Bangku Taman

Bangku Taman
Tinju Pertama Ghifa


__ADS_3

Tinju Pertama Ghifa


Kenangan itu kembali menukik, mencubit relung hatiku yang menyempit. Pedih tentu saja. Jangan tanya seperti apa rasanya. Setiap kita punya definisi sendiri dalam menguraikan.


Slapp!


Sontak mulutku terbuka melihat gerakan Ghifa.


“Cipiiikkk … No!” 


Terlambat. Kudapati di hadapanku, Ghilman tersungkur. Tonjokan kepalan tangan kanan Ghifa yang mungil disusul dengan dorongan kedua tangannya mampu menjatuhkan anak laki-laki berusia tujuh tahunan itu. Tinju pertama Ghifa ternyata sangat kuat.


Bergegas anak itu bangun dari tempatnya jatuh di trotoar, dan merasuk mendekat ke arah Ghifa. Wajahnya memerah matanya mendelik.


“Mengapa kau memukulku?!” Ghilman berteriak, tangannya mengepal, giginya bergelutuk.


“Ghilman jaga sikapmu! Kau tidak boleh membentak, apalagi memukul seorang perempuan.” Cegah Ayah Ghilman sembari menahan pundak anaknya. Gadis kecil yang berada di gendongannya telah berpindah ke tangan Ibunya.


“Dia yang mulai, Pa!” Ghilman tak mau kalah.


“Ghilman …, tolong, minta maaflah kembali.” Bujuk Ibu Ghilman.


“Ndak mau!” Ghilman ngotot, tangan kananya membelai pipi bekas tinju pertama Ghifa. Sakitkah?


Sedangkan aku yang masih terpana dengan ulah Ghifa, segera berjongkok agar sejajar dengan tingginya. Kupeluk gadis kecil berambut ikal itu dari belakang.


“Ghifa, tidak boleh memukul seseorang tanpa sebab, ayo minta maaf.” Bisikku merayu.


Tapi Ghifa justru meletakkan kedua lenganya untuk berkacak pinggang. Waduh, ni anak siapa juga yang mengajarinya keras kepala seperti ini? Atau memang bakat dari sananya?


“Ghifaaa!” seruan cempreng yang tiba-tiba datang dari arah belakang punggung sontak membuatku menoleh. 


Kunthi bergegas menghampiri kami. Hampir dua minggu setelah kami pulang dari rumah Citra waktu itu, Dia tak lagi terlihat datang merusuh.


Hanya sesekali kata Bik Nah, mereka berpapasan ketika bermain menuju rumah Adam. Kadang pula Kunthi membelikan ice cream untuk Ghifa dan Adam. Tapi selama dua minggu, hari ini aku baru berjumpa lagi dengan gadis dengan iris mata berwarna coklat terang itu. Bulu matanya yang panjang dan lentik membuat kedua bola matanya terlihat besar.


Ghifa menoleh ke arahnya seakan mendapat bala bantuan.


“Tante Kunthiiii.”


Semua ikut menoleh, tak terkecuali Ghilman yang terlihat kaget, mungkin dipikirnya Tante Kunthilanak.


“Mengapa kau pukul anak laki-laki itu, cantik?” tanya Kunthi melembut, sembari merundukkan tubuhnya ke arah Ghifa.


“Dia anak nakal, tante!” tunjuk Ghifa pada Ghilman. 


Semua memperhatikan pertingkaian dua anak kecil itu sambil menahan senyum. Tingkah Ghifa yang sedang marah membuat pipinya memerah, wajahnya terlihat lucu dengan wajah galaknya. 


“Tadi dia menabrakku sampai jatuh lalu mengejekku dengan menjulurkan lidahnya. Aku tidak suka!” bentaknya.

__ADS_1


“Sayang, maafkan Kak Ghilman ya…” bujuk Ibu Ghilman.


“Ayo Ghilman, ulurkan tanganmu.” Rayu Ayahnya kembali. 


“Tapi Dia memukulku, Pa, Ma!” Protes Ghilman.


“Sayang … Dik Ghifa sudah sampaikan alasan mengapa memukul, dia tidak suka kau menjulurkan lidahmu. kau sebaiknya tidak mengulangi hal itu.”


Ghilman cemberut.


Sementara aku masih membujuk Ghifa untuk menurunkan kedua tangannya yang kaku di pinggang. Laras kecil ini benar-benar galak. Kunthi merengkuh pundak Ghifa, membisikkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Mata Ghifa beralih menatap Kunthi kemudian menurunkan tangannya perlahan. 


Ghilman melihat itu, lalu mengulurkan tangannya dengan ragu. Kaki kirinya sedikit ke belakang, berjaga-jaga jika Ghifa akan memukulnya kembali.


“Maaf …”


“Hemm!”


Ghifa menyambutnya seakan belum rela. Sesaat tangan mereka bergenggaman kemudian cepat dikibaskan oleh Ghifa.


“Ayo tante!” ajak Ghifa meraih tangan Kunthi untuk meninggalkan tempat itu. 


Kulihat Kunthi menahannya dan berbisik kembali. Kemudian Ghifa melangkah ragu mendekat kedua orang tua Ghilman. Tangan kecil itu terulur Ayah dan Ibu Ghilman segera menyambutnya. Ghifa mengecup punggung tangan mereka, dengan sedikit senyum disungging.


“Ghifa … pinternya …” puji Ibu Ghilman.


Diusapnya rambut lembut Ghifa, kemudian mengajak anak perempuannya yang masih bayi untuk bersalaman pula dengan. Ghifa tersenyum lebar membelai pipi adik Ghilman.


Ghifa sontak menolehnya sembari mendengkus lalu cepat membuang muka kembali. Rambut ikalnya bergoyang mengikuti gerakan kepalanya yang cepat. 


“Hahaha …” kami tertawa bersama.


“Ini bukan ditinju sayang, tapi dibelai…” Jelas Desi.


“Maafkan Ghifa, Mbak, Mas …” sesalku.


“Tidak mengapa, Mas Gie, namanya juga anak-anak.”


“Panggil saya Tikno, Tikno Januarto. Ini istri saya, Desi Lestari. Maaf dulu waktu kita bertemu, kita belum mengenal lebih jauh waktu itu, karena pekerjaan memaksa saya untuk segera kembali ke tempat tugas.” Kata Tikno sembari mengulurkan tangannya.


Kusambut dengan hangat, dia menepuk pundakku bersahabat.


“Boleh kami minta nomor teleponnya, Mas Gie? Sudah satu minggu ini kami kembali menetap disini. Baru bulan ini saya dimutasi, siapa tahu kita bisa melanjutkan silaturahmi.” Cerita Tikno dengan nada penuh harap namun hangat.


Aku mengangguk, kemudian mengeluarkan gawaiku. Kami saling bertukar nomor dan alamat. Kuusap kepala Ghilman, dia mendongak dan tersenyum.


“Kapan-kapan mainlah ke tempat Ghifa, ya Ghilman. Ghifa pasti senang.” Dahi anak laki-laki itu berkerut.


“Benarkah?” tanyanya ragu.

__ADS_1


Kami terkekeh, melihat ekspresi ngeri dari wajah Ghilman, tangan kanannya mengelus pipi chubynya yang kena tonjok. 


“Tenang, Ghifa tidak akan melakukannya lagi padamu.” Janjiku.


Ghilman tersenyum, mata di bawah alis tebal itu berbinar. Hidung mancungnya kokoh di tengah  tarikan bibirnya. Giginya terlihat berderet rapi, bocah laki-laki yang ganteng itu mengangguk.


“Anak baik!” pujiku sambil mengajaknya bertepuk telapak tangan.


“Tosss!”


Kulirik Ghifa cemberut melihatku bersama Ghilman, tapi suara Kunthi kembali membuatnya menarik senyum.


“Ghifa cantik, kita toss juga yok!”


Ghifa tertawa, melompat-lompat kembali sembari melontarkan telapak tangannya ke atas. Kemudian kepalanya menoleh ke arah Bangku Taman.


“Ayaa … ayo!” rengeknya.


“Ghifa mau kemana? Ayo Tante anter.”


Tangan Kunthi meraih jemari tangan kiri Ghifa dan menggandengnya. Sebelum berlalu, Kunthi mengangguk ke arah Tikno dan Desi.


“Mari Mbak, Mas,”


“Ya, ya …silakan, terima kasih, da da Ghifa …”


“Da … da …”


Ghifa melambaikan tanganya sesaat kemudian menarik tangan Kunthi mengajaknya untuk berlari.


Kuikuti langkah mereka dengan tatapan mataku. Samar kulihat siluetmu di Bangku Taman. 


“Baiklah Gie, kami juga pamit dulu,” ucap Tikno.


“Insha Allah, kami akan segera berkunjung.” Sahut Desi.


“Terima kasih, kami tunggu ya …”


Kami saling tersenyum, bersalaman kembali dan saling melambaikan tangan sebelum mereka menuju tempat parkir kendaraan.


Kuhela nafasku pelan, 'masih selalu terasa sesak di dada, Laras'. Setiap memori tentang sore itu kembali terbuka. Meski senyum mengembang di wajah, nyatanya luka mengembang pula di hatiku.


Langkah ini terasa gamang, menuju tempatmu menunggu. Mengapa rasanya rindu tak pernah terkikis, namun justru semakin berlapis?


Sudah kulihat senyummu disana. Ghifa duduk di tengah dan asyik bercerita padamu. Dan Kunthi? Kunthi berdiri terpaku di hadapan kalian dengan tatapan kebingungan. Wajahnya terlihat shock, mulutnya yang selalu meroceh terkatup rapat. Dia mematung, hanya mampu memandang.


“Assalamualaikum …. Ciipukk.”


“Ci-ci-pukkk? Siapa, Mas Gie?”

__ADS_1


...……...


 


__ADS_2