
Anton dan kecemasannya
“Haa? Apa maksudnya penculikan?” Suara Bu Cipto yang baru saja datang, menghentak.
Semua menoleh dengan diam. Di belakang Bu Cipto ada Lik MIah dan seorang remaja putri yang membawa minuman bertutup serta bermacam-macam kue dan buah. Kunthi beranjak membantu menurunkan. Gadis itu terlihat tiada beban setelah mengeluarkan statement perang dunia ketiga.
Bu Cipto kemudian duduk di samping kiri Pak Cipto, setelah Lik Miah dan remaja putri itu kembali ke dalam. Bu Cipto mempersilahkan kami untuk menikmati hidangan.
“Apa maksudmu, Nduk?” Kali ini Pak Cipto bertanya dengan menatap langsung pada Kunthi yang baru saja kembali duduk.
“Mas Anton, kemarin memerintahkan Mbak Santi untuk menculik Ghifa, Pak.” Kembali Kunthi bicara tanpa tedeng aling-aling. Nada bicaranya datar, tanpa tekanan hanya matanya menyipit ke arah Anton.
“Astagfirullahh….” Bu Cipto mengelus dada, Pak Cipto menatap kebingungan. Pandangan mereka sontak tertuju pada Anton.
“Siapa kau? Beraninya berkata begitu?!” hardik Anton geram, dan disambut Kunthi dengan nyengir kuda.
“Mas Anton?” Citra sedikit memekik, kemudian mendekap Ghifa erat, wajahnya mencerminkan ketakutan, matanya membulat tak percaya tertuju pada Anton.
“Citra, itu tak seperti yang kau pikirkan …” Balas Anton dengan nada melunak resah menatap Citra yang terlihat gemetar.
Anton beranjak dari tempat duduknya yang berada di sebelah kanan mertuanya, tapi lengannya ditarik Pak Cipto. Pemuda berambut lurus itu mau tak mau kembali duduk.
“Anton duduk! Diamlah sampai aku selesai bertanya pada gendhuk ini.”
Kunthi terlihat menarik sudut bibirnya, dagunya sedikit terangkat, duduknya tegak. Gadis itu seakan siap untuk diwawancarai. Tapi, mengapa menjadi Kunthi yang jadi juru bicara? Hadewwh!
“Coba, sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi nduk? Ceritakan dari awal.” Pinta Pak Cipto penuh tanda tanya. Dahinya terlihat berkerut, dan Bu Cipto berkali-kali bergumam sambil mengelus dada.
“Baiklah, Pak. Mas Gie akan menceritakan kronologisnya dari awal, nanti akan saya lanjutkan. Silakan Mas Gie …” kata Kunthi tegas, seenaknya dia melemparkan kembali tanggung jawab dari statement yang dibukanya tanpa permisi terlebih dahulu.
Dasar Kunthilanak main ngatur saja ini, bocah! Kulirik gadis bermata coklat itu dengan kesal, tapi dia membalasnya dengan senyum yang mengembang.
Anton menatapku tajam dengan sorot meminta tolong, seakan ingin membungkam mulutku dengan matanya yang memohon.
“Maaf Pak, mungkin lebih baik Bapak bertanya langsung pada Anton. Saya tidak ingin disebut sebagai orang yang suka mengadu. Apalagi, sekarang Citra dan Anton sudah sah menjadi suami istri. Jadi mungkin itu adalah masalah privacy keluarga.”
“Mas Gie?” Kunthi ingin protes, tapi ia segera menutup mulutnya.
“Gie …” kudengar Citra bergumam menyebut namaku.
__ADS_1
“Tapi bapak butuh penjelasan, apakah itu salah satu sebab kau berantem dengan Anton tadi?” Desak Pak Cipto, tak menyerah.
“Berantem?” pekik Bu Cipto, beliau memang tidak melihatku ketika berantem dengan Anton. Sementara Citra terlihat semakin erat memeluk Ghifa, gadis kecilku sampai sedikit terbukuk, rambut ikalnya terurai bebas di atas pangkuan.
“Ya, Pak, Buk. Maaf, saya sudah berlaku tidak sopan,” kataku canggung, kulihat Anton mencibir, tapi mulutnya tetap terkunci. Coba dia berani buka suara, Kunthi sudah siap untuk membalasnya dengan cemooh yang lebih sadis.
“Jadi benar, memang ada masalah di antara kalian?” Bu Cipto mendesak.
Aku diam, Citra menunduk, dan Anton menjadi salah tingkah. Hanya Kunthi yang asyik mengunyah kue yang dihidangkan sambil sesekali menggoda Ghifa yang selalu takjub memandang dan akan terkekeh dibuatnya.
“Maaf, buk saya sudah menganggapnya selesai. Saya harap kejadian kemarin tidak akan terulang lagi, dan saya tidak akan memperpanjang masalahnya.” Ujarku dengan tekanan.
“Mas Anton?!” Citra berseru minta penjelasan, matanya beralih ke wajah suaminya itu.
Tatapan Anton melembut ke arah Citra. Aku merasa hati Anton tulus pada Citra.
Mungkinkah ketakutan akan kehilangan membuatnya begitu posesif? Kurasa aku bisa mengerti, ketakutan yang sama pernah juga kurasakan, hanya cara yang kulakukan yang berbeda. Bukankah begitu Laras?
Ah … ternyata ketakutan akan kehilangan itu membuat seseorang dapat melakukan tindakan nekat dan diluar kendali akal sehatnya,
“Anton?” Pak Cipto menepuk pundak Anton, menunggu pemuda yang sekarang sudah menjadi suami Citra itu buka suara. Tapi egonya terlalu tinggi, ia hanya membisu.
“Begitukah? Jadi Santi tahu semua ini? Emmm, pantesan dari kemarin sampai hari ini dia tidak kelihatan batang hidungnya, padahal selama dua minggu ia menjadi penjaga Citra seperti dalam pingitan.” Bu Cipto langsung menyahut
“Iya Buk, mas Anton yang menyuruh mbak Santi.” Kunthi memandang sekeliling, lalu lanjutnya, “ Maaf, Pak, Buk, seperti kata Mas Gie, sebaiknya itu dibicarakan sendiri saja, lagipula mas Anton pasti malu jika bicara disini.” Sindir Kunthi halus.
Pak Cipto dan Bu Cipto saling pandang, kemudian menghela nafas berat. Tangan Pak Cipto kembali menepuk-nepuk bahu Anton. Suasana menjadi kaku, dan kikuk. Pak Cipto memecahnya dengan mempersilahkan kami kembali untuk menyatap hidangan yang sudah penuh tersaji di meja. Semenjak Lik Miah dan remaja putri tadi menurunkannya di meja bundar di hadapan kami, belum ada yang tersentuh, kecuali piring di hadapan Kunthi.
Kami mengangguk jengah, kemudian menyicip minuman di gelas masing-masing. Suasana senyap, tapi kurasa riuh di pikiran masing-masing. Kulihat pula Bu Cipto berbisik pada Pak Cipto dengan menyebut nama Santi, kemudian Pak Cipto meraih gawainya dan terlihat menulis sesuatu disana. Mungkinkah?
Ghifa menggeliat turun dari pangkuan Citra. ia ingin bermain di taman, telunjuknya mengarah pada taman bunga di samping koridor penghubung rumah induk dan pendopo. Lidya segera mengikuti masih dengan Adam di gendongannya yang tengah tertidur. Ketika Ghifa berlari kecil menuju tempat yang dia inginkan. Citra pun ingin beranjak, tapi, sempat aku menahannya.
“Maaf ada yang perlu aku sampaikan, Cit.”
“Gie?” tatapan sendunya mengarah padaku, kemudian segera ditundukkannya wajahnya.
“Anton, aku minta ijin padamu untuk bicara dengan Citra, bolehkah?” kulayangkan pandanganku kearah Anton, Pak Cipto dan Bu Cipto pun melakukan hal yang sama.
“Untuk apa? Citra sudah menjadi istriku, apapun yang ingin kau katakan pada Citra tidak akan mengubah kenyataan!” sengit Anton.
__ADS_1
“Hahaha, siapa yang akan mengubah kenyataan, Ton? Aku hanya ingin bicara! Hal yang seharusnya aku lakukan jauh sebelumnya.”
Anton menatapku curiga. Ardi beranjak mendekati Anton kemudian menepuk pundaknya dari belakang.
“Sudahlah Ton, kasih Gie waktu. Kami sudah minta bertemu dengan Citra sebelumnya, tapi kamu melarang, kan?”
“Mas Anton?” kali ini nada suara Citra sedikit geram.
“Hah? Kapan itu?” Pak Cipto ikut angkat suara.
“Waktu itu, Bapak dan Ibu sedang tidak ada di rumah, sekitar tiga hari sebelum hari-H,” jawab Ardi enteng.
Anton mendengus kesal, tapi dia tidak bisa berkutik, ketika kedua pasang kedua mertuanya menatapnya dengan pandangan aneh.
“Bukan hanya kami, Pak, Buk. Tapi teman-teman Citra dilarang bertemu, bukankah HP Citra disita Anton?” kata Ardi dengan nada datar.
“Apa? Benarkah Nduk?” tanya Pak Cipto pada Citra, orang tua itu mulai berang.
“Kata Mas Anton itu perintah Bapak?” Kali ini Citra berdiri, pandangannya lurus ke wajah suaminya.
“Aku melakukan itu agar kau fokus pada pernikahan kita, Cit.” elak Anton.
“Anton…, Anton …! Dah, silakan Mas Gie mau ngomong apa sama Citra, Anton biar menjelaskan semua kelakuannya pada Bapak dan Ibu." Tegas Pak Cipto. Anton mati langkah.
“Baiklah,” jawab Anton lesu.
“Terima kasih, Pak, Ton. Maaf, Cit …” ajakku pada Citra untuk berpindah tempat, sedikit menjauh dari meja itu.
Citra menatap Anton sebentar kemudian melangkah menuju meja bundar di ujung pendopo. Masih sempat kudengar Pak Cipto dan Bu Cipto menggunakan kesempatan untuk mendesak Kunthi, yang kebingungan mencari posisi. Kata Bu Cipto sambil memegang tangan Kunthi,
“Nah, nduk sekarang kau bebas bercerita!”
Kunthi terperangah, lalu memainkan tutup gelas dengan mengetuk-ketukkan di atas meja dengan nada konstan. Mungkin dia sedang cari akal untuk menghindar.
Tuk
Tuk
Tuk
__ADS_1
...….....