Bangku Taman

Bangku Taman
Dark Side


__ADS_3

Dark Side


Jika mencoba hal yang gelap adalah syarat untuk memahami arti kehidupan sesungguhnya, maka, mungkin saja akan aku lakukan. Tetapi, apakah harus?


Anton datang dengan tergesa, wajahnya terlihat tegang peluhnya mengembun di dahi. Ditepuknya pundak Agung, kemudian nengulurkan tangannya kepadaku dan Ardi untuk bersalaman, sambil tersenyum tipis.


Lalu dengan cepat menarik kursi di dekat Agung. Dagunya memberi tanda pada Santi yang terlihat menunggu perintah. Gadis itu kemudian segera kembali ke dalam setelah melihat kode dari Anton.


"Sudah lama?"


Anton membuka percakapan, menatap ke arah kami satu-satu.


"Baru juga dua puluh menitan disini, Ton."


Agung yang menjawab. Anton mangut mangut, seperti berpikir apa yang mau ditanyakan lagi.


"Kau darimana? Kok sudah disini saja, ha?" selidik Ardi.


"Emmm... biasalah memastikan persiapan." jawab Anton sembari memamerkan deretan giginya, meski begitu, ketegangan belum sirna juga dari wajahnya.


"Cieee yang mau nikahhhh, dedegan ndak, lu, bro?"


"Hahaha ... beginilah ..." Anton kembali mengusap peluhnya.


"Hahahaha ...." Mau ndak mau Ardi dan Agung tertawa juga, Anton terlihat salah tingkah. Tapi kami mencoba tanggapi dengan santai.


"Eh, emang, Citra ndak pegang HP ya, Ton? Kok wanya tak pernah aktif?"


Tanyaku sengaja to the point, aku rasa sedari tadi aku sudah memasang muka serius tanpa senyum. 'Biar saja, Anton tahu apa yang sekarang kurasakan. Permintaannya dulu agar aku melepaskan Citra, bukan berarti dia berhak semena mena padanya!'


"Oohh, e ... i - tu ... Hp Citra ..."


Anton tergagap, mungkin tidak menyangka hal itu aku tanyakan. Ardi dan Anton ikut menatap tajam, menunggu jawaban dari mulut Anton.


"Teman-teman banyak yang nyari lho, Ton. Lu tahu kan, acara pernikahan seperti ini biasa kita gunakan untuk ajang reuni. Jadi wajar kan kalau kita lebih intens komunikasi," solot Agung dengan intonasi datar.


"Hemmm, iya aku tahu itu Gung, makanya kuharap kalian hadir di resepsinya." jawab Agung seperti mendapat celah untuk memberikan jawaban.


"Kamu ndak pingin kami jadi saksi di saat kau Ijab Qabul?" protes Ardi, lebih kepada menyuarakan suaraku dibandingkan keinginannya sendiri.


Kami menatap ke arah Anton secara bersamaan, sengaja membuatnya seperti seorang tertuduh.


"Bukan begitu, maksudku di saat resepsi kan lebih bebas kita. acaranya memang khusus untuk semua teman-teman ..." elak Anton.


Lelaki itu mengusap kembali peluh diatas matanya yang agak sipit, menggunakan sapu tangan yang diambil dari saku jeans moccanya.


"Kalau kami datang saat kau ijab Qobul, boleh kan?" tanyaku lugu.


Anton tersentak, ada pandangan kekhawatiran dan tidak suka disana. Kutanggapi dengan meneguk tehku sebelum menjadi dingin. Hal yang sama dilakukan Ardi dan Agung.


"E ...gimana ya..."


Anton menekuk mukanya yang memerah, dari kerutan keningnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang dia tahan, amarah atau jengkel. Seperti seorang anak yang takut mainannya direbut orang.


"Ah, kau Ton! Lu tahu kan? Kami ini sahabat Citra sejak SMA! Kami sudah seperti saudara, apa yang lu khawatirkan coba?"


Sentak Agung tajam, Anton melengos. Merebahkan punggungnya di sandaran kursi. Mengusap rambutnya ke belakang.


"Kasihan Citra, kalau banyak pikiran." Anton masih berkelit menggunakan nama Citra sebagai alasan.


"Hahaha, cari alasan aja, lu! Emang mikir apa lagi, semua udah clear kan. Yang jadi tugasmu sekarang adalah membuat Citra bahagia. Nah, kalau ketemu teman saja nggak boleh, itu namanya posesif!"


Sindir Agung sinis.


Anton memerah, bibirnya terkatup. Mata sipitnya mengerling resah.


"Yang jelas sampai tiba waktunya, segala kemungkinan bisa saja terjadi, to, Gung?!" sahut Anton sambil mengarahkan sudut matanya ke arahku.


Aku tak menanggapi, hanya kubalas dengan pandangan penuh tanpa dosa.


"Hah kemungkinan apa maksud lu? Jangan aneh-aneh lah, emang lu belum yakin Citra sama lu? Shit!" cerca Agung lagi.


"Yah, tidak ada yang tahu kan, Gung?" Anton membalas cepat, sambil tertawa gamang.

__ADS_1


"Gimana nih, bisa nggak bertemu Citra?" desak Ardi.


Anton terdiam, terlihat pundaknya bergerak naik.


"Maaf, ya. Jangan menemui Citra, dulu." kata Anton tegas.


"Sebenarnya, apa sih yang kausembunyikan, Ton?" sahut Ardi lagi.


"Tak, ada."


"Apa yang lu takutkan?" timpal Agung.


Anton tersentak.


"Tidak ada, aku hanya ingin tenang saja, tolong, tinggal dua hari kok, setelah itu kami pasti membuka komunikasi lagi." pinta Anto setengah memohon.


Kami terdiam, tak ada gunanya. Itu hak Anton, ini masalah kehidupannya, bukan pada tempatnya kami memaksa. Kuhela nafasku, aku pun harusnya tak boleh egois.


Ting


Sebuah chat masuk, dari Agung, kubuka tanpa menoleh.


[Sabar, Gie. Besok, kucoba lagi!]


[Oke, trims. ] balasku


[Kita pamit, sekarang ya?]


[Ya, baiklah.]


Kuotak atik gawaiku setelah membalas chat Agung. Sebuah lirik lagu milik Alan Walker kuputar pelan .


Dark Side


We're not in love


We share no stories


Don't be afraid


The shadows know me


Let's leave the world behind


Take me through the night


Fall into the dark side


We don't need the light


We'll live on the dark side


I see it, let's feel it


While we're still young and fearless


Let go of the light


Fall into the dark side


Fall into the dark side


Give into the dark side


Let go of the light


Fall into the dark side


Beneath the sky


As black as diamonds


We're running out of time

__ADS_1


Don't wait for truth


To come and blind us


Let's just believe their lies


Believe it, I see it


I know that you can feel it


No secrets worth keeping


So fool me like I'm dreaming


Take me through the night


Fall into the dark side


We don't need the light


We'll live on the dark side


I see it, let's feel it


While we're still young and fearless


Let go of the light


Fall into the dark side


Fall into the dark side


Give into the dark side


Let go of the light


Fall into the dark side


Take me through the night


Fall into the dark side


We don't need the light


We'll live on the dark side


I see it, let's feel it


While we're still young and fearless


Let go of the light


Fall into the dark side


Ardi merenges mengucek-ngucek rambutnya. Melirik kearahku sembari menggelengkan kepalanya. Sementara itu aku beranjak dan tak begitu memperdulikannya. Kuulurkan tanganku kearah Anton.


"Oke, Ton! Kalau begitu, kami pamit dulu, semoga lancar ya, kalau aku datang pada saat ijab Qobul, tidak kau usir kan?" godaku sambil merangkul pundaknya, tinggiku sedikit lebih tinggi darinya.


"Hahaha..."


"Aku, pamit dulu, Ton!" seru Ardi dan Agung yang ikut beranjak, menghampiri Anton dan mengulurkan tangan untuk bersalaman lalu melambaikan tangannya.


"Oke, terima kasih, ya."


Anton mengantar kepergian kami, berjalan mengiringi langkah kami hingga, hampir sampai di pintu Gerbang. Tapi sesaat kemudian segera bergegas kembali, ketika samar terdengar, suara Santi panik berseru memanggilnya.


"Mas Anton, tolong Mbak Citra!"


Aku mengeryit, menatap Agung dan Ardi yang masih di belakang langkahku. Ardi kembali menoleh melihat ke arah Anton berlari, namum pemuda itu kemudian menghilang di balik panggung.


"Ada apa?"


............

__ADS_1


__ADS_2