
Melaju di Atas Kuda Pacu
“Aaa…!” sontak aku menoleh ke arah suara yang menyapaku. Sebuah wajah datar tanpa dosa menyambut dengan senyum lebar. Kulit putihnya menyilaukan terkena sinar mentari yang jatuh bebas di tepi pantai itu.
“Kenapa sih, kok kaget?” herannya sembari duduk di gubuk terdekat, dimana aku bersandar sambil mengedarkan pandangan.
“Sapto? Hufff kirain siapa … manggil nama pakai mas lagi!” dengusku lalu mengikuti duduk di sampingnya.
“Hahaha … Hayooo, nyari siapa?” desaknya.
“Kepo! Kamu sendiri ngapain kesini?”
“Eits, jangan salah bro, tiap weekend, Kami sering ke pantai ini, lho….”
“Kami?”
Kutatap teman sekantorku dulu, sekarang dia sudah dipindahkan di bagian lain setelah pernikahannya dengan Nania, yang berada dalam satu bagian yang sama. Biar konduksif, sekarang mereka dipisah pada bagian yang berbeda. Tinggal Nania yang masih sekantor denganku.
“Iya, keluarga kecilku, Gie.”
“Dimana ?” kuputar pandangan ke belakang, tapi tak kutemui sosok Nania dan Azwi, putri mereka yang masih berumur setahun lebih beberapa bulan.
“Baru di wahana kolam anak di dekat hutan cemara, bersama keluarga kakakku. Kau tahu kan Gie, anjuran dokter Wur, terapi angin laut di pagi hari baik untuk paru-paru anakku. Hehehe … sayang tadi agak kesiangan. “
“Oh, lalu darimana kau tahu aku disini?” Aku masih terkejut saja, Sapto berada disini, hingga kugali awal mula Sapto melihatku.
“Kebetulan tadi aku lihat kau meninggalkan tempat parkir, waktu aku mengambil tas ganti anakku di mobil. Setelah kuberikan pada Nania, terus kulanjut nyariin kamu, gitu. Btw, Kelihatannya kau sedang bingung, Gie? Ada apa sebenarnya?”
“Ngledek!”
Sungutku dengan sukses membuat laki-laki di depanku tertawa lepas.
“Hahaha … lalu dimana Ghifa?” selidiknya.
“Ini juga baru mau nyariin!”
“Emang Ghifa sama siapa kesini?”
“Bik Nah,”
“Bik Nah?”
“Iyaaa …”
Sapto mengangkat satu alisnya. Tatap matanya menunjukkan ketidakpercayaan.
__ADS_1
“Bik Nah kesininya pakai apa? Emang Bik Nah bisa naik motor?”
“Ya enggak … “
“Terus sama siapa? Aha! Aku tahu! Jangan-jangan ….”
“Diamlah kau, ndak usah menduga-duga!”
Hahaha… Sapto, pemuda jangkung berkulit putih itu kembali tergelak kemudian menepuk bahuku.
“Gie, mengapa kau jadi tersipu begitu? Seperti anak ABG saja …” goda Sapto.
“Shit! Sok tahu kau!”
Angin berair menyapa wajahku sejuk. Mataku kembali menyapu setiap sudut pantai. Beberapa Motor roda empat All Terrain Vehicle yang lebih sering disebut dengan istilah kerennya ATV itu terpakir di dekat salah satu spot foto. Satu dua diantaranya terlihat tengah melaju bersama penyewanya menelusuri sepanjang garis pantai, kemudian berbalik kembali ke tempat dimana ATV berpangkal. Dan Belum juga kutemukan keberadaan Ghifa.
Aku beranjak, resah juga sampai sejauh ini belum berjumpa. Atau dia di wahana lain? Bukan lagi di tepian pantai.
“Apa kau tidak lihat, Ghifa dan Bik Nah di kolam renang tadi, Sap?” kulihat Sapto menggeleng.
“Di sana masih sepi tadi, Gie. Jadi akan terlihat jelas jika Bik Nah dan Ghifa berada disana.”
“Hemmm,”
“Tunggu, Gie! Mau kemana?”
“Okey, ayo aku temanin.”
Langkah kami pelan diatas pasir. Ku tekan Beanie dari bahan rajut kombinasi abu muda dan abu tua, menyembunyaikan rambut dan tangkai kacamata hitam yang kukenakan. Sapto mengiringi dengan kedua tanganya berada di saku celana moca dari bahan denim. Kaos oblongnya yang berwarna putih membuat laki-laki itu terlihat gagah dengan badannya yang padat.
Di kejauhan, terlihat dua ekor kuda tunggang yang disewakan tertambat dekat sebuah gazebo.
“Ada penyewaan kuda juga?”
“Sekarang apa saja ada disini, Gie. Lagipula peternak kuda tunggang ramainya hanya di saat bulan Mulud untuk agenda khataman anak-anak. Selain itu hanya satu dua pada saat disewa untuk acara Khitanan. Dengan mengisi destinasi wisata disini, jadi lumayan kan. Meski ramainya hanya di Sabtu Minggu.”
“Benar juga, artinya pengelolaan pantai ini perlu melibatkan banyak pihak. Kudengar, dari pihak pemerintah desa menggalakkan dan membuka peluang warganya menyediakan tempat kuliner disini.”
“Tentu saja, Gie. Membuka tempat wisata sama artinya membuka lahan pekerjaan, kan?”
“Yups!”
Di kejahuan terlihat seekor kuda hitam legam dengan ekor yang panjang menjuntai menderap. Tidak terlalu kencang, tapi sebagai penunggang yang tidak disertai dengan pawangnya, cukup menandakan bahwa si penunggang cukup terbiasa mengendalikan kuda yang tergolong besar itu. Meski tidak memegangi tali kenkang, tapi pawang kuda tetap ikut berlari kecil mengawasi kudanya.
“Woiii, jokinya cewek itu, Gie!” tunjuk Sapto menunjuk pada kuda yang sedang kuperhatikan.
__ADS_1
“Hemmm,”
Kerudung warna mustard penunggang kuda itu berkibar di buai angin. Kaos longgar dan kulaot denim hitamnya Nampak tak asing bagiku. Shit! Apakah dia Kunthi? Lalu dimana Bik Nah dan Ghifa? Nanar mataku menyapu di sekitar gazebo. Zonk. Di suatu titik, terlihat penunggang itu menarik kenkang membuat si hitam bersurai melambatkan derapnya dan membuat langkah memutar berbalik arah.
“Ghifa!” Seruku panik.
Tentu saja aku tak pangling dengan baju pink yang dipakai gadis kecil berambut ikal itu. Meski masih jauh, namun derapnya yang makin mendekat membuatku semakin yakin, penunggang kuda itu Kunthi dan Ghifa. Terlihat pula sehelai syal terlilit di pinggang Ghifa, menyatukannya ke pinggang Kunthi.
“Itu Ghifa, Sap!”
“Tenang, Gie. Lihatlah Ghifa tertawa ceria di punggung kuda itu.”
“Tapi …”
“Lho Mas Gie disini?”
Tiba-tiba saja Bik Nah sudah berdiri di hadapanku. Kedua tangannya penuh memegang bawaan dua ice cream berbentuk kerucut di tangan kanan, dan beberapa kotak makanan dan 3 botol air mineral dalam tas kresek bening di tangan kiri.
“Bik Nah, apakah itu benar Ghifa?” tunjukku.
“Benar mas Gie, sudah tiga kali putaran ini, Non Ghifa ndak Mau turun. Ternyata Non Kunthi jago naik kuda, lho … Mas Gie bisa ndak?”
Glekk.
Bik Nah pasti tahu, aku belum pernah naik kuda, jadi mana aku tahu apakah aku bisa mengendalikannya, bukankah aku belum mencobanya? Huffff!
“Hihihi …” tertawa renyah dari Ghifa terdengan samar, ketika kuda itu melewati bibir pantai yang sejajar dari tempat aku berdiri. Jarak 10 meteran, tapi terlihat jelas bibir Ghifa yang melebar.
“Maju, tante! Kesana!” tunjuk Ghifa ke arah depan.
“Siap, Ghifa cantik …” Kunthi sedikit menarik kenkang membuat kuda melambat, kemudian menarik kedua kaki depannya keatas sesaat.
“Yeah!” seru Kunthi, sembari mengayunkan ke dua kakinya ke arah perut kuda itu dengan pelan setelah kedua kaki depan kuda hitam itu kembali menginjak pasir.
“Nggikkk” kuda itu meringkik kemudian kembali menderap lurus sepanjang bibir pantai ke arah timur.
Aku melongo, kudengar tawa Sapto yang terkekeh. Kurasakan pula rangkulan tangannya di pundakku. Mata kami masih menatap kuda hitam yang membawa Kunthi dan Ghifa.
“Biasa saja kali, Mas Gielang, ndak usah melongo juga. Sini duduk, Bik Nah cariin kopi!” Aku menurut mengikuti Bik Nah duduk di sebuah gubuk beratap ijuk yang nampak lebih luas dari gubuk lainnya. Bik Nah meletakkan bawaanya, kemudia kembali beranjak.
“Mas Gielang jangan kemana-mana, nanti hilang, Bik Nah yang repot!”
“Hahh, Bik Nah ada-ada saja!” sungutku kesal dan disambut tawa meledak Sapto, sementara Bik Nah berlalu tanpa menghiraukan protesku.
“Hehehe… jadi itu calon bundanya Ghifa, Gie?”
__ADS_1
“ ….”
...……...