin Ghifa, kok kalian malah bengong disini saja, ayo lapor polisi, kita cari Ghifa. Aduh piye Le, cucuku…” Ibu menangis, tangannya menepuk-nepuk pundak Ardi.
“Iya, Bu. Tenang, Gie sudah bilang Mas Lutfi …” ucapanku terpotong. Ibu mendekati sembari tetap memandang kakiku yang kubiarkan lurus untuk mengurangi rasa nyeri. Diacak-acaknya rambutku dengan sebal.
“Kamu, tuh gimana to, Le. Kok bilang Mas Lutfi yang tugas di luar pulau jawa, yang mau nyari gimana coba! Ayo kita ke kantor polisi saja!” sentak Ibu tak sabar, air matanya jatuh berderai.
“Buk, Mas Lutfi kan punya teman dan anak buah yang menyebar di seluruh Indonesia, tenang buk. Gie sudah bilang untuk melacak keberadaan cevrollet kuning yang membawa Ghifa.” Hiburku.
Ibu menatapku dengan pandangan aneh.
“Lagipula penculiknya sudah menghubungiku Bu. Nomornya sudah aku berikan Mas Lutfi untuk mendeteksi keberadaanya juga.” Jawabku pelan. Dadaku masih berat, isak yang tertahan masih membuncah disana.
“Jadi kamu tahu yang menculik Ghifa? Tahu mobil yang membawa cucuku? Kenapa ndak dikejar. To, Le?!” cubit Ibu pada pundak kiriku.
“Aduhhh, sakit Buk,” rintihku. Sontak ibu mengelus bekas cubitannya.
“Gie sudah mengejar kok buk, tapi ditabrak sama dia!” Ardi membelaku sembari menunjuk gadis yang sedari tadi memandangi kami. Ibu menoleh ke gadis itu.
“Maaf, Buk. Mas, saya tidak sengaja.” Kembali gadis berkerudung misty blush itu meminta maaf.
Ibu menghela nafas panjang.
Gadis itu masih berdiri di hadapan kami, menonton kami seperti tontonan menarik yang tak ingin dia tinggalkan. Aneh!
“Kamu ndak pulang?” tanya Ardi pada gadis itu, nadanya terdengar kesal.
“Maaf Mas, saya mau membantu.”
“Sudah, terima kasih. Kamu juga perlu mengurus motormu!” sahut Ardi.
“Biarin saja, Mas. Tidak apa-apa.” Gadis itu masih tak mau beranjak.
“Lha kalau diambil orang gimana? Kuncinya tidak kamu bawa kan?” Ardi masih memaksa.
“Nggak apa-apa, Mas. Papa saya punya dealer, saya tinggal minta motor lagi, nanti.”
“Apa?” Ardi menepok jidatnya, aku kembali melotot jengkel, kemudian membuang mukaku ketika Ibu mengerling mengingatkan dengan kedipan matanya untuk menjaga sikapku.
Drrttt
Drrrtt
Gawaiku berbunyi, nama Agung tertera disana. Kuterima, dan suara keras menyeru di seberang.
“Hai Gie, sudah sampai mana?”
Aku melihat ke arah Ardi, kemudian kuserahkan gawaiku kepadanya untuk dijawab.
“Kami masih di rumah, Gung!”
__ADS_1
“Kok masih di rumah? Ini acara akad nikah hampir dimulai, petugas KUA sudah datang!”
“Ada sesuatu yang terjadi disini, Gung …”
“Apa? Ada apa?” terdengar Agung mendesak. Ardi kehabisan kata, memandang ke arahku untuk minta persetujuan, aku hanya menggeleng. Ibu kembali menangis, membenamkan kepalaku ke dalam perutnya.
“Citra…?” tanya Ibu dengan nada sedihnya menatap ke arah Ardi, sendu.
“O alah, le, le. Gimana ini, Citra mau menjadi milik orang lain, Ghifa diculik, kamu ditabrak!” kurasakan tangan Ibu mengelus-ngelus rambutku.
“Ar, Gie! Ada apa?”
“Aku hubungi nanti, salam Untuk Citra …”
Akhirnya Ardi menjawab, diletakkannya gawainya di atas meja. Kedua tangannya kemudian mengusap wajahnya, lalu ikut tertunduk. Aku biarkan ibu menekan kepalaku lebih dalam, membiarkan air mataku mengalir membasahi baju kebayanya. Aku rasakan kesedihan yang sama di hati ibu.
“Mas, Gie?”
“Apa?!”
Sontak aku dan Ardi menyahut, ketika gadis yang belum mau pergi itu memanggilku.
“Maaf, bolehkah saya membantu mencari adiknya?”
“Adik?” sahut Ardi
“Ghifa, bukankah itu adiknya Mas yang diculik?” Gadis itu berkata dengan sok tahunya.
“Ghifa itu anakku!” solotku emosi, gadis di depanku ini kelihatannya tahan malu untuk mencampuri urusan orang lain.
“Anak? Tapi Mas Gie masih muda, emang sudah punya anak? Terus istrinya mana?” cerocosnya, tanpa merasa bersalah.
“Kepo!” sentakku kesal. Ardipun kulihat menatap gadis itu dengan keheranan.
Drrrt
Drttt
Mas Lutfi calling.
“Mas, bagaimana?” sahutku cepat.
“Sudah ketemu, Gie”
“Alhamdulillah … dimana, Mas? Aku akan segera kejar mereka!” ucapku geram.
“Cevrollet kuning menuju arah utara, ordinat yang terpantau terakhir mereka di daerah dengan ketinggian 550 mdpl. Tapi nomor yang kau berikan tidak berada di mobil itu, Gie.”
Aku terhenyak.
“Maksudnya, Mas? Apakah yang mengirim pesan itu berbeda dengan orang yang membawa Ghifa?"
Aku sangat khawatir, penculik itu membuat bayangan.
“Begitulah…”
“Apa? Jadi?”
...………...
__ADS_1